Beauty and The Beast Pernikahan

Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati menyampaikan materi di hari Jumat, 24 Maret 2017:

 

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-79. Tak terasa, Saya dapat tema “Beauty and the Beast” dan sambil menebak-nebak, ini maknanya apa.

Apakah tentang suami yang lembut hati tapi bertampang sangar? Ehehe

Dalam pernikahan tentu ada saat semua baik-bak – ini yang ditampilkan di dinding media sosial buat eksis. Saat semua sesuai rencana, rasanya semua mendukung – semua serba benar, kekurangajaran jadi bahan candaan, kesalahan jadi bahan tertawaan. Pokoke mau berbuat atau bicara apa pun dengan pasangan, hasilnya bikin bahagia sentosa 😃

Namun demikian, ada saatnya semua serba tidak pas.

Pasangan kita mendadak uring-uringan—atau bahkan diam, atau tidak seramah biasanya. Sikap kita dianggap salah, omongan kita ditanggapi seaadanya, jadi bikin suasana canggung. Ini nggak akan masuk FB, dong, ya. Atau ada yang memajangnya ke seluruh dunia? Haha.

Kita bingung, kok mendadak tidak enak begini. Kenapa, sih, ini?

Eh, dia tidak mau cerita.

Pada saat ini tidak ada bedanya lelaki dan perempuan, semua punya kalimat andalan yang maknanya bisa sangat berbeda dengan arti kamusnya bisa: “Nggak papa kok. Aku ra popo.” 😝

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan ketika suasana nggak enak seperti ini?

Ada dua pilihan:

+ Jujur brutal: sampaikan padanya Anda tidak nyaman. Tanyakan apa yang terjadi, dan minta dia bicara kenapa dia bersikap tidak biasanya. Perhatian, ini mengandung risiko berlapis. Anda dalam kondisi tidak nyaman duluan, jadi cara ngomongnya bisa jadi sudah beraroma emosi negatif.

+ Diamkan dulu. Beri dia waktu. Mungkin  sedang tidak enak badan, mungkin sedang ada masalah, mungkin juga sedang capek (capek ngomong dengan Anda, maksudnya hahah)

+ Jangan ikut gila. Sori kalau pilihan katanya agak vulgar—mau cari ungkapan lain tidak ada yang lebih pas. Artinya, saat ini di sedang tidak bisa diajak baik-baik. Anda jangan ikut-ikutan bertingkah. Bersikaplah biasa saja, ajak bicara seperti biasa—nggak usah baper kalau dicuekin. Lihat dalam beberapa jam atau seharian ini. Kalau masih belum membaik, tingkatkan level pelayanan, bukan level kegilaan. Jika dia masih seperti itu walau sudah diajak baik-baik, baru bahas.

 

Banyak pertengkaran dan masalah besar terjadi karena Anda ikut gila.  Jika Anda mau menahan diri sedikit saja, siapa tahu lebih baik hasilnya. Jika ternyata tidak berhasil, baru ke langkah selanjutnya: bicara, minta penjelasan, hingga minta bantuan.

 

Nah, bagaimana? Pilih yang mana?

Mari merumpi – belum 500 kata tapi saya mau buru-buru pergi. 😃

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Tanya Jawab Pernikahan

Tanya 1:

Saya mau tanya gimana caranya mengatasi komunikasi yg dingin,dimana pasangan kita cenderung mau didengar tanpa mendengar.

Jawaban Anna Farida:
Salah satu keterampilan yang “mahal” harganya adalah mendengarkan. Berbahagialah jika kita merasa sudah cukup mampu mendengar dan tidak hanya ingin didengar.
Komunikasi yang dingin biasanya berupa suasana saling tidak peduli, sih. Ini masih ada yang mendengar dan didengar, berarti masih ada komunikasi, insya Allah.

Lantas bagaimana agar lawan bicara mau mendengar kita juga?
+ Pastikan kita pun adalah pendengar yang baik yang memberikan respon yang baik ketika orang lain berbicara.
+ Berbicaralah yang singkat, sampaikan pesan yang jelas, fokus. Nggak usah bawa-bawa pelajaran sejarah 😀 Pesan yang padat akan mudah “didengar”.
+ Gunakan I-message — masih ingat?
+ Gunakan jeda. Saya biasa ngomong panjaaaag – suami saya akan lebih memperhatikan justru ketika saya berhenti di tengah ocehan itu.
+ Komunikasi kan tidak selalu verbal. 80% pesan akan sampai melalui bahasa tubuh, raut muka, bahasa cinta 😉
Satu kata plus satu usapan akan jauh lebih bermakna daripada 500 kata yang Anda baca dalam materi kulwap, haha.

Apa lagi, ya?
Intinya sih sadari bahwa didengar itu memang menyenangkan. Jadi ya saya kadang memang berniat memberi kesenangan itu pada orang yang saya dengarkan – ehehehe
Jawaban Bu Elia :

Sesungguhnya yang namanya komunikasi termasuk di dalamnya menyangkut pola interaksi. Jika pola interaksinya baik, maka pola komunikasinya akan baik.

Pola interaksi yang baik, bukan hanya melibatkan masalah fisik, namun juga melibatkan interaksi psikologis di dalamnya. Sekarang yang perlu di evaluasi sebelum melangkah ke pembahasan komunikasi adalah relasi ibu dan suami…inyeraksinya seperti apa.

Namanya komunikasi biasanya melibatkan dua orang atau lebih. Nah…ibu dalam hal ini hanya melinatkan pasangan suami saja. Dikatakan ibu suami cenderung komunikasinya searah, dimana hal ini dirasa kurang adil dan egois.

