Ayah yang Asyik

Kelas Kulwap Keluarga Sehati kali ini tentang pengasuhan oleh ayah yang asyik.

Yuk, simak materi dari narasumber Anna Farida: Salam sehati, bapak Ibu. Ini kulwap ke-78 dan kali ini sesi curcol. Kita akan bahas tema “Ayah Asyik”. Paling pas sih ayah yang nulis, tapi ini kan curcol. Jadi, ini harapan saya atas para ayah di muka bumi. Get ready, it won’t be that hard but never take it easy 😃

Apa sih ciri-ciri ayah asyik itu?

+ Mengutamakan kepentingan anak. Ada kebiasaan yang kudu hilang perlahan ketika Ayah punya anak, misalnya merokok atau bawa pulang teman-teman yang merokok. Misalnya juga bicara kasar atau bawa pulang teman-tema yang hobi bicara kasar. Ehehe, jadi ayah adalah momentum untuk berubah. Menjadi lebih baik tentu sajahhh.

+ Melindungi mereka. Tugas utama ayah adalah pelindung. Pastikan rumah aman buat anak-anak, apalagi yang masih kecil. Saat berkendara, ayah wajib peka pada safety riding gear seperti helm, seat bealt, central lock, dsb. Ayah juga wajib mengecek anak apakah sudah naik dan turun semua dari kendaraan dengan aman, apalagi kendaraan umum. Jadi, Ayah, ketika jalan-jalan di tempat umum, Anda yang kudu paling rempong! #rasain 😃

+ Menyisihkan waktu khusus buat anak. Kami tahu Ayah sibuk berjuang cari nafkah buat kami, tapi anak-anak juga perlu waktu yang berkualitas dengan ayah. Kata Bu Elia, ayah adalah pembangun utama karakter anak, ibu yang menjaganya.  Jadi, intensitas kedekatan ayah dan anak sangat menentukan model karakter yang diharapkan. Ayah, hal terpenting yang kami perlukan dari ayah adalah WAKTU. Jadi berikan kami waktu khususmu. Setelah itu, baru kami perlu beli sepatu, buku, hape terbaru buat ibu #eh; kami juga perlu pinjam laptopmu, diantar pilih baju, hingga piknik ke Timbuktu #ayahpingsan

Just kidding—berikan waktu khususmu, Ayah, please. Bukan yang sisa, bukan yang sesempatnya.

+ Memberi anak pelukan. Ayah, jangan takut menunjukkan cintamu. Pelukan bagi anak adalah tabungan rasa tenang, pelepas tekanan. Pelukan dan cinta dari ayah akan membantu anak lebih kuat lahir batin.

+ Bermain dengan anak. Pilihannya banyak, tergantung kondisi dan kekhasan keluarga. Anak-anak saya sedang senang bersepeda dengan ayahnya. Saat libur, putri bungsu saya selalu ribut ngajak ayahnya jalan-jalan—bukan buat beli-beli, katanya, jalan-jalan saja. Walau biasanya akhirnya sih beli-beli juga ahahah #modus. Yakult satu pak juga cukup, kok.

+ Membacakan anak buku.  Ini paling mudah dan murah. Ayah bisa baca buku bareng anak sambil selonjor di kasur. Nanti kita lihat, siapa yang paling duluan tidur 😃

+ Melibatkan diri sejak anak masih bayi. Untuk ayah yang punya bayi, luangkan waktu untuk mengganti popoknya, menyuapinya, memandikannya, menidurkannya, dan hal-hal yang bersifat “mothering” lainnya.  Ini akan menjadi pijakan hubungan yang kuat dengan anak di kemudian hari. Ingat, kulit anak itu merekam memori. Jika Anda tidak sering menyentuh kulitnya ketika bayi, jangan harap bisa menyentuh hatinya saat dia besar nanti #ancaman! 😃

+ Mengajarkan berbagai keterampilan hidup. Umumnya ibu tidak mengajarkan anak memompa ban sepeda, memperbaiki kran, atau memasang tali jemuran. Biasanya itu tugas ayah, termasuk tugas mengajarkannya pada anak-anak. Tugas seperti ini bisa menjadi wahana permainan yang menyenangkan dan produktif. Banyak yang bisa Anda ajarkan: berpikir logis, mengatur uang, merencanakan masa depan, memilih istri idaman #halah

+ Menjadi pembela ibu anak-anak. Jangan menyanggah ibu mereka di hadapan mereka, please jangan bertengkar dengan ibu mereka di hadapan mereka.  Cara Ayah memperlakukan Ibu akan membangun pandangan mereka pada diri mereka sendiri, pada orang lain, termasuk pada pernikahan. Bersikap baiklah kepada ibu mereka, walau mereka sedang tidak ada. Bantu pekerjaannya, muliakan dia sepanjang masa. Ajak dia jalan-jalan, makan malam, belanja … elaaah modus lageee.

+ Menjaga kesehatan lahir dan batin. Ini yang paling penting, Ayah. Ingat, hanya yang memiliki yang bisa memberi. Ayah akan mampu memberi cinta dalam berbagai bentuknya jika dia dalam keadaan sehat lahir batin. Please, Ayah, jaga kesehatan. Buat ayah buat keluarga. Mulai olahraga, kurangi makan makanan yang berbahaya. Kurangi belanja yang tidak penting, tabung buat masa depan anak dan traktir-traktir ibu mereka #baliklageee

Sudah, ah 😃 😃

Semoga ini mewakili curhat para ibu di seluruh dunia. Mari merumpi!

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Pornografi Pada Anak

Yuk, kita cerna materi dari narasumber kulwap Keluarga Sehati, Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Hari ini adalah kulwap yang ke-73, dan kita akan membahas tentang anak dan pornografi. Apa yang harus dilakukan ketika anak terpapar pornografi.

Saya curhat dulu saja, yaaa.

Suatu ketika saya iseng melihat history situs yang pernah terbuka di komputer rumah. Ada situs asing dan saya buka.

