Pernikahan Abadi

Jumat siang di awal bulan Juli 2018 kulwap Keluarga Sehati kembali menyajikan materi bergizi dengan narasumber yang berkualitas (Elia Daryati dan Anna Farida) setelah libur sejenak pasca libur lebaran 1439 H.

Pengen ikutan kelas Kulwap Keluarga Sehati? Kirimkan nomor whatsapp Anda ke admin 089650416212 (Suci Shofia).

Anna Farida:
Salam sehati, Bapak Ibu.

Semoga libur sebulan membuat kita fresh. Ini kulwap yang ke berapa? 124? Lupa. Kita akan bahas materi pernikahan.
Saya sedang menulis sebuah biografi tentang pasangan yang menjadi subjek bahasan gerontologi. Ilmu apa ini? Ehehe.

Proses penulisan ini membuat saya buka-buka website dan menemukan gambar-gambar yang membuat saya terpesona. Dua pasang tangan keriput bertangkup, atau saling bergandengan. Dua punggung melengkung berjalan bersisian, yang satu pegang tongkat satu lagi menggenggam tangan pasangannya.

Saya juga pernah mendadak mellow di sisi jalan saat melihat seorang kakek mengikatkan tali sepatu pasangannya—sudah tentu nenek-nenek. Sama sekali bukan adegan sinetron mana pun, karena mereka baru melangkah dari tukang surabi (serabi) yang berasap.

Saya jadi bertanya-tanya, apa rahasia mereka?
Karl Pillemer, seorang gerontologis,menuliskannya di beberapa situs. Saya akan rangkumkan untuk Anda.

+ Jaga komunikasi. Ini klise, tapi apa boleh buat. Komunikasi yang stabil adalah kunci hubungan jangka panjang. Komunikasi asertif sudah jadi mantra di ruang kulwap ini, jadi selalu berkomunikasi bukan berarti selalu bicara. Itu sih saya, don’t do it at home #tutupmuka.
Dalam buku Marriage with Heart, Bu Elia menasihatkan tentang visi dan misi pernikahan. Jika hal itu belum dilakukan atau terlihat kendur, coba bahas (ulang). Sebagian ahli menyebutnya dengan pernikahan berkesadaran. Kita memang mengondisikan secara sadar bahwa kita berada dalam hubungan, bukan menjalaninya apa adanya.
Bahas tentang anak-anak, bahas tentang keuanga, tentang keluarga, tentang teman-teman. Bahas gosip murahan sampai miliaran. Bahas dengan gaya dan cara masing-masing sesuai style, sesuai kondisi, sesuai takaran.

+ Tetap perhatikan pasangan walau sudah ada anak. Tak jarang urusan anak membuat kita (saya aja, kaleee) sangat sibuk. Pasangan tidak bisa protes karena yang dilakukan adalah demi anak. Energi dan waktu tersita demi anak, dan itu sungguh mulia. Meski begitu, alokasikan waktu spesial – 5 hingga 10 menit pun cukup – untuk menjaga kemesraan. Mah paki gaya apa dan kegiatan apa dipersilakan. Mau main catur berdua atau mau bersihkan kompor di kamar juga boleh.
Kapan? Cari waktu, cari tempat, masa saya juga yang harus kasih tahu 😀
Pada akhirnya, kemesraan antara suami istri akan memberikan dampak luar biasa baik bagi tumbuh kembang anak.

+ Prioritaskan keperluan pasangan
Makin tua (ini bukan saya) seharusnya kita makin paham keperluan pasangan. Tugas kita adalah mendahulukan keperluannya itu—bukan menempatkan diri pada posisi yang lebih rendah atau lebih tidak penting, tapi memuliakan dia akan berdampak timbal balik—ujung-ujungnya pamrih juga ahahaha.

+ Urus diri Anda. Sejak dini, mumpung masih muda seperti saya, perhatikan kesehatan, perhatikan makan—kurangi ngemil (ini khusus buat saya). Nanti, sepuluh atau dua puluh tahu lagi, kulit sedikit keriput bukan masalah, asal masih kuat jalan keliling kampung setelah beli surabi berdua #eaaa.

+ Lengkapi dengan doa. Apa pun itu, kuasa Yang Maharahim dan pemilik cinta adalah harapan terbaik kita. Doa demi doa yang terucap secara spesifik itu penting bukan hanya untuk afirmasi positif tapi juga membangun mental dan daya juang.
Ketika ada masalah, saat pasangan berulah, setelah berbagai upaya kebaikan ditempuh, kita punya Tuhan sebagai sandaran. Pada saat yang sama kita pun berdoa pasangan kita diberi kekuatan saat kita berulah 🙂

Itu saja, saya jadi pingin serabi.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Advertisements

Edit Pasangan?

Jumat, 27 April 2018

Kelas Kuliah Via WhatsApp Keluarga Sehati kali ini membahas tentang mengotak-,atik pasangan.

Baik atau enggak, ya, meminta pasangan untuk berubah sesuai keinginan kita?

Kuy, simak materi dari Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu

Ini kulwap ke-117, kita akan bahas materi “mengedit” pasangan.
Tema ini sudah lama singgah di kotak pesan saya dan selalu bikin nyengir. Mengedit? Naskah, kaleee.

Mengedit naskah itu kan memperbaiki konten, meluruskan kalimat yang keriting, sekaligus meluweskan kalimat yang kaku.

Apakah pasangan juga memiliki potensi diedit seperti itu? Eheheh

Saya pernah menulis bahwa pernikahan itu seperti sepasang sandal, kanan dan kiri, digunakan untuk melangkah bersama. Tentu tidak enak melangkah dengan sandal sisi kanan dua-duanya. Adakah toko yang jual sandal seperti itu? 😀

Dalam bahasa Jawa, memiliki pasangan itu seperti “tumbu etuk tutup” seperti bakul yang menemukan tutupnya. Tidak perlu dibahas mana yang bakul dan mana tutupnya—apalagi pakai bawa-bawa berat badan #eh

Artinya, kita siap menerima perbedaan karena memang ada dua manusia yang terlibat dengan urusan hari ke hari.

Ada yang pernah bertemu dengan seseorang lantas kita merasa “Saya tampaknya cocok sama dia. Aduh, saya merasa klik dengan dia. Ngobrol sekali langsung nyambung, seperti ada chemistry gitu.”
Ah, saya sih tidak percaya.

Anda mungkin merasa cocok dan terkagum-kagum kepada saya karena saya kan senang bikin pencitraan di media sosial. Coba Anda tinggal seminggu saja sama saya, bisa jadi Anda akan terkena migrain ringan hingga sedang ahahah.
Jadi, saya baru percaya yang disebut cocok itu ya setelah bersama bertahun-tahun dan saling menyesuaikan diri.

Demikian pula dengan pasangan.
Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan nilai yang kita yakini, kita akan saling menularkan pengaruh. Yang berantakan bisa terpengaruh jadi rapi, dan yang rapi pun bisa tertular jadi messy.
Kata Bu Elia, pasangan itu saling menginspirasi, dalam hal ini saling mengedit.

Dalam editing, ada yang disebut dengan hard editing dan mild atau light editing.
Kita semua tahu bahwa pernikahan terjadi antara dua manusia yang berbeda.

Ketika kita sesekali mengalami kejadian yang disebut dengan konflik batin, berbda pendapat dengan diri sendiri, berbeda antara harapan dan kenyataan dengan diri sendiri, mengapa kita selalu ingin cocok dengan orang lain—pasangan kita itu kan tetap manusia lain.

Tidak cocok itu biasa, saling mencocokkan diri itu yang perlu perjuangan.

Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika kita merasa bahwa pasangan benar-benar memerlukan editing?

Ini yang bisa kita tanyakan:
Lihat visi dan misi pernikahan. Jika masih terjaga, tenang dulu, jangan buru-buru membatin “kami sudah tidak ada kecocokan.” – ada yang hafal frasa ini?
Ingat, mungkin di antara kita dan pasangan memang ada ketidakcocokan, tapi kecocokan yang lain pun ada, dan ini yang perlu dibangun lagi dan lagi.

Lihat juga urgensinya.
Apakah editing perlu dilakukan sekarang atau nanti saja, ketika kita sudah sama-sama tenang? Apakah ada hal yang memang sebaiknya dibiarkan begitu saja apa adanya—just enjoy the difference, nikmati perbedaannya. Hasilnya, kita tetap jadi manusia mandiri, tetap punya eksistensi personal—ini akan kita bahas kapan-kapan 😀

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Beda Hobi dengan Pasangan?

Anna Farida berkata:

 

Salam sehati, Bapak Ibu.

Ini kulwap ke-116, kita akan membahas tentang “Hobiku berbeda dengannya”

Entah kapan, saya pernah menulis bahwa pasangan suami istri itu seperti sandal. Desainnya memang kiri dan kanan, dibuat berpasangan. Satu kiri satu kanan, satu rapi satu berantakan, satu terobsesi dengan diet dan sering gagal, satunya lagi memang doyan makan.

Hobi pun tidak selalu sama, dan ini mesti dikelola supaya tidak jadi perkara.