Apa yang harus dilakukan :

Hal ini harus disampaikan dengan baik-baik tanpa harus saling menyalahkan. Hal lain yang harus dievaluasi adalah sudah berapa lama ibu menikah? Dengan waktu yang sudah berjalan ibu akan tahu saat yang tepat untuk bicara hal yang menjadi persoalan sekarang ini.
Caranya tidak menuduh, membandingkan, menyalahkan dan segala hal yang membuat pasangan menjadi lebih kuat pertahanan dirinya dan merasa nyaman.
Biasakan melakukan komunikasi dalam jarak yang dekat kurang dari satu meter ( jarak intim), dan bisa dilakukan ketika kondisi nyaman.

Jika iklim psiologis ini dilakukan secara rutin, secara bertahan suami akan tergiring dalam situasi ini. Lakukan secara berulang dan penuh kesabaran. Boleh jadi tidak seinstan yang kita harapkan, tapi biasanya selalu ada sedikit perubahan. Sekecil apa pun perubahan hargai itu sebagai suatu perubahan.

Kuncinya adalah rasa cinta yang besar pada pasangan dan bersabar atas ikhtiar yang dilakukan. Biarkan yakinkan pada diri pada akhirnya akan terjadi perubahan yang kita harapkan. Suami.kita berubah, kita pun sesungguhnya berubah. Jarak yang awalnya jauh laun akan mendekat pada akhirnya. Interaksinya memnaik, insya Allah…komunikasinya pun membaik.

Tetap untuk bersemangat….semangat perubahan ke arah yang lebih baik.

Hanya ada satu pertanyaan, ya😇

Tanya Jawab Bekerja dari Rumah

30 Januari 2017

Tanya 1:

Bisnis dirumah itu asyik. Tetap dapat mengawasi semua kondisi rumah, bisnis tetap bisa kita jalankan. Sehingga tugas-tugas masak, bersih-bersih, menemani si balita, tetap bisa berjalan beriringan (bahasa pas nya bisa di sambi-sambi 😁).
Tapi beratnya kadang jadi tak bisa membedakan kapan waktu kerja, kapan untuk rumah atau anak. Karena ruang dan waktunya sama. Belum lagi kalau ada tamu yang tak berhenti datang, atau datang saat pagi sekali atau malam.
Sudah mencoba membuat batasan waktu, tapi karena bisnis di rumah dan orang juga tahu kita ada dirumah, mau tak mau dilayani juga.
Ada tips atau solusi ga ya… 😊🙏

Oya, saya sudah memiliki 2 karyawan khusus utk bisnis. Tapi beberapa pelanggan kadang inginnya dilayani oleh saya 😁

Jawaban Bu Elia Daryati:

Judulnya adalah bagaimana memantaskan diri menjadi leader dan manajemen waktu.
Leader itu punya ciri: kekuasaan, legalitas, dan pendelegasian. Nah, hal yang masih perlu ditingkatkan adalah pendelegasian. Dimana harus mulai mempercayakan dan memberikan ruang pekerjaan pada staf dan meningkatkan kepercayaan staf atas kemampuannya.

Berikan pada pengguna jasa keyakinan bahwa ibu memiliki karyawan yang cukup berkualitas. Selanjutnya manajemen waktu dan pembatasan pelayanan pun harus diberikan batas yang jelas. Lambat laun pengguna jasa akan mengerti kapan harus dan bagaimana berhubungan dengan ibu terkait dengan usaha yang ibu bina.

Ini semua terkait dengan masalah manajemen. Manajemen dalam perusahaan dan manajemen waktu. Dituntut sikap yang lebih profesional. Lebih tepatnya belajar lebih profesional sebagai seorang pengusaha, sehingga setiap pengguna jasa kita dapat mengerti posisi kita sebagai seorang pengusaha.

Selamat bertindak lebih profesional dan asertif.

Jawaban Anna Farida

Dulu saya mengalaminya.
Ah, Mama Zaky kan di rumah saja. Jadi bisa, ya, ikut antar pengantin ke komplek sebelah, besok ketempatan demo masak, ya … atau saya main ke rumah sambil nunggu anak pulang sekolah … 😎

Sesekali ok, berikutnya saya sampaikan saya kerja jam segitu.

Panjaaaang menjelaskannya. Sambil bercanda haha hihi, lama-lama paham juga, sih.

Di rumah saya ada jadwal kerja. Saya atur pekerjaan rumah yang tiada habisnya itu. Misalnya, hanya cuci piring malam sebelum tidur – kalau nggak sengaja ketiduran sambil ngelonin si bungsu ya rezeki ahaha –
Nyuci setiap malam sambil nulis. Teriring doa bagi penemu mesin cuci. Saya pilih baju yang aman walau tanpa disetrika. Jadi ketika yang biasa setrika tidak datang, saya hanya setrika seragam dan baju suami.
Lain halnya kalau memang harus setrika sendiri 😐😥 saya lakukan sambil nonton ini itu.

Jadi curhat, haha.

Intinya, yang harus dilakukan orang yang bekerja di rumah adalah membatasi jam kerja rumah dan bisnis.
Setel timer sejam, bersihkan kamar, berhenti. Setelah itu kerja lagi.
Setel alarm, tata buku, berhenti. Setelah itu kerja lagi.
Selingan juga kan bikin sehat.

Sampaikan pada keluarga dan teman bahwa kita  bekerja jam sekian hingga jam sekian. Pasang tulisan di dinding, atau di kulkas jika perlu. Sekadar pengingat bahwa kita pun perlu berhenti untuk makan siang – tak perlu diingatkan itu, sih 😬

Pengalaman, saya pernah kerja tanpa alarm dan anak saya tertidur tanpa makan malam. Sesal kemudian tiada guna 😥

So, tulis jadwal.
Dulu saya tulis dari jam ke jam, jadi anak dan suami tahu betapa kerjaan saya itu banyaaak.
Mereka juga tahu kalau saya FB-an dan WA-an artinya saya kerja. Sebaliknya, ketika bapaknya online, mereka bilang “Bapak sedang main WA”  😬😬

Itu untungnya punya kerjaan online. Anak tidak ngeh kalau ibunya juga sedang rumpiii 🙈🙈

Anna Farida: Sampun, Mahmud Admin Suci Shofia. Hanya ada satu pertanyaan ✅✅

Bekerja dari Rumah

27 Januari 2017

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap kita yang ke-72

Kita akan bahas materi “Antara Kerja dan Rumah Tangga: bagaimana atur waktunya?”

