Stop Being Drama Queen and King

28 Juli 2017

14:43 WIB

Disiarkan langsung dari Bandung, narasumber kuliah via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati, Anna Farida menyampaikan materi: Salam Sehati, Bapak Ibu.
Ini adalah kulwap yang ke-86 dan kita akan membahas tema pernikahan, STOP BEING DRAMA QUEEN AND KING.

Salah satu teman saya pernah curhat—so, hati-hati cuhat sama saya, nanti jadi materi kulwap 😀

“Bingung saya sama dia, Mbak. Rasanya saya ini cukup perhatian, sudah meluangkan waktu spesial hanya untuk kami berdua. Tapi baginya, saya masih saja belum memenuhi harapan sebagai pasangan ideal. Masalah-masalah sepele dia buat besar, dan lama lama saya berpikir kok jadi sering ada drama. Urusan saya kan banyak.”

Ada orang yang lurus menjalani hidupnya lurus-lurus saja, sampai pasangannya rindu dinamika. Ada yang hidupnya beralih dari krisis ke krisis yang lain dan kita mendoakannya. Ada pula yang memang (sadar atau tidak sadar) senang menciptakan drama dan memang cari drama.
Istilahnya drama queen atau king—yang sering meributkan sesuatu yang tidak penting, dan caranya ribut itu bikin gempar.
Walau berlaku bagi kaum lelaki dan perempuan, istilah drama queen atau ratu drama lebih populer—sebel, ih!
Karenanya, ayo cari istilah lain, misalnya drama addict 😀

Biasanya, secara emosional, dia mudah meledak karena hal hal yang tidak sesuai kehendak—hal-hal yang kecil, yang sebenarnya tidak perlu dibawa marah. Kita pernah bahas dalam materi “RECEHAN”.
Salah satu contohnya adalah bangun telat, padahal tidak akan ke mana-mana, tapi ngomelnya ke mana-mana, ke siapa pun yang ada di dekatnya, dan lama.
Ujung-ujungnya dia mengasihani diri karena merasa tidak diperhatikan, juga malu karena tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
Mau tahu contoh lainnya? Tonton satu saja opera sabun—ingat, ya, satu saja—Anda akan dengan cepat menemukan karakter ini. Kemudian kita sama-sama lihat, adakah karakter itu ada dalam diri kita—mungkin sekian persen saja?
Lantas, bagaimana kira-kira perasaan pasangan kita menjalani hidupnya dengan karakter kita ini? Eheheh.
Tentu, ada orang yang terlihat seperti ratu atau raja drama, dan dia memang hidup dalam kesulitan—ini harus dibantu. Ada orang yang memang sakit dan selalu memiliki keluhan kesehatan, ada juga yang merasa selalu sakit tanpa mau diperiksa lebih lanjut, dengan alasan takut ketahuan penyakitnya. Yang terakhir inilah yang drama.

Kita perlu tahu sebabnya, supaya bisa menghindarinya. Demi pasangan kita, dan tentu demi diri kita.
1. Bosan. Bagi beberapa orang, menciptakan drama akan membuat hidup lebih menarik. So, alih-alih main drama, mari kita cari hobi baru yang membuat hidup lebih berwarna. Ajak pasangan melakukan hal baru, kebiasaan baru, menu baru. Yang murah meriah saja, yang penting seru.
2. Cari perhatian. Dia memancing reaksi orang lain untuk lebih perhatian. Minta perhatian pasangan bisa dilakukan dengan banyak cara, bukan meributkan hal kecil dan menuduhnya tidak perhatian. Energi itu memantul. Perhatian kita terhadap pasangan akan menular. Omelan kita padanya akan menular. Drama kita padanya pun akan menular. Energi positif menular, yang negatif pun demikian.
3. Menghindari masalah yang sesungguhnya. Misalnya, masalahnya sebenarnya adalah takut overweight—ini saya banget—dan caranya menghindar adalah dengan curiga saat pasangan terlihat rapi, telat pulang, sibuk dengan pekerjaan, lupa jawab WA, dsb dst.  Kalau mau dapat berat badan ideal ya olahraga dan berhenti ngemil, dong, Bu Anna. Plis, deh.
Nah, dari tiga penyebab di atas, sedikit banyak manusia mengalaminya—artinya takarannya berbeda-beda. Wajar, lah, sesekali main drama. Tapi drama yang beratus-ratus episode kan lama-lama bikin bosan juga.
Demikian refleksi hari ini, semoga bikin teater kehidupan yang sedang kita mainkan di dunia kian bermakna.
Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Mbak Hesti.
Salam takzim,
Anna Farida
www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Madame and Monsieur Bovary

Pernahkah mendengar nama tersebut di judul? Sedikit saya berikan kisi-kisi, nama tersebut adalah wayang dalam sebuah novel asing. Sebuah pernikahan yang jauh dari komunikasi asyik bagi pelakunya. Istri menginginkan romantisme, sedangkan suami dingin bak freezer. Atau bisa jadi sebaliknya. Dan, faktanya memang ada lakon pernikahan yang sealiran dengan model tersebut.

 

Langsung aja, yuk, kita simak materi di Kuliah via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati yang disponsori oleh buku bermutu, Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati. Mereka sengaja membuka kelas keren ini untuk beramal kebaikan bagi sesama.

 

ANDAKAH MADAME DAN MONSIEUR BOVARY?

Masih ingat rumpian kita tentang “Madame Bovary”?
Setelah membaca bukunya beberapa bulan yang lalu, saya nonton filmnya. Cerita filmnya dibuat lebih sederhana, dan saya akan mengisahkannya untuk Anda.
Setting-nya tahun 1500-an, tapi kisahnya sangat up to date.

Emma adalah gadis berpendidikan. Dia senang baca karya sastra, hobi musik, dan membahas hal-hal yang indah.
Dari novel-novel yang dia baca, Emma punya konsep idaman tetang pernikahan. Dia mendambakan romantisme, hari-hari yang penuh kejutan, detail-detail yang membahagiakan.
Dia kemudian dijodohkan dengan dokter yang baik, sederhana, duda.
Dengan harapan yang dibawanya sejak remaja itulah Emma menemukan bahwa pernikahannya jauh dari harapan. Suaminya baik, tapi datar banget—menurut saya terlalu polos untuk seorang dokter.