Suami saya hobi bersepeda. Bagi saya, bersepeda itu buat gaya-gayaan saja. Biar dianggap punya pola hidup sehat, gitu, ahaha. Mimpi dia adalah membawa semua keluarganya bersepeda keliling kota. Baru dua anak berhasil dibawanya dan kapok karena salah satu nyaris tersambar angkot. Bandung kan terkenal dengan lalu lintasnya yang tak peduli jalur sepeda. Belum lagi janjiannya, kapan mereka punya waktu–karena bersepeda itu bisa seharian. Janjian dengan anak zaman sekarang lebih rumit daripada janjian dengan wali kota.

Sejak saat itu dia memutuskan untuk menjalani hobinya sendirian. Mana saya mau diajak bersepeda naik bukit dan menyusuri pematang sawah yang licin. Seram! Kali ini mending setrika, deh, sambil nonton.

 

Kawan saya lain lagi. Suaminya suka sekali burung sedangkan dia tidak suka. Demi memberikan kenyamanan bagi burung-burungnya saat malam, sang suami membuat kandang besar di dalam rumah yang luasnya tidak seberapa. Bahaya kalau di luar bisa sakit atau dicuri, katanya.

Semula dia tidak banyak bicara karena toh burung-burung itu mendatangkan penghasilan ketika anak-anaknya dijual—walau yang dipelihara tetap lebih banyak dengan alasan sayang. Jumlah yang dipelihara makin banyak, makin banyak.

Suatu hari sang istri merasa cukup. This is it.
“Aku keberatan tinggal di kandang burung,” begitu katanya usai sarapan.

Dia merasa dialah yang nebeng di rumah itu, dan burung-burung itu jadi penguasa. Ritme hidup mereka diatur oleh burung yang mereka pelihara—kapan harus makan, kapan harus pergi dan pulang—suami istri ini jarang pergi berdua karena salah satunya harus jaga rumah, atau lebih tepatnya jaga burung.

Saya tidak sempat kasih masukan apa-apa saat dia bercerita, karena kami hanya berjumpa sejenak di antara acara di sela kerumunan.

Setelah sekian lama, kawan saya itu memberi kabar. Semua burung mereka dijual, sebagian lagi masih dititipkan di pet shop, sebagian diberikan ke teman. Kawan saya itu lega setelah perang dingin dengan suaminya sekian lama.
“Rumah kami jadi rumah manusia lagi,” katanya.

“Sip, lah. Kabar suamimu bagaimana?”
“Itu yang mau kutanyakan. Dia sih sekarang punya hobi baru, dan tidak pernah lagi bicara soal burung.”
“Tapi … pasti ada tapinya, kan?”
“Iya. Sejak semua burung disingkirkan dari rumah, rasanya ada yang hilang dari sikapnya padaku. Aku tidak bisa memastikan apa, tapi kadang saat kami bicara, aku merasa ada ganjalan. Aku lega, tapi sekaligus menyesal. Jika dia agak ketus sedikiit saja, aku selalu menduga pasti karena burung-burung yang kuusir itu.”

Memiliki hobi yang berbeda dengan pasangan itu biasa. Kita tidak perlu memaksakan diri suka jika memang tidak suka. Selama tidak melanggar kesehatan dan agama, hobi apa pun boleh, bahkan dianjurkan—pilihan hobinya ditakar-takar saja sesuai anggaran dan kondisi, lah.

Punya hobi itu sehat, dan mendukung hobi pasangan itu menyehatkan pernikahan. Anda tidak suka makan jamur kuping sementara pasangan sangat doyan? Masak saja sesekali buatnya, lantas temani dia makan sambil mengunyah kuping yang lain ahaha.

Anda tidak suka nonton film horor?
Buatkan saja dia minum dan kudapan ketika sedang nonton. Lantas Anda ngapain? Main WA juga boleh 😀

Dibawa enteng saja, tapi jangan dientengin.

Bagi umumnya orang, hobi itu sangat berarti. Beri ruang padanya untuk mengembangkan hobinya, anggap saja itu jeda di antara kesibukan sebelumnya.

Saat Anda mulai keberatan, seperti kasus burung di atas, bahas dengan objektif.
Teman saya itu bisa dengan baik-baik bicara bahwa sebaiknya mereka menabung untuk membuat kandang burung di luar. Rumah tetap nyaman, burung pun riang.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Kenapa Dia Defensif?

Hai sahabat pembelajar, Kulwap Keluarga Sehati ke 110 kali ini membahas sistem pertahanan diri.

 

Langsung saja, ya.

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu semua.
Mohon maaf, saya terlambat post materi. Kita mau bahas tema pasangan defensif pada kulwap ke-109 ini 😀 –> Mbak Anna suka lupa.

Sebenarnya defensif itu apa, sih?
Secara umum, defensif artinya sikap bertahan. Kita (saya aja, kaleee) melakukan kesalahan tapi tidak mau ngaku dan cari alasan ini itu. Saya telat post materi karena banyak kerjaan, anak saya harus diantar ke sana kemari, air PDAM tidak ngocor, saya mendadak harus belanja karena mau ada tamu.
Padahal, saya tinggal minta maaf. Saya tidak mampu mengatur waktu dengan baik, maafkan saya.
Tapi nanti kan saya kena tuding tidak tertib oleh Mahmud Admin.
Jadi, ketika dia mengingatkan saya untuk post materi, saya bilang dia tidak pengertian, tidak berempati, baperan, daaan sebagainya.
Padahal, saya yang jelas-jelas salah, tapi saya yang duluan marah.
Mungkin punya firasat yang tajam, saya tidak ditagihnya, ahaha.

Errr … ada tidak yang bergaya begitu di rumah?
Marah duluan padahal salah 😀

Kita sesekali defensif karena cemas jika tidak bela diri, nanti kita terlihat salah. Defensif adalah salah satu cara untuk jaim alias jaga image.
Bagi orang yang defensif, komentar miring sedikiiit saja dianggapnya sebagai kritik pedas yang akan menjatuhkan wibawanya.

Jadi, ketika pasangan terindikasi defensif, kita harus bagaimana?
+ Turunkan volume suara, turunkan bahu. Tarik napas, ingat keluarkan lagi 😀
+ Ajak dia bicara dengan suara yang perlahan. Dia sedang merasa tidak aman, merasa buruk atau merasa kekurangannya tersingkap.
+ Alihkan topik pembicaraan, atau cari cara untuk menyingkir sejenak. Pindah ke ruang sebelah saja, jangan ke mall.
+ Jika situasi memungkinkan, manfaatkan kontak fisik—ingat, jangan sentuh bola matanya, bahaya.

Tunggu, tunggu.
Empat hal di atas hanya bisa kita lakukan jika kita sendiri tidak ikut defensif, lho.
Nah, yang paling kenal pasangan kan kita.
Kita hafal benar hal apa yang biasa membuatnya defensif, misalnya ketika ditanya kenapa lupa bawain martabak.
So, cari cara, deh, ya.
Bagaimana caranya agar martabak dapat, dia nggak perlu defensif.
Pesan online?
Beli sendiri?
Bikin sendiri? – ini tidak akan saya lakukan 😀

Kadang kita mengharap banyak hal dari pasangan dan mengajukan tuntutan dengan berbagai cara: kadang caranya bagus kadang tidak.
Seharusnya dia berada pada posisi paling nyaman ketika bareng kita. Seharusnya dia tidak perlu malu mengakui kesalahannya pada kita.

Tunggu.
Jangan-jangan kita (saya saja, kalee) yang memberikan contoh bersikap jaim dan tidak ingin terlihat lemah atau tidak salih/ah di hadapan pasanangan 😀
Akhirnya, dia pun lambat laun mengadopsi sikap yang sama.
Bukankah kata Bu Elia, pasangan itu kan saling menginspirasi.

Eh, btw, suatu saat saya ditanya, “Mbak Anna, Anda itu orangnya defensif, nggak?”
Jika saya spontan jawab “tidak”, saat itu saya sedang defensif 😀

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Diskusi Komunikasi dengan Pasangan

Berikut diskusi peserta kulwap Keluarga Sehati dengan narasumber Mbak Abyz Wigati.

[11/17, 2:28 PM

H: Haha… jadi ingat… saya dulu pendiam, masalah antara saya & suami saya simpan saja rapat2… hingga suatu ketika, suami menyampaikan “kekecewaannya” terhadap saya kepada keluarga besar saya…
Seperti api dalam sekam, saya tersulut… keluar juga semua “kekecewaan” terhadap suami yg lama saya simpan sendiri…
Nah, lho… suami kaget juga rupanya, saya jadi “gak pendiam” lagi… 😜
Tapi itu duluuu, pas masih menikah seumur jagung…
Kalau sekarang… jadi biasa aja ada orang ke-3… meski tidak selalu.
Ya… sesuai kebutuhan… 😁
#just share, tidak untuk ditiru… ☺🙏🏻

Suci Shofia: 😆. Selalu ada kisah seru diawal pernikahan terkait komunikasi, ya.
H: Betuuul… biasalah… penyesuaian… 😄😜
Suci Shofia: Tips dari Mbak H kalau ada campur tangan pihak ketiga seperti apa?