Mudah saja, kan, bilang, rumah tangga dan kerja harus seimbang. Pasutri harus saling bantu, saling pengertian, ehehe, pas praktiknya tak sedikit yang jungkir balik.

Keseimbagan antara mengurus keluarga dan pekerjaan itu kompleks, Bapak Ibu. Yang terlibat di dalamnya ada pertimbangan finansial, peran gender, manajemen waktu, pembagian porsi kerja, daaan sebagainya.

Masing-masing pasutri memiliki kekhasan, jadi metode yang cocok bagi satu keluarga belum tentu pas untuk keluarga lain.

Jadi, saya hanya akan menyampaikan prinsip umumnya saja, nanti kasus bisa dibahas sambil rumpi.

Prinsip utama:
Jika kita berkata bekerja demi keluarga, kurang pas jika kemudian keluarga jadi terabaikan karenanya.

1. Rencanakan. Sejak sebelum pernikahan sebaiknya sudah ada kesepakatan tentang bagaimana pola kerja akan dijalankan. Pilihan kerja di luar atau di dalam rumah mesti dibahas sejak awal.

2. Ini proses. Menyepakati ritme kerja dan keluarga adalah proses. Tak jarang yang menemukan bahwa rencana yang sudah disepakati bubar di tengah jalan. Yang paling lazim adalah para istri atau ibu yang terpaksa berhenti bekerja demi keluarga.
Saya sering menulis pada berbagai kesempatan bahwa perempuan itu ada yang memilih di rumah ada yang dirumahkan.
Jadi, ketika rencana tak berjalan semulus yang diharapkan, kalem dulu. Bahas ulang, sesuaikan ulang.

3. Saling atur. Jangan langsung mendiktekan keputusan dengan berkata, “Aku saja yang kerja kamu di rumah karena penghasilanku lebih besar.” Itu alasan yang tidak sehat dan bisa melukai pasangan.

4. Hargai. Jika pasangan Anda mengambil peran lebih besar di rumah demi memberikan peluang untuk bekerja, hargai dia. Dia di rumah bukan karena tak mampu menghasilkan uang, tapi berbaik hati menyisihkan sebagian keinginannya untuk eksis di luar. Jika pasangan Anda meminta Anda di rumah dan mengurus keluarga, hargai dia. Pekerjaan itu pilihan, keluarga itu kewajiban.

5. Buat daftar tugas di rumah. Mengerjakan tugas rumah bersama itu mengeratkan kemesraan pasutri dan melekatkan keluarga.

5 saja, sudah kebanyakan ngoceh saya.
Sebentar lagi keluar bawelnya (atau sudah?)

Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage with Heart dan Parenting with Heart karya Anna Farida. Sudah punya bukunya?

Investasi

2 Desember 2016

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-64, dan kita mau bahas investasi.

Sebenarnya saya tidak paham apa itu investasi, karena keahlian saya adalah menghabiskan apa yang di tangan #ngaku ahahaha

Perlu perjuangan keras untuk menahan diri 😀

Namun demikian, saya ingin membuka diskusi ini dengan beberapa aspek investasi dan kita akan berbagi pengalaman dan wawasan.

Secara singkat berdasarkan hasil tanya-tanya sana sini, investasi berarti dana atau harta yang kita tanam dengan tujuan memperoleh keuntungan.

Bagaimana caranya memilih investasi yang benar?

1.       Awali dengan memilih investasi yang sesuai dengan pandangan hidup. Anggota kulwap ini dari berbagai kalangan. Pasti pilihannya berbeda-beda pula. Ada yang mempertimbangkan aspek riba ada yang tidak, ada memilih investasi syariah ada yang tidak. Andaipun diskusi sampai ke masalah ini, kita bahas secara objetif, ya.

2.       Awali dengan melakukan riset, dasari dengan pengetahuan yang memadai. Jangan karena tidak enak ke teman, karena pingin cepat punya uang, kita main ambil saja tawaran. Percaya teman saja tidak cukup tanpa pengetahuan yang layak.

3.       Pilih yang masuk akal. Ini perkara hitung-hitungan logis dan matematis, bukan mistis #eh sudah, sudah, nanti jadi nggosip 😀

4.       Pilih yang bisa Anda pantau sendiri—tidak pakai makelar, apa pun itu namanya. Pengetahuan yang benar akan membuat investasi kita aman dan bikin nyaman. Jangan malah bikin deg-degan karena kita sendiri tidak punya kuasa atasnya.

5.       Pilih sesuai kebutuhan, apakah ada rencana dicairkan dalam jangka pendek atau memang untuk jangka panjang.

Apa lagi, ya?

Itu saja, sih, hasil rangkuman saya. Terima kasih sudah mengusulkan tema ini, kita jadi bisa saling berdiskusi.

 

Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage with Heart dan Parenting with Heart. Buku bisa diperoleh melalui website Mizan.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

KDRT

14 Januari 2017

Anna Farida: Salam sehati Bapak Ibu. Ini kulwap yang ke-70, kita akan membahas KDRT. Biasanya, ketika empat huruf itu disebut, yang paling cepat terbayang adalah seseorang yang mencederai korbannya secara fisik. Wajar, sih, jika pandangan itu yang umum diketahui masyarakat. Kan media lebih sering memberitakan dari sudut pandang fisik, apalagi jika melibatkan perkara hukum, ada visum, dsb. Jadi terbentuklah pemahaman bahwa KDRT = kekerasan fisik.

