Stop Being Drama Queen and King

28 Juli 2017

14:43 WIB

Disiarkan langsung dari Bandung, narasumber kuliah via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati, Anna Farida menyampaikan materi: Salam Sehati, Bapak Ibu.
Ini adalah kulwap yang ke-86 dan kita akan membahas tema pernikahan, STOP BEING DRAMA QUEEN AND KING.

Salah satu teman saya pernah curhatโ€”so, hati-hati cuhat sama saya, nanti jadi materi kulwap ๐Ÿ˜€

โ€œBingung saya sama dia, Mbak. Rasanya saya ini cukup perhatian, sudah meluangkan waktu spesial hanya untuk kami berdua. Tapi baginya, saya masih saja belum memenuhi harapan sebagai pasangan ideal. Masalah-masalah sepele dia buat besar, dan lama lama saya berpikir kok jadi sering ada drama. Urusan saya kan banyak.โ€

Ada orang yang lurus menjalani hidupnya lurus-lurus saja, sampai pasangannya rindu dinamika. Ada yang hidupnya beralih dari krisis ke krisis yang lain dan kita mendoakannya. Ada pula yang memang (sadar atau tidak sadar) senang menciptakan drama dan memang cari drama.
Istilahnya drama queen atau kingโ€”yang sering meributkan sesuatu yang tidak penting, dan caranya ribut itu bikin gempar.
Walau berlaku bagi kaum lelaki dan perempuan, istilah drama queen atau ratu drama lebih populerโ€”sebel, ih!
Karenanya, ayo cari istilah lain, misalnya drama addict ๐Ÿ˜€

Biasanya, secara emosional, dia mudah meledak karena hal hal yang tidak sesuai kehendakโ€”hal-hal yang kecil, yang sebenarnya tidak perlu dibawa marah. Kita pernah bahas dalam materi โ€œRECEHANโ€.
Salah satu contohnya adalah bangun telat, padahal tidak akan ke mana-mana, tapi ngomelnya ke mana-mana, ke siapa pun yang ada di dekatnya, dan lama.
Ujung-ujungnya dia mengasihani diri karena merasa tidak diperhatikan, juga malu karena tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
Mau tahu contoh lainnya? Tonton satu saja opera sabunโ€”ingat, ya, satu sajaโ€”Anda akan dengan cepat menemukan karakter ini. Kemudian kita sama-sama lihat, adakah karakter itu ada dalam diri kitaโ€”mungkin sekian persen saja?
Lantas, bagaimana kira-kira perasaan pasangan kita menjalani hidupnya dengan karakter kita ini? Eheheh.
Tentu, ada orang yang terlihat seperti ratu atau raja drama, dan dia memang hidup dalam kesulitanโ€”ini harus dibantu. Ada orang yang memang sakit dan selalu memiliki keluhan kesehatan, ada juga yang merasa selalu sakit tanpa mau diperiksa lebih lanjut, dengan alasan takut ketahuan penyakitnya. Yang terakhir inilah yang drama.

Kita perlu tahu sebabnya, supaya bisa menghindarinya. Demi pasangan kita, dan tentu demi diri kita.
1. Bosan. Bagi beberapa orang, menciptakan drama akan membuat hidup lebih menarik. So, alih-alih main drama, mari kita cari hobi baru yang membuat hidup lebih berwarna. Ajak pasangan melakukan hal baru, kebiasaan baru, menu baru. Yang murah meriah saja, yang penting seru.
2. Cari perhatian. Dia memancing reaksi orang lain untuk lebih perhatian. Minta perhatian pasangan bisa dilakukan dengan banyak cara, bukan meributkan hal kecil dan menuduhnya tidak perhatian. Energi itu memantul. Perhatian kita terhadap pasangan akan menular. Omelan kita padanya akan menular. Drama kita padanya pun akan menular. Energi positif menular, yang negatif pun demikian.
3. Menghindari masalah yang sesungguhnya. Misalnya, masalahnya sebenarnya adalah takut overweightโ€”ini saya bangetโ€”dan caranya menghindar adalah dengan curiga saat pasangan terlihat rapi, telat pulang, sibuk dengan pekerjaan, lupa jawab WA, dsb dst.ย  Kalau mau dapat berat badan ideal ya olahraga dan berhenti ngemil, dong, Bu Anna. Plis, deh.
Nah, dari tiga penyebab di atas, sedikit banyak manusia mengalaminyaโ€”artinya takarannya berbeda-beda. Wajar, lah, sesekali main drama. Tapi drama yang beratus-ratus episode kan lama-lama bikin bosan juga.
Demikian refleksi hari ini, semoga bikin teater kehidupan yang sedang kita mainkan di dunia kian bermakna.
Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Mbak Hesti.
Salam takzim,
Anna Farida
www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Hambar