H: Pihak ke-3 yg pernah saya alami paling hanya keluarga besar aja Mbak, ortu atau saudara kandung, gak pernah keluar sih, kecuali “darurat”
Suami ngadunya ke ortu saya, saya ngadunya ke ortu suami… 😄
D: Itu cerita yg sedang saya alami 😭 Setelah 14 tahun pernikahan😭
H Cup-cup… sabaaar Mbak D… 😘😘

Suci Shofia: peluk Teh D 😘😘😘😘
Jadi saling adu ini, hehehe. Baiknya diselesaikan internal dulu, ya. Baru dibawa keluar.
D: 😭😭😭😭
H: Kalau pihak ke-3-nya ortu atau saudara, mungkin bisa sekalian minta saran2 dari mereka, Mbak Nia… toh mereka sudah “terlanjur” tahu permasalahan yg kita hadapi… kecuali mereka lepas tangan & menyerahkan penyelesaiannya kepada kita.
Semoga segera ada jalan keluar ya, Mbak… 😘😘
Suci Shofia: amiiinnn😊
H: Naaah… jawabannya adalah komunikasi, seperti yg disampaikan Bunda Abyz… 😍😍

D: Terima kasih😓

H: Sama2… InsyaAllah Mbak Nia pasti bisa melewatinya… 😚
D: Tp sedih ya rasanya kalo udah ga dipercaya ama pasangan😭
T: Betul sekalii 😌
H: Kalau saya ucapan sepertinya sudah asertif, tapi sikap sedikit “agresif” 🙈
Lebih hati2 berkata & bersikap, selalu jujur & terbuka, beri perhatian lebih pada pasangan, terus semai kebaikan, beri janji & buktikan dengan ditepati, tunjukkan kalau kita layak dipercaya…

Itu yg saya harapkan dari pasangan Mbak D.
Karena posisi saya sebagai yang “tidak lagi” percaya pada pasangan, mungkin harapan saya itu bisa jadi tips untuk dilakukan…

Semangaaat… 😍😍
D: Semangat🤣
Suci Shofia: 😆 sama, ga tahan untuk nyerempet. Masih belajar dan terus belajar😉
H: 😄😄 dibawa bahagia saja Mbak… 😍

C: Tema pernikahan itu memang ngga ada habisnya…. selalu dapat ilmu baru… tips baru.. alhamdulillah…👏🏻👏🏻👏🏻💐💐💐
N: Kalo udah nyerempet ada rasa lega lega menyesal ya mbak Suci…
C: Kalo sudah nyerempet.. asa tanggung…. sikat aja sekalian…🍌🍌

Hihihi..jangan ditiru…😅😅
T: Betul, dunia pernikahan itu mengejutkan sekali. Ternyata seperti ini rasanya

Suci Shofia: gitu deh🙈 eh ada pengantin baru, hayu belajar dari pengalaman kami hehe

N: Nah manten baru ini perlu rajin baca chat grup. Belajar dari para pengantin tua 😂

Suci Shofia: wkwkwkwk
N: Tapi kalo pengalaman saya sendiri itu terjadi di 5 tahun awal pernikahan, mbak. Masih Belajar mencari pola komunikasi yg baik.
Makin kesini makin asyik komunikasinya dan kita bisa marahan dengan wajah yg lebih lempeng dan derajat kata2 yang lebih baik kastanya 😊
H: “marah”… sambil terus aja nyapu, bersih2, nyuci piring sama baju…
Laaah… marahnya sama siapaaa? 😂😂
N: Hihihi iyaaa.. Marahnya disalurkan ke bersih2 karena terbukti efektif dan mempercepat kerjaan bersih2 ini selesai.
Setelahnya ngos ngosan sendiri hehehe…
H: Haha…
Setelah itu “minggat” ke salon Mbak… 😍😍
“Aku capek, pingin nyalon sejam dua jam!” 😂😂
N: Kok tau mbak 😂😂
Tapi saya kalo marah trus ke salon tuh tetep laporan dulu.

SAYA MAU KE SALON!

gitu 😂
H: Ituuuh… saya juga laporaaan 😄
M:  Yang saya hindari adalah marah Atau memendam marah sambil ngemil (apalagi kacang). Takut keselek sendiri 😂
Suci Shofia: sekadar pelampiasan, masalahnya enggak selesai, masih ada di dada. Esok lusa ada masalah lagi, cari pelampiasan lagi. Jadi bom waktu, deh 😉
H: Nges-krim ajaaa… biar adeeem 😍
Yihaaaa… itu klo masih awal2 nikah Mbak… klo sekarang sudah nggak… malamnya langsung diselesaikan 😜
N: Ya gak juga sih mbak suci.. Tekanan perasaan dialihkan dulu. Ntar kalo sudah rada lega baru bicara.
Suami sudah paham saya kalo tensi tinggi bisa histeris dan historis 😂 jadi kalo saya minggat ke dapur atau salon dia sudah paham kalo itu adalah cara saya menyelamatkan kami berdua 😀
Kasur adalah penyelesaian terbaik yaaa 😂

Suci Shofia: mendadak jadi ahli sejarah, ya😆
N: Sejarah lampau yg segala gak enak yg pertama diinget 😄
A: Got Emosi ya, daripada marah ke anak atau suami mending mamam indomie pake telor dan cabe rawit 😅😅
N: Kalo kepedesan tinggal salahkan rawitnya 😂
H: saya kadang juga menjelma jadi sejarawan, ditambah saya “memang” matematikawan… lengkap sudah… plus hari, tanggal, jam, menit & detiknya… 🙈😜
M: Mudah2an bukan sekalian akuntan dan auditor sehingga segala biaya masa lampau pun dihitung. Saya perhatikan grup ini suka Hot pada topik2 tertentu ya.. 😂. Pada topik2 lain adem ayem semua..
C: Karena yg hot topik masih terulang lg…😅

 

L: Karena konon kata ahlinya, marah atau tegang akibat dr hormon adrenalin, hormon yang sama yang dibutuhkan untuk berjibaku di tempat tidur.
#eaaa….😀
N: Iyakah… Wah pengetahuan baru nih..
Abyz: Wuiiih …. sdh rame banget…
N: Apakah tingkat hebohnya marah berbanding lurus dengan tingkat hebohnya berjibaku di tempat tidur? 😂
Abyz: Meluruskan, kalo utk marah hormon kortisol bu 🙏
Adrenalin itu pemacu motivasi 😊
N: Pertanyaan saya gugur dengan sendirinya ya kalo begini.

Membangun Komunikasi yang Sehat dengan Pasangan

13.29 WIB

Jumat siang, 17 November 2017

Narasumber kelas Kuliah Via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Buku Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida, kali ini diisi oleh Mbak Abyz Wigati.

Suci Shofia:

Berhubung Mba Abyz masih ada kesibukan, beliau meminta saya untuk membantu mem-posting materi.

Silakan dicerna 😉

Abyz Wigati:

Pengetahuan dan ketrampilan berkomunikasi dengan pasangan sangat dibutuhkan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hubungan suami-istri dalam membina rumah tangga.

Dari rumah rangga yang harmoni, akan menjadi media yang baik bagi anak-anak tumbuh dan berkembang hingga menjadi manusia dewasa yang mumpuni dalam menghadapi tantangan kehidupan. Karenanya, komunikasi yang sehat perlu dibangun oleh pasangan suami-isteri.

Bagi saya, komunikasi yang sehat antara suami-isteri, merupakan proses yang bisa menjembatani harapan-harapan dari pasangan kepada pasangannya. Ketika saya menyampaikan sesuatu apapun pada suami, tentu ada harapan yang terselip di dalamnya, setidaknya berharap untuk didengarkan.

Sebagai pasangan, saya dan suami pun pernah mengalami ‘gagal’ dalam berkomunikasi akibatnya terjadi kesalahpahaman yang membuat saya kesal dan uring-uringan sementara suami tidak paham salahnya di mana dan apa yang seharusnya dilakukan, yang terjadi berikutnya adalah masing-masing merasa benar dan saling menyalahkan, sementara substansi persoalan malah tidak terselesaikan.

Kondisi tersebut banyak dialami juga oleh pasangan suami-isteri yang lain. Nah, dari pengalaman tersebut kami belajar bahwa, proses komunikasi yang terpuji bagi pasangan suami-isteri sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut (terkait dengan sikap selama proses berkomunikasi):

– Hindari berasumsi negatif.

– Pinggirkan pikiran ‘merasa benar’ apalagi paling benar

– Tidak mengungkit masalah yang sudah lama

– Hindari meminta apresiasi (dipuji)

– Tidak menganggap umum pendapat pribadi

– Menggunakan kata yang jelas dan tidak membingungkan pasangan

– Tidak menjadikan dramatis (hyperbola) hal yang dibicarakan

– Hargai sikap positif pasangan

– Hindari penggunaan istilah yang negatif

– Tidak membanding-bandingkan

– Posisikan diri sejajar-sama (tidak merasa lebih)

– Jujur

– Minimalkan campur tangan pihak luar

Berikutnya, terkait dengan waktu; menentukan waktu yang tepat sangat mempengaruhi proses berkomunikasi, maka hindari membicarakan masalah langsung pada saat kejadian, saat lelah dan saat emosi melanda.

Waktu paling efektif adalah saat menjelang tidur tetapi sebelum ngantuk berat. Bisa juga di waktu lain pada suasana yang nyaman.

Perlu diperhatikan juga soal tempat, sesuaikanlah dengan apa yang akan dikomunikasikan agar suasana bisa mendukung proses komunikasi, misal perlu privacy atau justru butuh tempat terbuka atau harus di tempat tertentu agar bisa menjadikannya contoh atau untuk menggiring kearah persoalan yang hendak dikomunikasikan.