Misalnya, ini adegan yang bikin saya gemas:
Emma menghabiskan waktu untuk menata makan malam agar terhidang cantik.
Ketika suaminya pulang, komentarnya gini, “Seharian ini kamu bikin makanan ini? Padahal minta pembantu metik buah saja. Praktis, tidak repot.”

Ya ampun!

Apa salahnya bilang “Nuwun, sudah mau repot bikin makanan secantik ini”.
Emma berpikir dirinya kurang menarik dan mulai berdandan.
Sayangnya, setiap upaya yang dilakukan Emma untuk tampil menawan atau membuat rumah mereka indah juga ditanggapi lurus-lurus saja oleh sang suami—termasuk ketika Emma kehilangan kendali, berbelanja baju dan barang-barang mahal atas bujukan pemilik toko.

Pengabaian itu membuat Emma mudah tergoda ketika ada petugas pajak muda yang mau melayani obrolannya tentang sastra. Affair singkat terjadi, tapi Emma segera sadar diri sebagai istri.

Berikutnya, Emma dan sang dokter hadir di pesta dan ada acara berkuda. Sang suami menolak ikut berkuda dan memilih duduk-duduk di lokasi, membiarkan Emma jadi primadona di antara lelaki. Affair berikutnya terjadi dengan tuan rumah pemilik pesta kemudian diputuskan sang lelaki.

Affair berulang ketika Emma bertemu lagi dengan petugas pajak muda.

Seiring waktu, tagihan belanja Emma meledak, suaminya tak mampu bayar, barang-barang disita, termasuk rumah mereka.
Dua mantan kekasihnya pun menolak membantu. Upaya Emma merayu pemilik toko ditolak dengan hina.

Tak mampu menahan malu dan rasa bersalah, Emma mengakhiri hidupnya.
Dalam novelnya, cerita kelam tidak menutup hidup Emma tapi juga suaminya. Dia merasa bersalah karena mengabaikan istrinya, baru sadar ketika surat-surat cinta Emma pada dua kekasihnya dia temukan. Sang dokter pun meninggal dalam derita. Anak perempuan mereka yang tidak diceritakan dalam film juga menderita sepeninggal mereka.

Sudah.

Jadi, mari kita lihat bersama, jangan-jangan kita pun menjadi Madame atau Monsieur Bovary.
Saya tidak membela Emma atas jalan yang dia pilih. Apa pun alasannya, affair tidak bisa dibenarkan.
Pada saat yang sama, dokter yang baik hati itu pun rasanya perlu ikut kulwap biar lebih peka dengan keinginan istrinya.

Bu Elia mengajarkan pada kita bahwa setiap pernikahan itu wajib memiliki visi dan misi bersama. Dalam kisah ini, tak sekali pun saya melihat Emma dan suaminya membahas tujuan pernikahan mereka.

Semua dijalani secara “alamiah” saja. Saya beri tanda petik karena kata alamiah kadang diartikan sebagai apa adanya alias ogah usaha.

Bagi pasangan tertentu, kita belajar dari generasi terdahulu, mungkin tanpa diskusi apa pun, pernikahan bisa langgeng hingga liang lahat. Kita tidak bahas pasangan yang seperti ini.

Yang kita bahas adalah ketika ada ruh Bovary dalam pernikahan kita, entah dari sisi suami maupun istri.
Ada pihak yang merasa tidak diapresiasi, ada pihak yang merasa baik-baik saja. Ada pihak yang punya konsep tertentu, sementara pihak lain tidak menyadarinya—saya tak hendak menuduh ada pihak yang tidak peduli. Yang ada adalah pihak yang tidak tahu, dan pihak lain tidak berusaha memberi tahu.

It takes two to tango. Pernikahan itu milik bersama. Dan layaknya sebuah tim, akan ada salah satu pihak yang jadi leader-nya. Bisa suami bisa istri, masing-masing jadi pemandu pasangannya dalam aspek yang berbeda.

Jika suami lempeng dan istri ingin “bunga-bunga”, pimpin jalannya. Demikian pula sebaliknya. Jika ingin ada romantis-romantisan, bilang saja ke pasangan.

Malu?
Coba, Iqa, jelaskan ke anggota kulwap yang baru bergabung, masihkan perlu malu? Ahahah.
Jika suami lempeng dan istri pun lempeng, lain lagi urusannya. Ini bisa panjang kulwapnya.

Baik, kita diskusi, ya.
Siapa tahu ada Bovary di sekitar kita.

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Sahabat Berkaki Empat

28 April 2017 13:41 WIB

Kulwap (kuliah via whatsapp) yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart kali ini menampilkan dokter hewan yang bekerja di Balai Karantina, Jakarta, Julia Rosmaya. Yuk, kita simak pemaparan beliau yang kaya ilmu.

Suci Shofia: Sepertinya Mba Julia sedang sibuk bekerja, jadi saya yang akan membagikan materi yang telah beliau tulis.

Julia:  “The best therapist has fur and legs”

Pernah baca quote di atas?
Cerita berikut hanya dipahami oleh orang yang memiliki hewan peliharaan.

Tina stress, semua terasa salah di kantor hari ini. Beberapa pekerjaan yang dilakoni dengan sepenuh jiwa dianggap tidak layak oleh atasannya.

Saat pulang, dia terjebak macet parah. Hujan pula.
Dengan tubuh basah, Tina membuka pintu rumahnya. Rumah gelap, tidak ada orang di rumah. Kedatangannya hanya disambut 2 ekor kucing… yang berusaha mencari perhatian dengan berlari mengikuti di sekitar kakinya

Dengan tenaga yang tersisa, disiapkan makan malam untuk para kucing itu. Setelah mandi, Tina langsung ambruk di kasur.

Beberapa saat kemudian dia mendengar dengkur halus dan rasa hangat di dadanya. Kedua ekor kucingnya berebut duduk di dada dan leher. Secara reflex, Tina mengulurkan tangan untuk mengelus bulu lembut dan halus peliharaannya itu.

Dan… Secara perlahan perasaan relax menjalar ke sekujur tubuh. Pikirannya menjadi terang untuk menganalis masalah.

Dipandangnya kedua kucing yang masih mendengkur manja di dadanya. Mereka balas memandang.. “Terima kasih Momo, Bubu.. Kalian memang paling tahu kalau aku stress!”

Hehehe..  Cermini dikit ya..
Memelihara kucing atau anjing memang telah terbukti mampu meredakan stress. Bahkan di beberapa RS di negara Barat, hewan peliharaan telah menjadi bagian dari proses terapi penyembuhan.