Glek, perempuan tak berpakaian layak terpampang di layar. Dia melambaikan tangannya (setop imajinasi Anda, hei!) 😀

Saya tenangkan debur jantung yang mendadak kencang. Siapa ini yang buka?

Tunggu … tunggu. Tenang dulu.

Saya cek history yang lain, ternyata situs yang menawarkan game-game gratis buat anak-anak. Jadi ini awalnya.

Rekonstruksi imajinatif saya menggambarkan anak-anak pakai komputer, cari game gratis, lantas ada pop up atau iklan yang memang otomatis muncul. Kemudian, tanpa sengaja terklik oleh mereka, atau memang mereka penasaran dan mengkliknya dengan sengaja.

Ini, nih, yang sering terjadi.

Sebelum konfimasi ke anak-anak, orang tua cenderung menebak hingga menuduh. Berdasarkan tuduhan itu, keputusan (maksudnya hukuman) diberikan pada anak-anak: tidak boleh pakai internet seminggu. Tak boleh pakai komputer sampai Sabtu. Tak dapat uang saku, kudu bersihin selokan! Daaan sebagainya.

Kejadian ini membuat anak tidak suka dan merasa bersalah. Komunikasi langsung sreeet, tertutup. Bukan tidak mungkin, dia akan menutup diri ketika menemukan kasus yang terkait dengan pornografi – ah, daripada nanti kena hukum lagi.

Jadi, sebaiknya bagaimana?

Kita sepakati dulu prinsip umumnya.

Saat ini mengakses pornografi sangat mudah – benar-benar di ujung jari.

mengurung anak dalam kotak steril bukan lagi pilihan mudah—bisa, sih. Anda mau coba?

Berdasarkan pengalaman orang tua yang mengalami hal serupa, hal yang relatif bijak disampaikan kepada anak-anak adalah pemahaman bahwa internet itu bukan dunia yang terpisah dari dunia mereka (maksudnya dunia nyata).

Masih ada yang menganggap dunia maya itu berbeda dari dunia nyata, jadi apa yang dilakukan di antara kedua dunia itu tidak saling berpengaruh.

Nyatanya tidak.

Anak-anak perlu tahu bahwa internet adalah sarana berkomunikasi. Apa yang dilakukan melalui internet akan berpengaruh pada hidup mereka—langsung saat itu atau setelah beberapa waktu.

Prinsip itu yang kadang dilewatkan oleh orang tua dan buru-buru menjatuhkan sanksi karena panik dengan isu pornografi.

Nah, setelah prinsip ini disampaikan—mungkin harus berulang-ulang—baru kita bahas dengan anak, apa yang mereka lihat.

Sampaikan kepadanya bahwa ada orang-orang yang berniat buruk dengan memasukkan gambar tidak pantas. Tanyakan pendapat mereka.

Sesi ini yang penting.

Apa yang mereka ketahui tentang pornografi dan mengapa hal itu tidak layak disaksikan. Muslim bisa menggunakan konsep aurat, atau secara umum konsep modesty dan kesantunan bisa disampaikan.

Setelah itu?

Sudah.

Ulangi diskusi itu beberapa waktu ke depan.

Latihan, latihan, latihan.

Saya tidak menyampaikan detail cara mencegah atau memahami pornografi. Sudah banyak kasus dari yang paling mild hingga hardcore. Mules saya.

Yang paling penting adalah menyampaikan prinsip utamanya. Kasusnya bisa berganti.

Mari kita merumpikan kasus per kasusnya.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Diskusi Pornografi

5 Februari 2017  08:05 WIB

Diskusi berikut setelah materi tentang Pornografi Pada Anak disampaikan di kelas Kulwap Keluarga Sehati.

Ag: Iya ya Mbak.

(Jadi PD lagi huehehe)

Ag sependapat dengan cara ini.
“Ibu melarangmu karena…” 👍👍

Makasih jawabannya ya Cikgukuu yang cantik 😘

H: https://youtu.be/O9rMmjVa5QI salah satu bagian slide yang ditampilkan saat seminar.

6 Februari 2017

N: ada kejadian nih, tetanggaku, anak perempuan usianya kurang lebih 3 thn, dirumahnya banyak karyawan laki-laki. Bapaknya membuka gudang bahan-bahan kue d rumahnya. Ga tahu bagaimana ceritanya, anak tersebut suka pegangin kemaluan teman-teman mainnya, kalau lagi main bunda-bundaan. Itu yg pernah saya temuin, terus suka gesek-gesekin kemaluannya ke sepeda. Apa hal itu wajar ato ga ya? trus gimana ya cara ngasih tau ortunya biar ga tersinggung. maaaf yaa, rada vulgar begini…🙈

 D: 😲kita pan tetangga 😓jadi takut 😰

Iq: no comment. merinding ahh kasian anaknya cedera ahlaknya. monggo yg berkompeten Mba Anna, Mba Hera, juga lainnya.

N: cedera akhlaq? nular kah???hehe..😅

7 Februari 2017

H: Pas banget, kasus yg mirip ini dibahas pembicara pas Sabtu kemarin di seminar parenting, Mba.

Saya bukan ahlinya, hanya mau mengemukakan pendapat (berdasarkan pemahaman saya).
Anak usia 3 tahun belum paham yang dia lakukan (memegang kemaluan teman mainnya atau menggesek-gesekkan kemaluannya pada sepeda) itu tidak baik. Yang dia pahami, dia merasa senang ketika melakukannya. Ada kemungkinan dia pernah (secara tidak sengaja melakukan -sebagai pelaku atau objek pelaku- dan kemudian merasa senang jadi diulangi).

Ada baiknya orang dewasa (orangtua dan keluarga dekat) yang melihatnya tidak langsung panik.