Ternyata, kekerasan fisik hanya salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Bentuk yang lain bisa berupa kekerasan psikologis, finansial, hingga seksual.

Orang yang jadi korbannya—bisa lelaki maupun perempuan—merasa tak berdaya, ragu pada identitas dirinya, ragu bertindak karena banyak sekali pertimbangan. Itulah sebabnya bayak sekali kasus KDRT yang tidak dilaporkan, tidak ditangani dengan baik, bahkan banyak korban yang tidak merasa bahwa dirinya jadi korban.

Tar, tar, saya capek ngetiknya padahal baru mau mulai. Membahas materi ini memang menguras energi, tapi penting agar kita waspada, bisa membantu diri sendiri, dan atau membantu orang lain di sekitar kita untuk mengenali dan menanganinya.

Hal pertama yang perlu diketahui, ketika kekerasan terjadi, banyak korban yang membenarkan tindakan pelaku, dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa nanti juga membaik. Tak jarang yang justru menyalahkan diri sendiri, “Aku memang bukan pasangan yang baik. Aku pantas dapat hukuman. Kasihan dia, sudah kehilangan kendali karena aku, daaan sebagainya.”

Sayangnya, dari berbagai kasus yang saya baca, anggapan bahwa situasi akan membaik jika korban diam saja jarang terbukti. Yang lebih sering terjadi adalah frekuensi dan intensitasnya kian meningkat. Awalnya “hanya” didiamkan, lantas diintimidasi, kemudian diancam, dan … ah sudah, lah. Kita sama-sama tahu saja.

Belum lagi jika korban memiliki anak. Dalam keluarga, anggota yang biasanya paling tidak berdaya adalah anak. Ketika salah satu orang tuanya mengalami kekerasan, bukan tidak mungkin anak ikut jadi korban—secara langsung atau tidak langsung, dan akibatnya bisa di luar dugaan. Tambah lemes saya.

Jadi, yang paling penting dipahami adalah segera mengenali gejala KDRT dan segera selesaikan—bisa diselesaikan sendiri atau dengan bantuan pihak lain seperti teman atau kerabat yang tepercaya, tenaga ahli seperti konselor pernikahan, hingga aparat hukum.

Apa yang harus dikenali?

# Kekerasan fisik: serangan dengan menggunakan kekuatan tubuh terhadap tubuh pasangan. Tidak harus luka, tidak harus memar. Mendorong dan menarik secara kasar tidak meninggalkan bekas fisik yang terlihat, tapi itu kekerasan.

# Kekerasan psikis: yang diserang adalah harga diri pasangan. Bentuknya bisa hinaan, kritik, kecurigaan, hingga tuduhan. Kekerasan jenis ini sulit dideteksi karena banyak alasan: ini kan hanya salah paham, nanti juga membaik. Aku juga sih yang salah. Nggak papa lah, aku juga nggak segitunya baik.

Menerima kekurangan pasangan sebagaimana pasangan menerima kekurangan kita tentu berbeda dengan membiarkan diri menjadi korban kekerasan.

# Kekerasan finansial. Diskusi minggu lalu membahas suami yang menyalahgunakan penghasilan istri. Ini bentuk kekerasan. Sebaliknya, melarang pasangan mendapatkan penghasilan sehingga dia tidak mandiri atau sepenuhnya tergantung itu juga kekerasan, lho. Ketergantungan secara ekonomi membuat pilihan sangat terbatas. Aku nggak bisa apa-apa tanpa dia. Biar saja dia marah asal aku dikasih uang belanja. Karenanya, khusus untuk perempuan, mandiri secara finansial—sekecil apa pun, kerja di luar rumah maupun di rumah—itu wajib. Ini provokasi saya, bukan fatwa siapa-siapa.

# Kekerasan seksual: Ini juga jarang disadari jarang pula dibahas karena dianggap tabu. Kekerasan ini meliputi perilaku menyimpang yang dipaksakan kepada pasangan. Jenisnya macam-macam, dari yang paling keras sampai yang paling diam. Mendiamkan pasangan juga kekerasan. Jadi, jangan pernah abaikan dia, please, eheheh.

Sudah, ah. Jadi lapar.

Saya mohon maaf terlambat menyampaikan materi. Alasannya banyak, dari yang paling pribadi sampai alasan yang dicari-cari #tutupmuka.

Mari merumpi, mari berbagi pengalaman memperbaiki kualitas hidup.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui website mizan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Diskusi Duit

Jumat siang di bulan oktober, tanggal 21 tahun 2016

Peserta kulwap Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting 1With HEart dan Marriage With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati, berdiskusi seru seputar mengatur uang.

N: 👍🏼👍🏼 good thoughts.
Kami menerapkan beberapa hal yang sama di keluarga.
Tapi yang utama dan tidak boleh lupa adalah anggaran sedekah. Minimal 2.5%, maksimal tak terhingga. Diambil dari  pemasukan apa saja (rutin seperti gaji maupun rezeki tak terduga seperti bonus).
Lebih lega saja kalo pos itu terpenuhi duluan.

H: naaahh nikah 4,6 tahun kami blm bisa mengelola uang, kalau ada apa-apa baru kelabakan , saya istri yang klo pegang uang pengennya jajaaaaan muluk 😝

Dna: Saya rapi manajemen keuangan sejak lama. Sejak kecil, malah.

Setelah berkeluarga lebih rapi lagi. Baik keuangan rumah tangga, bisnis maupun organisasi. Semua saya pisah enggak dicampur aduk.

Bahkan sering para ibu rumah tangga dan Mompreneur konsultasi masalah keuangan pada saya. Rata-rata yang jadi kesalahan umum, ibu-ibu itu malas mencatat atau tidak pernah mencatat pos-pos pengeluaran rutinnya. Akhirnya terbawa juga saat mereka terjun ke bisnis. Keuangan RT dan bisnis disatukan. Ini kesalahan kedua.