Eh tapi..  Kucing kan bisa menyebabkan penyakit.. Katanya Toxoplasma, yang menyebabkan Ibu hamil keguguran atau janin cacat. Malaslah pelihara kucing. Belum pup-nya, makannya.. Riweh…

Tahukah anda, bahwa memakan daging kambing setengah matang juga  dapat menyebabkanToxoplasma? Jadi kucing tidak bisa dituduh 100% sebagai penyebab Toxoplasma, banyak lagi penyebab lainnya.

Lalu bagaimana mencegah penyakit dari kucing atau hewan lain yang kita pelihara?

Pertama, jaga kebersihan. Sediakan tempat untuk pup dan bersihkan fesesnya secara teratur. Tidak hanya kucing, hewan pelihara lain seperti anjing, burung, kelinci, ayam semua diperlakukan sama. Kebersihan harus utama.

Bila memelihara unggas seperti ayam dan burung. Harus lebih ekstra hati-hati menangani feses-nya. Virus flu burung dapat ditemukan di feses. Gunakan sarung tangan atau pelindung lainnya saat membersihkan kandang. Seminggu sekali, semprot kandang dengan cairan bayclin untuk mematikan virus penyakit yang mungkin ada. Kandang juga harus terkena sinar matahari dan dalam keadaan kering.

Bagaimana dengan anjing? Biasanya anjing sering kutuan. Mandikan anjing secara teratur dengan shampoo khusus anjing. Bersihkan kandang dengan cairan pembersih lantai seperti karbol. Jangan lupakan bagian dinding dan atap. Bila perlu, bawa anjing ke dokter hewan untuk mendapatkan obat anti kutu.

Kedua, vaksinasi anjing dan kucing anda. Vaksin utama adalah Rabies. Rabies menyerang manusia melalui gigitan hewan tertular. Bila manusia terkena Rabies, maka tingkat kematiannya hampir 100%.

Cara penanganan lupa gigitan, segera bersihkan dengan air mengalir, lalu beri betadine dan sejenisnya lalu segera ke dokter manusia 😁! Bukan ke dokter hewan ya.  Anjing/kucing/kera yang menggigit bila memungkinkan ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan atau dokter hewan. Hewan terduga Rabies akan dikarantina minimal 14 hari untuk mengetahui apakah hewan tersebut positif atau tidak terhadap Rabies. Hewan Rabies biasanya akan mati selama waktu tersebut.

Hati-hati bila berada di daerah Rabies seperti Bali, Sumatra Barat dan beberapa wilayah Sumatra lainnya. Hindari kontak dengan anjing/kucing/kera liar.

Tahukah anda bahwa kasus kematian manusia di Indonesia akibat Rabies lebih banyak daripada karena flu burung?

Ketiga, beri makan minum yang cukup dan kasih sayang. Hewan jangan hanya dipelihara, tapi wajib disentuh, dielus dan disayang. Terutama anjing dan kucing.

Oh iya. Lupa memperkenalkan diri. Saya Drh. Julia Rosmaya. Saat ini bekerja sebagai dokter hewan karantina, tetapi tidak membuka praktek. Saya memiliki 7 ekor kucing dan 1 anjing di rumah.Semoga penjelasan singkat saya cukup. Mari kita berdiskusi.

Drh. Julia Rosmaya R, M.Si
Dokter Hewan Karantina
WA: 08161121134
Blog: juliarosmaya.blogspot.co.id
Email: julia.rosmaya@gmail.com
FB: Julia Rosmaya Riasari
Twitter :@MAYA_JR2

Jawaban Inner Child

Kali ini sesi tanya jawab di kelas Kulwap Keluarga Sehati, 3 April 2017 1:48 PM

Suci Shofia: Siang, teman-teman semua.

Jawaban kali ini agak berbeda dengan biasanya.

Menurut Bu Elia narasumber kita (psikolog): “Materi inner child itu sangat klinis sesungguhnya. Biasanya hanya biasanya dapat diselesaikan di tempat terapi dan ruang konseling.

Jika dibahas selintas mungkin bisa, namun mmg utk memutus rantai membutuhkan bbrp jenis terapi yg harus dipraktekkan.”
Berikut jawaban untuk semua pertanyaan:

Bu Elia:

Salam. Selamat siang semua. Pembahasan kita kali ini cukup seru yang terkait dengan masalah inner child.

Dari artikel yang disampaikan di grup oleh mbak Anna, cukup memberikan penjelasan inner child itu seperti apa.

Dari keempat pertanyaan sebetulnya memiliki kemiripan kasus satu sama lainnya. Ada yang tidak terselesaikan masalah/trauma di masa lalu yang masih atau kadang kala muncul di masa kini, ketika berhadapan dengan situasi serupa atau ketika kondisi emosi sedang tidak terlalu tenang.

Sepertinya menjadi sulit untuk di kendalikan.

Sesuatu yang tidak terselesaikan di masa lalu biasanya terbawa di masa kini dan ikut mewarnai bagaimana dia berkeluarga, bekerja, berinteraksi dan ketika menjadi orang tua.

Seperti kasus di atas, sesungguhnya cukup sadar akan tetapi kenapa kadang tidak dapat dikendalikan?

Ingin berdamai, ingin menghilangkan trauma dan ingin memutus rantai, tapi tidak tahu caranya.

Bahkan salah satu kasus di atas si istri ikut terduplikasi dari sikap suaminya yang keras/kasar yang diduga memiliki inner child.

Beberapa cara yang dilakukan sebenarnya bisa menggunakan hypnotherapy atau forgiveness therapy dan membutuhkan beberapa sessi untuk menyelesaikan masalah inner child tersebut.

Ada juga teknik sederhana yang dapat dilakukan dengan menggunakan personal life line.

Misal : seseorang membuat garis di atas kertas kosong. Dibagi ke dalam 4 bagian. kiri kanan dan atas bawah.

Tuliskan sekitar 20 peristiwa yang bermakna yang cukup mempengaruhi kita di masa lalu dan masa kini berdasarkan lintasan umur dan waktu. Bagian atas hal-hal yang membahagiakan dan bagian bawah adalah hal-hal yang kurang atau tidak membahagiakan.

Semakin bawah semakin bermakna trauma yang tidak membahagiakan dan semakin atas merupakan kebahagiaan.