Anna Farida berkata: Salam sehati, Bapak Ibu sekalian. Ini kulwap ke-66. Ditulis di atas Uber ๐Ÿ˜ฌ

Kita akan mendeteksi ciri-ciri pernikahan yang hambar.
Materi ini tidak ditujukan untuk bikin kita baper, parnoan, atau cemas. Kita perlu merumpikannya buat jaga-jaga.
Uhuk!

Bisa kita mulai, ya.

Pernikahan yang hambar biasanya membuat pasutri:

# merasa tidak nyaman berekspresi. Pasutri tidak bebas bilang bahagia, bangga-nyombong dikit, gitu-, atau capek, bete, kesal …
Buat apa ngomong, paling dia juga nggak peduli. Mending curhat di grup teman-teman.

#tak merasa perlu berubah. Setelah menikah bertahun-tahun dan merasa settled, pasutri tak merasa perlu cari hobi baru, atau menyemangati pasangan belajar hal baru.
Segini aja, deh. Yang penting aman terkendali.

# tidak ada keinginan saling “menggoda”. Sudah nikah, sudah punya anak, mau apa sih mesra-mesraan.

#tidak merasa perlu bertengkar. Sudah, deh, yang penting dia puas. Aku ngalah saja. Dibahas juga tak ada gunanya. Bikin capek aja. Ya, lah. Terserah Mas aja, gimana Mama saja.
Kita pernah bahas mana prinsip mana recehan, kan? Tentu berbeda, mana mengalah mana tak peduli.

# tidak lagi merasa cemburu. Pasangan dekat dengan lawan jenis cuek. Pasangan lama-lama main hape sambil senyum-senyum pun cuek. Nggak pernah curiga dia ngobrol sama siapa, bahas siapa. Percaya dan abai itu jauh, kan?

# tidak bersemangat dapat pujian, berhenti caper. Ingat waktu awal kenal atau awal nikah? Semua pasutri saling ingin menunjukkan hal terbaik, bahkan caper maksimal. Sekarang itu semua tak penting lagi?

Apa lagi, ya? Kita rumpi, yuk!
Capek nulis pakai jempol, haha.
Maaaaf, saya sudah tahu akan berangkat Jumat. Jadi seharusnya saya siapkan materi lebih awal. Tapi ya gitu, deh, banyak alasan, haha.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Diskusi Menerima Kekurangan Pasangan

Jumat, 7 Oktober 2016

Materi Kuliah Via WhatsApp kali ini mengundang peserta untuk memberikan suaranya.

N: dalam hidup berumah tangga,ย  prinsipnya give and take ya, bunda. Kalo kita selama ini terbiasa dengernya take and give makanya menuntut melulu baru mau memberi ๐Ÿ˜„

Materi yg bagus!

Y: Saling melengkapi, bagaimana ibu? โ˜บ

Ir: kereen kulwap ke 56 syukron mbak Anna Farida.
Saya teringat postingan Teh Suci Shofia “memilih bahagia”,
kira-kira sayapun menyikapi perbedaan yang ada selain seperti disampaikan mbak Anna di atas adalah memilih bahagia ketika berbenturam dengan perbedaan suami, ambil setrikaan mengunung di setrika baju-baju sampe tipiiiisss untuk luapkan emosi, agar saat bicara tidak meledak-ledak … mengambil secangkir teh dan duduk samping kulkas sambil membaca syair-syair arab yg mengindahkan hati …. atau mandi di bawah shower sambil meneteskan airmata hahaha atau kalo udah akut ambil sajadah duduk manis tengadahkan tangan. Gue mah gitu orangnya. Berupaya berdamai dengan diri sendiri menjauh sedikit ke dapur dan sisi rumah lain sejenak dari anak-anak agar tidak kena imbas …

quote terakhir saya tukang nyasar, ternyata kita sama yaaa. Ke sekolah anakpun saya masih binggung ๐Ÿ˜‚

Y: Seandainya bisa ya seperti itu …
Mlipir dikit dari peradaban.