Urusan duit memang sangat sensitif. Sebesar apapun yang didapat tidak akan pernah cukup kalau pencatatannya kacau-balau.

Sebaliknya, pendapatan minim tapi pintar mengelolanya itu keren. Apalagi masih tetap bisa menabung.

Alhamdulillah, saya diminta banyak ibu rumah tangga dan ibu RT yang terjun di bisnis untuk menjadi mentor Kelas Manajemen Keuangan Ibu Rumah Tangga juga Finansial Management For Mompreneur.

Y: Iya, keungan saya kacau balau.
Uang bisnis dan uang rumah tercampur. Setelah itu pengeluarannya pun tak pernah di catat…
Ingin mulai membenahi nya. Hanya susah untuk memulai nya. Harus dari mana dulu.. 😂

L: Mbk.Dna…mau atuh dishare tips tips me-manage keuangan rumah tangga….😉😉😃

Y: Idem mbak L ah…
Bagi bagi tips donk…
Biar rapi lagi… 😉

L: 👍

H: Beli buku kas 📓 😄

E: Satu tahun pertama menikah, saya pakai buku kas. Repot tapi karena uang terbatas, sangat membantu. Agar nggak sering kaget kemana larinya uang. Kok tiba-tiba habis 😀

Y: Betul betul…
Apalagi pas mau gajian jadi buka lembaran baru. Mulai sekarang, catat semua transaksi. # semoga bukan sekedar niat. Hehehe

Ys: Semua di catat kah? Termasuk yg recehan??

El: Berusaha seperti itu.. Walau sering ada yang lupa. Tapi akhirnya kita bisa punya kira-kita recehan tersebut lari kemana dan berapa jumlahnya
H: Kalau saya iya, ratusan rupiah juga sy catat 😬

Kalau misalnya lupa atau hilang, tetep ditulis,  keterangannya ya hilang atau lupa pengeluarannya apa. Jelas kelihatan beda pengeluaran bulan ini sama bulan sebelumnya.

Dna: Cara memulainya: pisahkan uang pribadi dan uang bisnis.

Kalau tetap dicampur, enggak akan terlihat keuntunganya, atau malah bisnis yang sedang dijalankan mengalami defisit (rugi). Yang ada uang pribadi dipakai bisnis, uang bisnis tersedot untuk keperluan pribadi. Ini sudah sangat tidak sehat.

Banyak bisnis dan keluarga hancur karena pengelolaan yang salah (tidak tercatat). Ini dari cerita teman-teman yang konsultasi keuangan pada saya.

Ys: Ok,makasih semua atas saran-sarannya…
Mudah-mudahan bisa segera memulai…

Dna: Iya. Harus.

Apalagi kalau menjabat sebagai bendahara. Satu rupiah pun harus dicatat.

Saya bendahara organisasi sudah hampir 8 tahun. Ibu ketua tetap ingin saya yang pegang. Kenapa? Karena beliau tahu, saya rapi dalam hal keuangan.

Walaupun bisnis sedang sepi misalnya, saya enggak pernah pakai uang organisasi untuk nambah modal. Atau uang bisnis dipakai untuk keperluan pribadi. Enggak pernah.

Y: Alhamdulillah saya sudah bisa memisahkan antara uang penjualan sama uang pribadi, penjualan sudah sedikit rapi untuk pembukuan, tapi yang masih amburadul malah gak ke catet uang pribadi 😅

Dna: Semoga Istiqomah melakukannya, Bu.
He he …

Ayo dicatat juga.
Yang mau konsultasi. Japri saja, ya.

Ys: Aamiin
Terimakasih

DNa: Kalau yang malas catat di buku kas, catat di HP aja. 😀😀

Y: Sudah pernah di catet malah sudah punya aplikasinya, sama suami rutin cuman bertahan 2 bulan, soalnya dulu niatnya awal cuman pengen tahu rata rata pengeluaran sebulan habis berapa, dan paling banyak di pos apa, kelihatan banget prosentase nya… ☺
Er: Pake aplikasi apa? Boleh tau? 😊

Dna: Yang terpenting jangan lebih besar pasak daripada tiang. Jangan ingin terlihat wah di luar tapi rapuh secara finansial dari dalam.

Menabung saja dulu kalau ingin beli sesuatu tapi belum mampu. Hindari berhutang. Utang itu akan bikin susah tidur, lho. He he …

Y: Idem

El: Nah ini yang terpenting. Jangan besar pasak dari tiang. Catatan bulan lalu bisa dijadikan patokan untuk bulan depan. Berusaha selalu ada sisa tiap bulan. Punya tabungan. Karena setiap bulan tidak sama pos pengeluarannya. Misalnya masa bulan Ramadhan dan Lebaran serta masa awal masuk sekolah anak-anak

Dna: Betul, Bu.

Y: Aplikasi Expense IQ mbak

He em…
Iya nih…

Nabung nabung 😊
Er: Oke, Mbak Y, terimakasih 🙏🏻
Kalau aplikasi untuk bisnis emak-emak, teman-teman pake apa ya?

Y: Sama-sama, saya bilang sama suami. Katanya mau di download lagi. Mau catet catet lagi😄

Dna: Banyak pilihan aplikasi keuangan di play store. Pilih yang ternyaman untuk dipakai. Ada yang versi bahasa Indonesia atau Inggris.

Aplikasi standar keuangan ada yang untuk IRT, UKM, bisnis, toko, perusahaan dll.

Kalau manajemen keuangan perusahaan lebih rumit lagi. Tapi aplikasi itu sangat membantu. Apalagi bagi yang malas mencatat di buku kas karena harus menghitung.

Pakai aplikasi, Saldo akhir, presentasi langsung terlihat. Jadi kita bisa ambil ancang-ancang kalau keuangan RT mulai menipis sementara pemasukkan lain belum ada.