Selanjutnya kita rasakan setiap peristiwa, jika ternyata masih tersisa sampah-sampah emosi yang masih mengganjal berarti kita belum berdamai dengan peristiwa-peristiwa tersebut dan terbawa ke masa kini dan berdampak pada perilaku yang kurang kita sadari.

Begitulah rasakan berbagai peristiwa tersebut dan berikan angka kedalaman terhadap hal yang kita rasakan.

Kita harus menjelaskan peristiwanya apa? Siapa saja yang terlibat disana, apa saja yang sesungguhnya diharapkan terjadi dalam peristiwa tersebut.

Bentuk komunikasi seperti apa? bentuk sentuhan seperti apa? Dan penyelesaiannya seperti apa? Sehingga peristiwa-peristiwa tersebut memang clear terselesaikan.

Setiap orang dapat melakukannya dengan satu persatu diselesaikan secara individual. Jika belum mampu menghapus semua peristiwa, paling tidak mengurani beban emosi mental secara bertahap satu persatu yang dibawa dari masa lalu.

Demikian semoga bermanfaat.

Maaf saya kirim gambar panduan dari Bu Elia untuk pembagian kolom yang sudah dijelaskan oleh beliau di atas. Ada ralat, pembagiannya atas bawah.

Bu Elia Daryati: Abjad itu nama-nama peristiwa, sekaligus hal tersebut menunjuk di usia berapa peristiwa tersebut terjadi.

Abjad-abjad bercerita ttg masa lalu, awal-awal kehidupan dan terus maju ke masa kini.

Abjad begerak dari A…sd…seterusnya. bergerak dari masa lalu ke masa kini.
Anna Farida: Terima kasih, Bu Elia.

Teman-teman, saya tidak ikut-ikutan jawab, ya. Nanti salah resep 🙈

Saya juga mau ikutan bikin tabelnya, sambil takut-takut gitu mengakui beberapa hal yang sudah berlalu 🙊
[4/3, 4:34 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: meresapi materi
[4/3, 4:38 PM] Dieni Elha Kulwap: PR banget ini. Semoga bisa mengatasi inner child ya 🙏🏻
[4/3, 4:42 PM] Suci Shofia: amiinn, semoga semua bisa berdamai dengan masa lalu yang kurang menyenangkan😇
[4/3, 7:26 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: blm paham, yg atas masa lalu bawah masa depan atau gmn? 😆
[4/3, 7:28 PM] Suci Shofia: atas untuk inner child yang menyenangkan, bawah untuk inner child yg tak menyenangkan😇
[4/3, 7:36 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: oohh ic , saya kalo lagi marah yg terbayang wajah emak lagi marahin saya.. huaah .. PR banget nahan si Inner Child ga keluar

H: kalo sy lagi ga waras dan dede bkin kesel padahal usianya 3 tahun aja belum, dia nangis kejer saya kayak dengerin musik.. harus terapi ini yah
R: Terimakasih bu elia buat jawabannya. Smoga saya bsa segera mendamaikan inner child saya..dngan proses ga lama lama

Diskusi Pemilihan Jurusan

5 April 2017

5:43 AM

Salah satu peserta Kulwap Keluarga Sehati menanyakan perihal pilihan jurusan di bangku kuliah :

A: Salahkah memaksa anak untuk menempuh pendidikan yg lebih tinggi / dengan jurusan tertentu, sedangkan anak tidak berminat ??

Atau mungkin anak lebih ingin dengan jurusan A, tapi orang tua lebih senang dg jurusan B, karena orang tua tahu klo si B punya potensi di bidang B

Atas jawaban terimakasih, maaf sudah mengganggu waktu panjenengan semua.
U: Saya belum punya anak yang menginjak usia kuliah.. Tapi kalau tentang memaksa.. Rasanya memang salah. Apapun paksaannya 🙏🏼
Ea: Saya sangat berminat ke fakultas hukum. Sejak SMA saya berminat ke hukum.
Tapi saat kuliah saya diminta ke psikologi. Dan akhirnya saya nurut orangtua masuk ke psikologi.
Tapi hati kecil saya selalu ingin ke fakultas hukum. Teman2 saya jg semua ke banyakan dr fakultas hukum.
Skrg saya bekerja sebagai wirausaha. Saya berbisnis.
Jika saya dibolehkan mengulang, saya tetap ingin ke fak hukum.

Atau saya diberikan kesempatan S2, saya masih ingin ke fak hukum rasanya 😊
V: kuliah lagi aja mbak..sy gitu..karena kuliah ikatan dinas ya sesuai saran ortu..stlh skrg sy ambil.lagi peminatan awal sy..toh gak ganggu siapa2 juga😊
Ea: Iya mbak..
Tergantung keadaan nanti..
Klo dalam waktu dekat belum ada rencana kuliah. Baby2 saya masih jadi prioritas saat ini 😊
D: Saya pun mengalami hal yang sama dengan mbak Ea nih.

Saya mengambil kuliah keguruan seperti yang diharapkan Ibu saya dan saya berusaha menjalani profesi saya sekarang dengan senang hati dan perlu saya akui.. Dr tempat saya bekerja ini dan juga para kolega, saya mendapat banyak ilmu tentang parenting, yang bisa jadi tidak saya temukan di bidang yang saya idamkan.

Meskipun betul.. Jauh di dasar lubuk hati saya masih ada perasaan “menyesal” kenapa tidak coba keukeuh dengan cita2 pribadi. Melihat teman yg sukses di bidang yg saya inginkan dulu. Kadang ada perasaan.. “andai saja.. Pasti skrg bisa begini begitu.. Bisa kesana kemari”. Toh saya punya skill juga. #hahahahahaPEDE

Tapi keputusan itu sudah saya ambil dan inilah saya sekarang.
Jadi berusaha mencintai apa yang saya miliki sekarang.

Tapi entah ini ada kaitannya dengan Innerchild topik kmrn apa tidak.. Apakah bisa disebut saya belum “berdamai” dengan masa lalu. Tapi yang jelas sepertinya saya akan memberikan sedikit banyak kebebasan kepada anak-anak untuk menjalani passion mereka Tentu saja dengan sedikit banyak arahan dan nasihat #maklumEmak2 😁
M: Kalau menurut saya #sotoy
Inner child ini terkait dengan tahapan perkembangan psikologi yang belum tuntas, sehingga ketika dewasa akan mencari jalan untuk menuntaskannya.
Misalkan orang yang ketika kecilnya belum tuntas pada tahapan air, ia akan “senang” bermain air ketika dewasanya.