Andaikan itu bisa di lakukan, anak-anak bisa bagaikan kucing kehilangan induknya.

Meong meong meong๐Ÿ™€๐Ÿ™€๐Ÿ™€

Ni: Kira-kira demikian ๐Ÿ˜€
Masalahnya, mungkin ada juga yang berpikir akan berbuat baik yang lebih kalo dia lebih dulu diperlakukan lebih juga kan, Bu…
Dimana ya saya pernah baca, bahwa dalam pernikahan kita seharusnya saling berlomba untuk memberikan yang terbaik buat pasangan kita. Kalo udah ngasih yang terbaik, Insyaa Allah akan dapat yan terbaik juga ๐Ÿ˜

Iq: sedihh baca akhir-akhir ini bertebaran share tentang ibu-ibu yg menganiaya bahkan membunuh anak-anak katanya karena depresi. Menurut saya karena kita tidak mau berdamai dengan diri sendiri, tidak memilih bahagia. ย Menjauh sejenak saat bayi menangis tidak akan membuat sang bayi mati, malah melatih jantungnya. Setelah mereda emosi barulah kita dekap sang bayi.
Banyak faktor memang, namun jangan menuding karena perbedaan paham dengan suami. Saya pribadi selalu mendengungkan dlm hati “Allah jodohkan dengannya karena kami sekufu” dalam artian kami sama dalam banyak hal. Hanya saya yang perlu sedikit mengendalikan emosi biasa faktor U hihi.

Y: Aamiin Aamiin Aamiin.
Ide yang bagus bisa jadi cara menaklukkan gunung yang tinggi dengan cara menelusuri jalan bukit yang terjal. Pasti sampai pada puncak gunung dan bisa menikmati indahnya panorama sekelilingnya

Ihiiir…

Iq: terkenang waktu ke puncak deh ๐Ÿ˜˜

Y: Puncak mana mbak iqa๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Iq: husssh rahasia ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ kayak kita butuh refreshing sejenak hahaha #nyasar

: Hahahahaha…
Saya malah ingat di saat honeymoon.
Bukannya diajak ke pantai malah naik gunung ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Iq: hahaha tapi sulit dilupakan, perbedaan suami senang suasana hening dahan pohon dan istri senang bunyi desiran ombak memecah sunyi. Intinya perbedaan itu indah antara suami istri tinggal cara bijak menyikapinya.

Y: Tak akan terlupakan sepanjang hayat selama masih di kandung badan, meski dalam perjalanan kami saling tak percaya, akhirnya ini lah belahan jiwa.

Hohoho …

Y: Betuuuuul…
Suami bukanlah orang yang romatis yang suka bawa sekuntum bunga mawar indah di tangan, yang diimpikan banyak wanita.

Sukanya malah iseng kasih kejutan yang tak terduga,โ˜บโ˜บ

Iq: btw kok jadi kita berdua yang makin ngelantur, hihi … yang lain kemana …

A: Menyimak, Bu … tentang nyasar dan kecerdasan linguistik๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ sama.

ย Y: La iya malah …
Berpuisi sendiri …

Ayuk ikut komen ibu-ibuโ˜บโ˜บ
Usia berpengaruh gak ya untuk satu hal ini?
Misal pasangan kita terpaut jauh, atau malah seumuran.

Iq: entah deh … dengar,dengar kalau suami lebih tua jauh lebih ngayomi. Kalau adik lebih manja hihi entah … colek bunda Hera, Bu nining, ย bunda Fina, senior-senior mana nih lempar ๐Ÿฉ ๐Ÿ’.

Y: Kalau mbak Iq, termasuk yang mana?

Iq: nyasar bingung parkir mundur sisa 1 pula ditengah … dilema bu ibu nyetir. Hihihi kokย saya ๐Ÿ˜…nih?belum bisa jadi model masih perlu arahan …

Y: La maesteo belum ada yang muncul e… ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

N: hadeuuuuuhhhhh, seperti mudah ya Bu Anna kalau baca mah, tapi susaaah bangeuuut di jalankan….helep miiii….๐Ÿ˜†

Sh: Suami saya lebih tua 15th, tapi lebih suka saya mandiri. Mungkin tuntutan pekerjaan yang harus konsentrasi dalam waktu lama kali ya. Tapi kalau tentang pengelolaanย  konflik, saya tukang ngambek, suami problem solver. ๐Ÿ˜

Y: Jadi, lebih ngayomi ya termasuknya… โ˜บ

Sah: Mungkin begitu ya.