Er: 😄😄👍🏻👍🏻

Y: Terasa pengeluaran kok tambah banyak, hihihi

Dna: Oya, jawaban-jawaban saya ini nanti saya akan rangkum di blog saya.

devynadyaaulina.blogspot.com
Kalau pengeluaran tambah banyak dan tidak bisa dihindari, solusinya: Menambah pemasukkan.

Y: Kalau saya masih manual belajar pakai aplikasi ireap

Lebih mudah pakai itu mbak

Iya kerja rodi..
Eh kerja keraaaaasss 💪💪💪💪💪💪💪
Er: Thx thx mbak Y ☺🙏🏻

Dna: Sebelumnya saya pakai aplikasi apa, lupa. Terhapus karena HP error. Setahun ini saya pakai Money Lovers. Terkoneksi dengan Google. Jadi bisa dibuka dari HP manapun. Kalau HP satunya sedang di-charge.
Mau saya unggah gambar aplikasi yang saya pakai. Sayangnya di sini enggak boleh unggah foto.

Pakai aplikasi yang cocok, dengan scroll ke bawah aplikasi yang akan diunduh. Jadi kita tahu fitur-fitur di dalamnya.
Selamat merapikan keuangannya ibu-ibu. Supaya lebih disayang sama yang di rumah.😊😊
Ys: Japri aja boleh bu? 🙂
Pengen tau. Belum pernah liat aplikasi keuangan manapun. Hehehe
Suci Shofia: Mb Dna: makasih tipsnya 😉😉
Dna: Sami-sami, Mbak Uci sayang.
Silakan.
Semangaaaat.😘😘😍
At: Hindari berhutang. Hutang bikin susah tidur👍👍👍setuju banget

Ba: Mksh mb Dna sharingnya
Butuh pencerahan juga ini ☺

Is: wah asyik nih bisa konsultasi…

kalau konsultasi bisnisnya boleh gak?

terus aplikasi di hp namanya apa ya bu?

Dna: Boleh.

Is: sayiiik.. nanti saya japri ya bu.
terimakasih banyak
🙏🙏🙏🙏
Ni: 👍🏼👍🏼

Dna: http://devynadyaaulina.blogspot.co.id/2014/11/rapi-menejemen-keuangan-kunci-sukses.html?m=1

Nq: Diawal menikah saya termasuk rajin catat catat..semua pengeluaran saya catat..termasuk prediksi pengeluaran..tapiii makin lama jadi malas (jangan ditiru) 😆..soalnya jadi bete sendiri kalau lihat uang berapa habis juga itu selalu dicatatannya..😂…intinya saya belum bisa mengambil manfaat dari pola pencatatan yang saya lakukan..mungkin mba Dna bisa kasih saran..saya ndak punya bisnis saat ini..hanya mengelola gaji bulanan saja..Terimakasih 😊

Dna: Rapi mencatat alur kas, baik pemasukkan dan pengeluaran, akan sangat bermanfaat bila kita terjun di masyarakat.

Itu di atas sudah saya share postingan blog saya dua tahun lalu, Mbak Nq. Bisa juga lihat postingan terbaru di FB saya.
www.facebook.com/devy.n.aulina2

Manajemen Keuangan bukan hanya untuk yang terjun dalam bisnis. Ibu rumah tangga juga sangat perlu. Bahkan pelajar yang diberi uang saku bulanan pun harus mulai mencatat keuangan.

Saya sejak SD bahkan sampai saat ini selalu diberi amanah jadi bendahara. Di sekolah, Karang Taruna, organisasi kampus, organisasi isteri pegawai bahkan komunitas-komunitas yang saya ikuti.

Saya diberi uang saku bulanan mulai kelas 1 SMP. Bagaimana cara mengelola uang saku yang hanya pas untuk ongkos angkot, cukup dalam satu bulan.

Kalau ingin jajan tapi uangnya kurang, gimana? Saya pulang sekolah jalan kaki. He he …

Alhamdulillah sejak kelas 1 SMP saya sudah ada pemasukkan dari menulis. Puisi-puisi saya saat SMP (tahun 1986 – 1989) sering dimuat di Majalah Sahabat Pena.
[10/23, 05:00] Yula Kulwap: Mbak devy saat add ya fb nya…

Sudah penuh kah ☺

H: Wah, saya ada teman. Saya juga pegang uang bulanan sejak kelas 1 Tsanawiyah. Ada sih jatah uang jajan sedikit tapi jarang saya pake. Saya sama teman sebangku biasanya hanya jalan2 sekitar sekolah smpe bel istirahat habis. Uang jajan itu saya kumpulkan. Akhir bulan saya dan 2 adik perempuan saya akan shoping ke mini market 😄 Waktu itu org tua saya ke Jkt lnjt kuliah S2. Saya dan adik2 tgl di rmh kami ditemani adik ayah yg sdh berkeluarga.
De: Subhanalloh.. 👍👍
Anna Farida: Kalian menggemaskan! Produktif sekali diskusinya 🇮🇩🎊🎉
Terima kasih sudah saling berbagi
At: 👍👍👍

Nq: Terimakasih mba Dna…semoga saya bisa kembali melakukan pencatatan keuangan dengan rapi..😊💐

La: Hiks.. saya masih minus besar nih soal manajemen keu.

Ls: Boleh minta ijin untuk buat rangkuman di blog?
Suci Shofia: boleh, jangan lupa cantumkan sumbernya ya😎

Ls: Iya makasih ya mba
L: Mbk.Dnai terimakasih sharingnya…🙏🙏🙏👍👍😀😀😀😀
Sama-sama. Maaf, enggak bisa menyapa satu-satu. Sedang perjalanan pulang dari Blitar.

Semoga bermanfaat sharing dari saya.