* Acuhkan (tidak memberi respon seperti “tidak boleh begitu”, “itu tidak boleh”, dsb.) ketika dia melakukannya.
* Alihkan perhatian anak ke hal-hal lain yang menyenangkan seperti bermain permainan untuk anak seusianya. (Orang terdekat pasti tahu yang dia sukai dan kegiatan itu aman untuk usianya).
*Jauhkan dari situasi atau kondisi yang memungkinkan anak melakukannya lagi. Misal, tidak dibiarkan sendirian, temani ketika bermain dengan temannya.
*Tidak membahas/bertanya/menyelidiki perihal tindakan si anak tadi, kecuali oleh ahlinya (psikolog anak) karena mereka yang tahu “cara” bertanya ke anak.
*cmiiw

Suci Shofia: Mumpung pas SELASA KOMUNITAS, saya jadi ingat ada yang curhat masalah anak mainin kemaluan di usia tersebut ke pengelola komunitas parenting tersebut (Pondok Parenting HARUM), ada di FB.
Usia 3 tahun memang masanya asyik dengan kemaluannya. Tidak perlu merespon berlebihan, lebih pada pengalihan aktivitas seperti kata Mb Hera di atas.

N: tengkyu, Mbak Hera….😘

Anna Farida: Sip, Hera.
Btw dalam KBBI, acuhkan artinya perhatikan 🙊
Anak yang 3 tahun bisa mendapatkan perlakuan seperti yang disampaikan Hera atau Mahmud Admin.

Yang perlu diperhatikan adalah orang lain (pegawai) yang bekerja di dalam rumah – tidak terpisah.

Jadi yang perlu diperhatikan adalah lingkungan aman bagi si anak.

Ortunya perlu diberi rambu-rambu bahwa menghadirkan  banyak orang di rumah = waspada.

N: bilang ke ortunya juga ga usah ya? kalau diberikan pengertian kasian vagina na nanti sakit lo, gimana kalau sampai susah pipis?kan dedenya kesakitan ya. kalau gatel cebok yg bersih ya.

Bagaimana? perlu disampaikan juga? ini ngingetin ke anaknya.

Anna Farida: Ke anak cukup dialihkan kegiatannya.
Ortu yang perlu diajak bicara, apakah dia ngeh tentang keamanan rumahnya. Jika dia tahu alhamdulillah. Artinya dengan kondisi banyak orang, dia punya SOP yang jelas, misalnya tidak seenaknya nitipin anak ke karyawan lantas dia pergi.

N: ow ok. siiiip. smoga ortunya tidak merasa tersinggung dengan berita ini. Hehe.

Anna Farida: Saya mendukung rumah yang difungsikan sebagai tempat usaha atau berkegiatan. Jika lokasinya jadi satu dengan rumah tinggal, syarat dan ketentuannya yang harus berbeda dengan rumah yang tidak melibatkan orang lain yang bebas keluar masuk.
Semangat Bu.

I: Baik, siapp! terima kasih, Mba Anna, Mba Hera atas pencerahannya dan solusinya. Semoga kejadian-kejadian seperti ini tidak ada lagi di anak-anak kita atau anak-anak lainnya, aamiin.

semangat semua selamat pagi☕☕

N: saya sempat heran, soalnya ibunya 24 jam ada di rumah (kegiatan di dalam rumah) tapi mungkin karena ada balita yang usia kurang lebih 2 thn jadi kakaknya kurang terperhatikan sepertinya,jadi sering main sama karyawan. inimah perkiraan saya aja siih. walloohu a’lam. kasian sama anaknya aja. apa ortunya tau ato enggaka perlakuan terhadap anaknya itu.. Makasih, Bu Anna….😘
aaamiiiin.

Iq: mungkin dari saya karena ini sangat sensitif dan tidak semua orang tua mau menerima kenyataan atau mau di gurui dalam persoalan didik mendidik anak. Gimana kalo Mba dengan tindakan  mengalihkan anak nih bermain di rumah Mba atau apalah hingga dia teralihkan. Jadi ketika sudah dekat dengan Mba, orangtuanya mulai dekat dengan Mba bercerita dsbnya secara halus mgkin bisa kita masuk ke persoalan-persoalan atau ajak ngerumpi kejadian di koran biasalah bu ibu. Jadi kita tidak secara serta merta ke persoalan tetapi kita ajak berfikir si orangtua.

Kejadian yang saya lewati pengalaman, ternyata benar tidak semua orgtua merespon dengan cepat tindakkan pornografi,apakah karena faktor lelet otak dan perasaan orangtua atau karena faktor gengsi waullahu ‘alam. Jadi ibarat saya buih dilautan hingga sekeras apapun teriakkan kita pasti hanya lewat.

H: Oh gitu ya? ☺
Berarti salah saya. Maksudnya *ignore*, berarti harusnya *jangan acuhkan*.
Gitu ya?
🙏🏻☺

Iq: jd cobalah adakan pendekatan ke anak di sibukkan bermain dengan kita, tak usah menunggu tindakan org tuanya kelamaan mah. Lebih baik kita berbuat yang bisa kita buat dengan memberi contoh.

N: makasih, Mba Iq, ya betul juga, harus tau karakter oortunya ya. Mungkin saya akan pilih pelan-pelan sambil memperhatikan anaknya kalau sedang main ke rumah, soalnya saya bisa ketemunya hari sabtu atau minggu. hihi, rada-rada takut juga sih saya menyampaikannya. Makanya liat situasi aja dulu.

N: aduuh maafkan, ya, Bu Admin, dah bikin huru hara nih. Makasih buat semuanyaaa..😘

Iq: oya krn nih hari komunitas salah satu program dari kami di *kalimantan hebat* ada namanya  *CBE* #community based education# dimana kita sebagai  masyarakat menjadi pendidik  dari dan untuk ke kita sebagai masyarakat.
Menyatukan visi dan misi mendidik anak sesuai dengan fitrahnya.
Terima kasih Te Suci udah ada hari komunitas 😊

Anna Farida: Apa saja kegiatan CBE, Iq?