Yang tak kalah penting, sikap tubuh saat berkomunikasi, usahakan ada kontak mata, ada sentuhan fisik (punggung tangan biasanya lebih efektif).

Ada pengalaman lain yang bisa melengkapi? Atau ada unek-unek yang perlu dibahas?

Mari kita diskusikan bersama.

Kok, Enggak Adil?

Ada yang merasa kehidupan rumah tangganya penuh dengan ketidakadilan? Daripada belajar ilmu kebatinan, mending santap ilmu dari narasumber kulwap Keluarga Sehati, Anna Farida berikut ini:

Salam, Bapak Ibu. Ini kulwap yang ke-94, kita akan bahas tema pernikahan, tentang adil.

Beberapa waktu yang lalu, entah topik apa, kita pernah membahas konsep ini:
Kita ini pasangan, saling melengkapi, saling menginspirasi. Kamu baik aku tentu baik; kamu jadi buruk, aku akan tetap baik.

Ternyata belakangan ada yang protes, “Nggak adil, dong! Dia baik ya saya baik, dia jadi buruk masa juga kudu baik. Enak di dia susah di saya.”
—ini ucapannya saya dramatisir. Ucapannya aslinya sih halus, tapi kan biar seru 😀

Dalam membina hubungan pada era modern ini, kita ingin relasi yang setara, ingin diperlakukan secara adil, dan berbagi tanggung jawab bareng-bareng.

Saya sampaikan, adil menurut saya itu bukan lantas 50:50. Berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman rumpi saya, pembagian seperti itu justru bikin perkara.

Hari ini kan aku sudah ngepel, Ayah nyikat kamar mandi, dong.
Aku sudah antar anak-anak seminggu ini. Minggu depan Mama yang antar.
Aku sudah kasih semua gaji, masa lebih sering makan masakan warung.
Aku sudah kasih sekian, kamu harus mengembalikannya dengan nilai yang sama.
Aku sudah baik begini, masa sih kamu masih saja nggak bisa baik sama aku.

Dalam berumah tangga, prioritas yang paling utama adalah rumah tangganya, bukan suaminya atau istrinya sebagai pribadi.

Jadi, yang menjadi ukuran adilnya bukan ketika masing-masing memperoleh haknya secara setara, tapi apakah pernikahannya berjalan baik.

When the marriage works well, bukan saatnya lagi hitung-hitungan siapa yang punya peran lebih banyak, atau siapa yang mengacaukannya lebih sering—eheheh.

Penafian: bahasan ini menafikan unsur KDRT, ya. Jika ada kekerasan atas nama menjaga keberlangsungan pernikahan, adil yang saya sebut dalam bahasan di atas tidak berlaku.

Balik lagi.
kita (atau saya deh) kesal ketika pasangan tidak menunjukkan sikap yang menurut kita pantas, padahal kita sudah merasa melakukan banyak kebaikan.

“Kok sepertinya saya yang harus keluar effort lebih untuk membuat suasana pernikahan kami menyenangkan, ya? Pasangan saya santai saja tinggal menikmati hasilnya.”

Bukan berarti kepentingan masing-masing jadi hilang juga, lho, ya. Adil dalam pernikahan juga bukan berarti mengorbankan diri.

Adil di sini adalah keluwesan.
Kapan mengalah, kapan unjuk taring—pastikan taring Anda sehat, bebas dari karang gigi 😀

Yang wajib diperhatikan adalah kepentingan Anda, kepentingan pasangan, dan kepentingan pernikahan.
Ada saatnya salah satunya harus diprioritaskan, artinya ada yang wajib menyisihkan keinginan.

“Ih, Bu Anna. Perasaan saya melulu, deh, yang ngalah. Dia sih seperti nggak mau ngerti pengorbanan saya.”
Tunggu.
Jangan-jangan pasangan kita pun membatin hal yang sama #tutupmuka

Ayo temani saya berpikir berdasarkan fakta. Sebenarnya apa yang sedang kita lakukan? Menjaga keharmonisan rumah tangga?
Buat apa?

Tarik semua pertanyaan ke sana.
Pernikahan yang asyik itu buat siapa, sih? Masa masih mau itung-itungan dan kirim tagihan?

Anyway, saya menulis berdasarkan obrolan saya dengan teman—ada juga beliau di sini, semoga sudah lupa pernah bahas ini—jadi mungkin tidak berlaku pada Bapak Ibu sekalian.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Madame and Monsieur Bovary

Pernahkah mendengar nama tersebut di judul? Sedikit saya berikan kisi-kisi, nama tersebut adalah wayang dalam sebuah novel asing. Sebuah pernikahan yang jauh dari komunikasi asyik bagi pelakunya. Istri menginginkan romantisme, sedangkan suami dingin bak freezer. Atau bisa jadi sebaliknya. Dan, faktanya memang ada lakon pernikahan yang sealiran dengan model tersebut.

 

Langsung aja, yuk, kita simak materi di Kuliah via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati yang disponsori oleh buku bermutu, Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati. Mereka sengaja membuka kelas keren ini untuk beramal kebaikan bagi sesama.

 

ANDAKAH MADAME DAN MONSIEUR BOVARY?

Masih ingat rumpian kita tentang “Madame Bovary”?
Setelah membaca bukunya beberapa bulan yang lalu, saya nonton filmnya. Cerita filmnya dibuat lebih sederhana, dan saya akan mengisahkannya untuk Anda.
Setting-nya tahun 1500-an, tapi kisahnya sangat up to date.

Emma adalah gadis berpendidikan. Dia senang baca karya sastra, hobi musik, dan membahas hal-hal yang indah.
Dari novel-novel yang dia baca, Emma punya konsep idaman tetang pernikahan. Dia mendambakan romantisme, hari-hari yang penuh kejutan, detail-detail yang membahagiakan.
Dia kemudian dijodohkan dengan dokter yang baik, sederhana, duda.
Dengan harapan yang dibawanya sejak remaja itulah Emma menemukan bahwa pernikahannya jauh dari harapan. Suaminya baik, tapi datar banget—menurut saya terlalu polos untuk seorang dokter.

Misalnya, ini adegan yang bikin saya gemas:
Emma menghabiskan waktu untuk menata makan malam agar terhidang cantik.
Ketika suaminya pulang, komentarnya gini, “Seharian ini kamu bikin makanan ini? Padahal minta pembantu metik buah saja. Praktis, tidak repot.”

Ya ampun!

Apa salahnya bilang “Nuwun, sudah mau repot bikin makanan secantik ini”.
Emma berpikir dirinya kurang menarik dan mulai berdandan.
Sayangnya, setiap upaya yang dilakukan Emma untuk tampil menawan atau membuat rumah mereka indah juga ditanggapi lurus-lurus saja oleh sang suami—termasuk ketika Emma kehilangan kendali, berbelanja baju dan barang-barang mahal atas bujukan pemilik toko.

Pengabaian itu membuat Emma mudah tergoda ketika ada petugas pajak muda yang mau melayani obrolannya tentang sastra. Affair singkat terjadi, tapi Emma segera sadar diri sebagai istri.

Berikutnya, Emma dan sang dokter hadir di pesta dan ada acara berkuda. Sang suami menolak ikut berkuda dan memilih duduk-duduk di lokasi, membiarkan Emma jadi primadona di antara lelaki. Affair berikutnya terjadi dengan tuan rumah pemilik pesta kemudian diputuskan sang lelaki.

Affair berulang ketika Emma bertemu lagi dengan petugas pajak muda.

Seiring waktu, tagihan belanja Emma meledak, suaminya tak mampu bayar, barang-barang disita, termasuk rumah mereka.
Dua mantan kekasihnya pun menolak membantu. Upaya Emma merayu pemilik toko ditolak dengan hina.

Tak mampu menahan malu dan rasa bersalah, Emma mengakhiri hidupnya.
Dalam novelnya, cerita kelam tidak menutup hidup Emma tapi juga suaminya. Dia merasa bersalah karena mengabaikan istrinya, baru sadar ketika surat-surat cinta Emma pada dua kekasihnya dia temukan. Sang dokter pun meninggal dalam derita. Anak perempuan mereka yang tidak diceritakan dalam film juga menderita sepeninggal mereka.

Sudah.

Jadi, mari kita lihat bersama, jangan-jangan kita pun menjadi Madame atau Monsieur Bovary.
Saya tidak membela Emma atas jalan yang dia pilih. Apa pun alasannya, affair tidak bisa dibenarkan.
Pada saat yang sama, dokter yang baik hati itu pun rasanya perlu ikut kulwap biar lebih peka dengan keinginan istrinya.

Bu Elia mengajarkan pada kita bahwa setiap pernikahan itu wajib memiliki visi dan misi bersama. Dalam kisah ini, tak sekali pun saya melihat Emma dan suaminya membahas tujuan pernikahan mereka.

Semua dijalani secara “alamiah” saja. Saya beri tanda petik karena kata alamiah kadang diartikan sebagai apa adanya alias ogah usaha.

Bagi pasangan tertentu, kita belajar dari generasi terdahulu, mungkin tanpa diskusi apa pun, pernikahan bisa langgeng hingga liang lahat. Kita tidak bahas pasangan yang seperti ini.