Duit

Jumat siang, 21 Oktober 2016

13:01 WIB

Anna Farida: Berdasarkan banyaknya permintaan, plus banyaknya anggota baru, minggu ini kita akan bahas kembali materi DUIT 😬

Salam Sehati, Bapak Ibu,

Wah, masuk ke materi-20, tanpa terasa.

Kita akan membahas tentang keuangan keluarga.

Siapa yang sebelum menikah membahas perencanaan keluarga? Atau, siapa yang bahas rencana anggaran sambil bulan madu? 🙊

Dalam keluarga, siapa yang seharusnya cari uang? Kalau istri punya penghasilan, bagaimana alokasinya? Digabungkan dengan pendapatan suami atau dipisah?

Kata istri, “Uangmu uangku, uangku uangku sendiri” 👍

Kata suami, “Mengapa aku jadi lelaki?” 😥 #halah

Sebenarnya, setiap keluarga punya kebijakan keuangan yang unik. Masing-masing punya pilihan tentang penataan anggaran sesuai dengan keperluan. Ada yang suami istri yang memilih bekerja salah satu, ada yang memutuskan untuk bekerja dua-duanya. Ada yang anaknya banyak ada yang hanya satu. Ada yang berkomitmen untuk menanggung keluarga lain ada yang tidak.

Tentang perencanaan keuangan keluarga, yang penting dibahas bukan hanya jumlahnya.

Amount is matter but not that important – weits, kalimatnya bagus buat instagram 🤔

Jumlah memang ngaruh, tapi bukan yang paling penting. Salah satu sifat uang adalah banyak tak pernah cukup, sedikit tak selalu kurang (kata AF, ini sih). 🙈

Jadi, apa yang lebih penting?

% Bahas pandangan Anda terhadap uang secara terbuka dengan pasangan. Tanpa membahas siapa yang punya penghasilan lebih banyak, ya. Rezeki itu dari Allah. Dia bisa alirkan lewat siapa suami, istri, anak. Kemestian manusia adalah bekerja dengan giat agar bermartabat dan bermanfaat, kan?

Banyak yang malu-malu, sungkan dianggap matre—apalagi baru nikah, kok sudah bahas duit? Justru, harus dibahas dulu sejak awal agar tahu sama tahu pandangan masing-masing tentang uang dan alokasinya. Misalnya, apakah Anda akan memutuskan hidup sesuai pendapatan (bisa mewah bisa sederhana) atau memang tetap hidup sederhana walau penghasilan melimpah? Bagaimana pandangan Anda tentang kredit: mau nyicil atau nabung dulu agar bisa beli tunai? Daaan sebagainya. Bahas prinsip-nya saja, tak perlu buru-buru bahas detailnya, nanti ribut haha. Tak juga harus selesai satu hari, bisa dibahas dan diselaraskan pelan-pelan. Yang penting ngomong, kecuali Anda berdua punya ilmu kebatinan level 9.

% Tetapkan tujuan. Apa yang ingin Anda dan pasangan raih. Misalnya, lima tahun lagi mau naik haji, keliling dunia, bikin rumah sakit gratis, amin … Miliki tujuan bersama agar masing-masing punya semangat mencari rezeki yang luas dan berkah, bukan hanya buat keluarga tapi juga sesama.

% Catat anggaran keuangan masing-masing. Apa yang diperlukan suami, istri, anak, dan tanggungan lain. Lakukan secara terbuka dan penuh cinta. Jika Anda punya hobi gelap # halah (misalnya perlu anggaran khusus untuk fotografi) anggarkan sejak awal. Anggarkan juga dana darurat. Ingat, ini bukan masalah jumlahnya, tapi pengaturannya.

% Catat pemasukan dan pengeluaran. Sekarang banyak aplikasi praktis yang bisa diunduh di telepon pintar. Dari catatan itu Anda akan tahu, mana yang lebih dominan: pengeluaran rutin atau pengeluaran lain-lain hahaha  — Anda juga harus catat pemasukan, apalagi jika Anda bekerja tidak dengan gaji tetap. Catatan ini adalah bukti tanggung jawab Anda dan pasangan dan bermanfaat untuk melakukan koreksi jika ada yang tidak beres dengan pengaturan keuangan: adakah yang harus dipangkas, mana yang bisa ditambah, keperluan apa yang sering diabaikan …

% Anggarkan selalu sedekah—bisa untuk orang lain bisa untuk saudara sendiri. Sedekah memberi semangat kepada Anda untuk berbagi, dan membuat Anda merasa kaya

Lima saja, ya. Nanti layar hape-nya penuh.

Selebihnya, mari kita saling bertukar pengalaman, bagaimana perencanaan keuangan yang Anda lakukan bersama pasangan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)
[

Komunitas di Kulwap Keluarga Sehati

25 Oktober 2016

Bandung Barat, 08:35 WIB

Suci Shofia: 🐳 Selasa Komunitas🐳

Yuk, teman-teman yang punya komunitas penuh ilmu dan seru, boleh berbagi informasinya di sini😍

Berhubung masih terus berdatangan rombongan anggota baru, teman-teman yang pernah berbagi komunitasnya, bisa membagikan ulang info komunitasnya.

Makasih 😇

Devy Nadya Aulina: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Ety: Waalaikum salam warohmatillahi wabarokatuh bu devy
Yula: Wa’alaikum salam ☺

Devy Nadya Aulina: Kalau bicara komunitas, saya bergabung dengan banyak komunitas. Mulai komunitas profesi, komunitas hobi dll.

Saat ini saya sedang menghadiri seminar di Surabaya, mewakili Forum Komunikasi UMKM Nganjuk, dikirim dari Dinas Indakop Provinsi Jatim.