H: Baru baca, kebetulan lagi _break_ antar kelas. ๐Ÿ˜Š
Materi kulwapnya _awesome_, as always.
Terima kasih mba Anna. ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ˜Š

Nz: Selalu materinya kereeen …

Ln: Materi kereeen….๐Ÿ‘๐Ÿ‘
Terimakasih bu Anna ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

Tema tentang ย ‘Recehan’ dulu (lupa kulwap yang keberapa)sangat membantu istri untuk memahami kekurangan suami.
Nyambung banget dengan materi hari ini.
๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Ni: Materi yang ini bikin ibu-ibu nostalgia ke masa honeymoon segala… Aseekk aseekkk

Is: Kulwap yang ke56 , tema-nya keren, prakteknya sulitnya minta ampyuuun.

L: Pada prinsipnya kudu sabar dan telaten nandur (nanam) dulu, berharap hasil panennya baik.
๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€
Kadang nanemnya berminggu minggu baru panen …
Kadang berbulan-bulan …
Kadang tahunan …
Sabar dan doa padaNYA sangat diperlukan dalam hal ini…๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ
Semangaaaat….๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿƒ๐Ÿฟ๐Ÿƒ๐Ÿฟ๐Ÿƒ๐Ÿฟ๐Ÿƒ๐Ÿฟ๐Ÿƒ๐Ÿฟ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

Anna Farida: Sama-sama, Bapak Ibu.

Sebenarnya dalam setiap materi itu ada unsur curhatnya ๐Ÿ˜œย  jadi terima kasih sudah jadi teman rumpi dan diskusi di Keluarga Sehati.

Ar: Ah Iya…ย  Saya juga masih ingat itu recehan…ย  Mengena sekali buat saya yang suka membesar-besarkan sesuatu. Wkwkwk

Masih harus terus belajar tentang recehan ituuuu๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

L: ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ sama saya juga..๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Diskusi Tema Memilih Setia

N: ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ’
M: ๐Ÿ‘๐Ÿฟ
H: ๐Ÿ‘
Seperti biasa, jawaban2 pertanyaannya *wow* ๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š
Banyak ilmu dan pembelajaran yg bisa diserap. Hatur nuhun. ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

I: Terima Kasih ilmunya, barokallahu fiik, Mbak Anna
Urusan hati, Anda paling mengerti kemana hati dibawa,ย Mbak Anna ๐Ÿ˜˜
Suci Shofia: suwuuunnn ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

H: Btw, tentang pertanyaan ke 2. Saya jadi ingat teman-teman dulu bilang kalau memilih pasangan enggak boleh terlalu _njomplang_ dalam hal cara berpikir dan cara memandang sesuatu. Katanya bisa terjadi _penindasan intektual_ ๐Ÿ˜. Waktu itu saya menertawakan teman yang mengatakan demikian. ๐Ÿ˜Š
Ternyata mungkin maksudnya seperti masalah di pertanyaan kedua di atas. *imho
Eh.. betul ga sih? ๐Ÿ˜
J: Bibit bebet bobot harus seimbang ๐Ÿ˜€

Anna Farida: Benar, dalam agama Islam juga ada tata caranya: pilih karena tampangnya, hartanya, keturunannya, dan imannya.

Walau diutamakan imannya, tetap saja isyarat untuk cermat memilih itu tetap ada.

Para lajang mana suaranyaa ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ

E: betul betul..๐Ÿ˜…

R: Tapi bagaimana menguasai hati yang lemah….bertahan untuk tidak berasa nyaman di cheatingย yang akhirnya berkelanjutan.๐Ÿ™ˆ

I: Sibukkan hati dengan hal yang lebih bermanfaat. Misalnya menulis, masak, membaca nyetrika, bongkar lemari, list baju lama tak terpakai ,berbagi dengan sesama
Habisย  itu buat list untuk baju baru, kasihkan babe beeb sepertinya gue udah nampak kusam, shopping yuuk, berenang, spa bareng ….