Yang kita bahas adalah ketika ada ruh Bovary dalam pernikahan kita, entah dari sisi suami maupun istri.
Ada pihak yang merasa tidak diapresiasi, ada pihak yang merasa baik-baik saja. Ada pihak yang punya konsep tertentu, sementara pihak lain tidak menyadarinya—saya tak hendak menuduh ada pihak yang tidak peduli. Yang ada adalah pihak yang tidak tahu, dan pihak lain tidak berusaha memberi tahu.

It takes two to tango. Pernikahan itu milik bersama. Dan layaknya sebuah tim, akan ada salah satu pihak yang jadi leader-nya. Bisa suami bisa istri, masing-masing jadi pemandu pasangannya dalam aspek yang berbeda.

Jika suami lempeng dan istri ingin “bunga-bunga”, pimpin jalannya. Demikian pula sebaliknya. Jika ingin ada romantis-romantisan, bilang saja ke pasangan.

Malu?
Coba, Iqa, jelaskan ke anggota kulwap yang baru bergabung, masihkan perlu malu? Ahahah.
Jika suami lempeng dan istri pun lempeng, lain lagi urusannya. Ini bisa panjang kulwapnya.

Baik, kita diskusi, ya.
Siapa tahu ada Bovary di sekitar kita.

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Long Distance Marriage

Jumat, 30 Juni 2017

13:01 WIB

Suci Wulandari kulwap: Tips menjalani LDM
Assalammualaikum warahmatullah wabarakatuh

Halo warga kulwap, salam kenal semuanyaaa… berhubung masih suasana lebaran saya ingin mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1438 H.. semoga Allah menerima amal ibadah kita semua sebagai nilai pahala yang penuh keberkahan, Aamiin..

Kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang tips menjalani LDM (Long Distance Marriage) atau pernikahan jarak jauh, biasanya karena urusan pekerjaan yang mengharuskan suami istri berpisah dalam jangka waktu tertentu..

Kita sama-sama belajar ya Bapak Ibu.. karena saya juga bukan ahlinya, hanya kebetulan saya sekarang ini sedang menjalani LDM, bisa dikatakan masih pemula dalam dunia per-LDM-an.

Pekerjaaan suami saya mengharuskan dia jauh dari rumah selama 6 bulan, dulu bahkan hampir 1 tahun . Kini syukur-syukur kalau pas ada kesempatan 3 bulan sekali sudah bisa pulang.

Apakah mudah? Tentu saja tidak. Namun bukan berarti menjadi sulit untuk dilakukan.

Menjalani pernikahan jarak jauh itu katanya rentan terhadap pertengkaran ( yang dekat aja sering, apalagi yang jauh hehehe) tapi menurut saya, waktu yang sangat sebentar itu terlalu berharga jika hanya digunakan untuk cek cok tiada henti. Jadi sebisa mungkin saat ada sesuatu yang sekiranya bisa bikin suasana tidak kondusif, saya dan suami akan berusaha meluruskan persoalan itu sesegera mungkin, ngga betah marahan lama-lama ☺

Untuk itu, berikut ini adalah beberapa hal yang setidaknya dapat kita lakukan agar pernikahan jarak jauh senantiasa aman damai sejahtera :

🌷 Percaya
Modal awal sebuah hubungan adalah percaya kepada pasangan. Memberikan kepercayaan penuh bisa membuat pasangan kita merasa dihargai. Dan ketika seseorang diberikan penghargaaan sebegitu besar, ia akan sadar betapa kita telah mencintainya dengan tulus. Logikanya, jika seseorang memberikan kepercayaan kepada kita, apakah kita tega mengkhianatinya. Jadi saya selalu menempatkan diri seperti apa jika pasangan tidak mempercayai kita. Ini akan membantu kita untuk lebih mudah memberikan kepercayaan pada pasangan.

🌷Komunikasi
Kita semua pasti sudah memahami bagaimana pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan, terlebih jarak jauh. Biasanya selepas suami kerja, kami menyempatkan diri untuk ngobrol, pillow talk jarak jauh. Sekedar bercerita tentang apa saja yang telah sama-sama kami lalui (tentunya jika signal mendukung, jika kondisi tidak memungkinkan untuk bertanya kabar akibat signal atau cuaca buruk, kembali ke poin pertama) . Komunikasi ini dapat membantu pasangan untuk tetap rekat dan saling terbuka. Jangan biasakan memendam uneg-uneg di hati, bicarakan apa yang perlu dibicarakan, namun tetap perhatikan cara penyampaiannya. Di kulwap sudah pernah dibahas mengenai komunikasi asertif kalau tidak salah 😁 boleh tanya info ke Mba Admin yaa..

🌷Stop interogasi
Para pria tidak suka dicurigai, dan terlebih, terlalu banyak curiga hanya akan membuang waktu kita. Percaya saja, cobalah untuk berbaik sangka. Jika mulai galau dan muncul “kok perasaanku ngga enak ya” segera alihkan. Lihat sisi lain dari pasangan yang telah bekerja keras mencari nafkah dan berusaha membahagiakan kita. Sebaiknya hindari pertanyaan-pertanyaan interogasi seperti, hari ini ngapain aja? Tadi siapa aja yang telepon/sms? Kamu ngga macem-macem kan? Dan lain sebagainya. Ini bisa bikin pasangan kita emosi, udah capek kerja malah ditodong pertanyaan ngga penting. Ingat, kita sudah cukup dewasa, bukan anak kemarin sore yang dikit-dikit ngambek hanya karena telat ngabarin 1 menit. Harus bisa lebih sabar dan bijak ya..

🌷Abaikan komentar orang lain
Tak jarang, hidup jauh dari suami mengundang berbagai komentar miring dari orang lain. Jika tidak pandai-pandai menyaring perkataan mereka, atau bahkan menutup telinga, bisa-bisa kita sering makan ati. Jadi jangan pedulikan apa kata orang lain yang mengatakan hal buruk tentang suami. Kita yang kenal suami lebih baik dari siapapun.

🌷Perbanyak bersyukur
Ketika melihat pasangan lain yang bisa setiap hari bersama-sama, tak jarang ada rasa iri di hati. Apalagi ada banyak moment terlewati tanpa kehadiran suami misalnya saat lebaran dan lain-lain. Maka yang perlu kita lakukan adalah berbesar hati, perbanyak rasa syukur. Pahami bahwa rejeki setiap orang itu berbeda. Ada yang dekat, dan ada yang mengharuskan seseorang itu jauh dari keluarganya. Dukung suami dalam setiap karir dan perjuangannya sehingga ia tidak merasa sendirian.

Jadi Bapak Ibu.. itulah beberapa hal berdasarkan pengalaman pribadi yang dapat saya sampaikan. Semoga dengan adanya tulisan ini mampu mengubah pola pikir tentang LDM, yang semula menganggap LDM itu mengerikan, ternyata bisa dijalani dengan santai. Karena sesungguhnya, jarak paling jauh dari sebuah hubungan adalah kesalahpahaman, bukan pada ribuan kilometer yang memisahkan. Sebisa mungkin mari kita minimalisir kesalahpahaman yang terjadi sehingga kehidupan pernikahan jarak jauh tetap aman terkendali.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat bagi Bapak Ibu semua..

Demikian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf..

Terimakasih Mba Suci, sudah diberi kesempatan untuk berbagi di sini 😊

Wassalammualaikum warahmatullah wabarakatuh..
[6/30, 13:05] Tuti Herawati Kulwap: Wa’alaikumussalaam.

Terima kasih sudah berbagi pengalaman.
Terus terang, saya salut sama pasangan yang bisa menjalani LDM.

Saya mah, suami tugas luar kota beberapa hari saja bisa berasa kehilangan satu sayap. 😊
*lebayinihmah. 😁
[6/30, 13:06] Suci Wulandari kulwap: Hehe sama-sama Mba, sebetulnya kalau ditanya juga mgkn ngga ada yang mau LDMan, tp karena kondisi, jadi ya mau ngga mau 😊
[6/30, 13:22] Julia Rosmaya kulwap: Saya mantan pelaku LDM selama 7 tahun…

Bedanya.. Saya yang bekerja jauh dari rumah.. Bukan Suami hiks…
[6/30, 13:24] Julia Rosmaya kulwap: Tempat kerja saya
Badan Karantina Pertanian penuh dengan pelaku LDM..
Karena kami pegawai negeri pusat yang harus bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia.

Cerita LDM teman-teman saya pernah rangkum dan tulis di blog saya…

Mohon ijin share link blog untuk menambah wawasan
[6/30, 13:25] Suci Wulandari kulwap: berati skrg udah engga jauhan lg ya Mba ☺
[6/30, 13:25] Julia Rosmaya kulwap: http://juliarosmaya.blogspot.co.id/2016/02/long-distance-married-tips-ala-petugas.html?m=1
[6/30, 13:26] Julia Rosmaya kulwap: http://juliarosmaya.blogspot.co.id/2016/03/long-distance-married-tips-ala-petugas.html?m=1
[6/30, 13:26] Suci Wulandari kulwap: Asyikk lebih banyak lagi yang berbagi pengalaman.. makasi Mbaa
[6/30, 13:27] Julia Rosmaya kulwap: Alhamdulillah sejak 2011 ditempatkan di UPT dekat rumah

Tapi ini Mulai deg deg plus karena sudah 6 tahun disitu.. Sepertinya harus siap pindah lagi
[6/30, 13:27] Julia Rosmaya kulwap: 😘
[6/30, 13:34] Devy Nadya Aulina kulwap: Barangkali anaknya super aktif atau sangat aktif, Pak. Kalau hyper aktif, itu suatu kelainan dan memerlukan terapy.