Iq: di Sangatta tempat say sudah mulai berjalan anak-anak dikategorikan umurnya pra baligh dan baligh.
Dari 0 sampe 6 lanjut 7 sampe 10 dan 10 sampe 15 di sini anak-anak di bimbing sesuai kategori umurnya.
Orangtua sebagai fasilisator pastinya minimal 2 keluarga atau lebih.
Misal anak-anak usia 7 sampai 10 tahun ada kegiatan masak-memasak, membuat kue, mentornya adalah org tua diantara beberapa keluarga.
Jadi, skill yang dimiliki orangtua itu yang diadakan tidak mengada-ada atau sampai mwngadakan yang tidak ada. Sebelumnya ada materi pokok yang harus minimal diikuti orangtua agar menyatukan visi dan misi.
Materi pokoknya sama seperti kulwap ini gratisss.
Kurang lebih kulwap ini sama persis cara mendidik anak sepanjang saya ikuti kuwap ini alhamdulillah wa syukurillah.
Ada matrikulasinya untuk pematangan materi intinya. WAG hebat dalam hak ini menyeluruh seluruh Indonesia dan satunya di Kalimantan mengusung  konsep pendidikan berbasis akhlaq dan talents dan hal ini ada pada keluarga dan jaringan komunitas  sebagai  pemagangan, keteladanan maupun kemandirian.
Kurang lebih seperti itu.

Er: Sama, kami juga di Pacitan awal tahun ini merintis komunitas sintesis.
Visi misi kita sama, Mbak, kami ingin keluarga dan masyarakat mendidik anak sesuai fitrahnya.
Karena dalam mendidik anak kita butuh kerjasama orang sekampung! Hehe.
Kami baru, sepertinya harus banyak belajar ke Mbak Iq, nih 😍

Suci Shofia: Wah, seneng deh ada gerakan untuk pengasuhan bersama untuk Indonesia yang lebih baik😍

Iq: Nah, itulah mba cita-citanya. Alhmdulillah belajar di sini memperkaya wawasan saya 😍 terima kasih buat narsum kulwap keluarga sehati jg sahabat2 sy di sini yg menularkan ilmunya 🙏🏻
[2/7, 10:25] Suci Shofia: sip, semoga tetep semangat 😉
[2/7, 15:16] kurnia kulwap: Menarik topicnya, saya jadi teringat materi kuliah keperawatan Anak (Tumbuh kembang Anak) 😊😊

PERKEMBANGAN  PSIKOSEKSUAL

Dalam perkembangan psikoseksual dalam tumbuh kembang dapat dijelaskan beberapa tahap sebagai berikut :
☘Tahap oral-sensori (lahir sampai usia 12 bulan)

Dalam tahap ini biasanya anak memiliki karakter diantaranya aktivitasnya mulai melibatkan mulut untuk sumber utama dalam kenyamanan anak, perasaannya mulai bergantung pada orang lain (dependen), prosedur dalam pemberian makan sebaiknya memberkan kenyamanan dan keamanan bagi anak.

☘Tahap anal-muskular (usia 1-3 tahun / toddler)
Dalam tahap ini anak biasanya menggunakan rektum dan anus sebagai sumber kenyamanan, apabila terjadi gangguan pada tahap ini dapat menimbulkan kepribadian obsesif-kompulsif seperti keras kepala, kikir, kejam dan temperamen.

☘Tahap falik (3-6 tahun / pra sekolah)
Tahap ini anak lebih merasa nyaman pada organ genitalnya, selain itu masturbasi dimulai dan keinggintahuan tentang seksual. Hambatan yang terjadi pada masa ini menyebabkan kesulitan dalam identitas seksual dan bermasalah dengan otoritas, ekspresi malu, dan takut.

☘Tahap latensi (6-12 tahun / masa sekolah)
Tahap ini anak mulai menggunakan energinya untuk mulai aktivitas intelektual dan fisik, dalam periode ini kegiatan seksual tidak muncul, penggunaan koping dan mekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini.

☘ Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa)

Tahap ini genital menjadi pusat kesenangan seksual dan tekanan, produksi horman seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual, energi ditunjukan untuk mencapai hubungan seksual yang teratur, pada awal fase ini sering muncuul emosi yang belum matang, kemudian berkembang kemampuan untuk menerima dan memberi cinta.

26 Januari 2017

Ceritanya admin kulwap Keluarga Sehati sedang menawarkan usulan pembahasan setiap minggunya.

Sr: Mengajarkan perlindungan diri pada anak sejak dini.

Kasusnya begini:
Anak saya (3,5th) beberapa kali diganggu anak lain. Contohnya waktu di masjid. Dia ikut salat berjamaah. Lalu ada anak yang usianya tidak jauh berbeda (sekitar 4th) mendekati, melihat dengan sinis, lalu menginjak kakinya beberapa kali. Persiiiissss seperti pelaku bullying di sinetron-sinetron (sok tahu padahal gak pernah nonton sinetron, hehe). Anak saya diam aja. Gak nangis, gak menghindar, gak membalas. Cuma bergeser dikit waktu kakinya diinjak.
Seusai salat saya tanya padanya, sakit atau tidak, tadi diapain sama kakak, dia cuma jawab ‘nggak’ ‘nggak’ 😣
Pernah juga waktu didorong-dorong sama anak yang lebih kecil, dia juga diam aja. Pulangnya malah cerita ke ayahnya ‘Ayah, adiknya gak nakal, tadi adik cuma mau lewat, jadi adik dorong-dorong’.
Padahal sudah saya kasih tau beberapa kali, kalau ada yang nyakiti, bilang “jangan”. Atau lari, atau pukul. Tapi dia tetap keukeuh “nggak”. Huhu. Ibuknya yang gemes.

Suci Shofia: 😅 kok pintermen “adiknya ga nakal”

Sr: Saya antara bangga sama khawatir 😅
Potensial banget jadi korban kalau gini. Walaupun gak kelihatan cengeng.