Diskusi Bra, Cantolan Bayi, Menstruasi, dan Narkoba

Yuk, ikuti diskusi seru narasumber dan peserta kulwap di hari Jumat, 24 Maret 2017.

 

[3/24, 12:08 PM] Suci Shofia: Yes! Jangan ikut gila😆
Yn: Kadang kelepasan ikut gila…

Tapi nggak sampe bikin banyak ufo dadakan dirumah.
Ls: Nah itu diaa bu Anna….
Menahan diri untuk tidak ikut gila sembari melayani dengan baik (dengan harapan dia akan membaik ) kok ya …duh…kadang telaten kadang enggak yaaa…(akhirnya ikutan bete..)
Ir: siappp jgn ikut gila mendingan jdi 🤡 hihi
lahh beneran sy kadang merasa kalo suami lgi krg enak bodi sy mulailah berperan ganda hahah termasuk mjd 🤡 yg bukan profesi untung gk pake acara ngecet muka tppi ckp buat lucu lucan ..
sampe suami berkata ..ummi kenapa ..demam k 😂

dan selesailah gk enak bodinya
Ma: haha…ya ..butuh cooling down ituh kanda prabu… 😄
A: Gila tdk, tp melarikan diri darinya alias kabooor😅😅
D: Jangan gila .. jangan marah sayang ..
Nanti kau menyesal 😊😋
Katakan abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
Versi BCL
[3/24, 1:20 PM] Suci Shofia: kaburnya jangan kelamaan yaaa😬
[3/24, 1:21 PM] Suci Shofia: Kalau ada pertanyaan seputar pembahasan kali ini, silakan japri ke saya.

Sebelum jam 24.00 malam ini.
[3/25, 6:10 PM] Anna Farida: Saya sedang lipat baju. Upeng (10 th) bantuin. Dia melipat breast holder dan tanya bagaimana pakainya dan kenapa pakai.
Kami jadi bicara ttg menyusui, tentang haid.
Ingatkan saya untuk cerita nanti, yaaa. Sudah magrib.
Hp: siap, mengingatkannya skrg ahaha
[3/25, 6:11 PM] Suci Shofia: Siap!
Is: asyik…
ini bagian yang perlu banget cikgu

bagaimana menyiapkan diri menghadapi putri kita yang mendapatkan haid pertamanya
[3/25, 7:34 PM] Anna Farida: Jadi mari cerita.
# emang kenapa harus pakai?
@ nanti payudara kan tumbuh membesar. Kan nanti buat nyusuin bayi. Lagian kalau payudara membesar, nggak enak kalau dibiarkan boing boing
# Hahahahahaha Ibu mah
Ubit teriak dari atas.
% Ibuuu ada ubit nih. Ubit kan laki-laki!
@ Lah laki-laki juga kudu tau. Nanti juga punya istri.
% Iya, tapi istilahnya jangan (vulgar) gitu. Malu.
@ oke maaaaf.
Nah, Upeng, payudara tumbuh buat nyiapin ASI. Ini biasanya bareng dengan rahim juga siap.

Allah bikin tubuh kita menyiapkan tempat buat bayi setiap bulan. Dinding rahim menebal nanti buat cantolan bayi. Kalau bayinya nggak ada, dindingnya nggak kepake, keluar jadi haid. Nanti bulan depan gitu lagi.

# berdarah gitu?
@ iya. Biasanya ada sakit perut dulu, atau sakit pinggang. Makanya Ubit juga kudu tau, nanti istri haid kudu tahu juga.
% Iyaaaa – sambil males gitu haha

@ tar kalau upeng haid segera bilang ibu. Ibu punya menspad baru. Kayaknya ibu perlu pesan lagi buat jaga-jaga.
Jangan pakai pembalut sekali pakai – kalau darurat sih oke tapi jangan jadi kebiasaan. Tar banyak sampah.

# jadi (breast holder) ini disimpan di mana?
@ rak nomor 3
[3/25, 7:34 PM] Anna Farida: Sudah
[3/25, 7:35 PM] Anna Farida: Rumpi cewek selesai, kami segera bahas hal lain
Nggak perlu kepo dia paham atau enggak.
Sampaikan saja setiap ada kesempatan.
[3/25, 7:35 PM] Anna Farida: Mari makaaaan #eh
A: 👍👍👍
Map: Semoga kami dikaruniai anak perempuan, agar ceritanya lebih lengkap.
Um: Assalaamu’alaikum …subhanalloh banyak ilmu yg amat bermanpaat. Jazakalloh…ikut gabung ya bun. Ummi zamzam.

R: Ya ampuun, belom biasa pake menspad..hiks…
Ls: Wah..
Jd mas Ubit dilubatkan juga yaa…
Mm..blm pernah sih bahas hal2 kewanitaan dgn sulung saya yang cowok.
🙏🙏
[3/25, 8:03 PM] Anna Farida: Amin amin P Muzayin, selamat rumpi, Ummi Zamzam
menspad bisa dibiasain. Saya juga baru bbrp tahun ini.
[3/25, 8:03 PM] Anna Farida: Ubit nguping – jadi ikut komen hahah
Dap: Anak2 saya cwo semua jd blm cerita masalah haid, tp giliran uminya ga sholat mereka protes bingung deh ngejelasinnya. Gimana ya?
[3/25, 8:13 PM] Anna Farida: 3 anakkku cowok, biasa bahas haid kok.
[3/25, 8:14 PM] Anna Farida: Kan nanti jadi suami. Jadi perlu tau juga. Bahas saja seperti bahas mau makan apa besok pagi 😬
Iq: di simpen dlu lom punya anak cowok ..nyari tips aa bisa dpt anak cowok 😁
[3/25, 8:35 PM] Suci Shofia: hahaha, boing boing, pesawat kaliii 😝

kedua anak saya laki semua 8 thn dan 5 thn sudah tahu soal mens, krn pas waktunya salat jamaah, bundanya ga ikutan.

sakit ga kalau keluar darah (mens), ya saya jelasin aja mirip kisah cantolan bayi (baju kali cantolan, hehehe)
Md: Habis bingung boing boing skrg cantolan bayi😂
[3/25, 9:05 PM] Suci Shofia: 😝😝
[3/25, 9:16 PM] Kh: 😍😍
[3/26, 6:39 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Kemarin ini anak tertua saya umur 8 nanya apa sih drugs.
Saya tanya liat dimana kata2 drugs.
Itu loh mi, di papan di pinggir jalan.say no to drugs.
Oh itu. Jadi giniiii….