Anak hyper aktif, biasanya sulit konsentrasi. Juga sebaiknya menghindari makananan yang mengandung gluten (berbahan tepung terigu), karena ada masalah juga dengan pencernaannya.

Banyak sekali orang tua bahkan pendidik sekali pun, melabeli anak yang aktif bergerak, cenderung punya energi berlebih dengan sebutan ‘anak hyper aktif’. Padahal tidak semudah itu memberikan label ‘hyper aktif’ pada anak. Perlu pemeriksaan dokter, juga psikolog.

Saya bisa menjawab ini, karena dulu putra saya dicap hyper aktif. Padahal Reza, dia anak sangat aktif atau super aktif. Reza juga termasuk type anak kinestetik. Sejak bisa jalan di usia sebelas bulan, dia cenderung tidak bisa diam. Di TK dan kelas 1 SD, dicap nakal. Ia belum puas kalau barang yabg menarik perhatiannya belum ia pegang. Padahal dia pintar.

Karena selama ini, banyak para pendidik, khususnya di pendidikan dasar, tidak mendapatkan ilmu psikologi anak dan macam-macam type belajar anak. Anak baik, manis dan pintar, biasanya disematkan pada anak yang duduk manis di kelas dan cenderung diam.

“kalau Ibu anaknya diaaaam … saja, nanti ibu malah bingung,” begitu biasanya jawaban kenalan saya para dokter dan psikolog.

“Anak Ibu sehat dan cerdas. Dia tidak apa-apa, koq, ” jawaban yang membuat saya tak peduli lagi pada apa kata orang lain tentang anak saya.

Sekarang Reza kelas lima SD. Tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, kreatif dan tidak mudah sakit. Kesukaannya pada dunia elektronik, sudah saya perhatikan dimulainya sejak usianya 2 tahun. Usia yang sangat muda. Usia 4 tahun sudah bisa membuat mesin sederhana menggunakan dinamo bekas, dan barang-barang bekas di sekelilingnya. Kinestetiknya berkurang, dan yang terlihat sekarang malah, audio dan visualnya yang lebih menonjol. Sikap kritisnya pun sering membuat kami terpana.

Sahabatku, para ayah dan bunda. Jangan cepat melabeli anak dengan cap yang negatif. Kita dapat berdiskusi dengan para orang tua yang lebih berpengalaman dalam hal pengasuhan anak. Atau, bisa bertanya pada orang yang lebih ahli dan paham.

Dan, yang harus kita para orang tua sadari, setiap anak itu merupakan pribadi yang unik. Mereka diciptakan Allah ta’ala dengan istimewa. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

*Devy Nadya Aulina.*
Bunda dari dua anak.

Kota Angin, 6 Syawal 2017 (30 Juni 2017)

#DevyNadyaAulina
#Parenting
#DiskusiParenting
#MenulisDariHPItuAsyik
#MenulisSpontan
[6/30, 13:35] Devy Nadya Aulina kulwap: ☝☝ Alhamdulillah, jadi punya tulisan satu artikel parenting yang akan saya bust status FB dan postingan blog.
[6/30, 13:36] Suci Wulandari kulwap: Makasi Mba Devy… saya juga sedang belajar mengasuh dan mengasihi anak saya yang juga aktif… seperti dapat pencerahan
[6/30, 13:37] Julia Rosmaya kulwap: 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
[6/30, 13:43] Devy Nadya Aulina kulwap: Anak aktif, pertanda anak kita sehat dan bahagia, Mbak @Suci Shofia
Dia penuh tawa, dan lebih supel dalam pergaulan.

Kewajiban kita untuk mengasihi dan mencintai anak-anak kita. Alhamdulillah anak-anak saya tumbuh normal, sehat, dan cerdas.

Saya mencatat perkembangan mereka sejak dari kandungan. Saya hafal kapan mereka mulai memiringkan badan, tengkurap, duduk, merangkak, bicara, jalan dan semua tumbuh kembang mereka. Karena bagi saya, proses tumbuh kembang mereka itu ‘amazing’.
[6/30, 13:52] Devy Nadya Aulina kulwap: Anak hyper aktif ada ciri-ciri yang bisa kita kenali. Biasanya tidak ada kontak mata saat berkomunikasi, sering tantrum, sulit konsentrasi dll. Ini yang sering membuat para orang tua terkecoh melabeli anaknya yang aktif, sangat aktif/super aktif dengan sebutan hyper aktif.

Suami saya dulu pernah sakit hati, saat saya terpengaruh dengan orang yang melabeli Reza dengan sebutan ‘hyper aktif’. Padahal dia sahabat saya, dan isteri seorang dokter. Kekecewaan suami diungkapkan pada saya, waktu Reza masih kecil.

Suami selalu mengatakan Reza cerdas, nyatanya Reza memang cerdas. Alhamdulillah. Cerdas dengan kekhasannya. Reza pun cerdas musical. Dia bisa menaikan lagu yang baru didengarnya dengan pianika. Padahal dia sama, sekali tidak les musik.

Alhamdulillah, saya sudah melihat potensi dan minat anak-anak saya sejak mereka kecil. Saya tidak bisa memaksa pada dua anak saya, agar mereka menyenangi dunia kepenulisan dan bisnis seperti bundanya. Suami selalu menekankan pada saya, anak-anak punya dunia sendiri.

Saya tidak ingin, anak-anak mengalami seperti saya dulu. Mama memaksakan kehendaknya pada saya, padahal saya punya cita-cita sendiri, yang ingin saya wujudkan.
[6/30, 13:55] Devy Nadya Aulina kulwap: Sama-sama, Mbak @Suci Wulandari kulwap #eh, Dik Suci. Semoga bermanfaat sharing dari saya. 😘😘
[6/30, 14:52] Suci Shofia: hihihi
[6/30, 14:55] Suci Shofia: betul banget, saya LDM 1 bulan trus nyusul deh 😁
[6/30, 14:56] Suci Wulandari kulwap: Klo masih bisa disusulin mah enak..
[6/30, 14:56] Ella Kurniasetiani kulwap: Saya saat ini sedang LDM, kapan libur, nyusul.. 😁☺
[6/30, 14:58] Suci Wulandari kulwap: 😁 asyiknyaa
[6/30, 14:59] Suci Shofia: hehehe untungnya bisa 😉
[6/30, 15:00] Ella Kurniasetiani kulwap: Soalnya kerjaan suami terbilang gak jelas jam kerja. Bisa pagi, siang, sore atau malam breaknya. Ya sudah, saya aja yg ngalah. Tapi ya,liat kondisi keuangan juga sih. Istilahnya kan punya dapur dua, gitu…
[6/30, 15:02] Suci Shofia: Mba @Julia Rosmaya kulwap hebat euy!
[6/30, 15:09] Julia Rosmaya kulwap: 😘
[6/30, 15:17] Ari Dian Sari Kulwap: Awal2 nikah saya juga LDM. tapi tiap minggu ketemuan, cuma terpisah pulau aja. 2 tahun lah begitu. Trus saya pindah kerja ikut suami ke Pulau itu 😁

Terakhir LDM pas suami kuliah di yogya. Saya ditinggali 3 anak, mana yg kecil masih bayi 😂. Tanpa orang tua, waduh berasa banget deh. Suami pulang pas lebaran aja.

Alhamdulillah sekarang udah kumpul sama2 lagi ☺
[6/30, 15:27] Suci Shofia: wuih, nano nano rasanya pastinya. keren bisa melewatinya 😉
[6/30, 15:28] Ari Dian Sari Kulwap: Alhamdulillah Mbak Suci ☺
[6/30, 15:57] Tuti Herawati Kulwap: Mba Devy, 👍😘
Terima kasih sudah menjelaskan panjang lebar. 🙏🏻

That’s why di atas saya tanya dulu si penanya.

Banyak yang keliru memahami istilah “hiperaktif”. Hiper dan hipo itu perlu penanganan dan tidak sembarang dilabelkan ke anak.
[6/30, 16:01] Suci Shofia: setuju😉
[6/30, 16:04] Abu Ayyub Hadi Kulwap: Oh gih, super aktif jiddan… Hehehehe wes super pakai jiddan…
[6/30, 17:17] Devy Nadya Aulina kulwap: Sama-sama, Mbak @Tuti Herawati Kulwap 😘
[6/30, 17:20] Devy Nadya Aulina kulwap: Anak-anak aktif, beri rangsangan lebih agar daya kreasi mereka tersalurkan, Pak @Abu Ayyub Hadi Kulwap
Enggak selalu dengan barang mahal, barang murah-meriah dan murah pun, OK, koq.
[6/30, 18:12] Julia Rosmaya kulwap: Kalau sekarang mengenang masa itu rasanya seru ya hehehe

Padahal waktu menjalani berat-berat gimana gitu
[6/30, 18:20] Ari Dian Sari Kulwap: Haha iya mbak Julia… Gak berasa penantiannya 😂
[6/30, 19:11] Kholifah Haryani kulwap: Terima kasih… bagus nih buat persiapan yg mau/akan LDM-an…
meski sy bisa dibilang “gagal” LDM 😬
[6/30, 19:15] Suci Wulandari kulwap: Mudah-mudahan bisa sedikit kasih gambaran sekilas kehidupan LDM.. lho ,kok, gagal? 😦
[6/30, 19:16] Kholifah Haryani kulwap: hehe… berpotensi “konflik”, kami memutuskan untuk bersama saja… 😁
[6/30, 19:17] Kholifah Haryani kulwap: secara juga masih memungkinkan untuk hidup bersama, mbak Suci
[6/30, 19:18] Kholifah Haryani kulwap: alhasil, rumah ditinggal, anak2 pindah sekolah, & kami cari rumah tinggal baru di tempat baru…
[6/30, 19:20] Suci Wulandari kulwap: Alhamdulillah pkoknya mana aja yang dirasa baik utk berdua ya Mba.. semoga langgeng bahagia selamanya aamiin
[6/30, 19:33] Julia Rosmaya kulwap: Bener banget
Bila memungkinkan… Misalnya istri gak bekerja lebih baik ikut Suami pindah.