Suci Shofia: iya kesannya mengalah ya

Y: Bener nih, anakku juga suka jajanannya disekolah dimakan sama temennya tapi klo gak ditanya gak cerita. Botol minumannya dan barang-barang lainnya suka dibuat mainan sama teman-temannya, bahkan diambil.
Saya tanya, kamu marah gak? Marah tapi temennya gak nurut. Kamu bilang gak sama bu guru? Bu gurunya diem aja 😥

Sr: Iya lho. Sudah dikasih contoh on the spot dan penjelasan setelah kejadian tetep aja. Malaterang2a-teranganan menolak, bilang “nggak” waktu saya kasih tau untuk bertindak.

Y: Memang sih perawakan anakku termasuk kecil dibanding teman-temannya.
Apakah itu yg menyebabkan dia jadi gak suka main sama teman-temannya???
Gimana cara mensiasati agar mentalnya gak tertekan?
Takutnya tanpa kita sadari kejadian-kejadian itu membekas dalam dirinya 😥
Er: Tema nya pass banget tuh …
Butuh banget buat anak saya yg 3,5 thn.
Kejadiannya hampir-hampir sama. hehe …

Suci Shofia: mbarepku juga gitu dulu😉
Sr: Ternyata banyak ya yang ngalami. Anak dihindarkan dari kebiasaan main tangan tapi malah jadi korban.
Suci Shofia: pengalaman pribadi ya sering-sering diingatkan untuk selalu berani melawan (katakan tidak), kalau masih mengganggu bilang bu guru (di sekolah), bilang ayah bunda (di lingkungan rumah), sempet juga pesen balas aja, tapi muncul rasa bersalah hihihi. jadi ya berani bilang tegas, enggak boleh.

pernah suatu waktu ada kakak kelas gangguin, eh tiba-tiba dia nantangin. sudah pasang kuda-kuda juga katanya. meski ga ngapa-ngapain juga. kakak kelas jadi mikir lagi mau gangguin.
Sr: Dikasih tau terus lama2 bisa tegas juga ya 😁
Eu: Pengalaman saya, anak umur 5 tahun. Lapor ke guru kelas. Guru berinisiatif mengobservasi. Memisahkan semantara dalam beberapa kegiatan kelompok. Kemudian perlahan disatukan lagi. Dalam waktu pemisahan sementara. Kedua anak, baik pelaku maupun yg diperlakukan dibimbing diarahkan harus seperti apa berteman. Sebagai orang tua pun kami diberi laporan perkembangan.
Kh: Sammaaa… ☺
Malah kejadiannya sepengetahuan guru…
Ceritanya, pipi anak sy pulang dari sekolah luka (sedikit), pas sy tanya, dijawab jatuh dari ayunan.
Besoknya ketemu bu guru, bukanntanyaaa tanya, malah bu gurunya yang mendekati saya & bertanya. Barulah saya tahu kalau ternyata pipinya habis “kena” cakar, hihi…
Ibu gurunya juga bilang kalau anak saya cenderung diam saja, tidak menangis juga… oleh ibu guru diberitahu, kalau memang tidak mau melawan, setidaknya menghindar saat ada temannya yang ganggu… Alhamdulillah, kejadian seperti itu bukan kebiasaan, hanya bersifat insidental saja…
Dan ternyata si teman yg pernah gak sengaja “nyakar” ini jadi teman anak saya juga pas SD, bahkan jadi teman baik anak saya. Kalau diingatkan kejadian waktu TK itu, mereka sama-sama tersenyum. Sekarang mereka sudah SMA, & tetap jadi teman baik… ☺
Sr: So sweet cerita anaknya Mbak Kh 😍
Kh: Bener Mbak Sr… saya pun ikut merasakan sweetnya… 😍😊
Suci Shofia: oiya, guru berinisiatif membuat dongeng dari boneka tangan pas ada murid sekelas main beranteman, eh ada yang mukul beneran.
Eu: Nah bisa juga kejadian begini …

Tanya Jawab Bekerja dari Rumah

30 Januari 2017

Tanya 1:

Bisnis dirumah itu asyik. Tetap dapat mengawasi semua kondisi rumah, bisnis tetap bisa kita jalankan. Sehingga tugas-tugas masak, bersih-bersih, menemani si balita, tetap bisa berjalan beriringan (bahasa pas nya bisa di sambi-sambi 😁).
Tapi beratnya kadang jadi tak bisa membedakan kapan waktu kerja, kapan untuk rumah atau anak. Karena ruang dan waktunya sama. Belum lagi kalau ada tamu yang tak berhenti datang, atau datang saat pagi sekali atau malam.
Sudah mencoba membuat batasan waktu, tapi karena bisnis di rumah dan orang juga tahu kita ada dirumah, mau tak mau dilayani juga.
Ada tips atau solusi ga ya… 😊🙏

Oya, saya sudah memiliki 2 karyawan khusus utk bisnis. Tapi beberapa pelanggan kadang inginnya dilayani oleh saya 😁

Jawaban Bu Elia Daryati:

Judulnya adalah bagaimana memantaskan diri menjadi leader dan manajemen waktu.
Leader itu punya ciri: kekuasaan, legalitas, dan pendelegasian. Nah, hal yang masih perlu ditingkatkan adalah pendelegasian. Dimana harus mulai mempercayakan dan memberikan ruang pekerjaan pada staf dan meningkatkan kepercayaan staf atas kemampuannya.

Berikan pada pengguna jasa keyakinan bahwa ibu memiliki karyawan yang cukup berkualitas. Selanjutnya manajemen waktu dan pembatasan pelayanan pun harus diberikan batas yang jelas. Lambat laun pengguna jasa akan mengerti kapan harus dan bagaimana berhubungan dengan ibu terkait dengan usaha yang ibu bina.

Ini semua terkait dengan masalah manajemen. Manajemen dalam perusahaan dan manajemen waktu. Dituntut sikap yang lebih profesional. Lebih tepatnya belajar lebih profesional sebagai seorang pengusaha, sehingga setiap pengguna jasa kita dapat mengerti posisi kita sebagai seorang pengusaha.