Potong rambut rubah penampilan.ย Kalau belum bisa juga, kuasai lagi hati berarti butuh pecerahan ngaji ke ustadz. Minta doanya siapa tau ada jin masuk dalam rumah dan memasuki alam bawah sadar untuk bermaksiat.๐Ÿ˜˜
#BukanAhliTerawang #PengalamanDariBacaan ๐Ÿ‘๐Ÿป

R: ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ™๐Ÿ™

V: Saya pernah dapat serangan chat enggak penting.ย Gampangnya sih saya block kontak itu.ย Perlu akal sehat aja sih buat menghentikan sesuatu yang berpotensi enggak ngenakin hati dan pasangan.ย Akal sehat nutrisinya kalau saya cuma Al Quran.ย Ulang bacaan nisaa ..bikin saya jiper sendiri untuk baper๐Ÿ˜Š

L: ๐Ÿ‘๐Ÿ‘ย Mba V๐Ÿ˜Š
V: Cuma berbagi, Mbak L…๐Ÿ˜Š

Y: Itulah maka dibutuhkan iman yang berlipat lipat

Anna Farida: Saya ini ceriwis – kelihatan, kan?ย  Saya suka ngobrol – ini juga pasti pada yakin — saya juga harus berjuang mengendalikan diri, dan itu yang saya sebut tantangan yang tidak semua orang mau ambil ๐Ÿ˜ฌ

A: ๐Ÿ˜๐Ÿ˜„yakin
Suci Shofia: yakin pake bangettt๐Ÿ˜€
Xโ€ฌ: ๐Ÿค—๐Ÿค—
โ€ฌ: Tapi saya suka, bu Anna

N: Ceriwis yang bermanfaat, ya, Bu
Xโ€ฌ: Betul3x๐Ÿค—

L: Kalo cikgu Anna tidak ceriwis, ya sepi dong kulwap. jawaban dr cikgu cuma โ€™yes no, yes noโ€™ aja.๐Ÿ˜…

X: ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

N: Ini tema pas banget sama saya sekarang sekarang. Materi memang mudah, tapi nyata praktek memang susah.

Untungnya saya masih fase awal, yang baru menikah. Menyeimbangkan diri dengan suami agar bisa memiliki keselarasan nada. Agar gak ada yang jenuh salah satu. Belajar lebih banyak lagi agar bisa menyeimbangi, dan tidak membuat si dia jenuh nantinya kalo ngajak ngobrol saya ๐Ÿ˜

Tanya Jawab Memilih Setia

Senin Siang, 25 Juli 2016 .12:48 WIB

Tanya 1:

Pertanyaan dari teman tentang kulwap Jumat ini. Konon banyak orang bilang kalau seseorang sudah pernah “cheating” sekali, maka dia akan melakukannya lagi meskipun sudah bilang insyaf. Menurut pandangan psikologi, benar tidak anggapan itu?

Jawaban bu Elia Daryati

Cheating, merupakan solusi buruk, ketika seseorang mempertahankan diri untuk menutupi keburukannya.
Bagi yang terbiasa melakukannya, hal ini tentu merupakan wujud dari pribadi yang “lemah”. Berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab. Bukan seorang pemenang tapi pecundang. Sehingga ketika mereka membangun relasi dalam ikatan pernikahan atau pun ikatan-ikatan kerjasama lainnya sulit untuk di percaya.

Akan tetapi tentunya kita tidak bisa menghakimi dengan harga mati, bahwa seseorang itu tidak akan berubah. Memang secara umum yang sering melakukanย  “cheating“, cenderung mengulang perilaku yang sama, akan tetapi kemungkinan berubah selalu ada.

Sikap secara teori, merupakan perilaku yang relatif menetap. Artinya cenderung menetap, tapi karena ada kata “relatif”, maka kemungkinan berubah selalu ada. Apalagi jika sudah mengatakan insyaf, inspirasikan dan kawal terus untuk menerapkan nilai-nilai positif.

Jawaban Anna Farida

Secara ilmu psikologi Bu Elia akan jawab lebih mumpuni. Saya jawab berdasarkan prinsip umum, hasil bacaan, dan sedikit kesotoyan ๐Ÿ™ˆ

Manusia itu makhluk yang punya sifat berubah–bisa membaik bisa memburuk. Yang menentukan kualitas perubahan itu adalah diri sendiri dan lingkungannya, terutama lingkungan terdekatnya.

Cheating itu pilihan sadar yang salah. Jadi, ketika saya nekat pakai high heels kemudian jatuh itu bukan khilaf namanya, tapi cari perkara.
Got the point?