Atau bila istri kerja.. Ikut pindah kerja.
[6/30, 19:36] Suci Shofia: saya malah ngalah keluar kerja, di lokasi baru mau nyari kerja eh keburu mabok hamil.
[6/30, 19:43] Julia Rosmaya kulwap: 👍🏻 hehehe
[6/30, 19:47] Julia Rosmaya kulwap: LDM itu potensi bahayanya besar..
Banyak contoh di instansi saya..
[6/30, 19:59] Kholifah Haryani kulwap: Aamiiin…
Alhamdulillah…
Iya mbak, berupaya terus menerus untuk menjadi lebih baik… ☺
Terima kasih mbak…
[6/30, 20:00] Kholifah Haryani kulwap: Setuju… 😊
[6/30, 20:32] Devy kulwap: Bahayanya apa aj y mba julia 😊
Krn khan dari td tips2 antisipasi aj yg dijelaskan
[7/1, 06:39] adjeng kulwap: “Jarak paling jauh dari sebuah hubungan adalah kesalahpahaman, bukan pada ribuan kilometer yang memisahkan”

 

Sukaaaaa nih, Mbak.
Terima kasih sudah berbagi
[7/1, 09:04] Julia Rosmaya kulwap: Kesepian adalah bahaya terbesar dari LDM

Bagaimanapun juga, sentuhan fisik perlu untuk pasangan yang sudah menikah.

Bukan dalam arti ML… Tapi just holding hands, cuddling, tatapan mesra dan sejenisnya..

Kebetulan di kantor ada beberapa kasus perceraian karena LDM..

Mendengar para pasangan saling mengeluh karena jarak yang terpisahkan membuat saya selalu memberi saran ke junior.

Ikutlah pasanganmu kemanapun dia bertugas. Rejeki bisa dicari, tetapi keutuhan rumah tangga Nomor 1.
[7/1, 09:06] Julia Rosmaya kulwap: Ada teman saya yg menolak jabatan lebih tinggi dan prestigious karena kemungkinan terpisah sama keluarga.
[7/1, 09:14] Suci Shofia: keputusan yang sama diambil oleh suami, keinginan kuliah lagi/tawaran pekerjaan di luar negeri mau diambil asal bisa bawa keluarga (nabung dulu) 😀
[7/1, 09:17] Devy Nadya Aulina kulwap: Saya rela berhenti kerja menjelang nikah, karena ingin melayani suami. Saat hamil 7 bulan sampai Putri pertama usia 3 bulan, saya LDM dengan suami. Mama menginginkan cucu pertamanya lahir di Bandung.

LDM itu menurut saya enggak enak, pengeluaran jadi dobel. Apalagi bagi kami pengantin baru. 😊

Walapun setelah punya anak sampai sekarang, saya sering ditinggal suami dinas, diklat, sekolah lagi je luar kota. Saya dengan anak-anak saja. Tapi dengan begitu, saya jadi mandiri. Apalagi tampa ART.

Sekarang, LDM paling sebulan sekali, suami dinas atau diklat ke luar kota paling lama seminggu.😊
[7/1, 09:18] Devy Nadya Aulina kulwap: Saya kesepian justru saat suami di kantor dan anak-anak sedang sekolah. Tapi suasana ini enak untuk menulis.
[7/1, 09:23] Julia Rosmaya kulwap: Kasus terakhir perceraian karena LDM di kantor

Mereka baru menikah dan Suami ditempatkan di Kalimantan. Keluarga istri dan si istri menolak ikut Suami karena baru dapat pekerjaan dengan Gaji tinggi di kota asal di pulau Jawa

Bertahun-tahun berpisah akhirnya sang istri lelah.. Dan menjalin affair…

Saat itu si Suami dipindahkan ke kota asal.. Tapi sudah Terlambat dan akhirnya mereka pisah.

Cerita semacam ini banyak di Instansi saya..

Itu sebabnya bos besar berusaha keras menyatukan keluarga yang terpisah. Tapi tentu saja tidak mungkin bisa buat semua. Karena lokasi tugas kami ada di seluruh Indonesia…

Pasti akan tetap ada pasangan LDM
[7/1, 09:44] Devy Nadya Aulina kulwap: Teman saya cerai dengan isterinya karena LDM. Pasangannya seorang IRT dan menjalin affair. Padahal teman saya sedang di puncak karier. Kasihan.
[7/1, 09:48] Julia Rosmaya kulwap: ☹

Ini yang selalu saya sarankan… Kalau pasangannya IRT… Bawa ke kota tempat tugas. Rejeki pasti ada.

Alasan sekolah… Sekolah bagus tidak hanya di Jawa…
[7/1, 09:51] Devy Nadya Aulina kulwap: Betul sekali. Itu sudah komitmen saya sebelum menikah. Suami harus diiukuti. Lha, untuk apa nikah kalau harus tinggal terpisah.

Maaf.

Memang, saya harus menunda impian saya di kota kecil ini. Di Bandung saya sudah diundang jadi dosen oleh ikatan alumni, lapangan pekerjaaan di kantor pun luas. Tapi saya menyadari, berkarier untuk seorang wanita enggak harus selalu di luar rumah. Dan, saya sangat bersyukur dengan yang saya alami, dengan segala romantikanya.

Saya bisa mengasuh anak-anak dengan tangan sendiri berdua suami, tanpa campur tangan pengasuhan dari orang tua. Saya pun bisa mengeksploitasi dan memaksimalkan passion yang Allah ta’ala berikan pada saya. Yaitu menulis dan mengenalkan potensi lokal hingga ke luar negeri.

Selalu ada hikmah indah di balik semua yang kita alami.
[7/1, 09:55] Devy Nadya Aulina kulwap: Betul sekali, Mbak @Julia Rosmaya kulwap

Tapi seringkali sang isteri diberati pihak keluarga untuk mengikuti suaminya. Akhirnya, setelah kejadian hal yang tidak diinginkan, Si Isterilah yang menanggung resiko. Hal ini banyak terjadi.

Suami itu mencari isteri karena butuh didampingi dan dilayani. Isteri yang ibu rumah tangga pun tetap bisa memaksimalkan potensinya walaupun di rumah. Di grup ini, banyak, koq, yang bisa menjadi inspirasi. 😊
[7/1, 09:56] Julia Rosmaya kulwap: Benar…
IRT jaman sekarang gak seperti dulu…

Belajar n bisnis bisa via medsos…
[7/1, 10:00] Devy Nadya Aulina kulwap: Betul, Mbak. IRT sekarang sangat dimudahkan dengan kemajuan teknologi dan medsos. Saya tetap bisa belajar jarak jauh. Bisnis, parenting, kepenulisan dll. Murah meriah.

Medsos menjadi mudarat dan bermanfaat, bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya.
[7/1, 10:00] kurnia kulwap: Berbicara ttg LDM, Ada kisah nyata..

 

Ada seorang wanita pns, insyaAllah nikah dlm waktu dekat ini dgn seorang lelaki yg masih kuliah. Mungkin mereka bersama hanya sebulan setelah nikah krn lelaki ini harus masuk kuliah. Jarak antara mereka cukup jauh, butuh jalur udara, darat dan laut.Dan ini kmungkinan terjadi selama setahun, sampai lelaki tsb mnyelesaikan studynya.

Bagi wanita tsb,keluar dari pns bukanlah solusi terbaik u saat ini. Dan juga wanita tsb tinggal tanpa sanak family ddaerah tmpt kerjanya (Numpang kerja)

Ada yg bisa share tips or nasehat u wanita tsb (pemilik kisah). ?
[7/1, 10:02] Julia Rosmaya kulwap: Kemungkinan si lelaki setelah kuliah ada tidak untuk kerja di tempat wanita? Di kota yg sama?
[7/1, 10:03] Julia Rosmaya kulwap: Si wanita PNS pusat atau pemda?
Kalau pemda susah untuk pindah…

Kalau pusat ada kemungkinan
[7/1, 10:17] kurnia kulwap: PNS Pemda, jika lulus kuliah insyaAllah lelaki tsb siap mengikut dan mencari kerja ditempat wanita tsb..
[7/1, 10:26] Suci Shofia: Semua kembali ke pelaku LDM mau konsisten dengan janji pernikahan atau mencari-cari alasan untuk bermain api.