Selamat bertindak lebih profesional dan asertif.

Jawaban Anna Farida

Dulu saya mengalaminya.
Ah, Mama Zaky kan di rumah saja. Jadi bisa, ya, ikut antar pengantin ke komplek sebelah, besok ketempatan demo masak, ya … atau saya main ke rumah sambil nunggu anak pulang sekolah … 😎

Sesekali ok, berikutnya saya sampaikan saya kerja jam segitu.

Panjaaaang menjelaskannya. Sambil bercanda haha hihi, lama-lama paham juga, sih.

Di rumah saya ada jadwal kerja. Saya atur pekerjaan rumah yang tiada habisnya itu. Misalnya, hanya cuci piring malam sebelum tidur – kalau nggak sengaja ketiduran sambil ngelonin si bungsu ya rezeki ahaha –
Nyuci setiap malam sambil nulis. Teriring doa bagi penemu mesin cuci. Saya pilih baju yang aman walau tanpa disetrika. Jadi ketika yang biasa setrika tidak datang, saya hanya setrika seragam dan baju suami.
Lain halnya kalau memang harus setrika sendiri 😐😥 saya lakukan sambil nonton ini itu.

Jadi curhat, haha.

Intinya, yang harus dilakukan orang yang bekerja di rumah adalah membatasi jam kerja rumah dan bisnis.
Setel timer sejam, bersihkan kamar, berhenti. Setelah itu kerja lagi.
Setel alarm, tata buku, berhenti. Setelah itu kerja lagi.
Selingan juga kan bikin sehat.

Sampaikan pada keluarga dan teman bahwa kita  bekerja jam sekian hingga jam sekian. Pasang tulisan di dinding, atau di kulkas jika perlu. Sekadar pengingat bahwa kita pun perlu berhenti untuk makan siang – tak perlu diingatkan itu, sih 😬

Pengalaman, saya pernah kerja tanpa alarm dan anak saya tertidur tanpa makan malam. Sesal kemudian tiada guna 😥

So, tulis jadwal.
Dulu saya tulis dari jam ke jam, jadi anak dan suami tahu betapa kerjaan saya itu banyaaak.
Mereka juga tahu kalau saya FB-an dan WA-an artinya saya kerja. Sebaliknya, ketika bapaknya online, mereka bilang “Bapak sedang main WA”  😬😬

Itu untungnya punya kerjaan online. Anak tidak ngeh kalau ibunya juga sedang rumpiii 🙈🙈

Anna Farida: Sampun, Mahmud Admin Suci Shofia. Hanya ada satu pertanyaan ✅✅

Bekerja dari Rumah

27 Januari 2017

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap kita yang ke-72

Kita akan bahas materi “Antara Kerja dan Rumah Tangga: bagaimana atur waktunya?”

Mudah saja, kan, bilang, rumah tangga dan kerja harus seimbang. Pasutri harus saling bantu, saling pengertian, ehehe, pas praktiknya tak sedikit yang jungkir balik.

Keseimbagan antara mengurus keluarga dan pekerjaan itu kompleks, Bapak Ibu. Yang terlibat di dalamnya ada pertimbangan finansial, peran gender, manajemen waktu, pembagian porsi kerja, daaan sebagainya.

Masing-masing pasutri memiliki kekhasan, jadi metode yang cocok bagi satu keluarga belum tentu pas untuk keluarga lain.

Jadi, saya hanya akan menyampaikan prinsip umumnya saja, nanti kasus bisa dibahas sambil rumpi.

Prinsip utama:
Jika kita berkata bekerja demi keluarga, kurang pas jika kemudian keluarga jadi terabaikan karenanya.

1. Rencanakan. Sejak sebelum pernikahan sebaiknya sudah ada kesepakatan tentang bagaimana pola kerja akan dijalankan. Pilihan kerja di luar atau di dalam rumah mesti dibahas sejak awal.

2. Ini proses. Menyepakati ritme kerja dan keluarga adalah proses. Tak jarang yang menemukan bahwa rencana yang sudah disepakati bubar di tengah jalan. Yang paling lazim adalah para istri atau ibu yang terpaksa berhenti bekerja demi keluarga.
Saya sering menulis pada berbagai kesempatan bahwa perempuan itu ada yang memilih di rumah ada yang dirumahkan.
Jadi, ketika rencana tak berjalan semulus yang diharapkan, kalem dulu. Bahas ulang, sesuaikan ulang.

3. Saling atur. Jangan langsung mendiktekan keputusan dengan berkata, “Aku saja yang kerja kamu di rumah karena penghasilanku lebih besar.” Itu alasan yang tidak sehat dan bisa melukai pasangan.

4. Hargai. Jika pasangan Anda mengambil peran lebih besar di rumah demi memberikan peluang untuk bekerja, hargai dia. Dia di rumah bukan karena tak mampu menghasilkan uang, tapi berbaik hati menyisihkan sebagian keinginannya untuk eksis di luar. Jika pasangan Anda meminta Anda di rumah dan mengurus keluarga, hargai dia. Pekerjaan itu pilihan, keluarga itu kewajiban.

5. Buat daftar tugas di rumah. Mengerjakan tugas rumah bersama itu mengeratkan kemesraan pasutri dan melekatkan keluarga.

5 saja, sudah kebanyakan ngoceh saya.
Sebentar lagi keluar bawelnya (atau sudah?)

Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage with Heart dan Parenting with Heart karya Anna Farida. Sudah punya bukunya?

Investasi

2 Desember 2016

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-64, dan kita mau bahas investasi.

Sebenarnya saya tidak paham apa itu investasi, karena keahlian saya adalah menghabiskan apa yang di tangan #ngaku ahahaha

Perlu perjuangan keras untuk menahan diri 😀

Namun demikian, saya ingin membuka diskusi ini dengan beberapa aspek investasi dan kita akan berbagi pengalaman dan wawasan.