Drugs itu obat. Ada obat yg kalo kita ga sakit trus pake sembarangan, malah bikin sakit. Itulah drugs.
Kog bisaga sakit minum obat? Emangnya beli dimana?

Nah kadang sengaja dibeli sama orang yang mau menghindar dari masalah. Misalnya, dia lagi sedih karena ga bisa bisa main piano (anak saya belajar piano tapi suka lebay ga latihan) tapi dia malah minum obat itu supaya dia merasa dia bisa main piano. Jadi begitu dia makan obat itu dia akan merasa senang, bahagia, bisa tidur, berasa hebat piano nya. Itu efek obatnya. Jadi begitu efek obatnya habis, coba tebak, dia bisa main piano ga?
Enggaaaa….. Koor duo bocah 8-6taon

Nah jadinya dia ulangi terus makan lagi obatnya supaya berasa bisa. Makin sering makan obatnya, makin jelek akibatnya.

Itu kalo minum drugs dengan sadar. Nyari sendiri obatnya.

Adalagi yang secara ga sadar dikasih obat sama orang jahat.
[3/26, 6:52 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Lanjut ga nih?
Lanjut dong mi…..

Inget ga pas lebaran suster pulang kampung? Kan pake bus tuh, sering ketemu banyak orang. Nah, kadang suster atau orang yg pulkam sering ngobrol sama org lain di tengah jalan dan kadang saling membagi makanan dan minuman. Ini harus hati2. Karena ada yang memasukkan obat di makanan atau minuman tersebut, trus kita jadi ketiduran. Begitu bangun, barang yang kita bawa sudah dibawa kabur sama orang itu, atau kalau kamu anak kecil bisa saja kamu diangkut sekalian,diculik, atau uang di dompet diambil. Kan kamu tidur.

Makanya jangan suka terima makanan minuman dari orang asing. Kalo dikasih, tanya mami dulu boleh ga diambil. Mami bilang ok baru boleh.
Soalnya sekarang banyak anak sekolah yang dikasih permen sama orang yang sering duduk2 di sekitar sekolah. Kamu sering liat orang itu, jadi pikir ini orang biasa disini kog, bukan orang asing.
Permennya gratis, isinya ada obatnya. Pertama kali kamu makan, ga berasa apa2, paling kamu jadi senang, bahagia.
Besok kamu minta lagi obat yg enak itu. Dikasih lagi. Beberapa kali dikasih gratis, kamu jadi ketagihan. Kepengen terus. Itu salah satu efek si drugs.
Nah kali ini, orang itu ga mau ngasih kamu gratis. Dia minta kamu bayar. Kalo kamu ga ada uang, dia suruh ambil duit mami atau barang di rumah dikasih ke dia.
Jadi karena sudah ketagihan dan kepengen, dan kalo ga minum obat itu kamu malah sekarang berasa sakit badannya,maka kamu mulai bohong tuh sama mami. Mulai ambil duit, barang. Itu mencuri.
Nah makin lama barang atau uang yg diminta orang itu makin banyak dan besar. Akhirnya kamu jadi terbiasa nyuri.

Jadi drugs itu bagus ga?
Enggaaaa…… Si duo bocah masih koor.
Kenapa?
Ntar bikin kita mencuri dan ga mau latihan piano lagi.

Okeh deh. Bibir mami sudah jontor. Mami haus. Yuk kita minun es campur.
😁😁😁
[3/26, 6:58 AM] Anna Farida: Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Masalah drug dibahas, latihan piano jalan – soal drug belum pernah kubahas sedetail itu. Catat!
Thanks, Greysiaaaa
[3/26, 7:16 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Wkwkkwk… Kreasi dalam masa kefefet bundaaa
Em: Emak emang kudu kreatif ya.. hehehe
Rw: Dicatat semua, dua lelaki yang baru akil baligh sudah mengerti tentang haidh, bahkan Mas kedua suka ngomong, yah calon adik kita sudah pergi, kl saya haidh.
Menyiapkan dua gadis kecil yang masih menyamakan menspad dengan popok dede atau popok Simbah☺

Th: Makasih mba Anna cerita tentang menstruasinya. 👍🏻😊
Anak perempuanku (8,5 thn) sudah mulai tanya-tanya tentang ini.
Mba Greysia, makasih juga ceritanya tentang drugs. 👍🏻😊

Beberapa bulan lalu pernah ada pameran/bazar dari kepolisian. Sosialisai turn back crime, kalau ga salah. Saya ajak anak-anak lihat dan tanya-tanya seputar drugs (ada stand khusus drugs), yang jelasin polisi yang jaga stand.
Saya juga baru tahu jenis-jenis drugs mulai dari ganja, heroin, sabu, dll., karena ada display-nya. Beneran barangnya, bukan cuma gambar. 😊
Is: masih ngebahas haid kan?
putri2 kecilku suka penasaran soal haid, saya masih pakai pembalut😬
mereka bilang bunda pake pampers.
setiap saya haid dibuntuti… ternyata mereka penasaran gimana cara pakaianya…
ya udah akhirnya aku perlihatkan cara memasang pembalut di celana dalam.
tentu saja bukan di kamar mandi
😊
setelah itu mereka stop membuntuti saya …
😊
Df: Kalau berhasil..

Share tipsnya ya mbak 😉
[3/26, 1:27 PM] Greysia Susilo Junus kulwap: Pengen juga sih dikasih liat, lewat yutub misalnya, tapi ga tau ada yg ramah anak apa engga. Tar mereka meniru malah bahaya
[3/26, 8:19 PM] Anna Farida: Iya hati hati dengan kampanye antidrugs – banyak yang nggak ramah anak – adegan memakai narkoba tidak boleh ditampilkan

Beauty and The Beast Pernikahan

Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati menyampaikan materi di hari Jumat, 24 Maret 2017:

 

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-79. Tak terasa, Saya dapat tema “Beauty and the Beast” dan sambil menebak-nebak, ini maknanya apa.

Apakah tentang suami yang lembut hati tapi bertampang sangar? Ehehe

Dalam pernikahan tentu ada saat semua baik-bak – ini yang ditampilkan di dinding media sosial buat eksis. Saat semua sesuai rencana, rasanya semua mendukung – semua serba benar, kekurangajaran jadi bahan candaan, kesalahan jadi bahan tertawaan. Pokoke mau berbuat atau bicara apa pun dengan pasangan, hasilnya bikin bahagia sentosa 😃

Namun demikian, ada saatnya semua serba tidak pas.