Bagi yang masih ber LDM tetap semangat😉 sudah ada beberapa sharing dari teman-teman untuk menjaga ikatan cinta agar tetap kuat terjaga😊
[7/1, 10:33] Iqa Rifai Kulwap: Saya termasuk yg sdh melwati waktu itu suami dipapua ..coz yg pernah Di kota Papua pasti tau gimna mitos ktanya yg kerja Di tembagapura kalo setiap bulan g disalurkan akan mengkrital ….hingga begitu menjamurnya prostitusi ..Dan berakibat Papua hiv terbesar diindonesia ..
Dan semua kembali kepada pribadi imannya yg main kalo sdh urusan ini
[7/1, 10:36] Julia Rosmaya kulwap: Sementara gak ada problem berarti…

Mau gak mau ya LDM

Sudah ada tips di atas 😁
[7/1, 10:36] Julia Rosmaya kulwap: Benar
[7/1, 10:37] Iqa Rifai Kulwap: 1catatan yg sy dpt dlm surah annur (buat yg Muslim)laki2 yg baik utk prp Yang baik Dan seterusnya silakan tengok surah annur ayat 26 yakini itu.
Dan bila mentok suami krg baik yakinkan Allah punya jalan terbaik dgn kesabarn Kita menjaga pernikahan
[7/1, 10:39] Iqa Rifai Kulwap: Tetap semangat ..hmm sy kenal group ini persis ketika sy Dan suami sdh bersama Dan beruntunglah kwn2 yg lagi menjalani LDM krn and berada Di group yg tepat solusi utk hati pernikahan anak bahkan tetangga n mantan Ada disini
[7/1, 12:25] Ari Dian Sari Kulwap: Niat dari para pelaku LDM mesti kuat, berakar, menancap ke relung2 paling dalam 😆😆

Suami saya selalu bilang, kalau mau selingkuh, tentu mudah saja, tapi jika sekali saja dilaksanakan akan bikin ketagihan dan gak akan bisa keluar dari kenikmatan itu. Jadi sibukkan diri dengan hal2 yang positif, jauhi lingkungan yg menyerempet2 dengan hal itu.

Itu sih kata suami saya ya😂
[7/1, 12:31] Suci Wulandari kulwap: Sebetulnya saya juga ngga mau LDM an.. tp apa daya, ngga bisa diikutin dan disusulin. Jadi memang harus mengumpulkan niat sekuat tenaga.. supaya kami berdua tetap dilindungi dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Suami juga ingin suatu saat nanti bikin usaha dirumah aja, tanpa harus meninggalkan keluarga. Semoga nanti ada jalan..
[7/1, 12:34] Tasya Sugito kulwap: Baru buka grup….rame yaa ternyata bahas LDM 😍
Terimakasih semua teman2 yg sudah berbagi tentang ini, semakin menguatkan saya & suami untuk tidak ber-LDM ria…karena kalau kata suami saya, “bagaimanapun juga, laki2 butuh penenang pandangan&hati setelah seharian berada di luar rumah..dan itu didapat di rumah dari anak2 dan istrinya”
Mungkin setiap orang berbeda, tapi kalau saya sepertinya belum siap kalau harus LDMan 😂, pernah ditinggal paling lama 40hari aja udah kayak kehilangan separuh sayap 😝
[7/1, 12:39] Suci Wulandari kulwap: Gabung di grup ini juga salah satu cara jadi sarana belajar. Karena ada banyak pengalaman yang bisa kita jadikan pelajaran bersama
[7/1, 12:48] Iqa Rifai Kulwap: wkt sy LDM duh bnr2 deh gk punya group yg mencerahkan pikiran, ada kwn2 ehh yg ada ikut ngomporin atw ceritanya gk enak didgr keadaan disana,lahh biar gimnapun tetep ja dag dig dug ,,tpi alhamdulillah semua berlalu dgn indah yg nyesek kalo anak sakit itu yg bikin airmata trn trz hehe
[7/1, 17:52] Vivi Fajar Anggraeni kulwap: sy sejak 2009 hingga skrg dan berpotensi begitu spanjang karir swami😊..bener buat nano2nya..bersyukur diberi tantangan lebih begini karena jadi sarana kami sekeluarga terus belajar..termasuk blajar saling menjaga satu sama lain..smoga begitu seterusnya
[7/1, 17:59] Suci Wulandari kulwap: Aamiin… saling mendoakan ya mba
[7/1, 17:59] Sri Apriani Kulwap: just enjoy it…yg penting sama-sama slg mengingatkan utk sll bersandar kpd Yang Maha Kuasa..sejauh ini tdk ada masalah..malah kangennya pake banget..☺..beruntung dlm setiap bulan ada 2 minggu utk keluarga.
[7/1, 20:19] Devy kulwap: Betul banged 😊👍
Cara pikir saya jd lbh positif dan lbh enjoy menjalankan peran sbg istri dan ibu RT setelah kelamaan jadi wanita karier slm 10 thn 😋🙈(hampir telat nikah diusia 28 keasyikan kerja😊)
[7/2, 00:26] Anna Farida: Thanks, Suci dan teman-teman yang sudah berbagi kisah kasih jarak jauh. Berkah melimpah, pokoknyaaaa
[7/2, 08:50] Niar Kulwap: Saya juga mengalami LDM sementara waktu sejak 2006 karena suami lebih banyak bertugas di Jakarta dan keliling Indonesia.

Bersyukurlah ada whatsapp line bbm dll yang bisa menghemat pulsa telpon hehe.

Tapi bener, memang saat menjalani LDM kita perlu bener2 saling menguatkan dan mengecek ulang komitmen pernikahan kita karena banyaknya godaan di pihak yang meninggalkan dan di pihak yg ditinggalkan di rumah.

Bukan hanya kebutuhan saling berdekatan atau biologis, tapi juga saling pengertian dan menghibur terutama untuk istri yg kadang mudah diterpa bete karena urus rumah dan anak2 sendirian *curcol hehehe
[7/2, 09:07] Eka Murti Kulwap: Berat ya.. hebat bs LDM dlm jk waktu lama dan baik2 aja. Saya pengalaman paling lama cuma 4 bulan aja udah ribet bgt…

Beauty and The Beast Pernikahan

Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati menyampaikan materi di hari Jumat, 24 Maret 2017:

 

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-79. Tak terasa, Saya dapat tema “Beauty and the Beast” dan sambil menebak-nebak, ini maknanya apa.

Apakah tentang suami yang lembut hati tapi bertampang sangar? Ehehe

Dalam pernikahan tentu ada saat semua baik-bak – ini yang ditampilkan di dinding media sosial buat eksis. Saat semua sesuai rencana, rasanya semua mendukung – semua serba benar, kekurangajaran jadi bahan candaan, kesalahan jadi bahan tertawaan. Pokoke mau berbuat atau bicara apa pun dengan pasangan, hasilnya bikin bahagia sentosa 😃

Namun demikian, ada saatnya semua serba tidak pas.

Pasangan kita mendadak uring-uringan—atau bahkan diam, atau tidak seramah biasanya. Sikap kita dianggap salah, omongan kita ditanggapi seaadanya, jadi bikin suasana canggung. Ini nggak akan masuk FB, dong, ya. Atau ada yang memajangnya ke seluruh dunia? Haha.

Kita bingung, kok mendadak tidak enak begini. Kenapa, sih, ini?

Eh, dia tidak mau cerita.

Pada saat ini tidak ada bedanya lelaki dan perempuan, semua punya kalimat andalan yang maknanya bisa sangat berbeda dengan arti kamusnya bisa: “Nggak papa kok. Aku ra popo.” 😝

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan ketika suasana nggak enak seperti ini?

Ada dua pilihan:

+ Jujur brutal: sampaikan padanya Anda tidak nyaman. Tanyakan apa yang terjadi, dan minta dia bicara kenapa dia bersikap tidak biasanya. Perhatian, ini mengandung risiko berlapis. Anda dalam kondisi tidak nyaman duluan, jadi cara ngomongnya bisa jadi sudah beraroma emosi negatif.

+ Diamkan dulu. Beri dia waktu. Mungkin  sedang tidak enak badan, mungkin sedang ada masalah, mungkin juga sedang capek (capek ngomong dengan Anda, maksudnya hahah)

+ Jangan ikut gila. Sori kalau pilihan katanya agak vulgar—mau cari ungkapan lain tidak ada yang lebih pas. Artinya, saat ini di sedang tidak bisa diajak baik-baik. Anda jangan ikut-ikutan bertingkah. Bersikaplah biasa saja, ajak bicara seperti biasa—nggak usah baper kalau dicuekin. Lihat dalam beberapa jam atau seharian ini. Kalau masih belum membaik, tingkatkan level pelayanan, bukan level kegilaan. Jika dia masih seperti itu walau sudah diajak baik-baik, baru bahas.

 

Banyak pertengkaran dan masalah besar terjadi karena Anda ikut gila.  Jika Anda mau menahan diri sedikit saja, siapa tahu lebih baik hasilnya. Jika ternyata tidak berhasil, baru ke langkah selanjutnya: bicara, minta penjelasan, hingga minta bantuan.

 

Nah, bagaimana? Pilih yang mana?

Mari merumpi – belum 500 kata tapi saya mau buru-buru pergi. 😃

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)