Secara singkat berdasarkan hasil tanya-tanya sana sini, investasi berarti dana atau harta yang kita tanam dengan tujuan memperoleh keuntungan.

Bagaimana caranya memilih investasi yang benar?

1.       Awali dengan memilih investasi yang sesuai dengan pandangan hidup. Anggota kulwap ini dari berbagai kalangan. Pasti pilihannya berbeda-beda pula. Ada yang mempertimbangkan aspek riba ada yang tidak, ada memilih investasi syariah ada yang tidak. Andaipun diskusi sampai ke masalah ini, kita bahas secara objetif, ya.

2.       Awali dengan melakukan riset, dasari dengan pengetahuan yang memadai. Jangan karena tidak enak ke teman, karena pingin cepat punya uang, kita main ambil saja tawaran. Percaya teman saja tidak cukup tanpa pengetahuan yang layak.

3.       Pilih yang masuk akal. Ini perkara hitung-hitungan logis dan matematis, bukan mistis #eh sudah, sudah, nanti jadi nggosip 😀

4.       Pilih yang bisa Anda pantau sendiri—tidak pakai makelar, apa pun itu namanya. Pengetahuan yang benar akan membuat investasi kita aman dan bikin nyaman. Jangan malah bikin deg-degan karena kita sendiri tidak punya kuasa atasnya.

5.       Pilih sesuai kebutuhan, apakah ada rencana dicairkan dalam jangka pendek atau memang untuk jangka panjang.

Apa lagi, ya?

Itu saja, sih, hasil rangkuman saya. Terima kasih sudah mengusulkan tema ini, kita jadi bisa saling berdiskusi.

 

Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage with Heart dan Parenting with Heart. Buku bisa diperoleh melalui website Mizan.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Mengenalkan Tuhan Pada Anak

23 Desember 2016

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-67. Kita akan merumpikan bagaimana mengenalkan Tuhan dalam keseharian anak.

Pernah nonton film “Surat Untuk Bidadari?”
Seorang anak meyakini bahwa ada malaikat yang menjaga desanya. Dia pun berkirim surat.

Dalam sebuah film lain, seorang anak berkirim surat pada Tuhan memohon kesembuhan ibunya, atau pada ayahnya yang telah meninggal karena rindu. Ada pula yang dengan setia menanti Sinterklas walau tak pernah benar-benar bertemu.

Dari mana asal keyakinan ini?
Bagaimana anak-anak percaya pada hal-hal gaib (tak terlihat)?

Anak-anak itu pembelajar sejati. Apa pun yang memaparnya akan membentuk keyakinannya. Khusus bagi anak-anak, keyakinan ini mudah diterapkan ketika ada contoh konkret yang dia saksikan sehari-hari.

Jadi, kebiasaan melibatkan Tuhan dalam keseharian akan mengena jika anak menangkap pesan bahwa hal itu penting. Caranya?

1. Sering-sering menyebut nama-Nya. Dalam situasi apa pun, saat sedih dan senang. Saat sedang luang atau buru-buru.

2. Jadikan Tuhan sahabat anak, bukan penghukum. Smiling God is more easily embraced. Tuhan yang ramah, penuh kasih, maharahman lebih mudah membuat anak mendekat daripada Tuhan yang sangar dan maha menghukum.

3. Miliki doa khusus bersama anak. Saya biasa berseru pada anak yang hendak berangkat, “Have fun! Baca Al Fatihah, Kulhu 11 kali, salawat, ayat kursi …”
Ketika anak yang sudah remaja menelepon hendak telat pulang, saya pun menyampaikan pesan yang sama.
Saat mereka berangkat, saya pun menggumamkan doa yang sama. Jadi, kami membaca doa bersama-sama walau di tempat yang berbeda. Ini yang kita kenal sebagai upaya menyamakan frekuensi.

4. Ajak anak diskusi tentang keberadaan Tuhan sejak dini. Tanyakan sesekali, mengapa Tuhan harus ada? Jika tidak ada Tuhan, apa yang terjadi dengan manusia? Apa tujuan Tuhan menciptakan manusia? Pertanyaan semacam ini mungkin tak akan mereka jawab, tapi membuka pemahaman bahwa pertanyaan ini penting harus diawali.
Jangan didebat, tak perlu disalahkan. Simak saja, jawab “Begitu, ya, menurutmu. Ok, nanti kita bahas lagi.”

Errr, kalau saya tanya, untuk apa Tuhan menciptakan manusia, Bapak Ibu mau jawab apa? Ehehe.
Masing-masing punya cara pandang yang berbeda, tentu.

Sudah, ya.
Kita rumpiiii.
Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart. Buku bisa diperoleh melalui website Mizan.
Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

KDRT

14 Januari 2017

Anna Farida: Salam sehati Bapak Ibu. Ini kulwap yang ke-70, kita akan membahas KDRT. Biasanya, ketika empat huruf itu disebut, yang paling cepat terbayang adalah seseorang yang mencederai korbannya secara fisik. Wajar, sih, jika pandangan itu yang umum diketahui masyarakat. Kan media lebih sering memberitakan dari sudut pandang fisik, apalagi jika melibatkan perkara hukum, ada visum, dsb. Jadi terbentuklah pemahaman bahwa KDRT = kekerasan fisik.

Ternyata, kekerasan fisik hanya salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Bentuk yang lain bisa berupa kekerasan psikologis, finansial, hingga seksual.

Orang yang jadi korbannya—bisa lelaki maupun perempuan—merasa tak berdaya, ragu pada identitas dirinya, ragu bertindak karena banyak sekali pertimbangan. Itulah sebabnya bayak sekali kasus KDRT yang tidak dilaporkan, tidak ditangani dengan baik, bahkan banyak korban yang tidak merasa bahwa dirinya jadi korban.

Tar, tar, saya capek ngetiknya padahal baru mau mulai. Membahas materi ini memang menguras energi, tapi penting agar kita waspada, bisa membantu diri sendiri, dan atau membantu orang lain di sekitar kita untuk mengenali dan menanganinya.