Pasangan kita mendadak uring-uringan—atau bahkan diam, atau tidak seramah biasanya. Sikap kita dianggap salah, omongan kita ditanggapi seaadanya, jadi bikin suasana canggung. Ini nggak akan masuk FB, dong, ya. Atau ada yang memajangnya ke seluruh dunia? Haha.

Kita bingung, kok mendadak tidak enak begini. Kenapa, sih, ini?

Eh, dia tidak mau cerita.

Pada saat ini tidak ada bedanya lelaki dan perempuan, semua punya kalimat andalan yang maknanya bisa sangat berbeda dengan arti kamusnya bisa: “Nggak papa kok. Aku ra popo.” 😝

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan ketika suasana nggak enak seperti ini?

Ada dua pilihan:

+ Jujur brutal: sampaikan padanya Anda tidak nyaman. Tanyakan apa yang terjadi, dan minta dia bicara kenapa dia bersikap tidak biasanya. Perhatian, ini mengandung risiko berlapis. Anda dalam kondisi tidak nyaman duluan, jadi cara ngomongnya bisa jadi sudah beraroma emosi negatif.

+ Diamkan dulu. Beri dia waktu. Mungkin  sedang tidak enak badan, mungkin sedang ada masalah, mungkin juga sedang capek (capek ngomong dengan Anda, maksudnya hahah)

+ Jangan ikut gila. Sori kalau pilihan katanya agak vulgar—mau cari ungkapan lain tidak ada yang lebih pas. Artinya, saat ini di sedang tidak bisa diajak baik-baik. Anda jangan ikut-ikutan bertingkah. Bersikaplah biasa saja, ajak bicara seperti biasa—nggak usah baper kalau dicuekin. Lihat dalam beberapa jam atau seharian ini. Kalau masih belum membaik, tingkatkan level pelayanan, bukan level kegilaan. Jika dia masih seperti itu walau sudah diajak baik-baik, baru bahas.

 

Banyak pertengkaran dan masalah besar terjadi karena Anda ikut gila.  Jika Anda mau menahan diri sedikit saja, siapa tahu lebih baik hasilnya. Jika ternyata tidak berhasil, baru ke langkah selanjutnya: bicara, minta penjelasan, hingga minta bantuan.

 

Nah, bagaimana? Pilih yang mana?

Mari merumpi – belum 500 kata tapi saya mau buru-buru pergi. 😃

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Tanya Jawab Pernikahan

Tanya 1:

Saya mau tanya gimana caranya mengatasi komunikasi yg dingin,dimana pasangan kita cenderung mau didengar tanpa mendengar.

Jawaban Anna Farida:
Salah satu keterampilan yang “mahal” harganya adalah mendengarkan. Berbahagialah jika kita merasa sudah cukup mampu mendengar dan tidak hanya ingin didengar.
Komunikasi yang dingin biasanya berupa suasana saling tidak peduli, sih. Ini masih ada yang mendengar dan didengar, berarti masih ada komunikasi, insya Allah.

Lantas bagaimana agar lawan bicara mau mendengar kita juga?
+ Pastikan kita pun adalah pendengar yang baik yang memberikan respon yang baik ketika orang lain berbicara.
+ Berbicaralah yang singkat, sampaikan pesan yang jelas, fokus. Nggak usah bawa-bawa pelajaran sejarah 😀 Pesan yang padat akan mudah “didengar”.
+ Gunakan I-message — masih ingat?
+ Gunakan jeda. Saya biasa ngomong panjaaaag – suami saya akan lebih memperhatikan justru ketika saya berhenti di tengah ocehan itu.
+ Komunikasi kan tidak selalu verbal. 80% pesan akan sampai melalui bahasa tubuh, raut muka, bahasa cinta 😉
Satu kata plus satu usapan akan jauh lebih bermakna daripada 500 kata yang Anda baca dalam materi kulwap, haha.

Apa lagi, ya?
Intinya sih sadari bahwa didengar itu memang menyenangkan. Jadi ya saya kadang memang berniat memberi kesenangan itu pada orang yang saya dengarkan – ehehehe
Jawaban Bu Elia :

Sesungguhnya yang namanya komunikasi termasuk di dalamnya menyangkut pola interaksi. Jika pola interaksinya baik, maka pola komunikasinya akan baik.

Pola interaksi yang baik, bukan hanya melibatkan masalah fisik, namun juga melibatkan interaksi psikologis di dalamnya. Sekarang yang perlu di evaluasi sebelum melangkah ke pembahasan komunikasi adalah relasi ibu dan suami…inyeraksinya seperti apa.

Namanya komunikasi biasanya melibatkan dua orang atau lebih. Nah…ibu dalam hal ini hanya melinatkan pasangan suami saja. Dikatakan ibu suami cenderung komunikasinya searah, dimana hal ini dirasa kurang adil dan egois.

Apa yang harus dilakukan :

Hal ini harus disampaikan dengan baik-baik tanpa harus saling menyalahkan. Hal lain yang harus dievaluasi adalah sudah berapa lama ibu menikah? Dengan waktu yang sudah berjalan ibu akan tahu saat yang tepat untuk bicara hal yang menjadi persoalan sekarang ini.
Caranya tidak menuduh, membandingkan, menyalahkan dan segala hal yang membuat pasangan menjadi lebih kuat pertahanan dirinya dan merasa nyaman.
Biasakan melakukan komunikasi dalam jarak yang dekat kurang dari satu meter ( jarak intim), dan bisa dilakukan ketika kondisi nyaman.

Jika iklim psiologis ini dilakukan secara rutin, secara bertahan suami akan tergiring dalam situasi ini. Lakukan secara berulang dan penuh kesabaran. Boleh jadi tidak seinstan yang kita harapkan, tapi biasanya selalu ada sedikit perubahan. Sekecil apa pun perubahan hargai itu sebagai suatu perubahan.

Kuncinya adalah rasa cinta yang besar pada pasangan dan bersabar atas ikhtiar yang dilakukan. Biarkan yakinkan pada diri pada akhirnya akan terjadi perubahan yang kita harapkan. Suami.kita berubah, kita pun sesungguhnya berubah. Jarak yang awalnya jauh laun akan mendekat pada akhirnya. Interaksinya memnaik, insya Allah…komunikasinya pun membaik.