Ketika tahu bahwa berlama-lama ngobrol kemudian curhat dengan lawan jenis itu bisa bikin terpeleset, saya akan menghindarinya. Balik ke materi kita, siapa pun bisa terjungkal ๐Ÿ˜–

Lantas apakah yang sudah pernah cheating akan kembali melakukannya lagi?

Kembali ke niat ybs (yang bersangkutan) dan dukungan sekitar.
Dengan batasan yang berbeda-beda, jika pasangan memutuskan untuk memaafkan, lakukan dengan sungguh-sungguh.
Orang yang cheating itu hanya bisa keluar dari rasa bersalah dengan bantuan pasangannya.

Sebentar …
Ada yang perlu kita sepakati dulu.
Ada orang yang bilang gini, “Aku berpaling karena pasanganku begini begitu.”

Memang, tak ada asap jika tak ada api.
Pertanyaannya, mengapa sampai ada api yang kemudian bikin asap?

Intinya, jika sudah terjadi dan pasangan berkomitmen memaafkan kemudian saling memperbaiki diri, lakukan sepenuh hati.

Tanya 2
Sahabat saya terlihat hidupnya sangat baik-baik saja dengan pasangannya. Tapi dia memendam sebuah bentuk ekspektasi, yang kelihatannya tidak bisa dipenuhi pasangan.

Sahabat saya, sebut saja Indi. Dia merasa, berkembang jauh lebih pesat dalam pemahaman akan kehidupan, sementara suami tidak mengimbangi. Saya melihatnya masalah energi Mba. Si Indi ini memang perempuan yg sangat enerjik, jadi mungkin (interpretasi saya) dia membutuhkan sosok yang bisa seimbang. Tapi bagaimana mungkin, rumah tangga mereka saja sudah berjalan hampir dua dekade.

Akibat ketidakseimbangan ini, memunculkan sebuah needs yang mendorong si Indi ini melakukan beberapa “affair” dengan PIL. Main hati aja siih Mba. Tapi saya sebagai sahabatnya merasa perlu meluruskan ini. Tapi seperti kehabisan cara Mba. Beliau seolah punya segala pembenaran, meski kadangkala dia menyadari kekeliruannya.

Anaknya sudah lebih dari 3 lho.
Jawaban Bu Elia Daryati

Ruang jiwa yang kurang terisi dengan baik, akan menjadi celah untuk memenuhinya dengan sendirinya secara alamiah.
Pemenuhan tersebut dapat bersifat positif maupun negatif.

Jika dilihat dari kasusnya ini judulnya terkait dengan kekecewaan terhadap pasangan. Adapun yang perlu dibangun adalah mencari pemenuhan positif yang dapat mengisi ruang jiwa yang kosong. Menghadirkan PIL bukan sebuah solusi, justru mendatangkan persoalan baru pada akhirnya. Bukankah? Tidak setiap pernikahan yang kecewa dengan pasangan akan melakukan perselingkuhan.

Perselingkuhan tetap merupakan kesalahan yang lahir dari pribadi yang lemah. Perkeliruan…tetaplahย  sebuah perkeliruan dan tidak bisa dijadikan pembenaran terhadap pasangan yang dinilai “kurang” level.

Yang harus dilakukan perbaiki komunikasi, dua dekade bukan waktu yang singkat dalam sebuah kebersamaan.

Jawaban Anna Farida

Kata Bu Elia, menikah itu saling menginspirasi dalam kebaikan. Jadi jika pasangan kita lihat perlu meng-upgrade diri, kita wajib mendukungnya.
Melarikan diri dari pasangan yang kurang bisa mengimbangi kita sih semua juga bisa. Yang menantang adalah mengajak pasangan berkembang bersama.

Enak banget, Mbak Anna, teorinya. Praktiknya sussaaah!

Memang susah, walau saya lebih suka menyebutnya menantang, chalenging.

Kebaikan itu mahal, Bu, Pak.

Perjuangan untuk menjaga pernikahan di zaman ajaib ini adalah pilihan yang tidak serta merta diambil semua orang.

Sebagian memilih lari.

Semoga kita tidak.

Semoga kita termasuk orang yang terus berusaha menjaga pernikahan dengan niat setia, rencana setia, menyengaja setia, dan menjaganya dengan doa.

Anna farida: Sampun, Mahmud Admin Suci Shofia. Terima kasih, Teman-teman. Pertanyaannya bisa kita jadikan bahan belajar bersama.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa dipesan melalui Teh Aan.

Mari merumpi!