Hal pertama yang perlu diketahui, ketika kekerasan terjadi, banyak korban yang membenarkan tindakan pelaku, dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa nanti juga membaik. Tak jarang yang justru menyalahkan diri sendiri, “Aku memang bukan pasangan yang baik. Aku pantas dapat hukuman. Kasihan dia, sudah kehilangan kendali karena aku, daaan sebagainya.”

Sayangnya, dari berbagai kasus yang saya baca, anggapan bahwa situasi akan membaik jika korban diam saja jarang terbukti. Yang lebih sering terjadi adalah frekuensi dan intensitasnya kian meningkat. Awalnya “hanya” didiamkan, lantas diintimidasi, kemudian diancam, dan … ah sudah, lah. Kita sama-sama tahu saja.

Belum lagi jika korban memiliki anak. Dalam keluarga, anggota yang biasanya paling tidak berdaya adalah anak. Ketika salah satu orang tuanya mengalami kekerasan, bukan tidak mungkin anak ikut jadi korban—secara langsung atau tidak langsung, dan akibatnya bisa di luar dugaan. Tambah lemes saya.

Jadi, yang paling penting dipahami adalah segera mengenali gejala KDRT dan segera selesaikan—bisa diselesaikan sendiri atau dengan bantuan pihak lain seperti teman atau kerabat yang tepercaya, tenaga ahli seperti konselor pernikahan, hingga aparat hukum.

Apa yang harus dikenali?

# Kekerasan fisik: serangan dengan menggunakan kekuatan tubuh terhadap tubuh pasangan. Tidak harus luka, tidak harus memar. Mendorong dan menarik secara kasar tidak meninggalkan bekas fisik yang terlihat, tapi itu kekerasan.

# Kekerasan psikis: yang diserang adalah harga diri pasangan. Bentuknya bisa hinaan, kritik, kecurigaan, hingga tuduhan. Kekerasan jenis ini sulit dideteksi karena banyak alasan: ini kan hanya salah paham, nanti juga membaik. Aku juga sih yang salah. Nggak papa lah, aku juga nggak segitunya baik.

Menerima kekurangan pasangan sebagaimana pasangan menerima kekurangan kita tentu berbeda dengan membiarkan diri menjadi korban kekerasan.

# Kekerasan finansial. Diskusi minggu lalu membahas suami yang menyalahgunakan penghasilan istri. Ini bentuk kekerasan. Sebaliknya, melarang pasangan mendapatkan penghasilan sehingga dia tidak mandiri atau sepenuhnya tergantung itu juga kekerasan, lho. Ketergantungan secara ekonomi membuat pilihan sangat terbatas. Aku nggak bisa apa-apa tanpa dia. Biar saja dia marah asal aku dikasih uang belanja. Karenanya, khusus untuk perempuan, mandiri secara finansial—sekecil apa pun, kerja di luar rumah maupun di rumah—itu wajib. Ini provokasi saya, bukan fatwa siapa-siapa.

# Kekerasan seksual: Ini juga jarang disadari jarang pula dibahas karena dianggap tabu. Kekerasan ini meliputi perilaku menyimpang yang dipaksakan kepada pasangan. Jenisnya macam-macam, dari yang paling keras sampai yang paling diam. Mendiamkan pasangan juga kekerasan. Jadi, jangan pernah abaikan dia, please, eheheh.

Sudah, ah. Jadi lapar.

Saya mohon maaf terlambat menyampaikan materi. Alasannya banyak, dari yang paling pribadi sampai alasan yang dicari-cari #tutupmuka.

Mari merumpi, mari berbagi pengalaman memperbaiki kualitas hidup.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui website mizan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Hambar

Anna Farida berkata: Salam sehati, Bapak Ibu sekalian. Ini kulwap ke-66. Ditulis di atas Uber 😬

Kita akan mendeteksi ciri-ciri pernikahan yang hambar.
Materi ini tidak ditujukan untuk bikin kita baper, parnoan, atau cemas. Kita perlu merumpikannya buat jaga-jaga.
Uhuk!

Bisa kita mulai, ya.

Pernikahan yang hambar biasanya membuat pasutri:

# merasa tidak nyaman berekspresi. Pasutri tidak bebas bilang bahagia, bangga-nyombong dikit, gitu-, atau capek, bete, kesal …
Buat apa ngomong, paling dia juga nggak peduli. Mending curhat di grup teman-teman.

#tak merasa perlu berubah. Setelah menikah bertahun-tahun dan merasa settled, pasutri tak merasa perlu cari hobi baru, atau menyemangati pasangan belajar hal baru.
Segini aja, deh. Yang penting aman terkendali.

# tidak ada keinginan saling “menggoda”. Sudah nikah, sudah punya anak, mau apa sih mesra-mesraan.

#tidak merasa perlu bertengkar. Sudah, deh, yang penting dia puas. Aku ngalah saja. Dibahas juga tak ada gunanya. Bikin capek aja. Ya, lah. Terserah Mas aja, gimana Mama saja.
Kita pernah bahas mana prinsip mana recehan, kan? Tentu berbeda, mana mengalah mana tak peduli.

# tidak lagi merasa cemburu. Pasangan dekat dengan lawan jenis cuek. Pasangan lama-lama main hape sambil senyum-senyum pun cuek. Nggak pernah curiga dia ngobrol sama siapa, bahas siapa. Percaya dan abai itu jauh, kan?

# tidak bersemangat dapat pujian, berhenti caper. Ingat waktu awal kenal atau awal nikah? Semua pasutri saling ingin menunjukkan hal terbaik, bahkan caper maksimal. Sekarang itu semua tak penting lagi?

Apa lagi, ya? Kita rumpi, yuk!
Capek nulis pakai jempol, haha.
Maaaaf, saya sudah tahu akan berangkat Jumat. Jadi seharusnya saya siapkan materi lebih awal. Tapi ya gitu, deh, banyak alasan, haha.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.