Tetap untuk bersemangat….semangat perubahan ke arah yang lebih baik.

Hanya ada satu pertanyaan, ya😇

Diskusi Menyiapkan Anak Menjadi Pasangan yang Baik

18 Maret 2017

BA: Mksh bu @Anna Farida, TOP BGT

Klo anak cewek said : kenapa to (sih:red) ibu selalu nurut dan ngikutin ( patuh.red) ayah terus?
“Karena seorang istri itu harus patuh pd suami kak, karena ridho Allah tergantung pada Ridho Suami, dan juga anak harus patuh pada orang tua, tapi dalam hal kebaikan dan ketaatan pada Allah.

#Sudah pas apa belum ya cikgu dengan pilihan bahasanya? sudahkah pesan tersampaikan utk mempersipkan kakak menjadi “calon pendamping”
Anna Farida: Kalau saya sih bukan karena harus patuh semata, tapi karena kesadaran bahwa di antara saya atau suami harus ada yang terus berbuat baik 🌿 Suatu saat anak saya tanya, dalam suatu peristiwa, “Kenapa Ibu ngalah?”
Saya jawab begini,
“Coz I’m in control. It’s not always about winning”
Sr: 😲👏🏻👏🏻
Cikgu keren. Saya jadi ingat sering berencana kelak kalau punya anak laki-laki akan saya ajari begini begitu agar istrinya senang. Eh tapi saya sering lupa bagaimana mencontohkan sikap istri ke suami. Paling banter cuma ayah sebagai pemegang keputusan tertinggi.

BA: Terima kasih cikgu, inspirarif bgttt😊

Menyiapkan Anak Menjadi Pasangan yang Baik

Salam sehati, Bapak Ibu.

Maafkan atas keterlambatan kulwap ke-79 kita. Tukang servis mesin cuci datang pagi-pagi menyela bikin saya terpesona 😃

Nah, kita bahas tema yang sudah lama diajukan tapi selalu terlewat, mendampingi anak menjadi (calon) pasangan yang baik. Apa yang mesti kita lakukan sebagai pasutri agar anak-anak sedini mungkin memiliki konsep yang baik tentang pernikahan dan bersedia menjaganya.

Anak-anak ini belajar dari apa pun yang ada di sekelilingnya. Ada yang baik ada yang buruk, ada yag langsung diserap ada pula yang tidak—artinya, ada anak yang bisa menyaring ada yang tidak, ada yang bisa memberi pemaknaan setelah dia dewasa ada yang tidak. Misalnya, anak menyaksikan orang tuanya sering bertengkar dengan suara tinggi—ada anak yang menyerap dan meyakininya sebagai cara berumah tangga hingga dewasa, sehingga dia melakukan kekerasan yang sama. Ada pula yang menemukan hal lain dalam tumbuh kembangnya dan ketika dewasa dia memaknai pertengkaran orang tuanya sebagai sesuatu yang salah dan memutuskan untuk tidak menirunya. Kita sih maunya anak-anak kita menyerap yang baik dari pernikahan orang tuanya dan mengoreksi yang salah, kan? Jadi buat jaga-jaga, kita bisa melakukan beberapa tips sederhana seperti ini:

+ Tunjukkan ungkapan cinta secara visual – perlihatkan bahwa Anda saling sayang. Ada yang bilang cinta itu kan terpancar dari hati—memang, sih. Tapi ingat, cara belajar anak-anak kan konkret operasional—apa yang dia liat, itu yang dia pahami. Dia lihat ayahnya memeluk ibunya = ayah sayang — walau dalam hati ayah sebenarnya sedang bete sama ibu karena sebab tertentu.

+ Kelola konflik. Rumah tangga mana yang nirkonflik? Ada, pasti. Tapi kita tidak sedang bahas kekecualian. Kita bahas yang umum saja, bahwa sebagai pasutri kita pasti pernah bertengkar. Ada yang bilang itu bumbu pernikahan—bumbu yang tidak enak dan salah resep!

Ketika bertengkar, minimalkan dampak pada anak. Mereka itu peka, lho. Jangankan perang terbuka dan bertengkar di depan anak, ayah ibu mengurangi intensitas percakapan sedikiiit saja, mereka akan merasa tidak nyaman—anak tidak selalu paham bahwa ayah ibunya sedang ribut tapi ada suasana tidak nyaman melingkupi mereka. Limpahi mereka dengan kebaikan yang lebih sehingga rasa tak nyaman itu bisa terobati.

+ Temani mereka bersiap. Sejak dini, saya biasa bicara gini ke anak-anak, “Nanti pas Kakak punya istri, bantu dia angkat jemuran juga, ya, seperti Kakak bantu ibu,” atau “Ayo, yang rajin mandi. Ibu malu, nih, sama istrimu nanti kalau kebiasaan menunda mandi ini terbawa sampai gede,” atau “Nanti baik-baik, ya, sama istrimu” daaan sebagainya. Jadi konsep bahwa someday mereka akan jadi pasangan orang lain itu bisa disampaikan sambil lalu sejak anak masi kecil.

+ Tetaplah jadi pasangan yang baik. Ini yang paling penting. Karena kita ingin mengajak anak memeiliki konsep yang benar tentang pernikahan, sudah tentu kita pun akan memperbaiki diri sebagai pasangan. Yangn terbaik tentu kompak saling dukung. Jika tidak—jika kita dikaruniai pasangan yang tidak selalu sependapat dengan kita, ada sikap penting yang perlu diambil: kamu baik aku baik, kamu kurang baik aku akan berusaha tetap baik. Anak akan melihat bahwa salah satu orang tuanya selalu menginspirasikan kebaikan dalam pernikahan—walau kadang orang tuanya yang satu lagi terlihat tak peduli atau bahkan mementahkannya. Anak akan tetap melihat bahwa ada salah satu dari orang tuanya berupaya.

Prinsip di atas itu berlaku umum. Tidak usah ge er bahwa kita yang selalu lebih baik dari pasangan. Siapa tahu pasangan kita yang lebih sering menguatkan diri dengan berkata “kamu baik aku baik kamu kurang baik aku tetap baik” tentang kita #tutupmuka #manabaskom

Btw, ketika anak-anak saya nyisir berlama-lama di cermin, saya sering nyeletuk, “Plis, jangan terlalu ganteng begini. Nanti ibu cepat mantu dan punya cucu” 😃

Nah, siapa yang sudah mau mantu?

 

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)