Hana Hasanah: kalau saya dengan teman-teman wanita di kantor pertama yang sekarang sudah menikah dan memutuskan untuk di rumah. Kami membuat satu grup jual beli di whatsapp. Tiap orang di grup boleh jualan dengan syarat barangnya harus berbeda tidak boleh sama. Ada yang jual makanan dengn diantar gojek..barang plastik, pecah belah, baju, kosmetik,dsb..nah saya jualan celana rok dewasa, celana rok anak, mainan kayu edukatif, mukena katun jepang…so..buat yg butuh celana rok baik untuk dewasa ataupun anak, mainan edukatif kayu dan mukena katun bisa hubungi saya..hehehee..sambil promosi ya bu admin😁

Ety Kulwap: Betul-betul ide yg bagus tuh bu hana, boleh ikutan gabung dong he…he…

Diskusi I Message dalam Pernikahan

Sabtu pagi, 5 November 2016

R: Terima kasih Bu Anna… Alhamdulillah pagi-pagi sudah dapat ilmu dari kulwap…😊👍🏻👍🏻
D: Terima kasih untuk ilmunya mba Anna.. 👍👍
Btw bolehkah dalam komunikasi assertif itu ditambah keterangan waktu ? Misalnya … aku paling senang pas ayah mau bantu bersih2 rumah.. apalagi klo langsung dibantuin skrg nih.. cintaa banget.. hehe.. maksa.com.. gak sabar kalau pesannya gak langsung direspon 🙈🙈

W: Alhamdulilah..ilmu yang sangat bermanfaat, terima kasih Bu Anna
H: Terima kasih materi kulwapnya 👍🏻😊.

*I-message*, noted. ☺

Ls: Terimakasih bu Anna…materi yang saya sukaa…
Kenapa? Karena (ngaku..he he) saya termasuk yang belum bisa berbicara asertif. Baruuu…aja ngerti apa itu asertif (duh..telat sekali yaa….) lewat materi Bu Anna edisi awal awal dulu.
Pernah gabung di grup FB ‘the power of happy mom’ asuhan bunda Arifah Handayani. Pernah bahas aertif juga. Masih belum begitu ‘ngeh’…😬😬
Full ‘ngeh’ nya pas dapat dari sini…. (Alhamdulillah).

Saya masih belajar Bu Anna….milih milih kata /kalimat asertif tu gimana…
Senang sekali tema ini dibahas lagi.
Mudah2an teman-teman yang lain banyak yang sharing tentang ini yaaa….
I hope so….
🙏🙏🙏😃😃😃🙏🙏🙏👍👍�👍👍👍

Suci Shofia: alhamdulillah😍

Anna Farida: Glad to hear that, Ls

Ar: Ahhh ini materi saya juga 😂😂

Tapi saya pengennya si dia tau maunya saya apa,tanpa saya bahasakan

Nah loo🙈🙈🙈

Suci Shofia: ilmu kebatinan 😬

Ar: 😂😂😂
Gimana dong? 😁

Suci Shofia: itu materinya dikunyah perlahan-lahan, trus praktek deh! hehehe

Ar: 😁😁😁 Oke mbak Suci👍

Suci Shofia: 😁😁

N: sammmmaaaa….🙈…egois ga yaa????

Ar: Eh Ada temennya 😍😅

Nu: Paling susah buat saya yang suka ceplas ceplos 😂

Ls: Ho ho….sama mbak…wanita ingin dimengertiiii….

Tapi kata suami begini : lha memangnya saya mama laurent…yang bisa menerawang….
😆😆😆😃😃😃

Ni: Yang suka melihat,  meraba, dan menerawang itu Bank Indonesia… 😃😃

Da: 🎤 dilihat, diraba, ditrawang 🎤

Ls: 😂😂😂

Ar: 😂😂😂😂

Yl: Kalau saya nadanya datar saja tapi kok suami untungnya pengertian.

Pas masak pagi
“abi punya cucian ya?”

Alhamdulillah
Beliaunya sudah nyambung, bahwa jatahnya jemur Baju. 😃

Uw: Kalau saya pribadi Alhmdulillah, sejak hmil dan melhirkn sampai sekarang anak sudah umur 9bulan belum pernah mencuci atau masak, hihihi. Semua dilakukan oleh suami. Dia melakukannya sebelum berangkat kerja.

Suci Shofia: 😍😍

Kh: Materi yang menarik sekali… pengen rasanya colek suami biar baca ini juga. Habis kadang-kadang suka kurang tanggap sih 🙈🙈🙈

Sy: Senyum-senyum sendiri baca materi. Keingat baru beberapa waktu lalu suami bilang gak suka kalau harus menebak-nebak, dikira istrinya sering manyun gak jelas tanpa alasan 🙈
Sudah tau tentang komunikasi asertif dari lama sih. Tapi, gimana ya… Perasaan naturalnya setiap wanita itu loh… Ingin dimengerti (tanpa harus ngomong). Wkwkwk.

Ar: Iya nih…  pengennya suami tanggap gitu ya… Gak perlu Dibilang sama istri…  Pokoknya tau aja yang istri mau hahaha

Ri: Kalau saya justru suami yang suka rajin “memperkenalkan diri”…sayanya lempeuuunggg😄
Pernah waktu saya masak seadanya dia bilang,” Ayah suka lho masakan ikan kuah kuning bikinan ibu…” saya langsung timpali,” bersyukur lebih baik, ayaahh…” 😁😁😅

Sc: Jawabannya keren😘

R: Modus aja itu, Bu…padahal saya lagi males masak 😄

Sc: 😬

Qa: Karena wanita ingin dimengerti lewat tutur lembut dan laku agung… Lalala… Nah, suamiku bilang, aku kan bukan dukun atau paranormal yang bisa nebak isi hati kliennya. Dan, ibu bukan klienku, tapi istriku. Jadi, tolong ungkapin yaa kalo ada yang kurang sreg. Kalo gak bisa ngomong, yaa tulis di kertas biar nanti aku bisa baca… #oh, suami yang pengertian ^-^