Jawaban Inner Child

Kali ini sesi tanya jawab di kelas Kulwap Keluarga Sehati, 3 April 2017 1:48 PM

Suci Shofia: Siang, teman-teman semua.

Jawaban kali ini agak berbeda dengan biasanya.

Menurut Bu Elia narasumber kita (psikolog): “Materi inner child itu sangat klinis sesungguhnya. Biasanya hanya biasanya dapat diselesaikan di tempat terapi dan ruang konseling.

Jika dibahas selintas mungkin bisa, namun mmg utk memutus rantai membutuhkan bbrp jenis terapi yg harus dipraktekkan.”
Berikut jawaban untuk semua pertanyaan:

Bu Elia:

Salam. Selamat siang semua. Pembahasan kita kali ini cukup seru yang terkait dengan masalah inner child.

Dari artikel yang disampaikan di grup oleh mbak Anna, cukup memberikan penjelasan inner child itu seperti apa.

Dari keempat pertanyaan sebetulnya memiliki kemiripan kasus satu sama lainnya. Ada yang tidak terselesaikan masalah/trauma di masa lalu yang masih atau kadang kala muncul di masa kini, ketika berhadapan dengan situasi serupa atau ketika kondisi emosi sedang tidak terlalu tenang.

Sepertinya menjadi sulit untuk di kendalikan.

Sesuatu yang tidak terselesaikan di masa lalu biasanya terbawa di masa kini dan ikut mewarnai bagaimana dia berkeluarga, bekerja, berinteraksi dan ketika menjadi orang tua.

Seperti kasus di atas, sesungguhnya cukup sadar akan tetapi kenapa kadang tidak dapat dikendalikan?

Ingin berdamai, ingin menghilangkan trauma dan ingin memutus rantai, tapi tidak tahu caranya.

Bahkan salah satu kasus di atas si istri ikut terduplikasi dari sikap suaminya yang keras/kasar yang diduga memiliki inner child.

Beberapa cara yang dilakukan sebenarnya bisa menggunakan hypnotherapy atau forgiveness therapy dan membutuhkan beberapa sessi untuk menyelesaikan masalah inner child tersebut.

Ada juga teknik sederhana yang dapat dilakukan dengan menggunakan personal life line.

Misal : seseorang membuat garis di atas kertas kosong. Dibagi ke dalam 4 bagian. kiri kanan dan atas bawah.

Tuliskan sekitar 20 peristiwa yang bermakna yang cukup mempengaruhi kita di masa lalu dan masa kini berdasarkan lintasan umur dan waktu. Bagian atas hal-hal yang membahagiakan dan bagian bawah adalah hal-hal yang kurang atau tidak membahagiakan.

Semakin bawah semakin bermakna trauma yang tidak membahagiakan dan semakin atas merupakan kebahagiaan.

Selanjutnya kita rasakan setiap peristiwa, jika ternyata masih tersisa sampah-sampah emosi yang masih mengganjal berarti kita belum berdamai dengan peristiwa-peristiwa tersebut dan terbawa ke masa kini dan berdampak pada perilaku yang kurang kita sadari.

Begitulah rasakan berbagai peristiwa tersebut dan berikan angka kedalaman terhadap hal yang kita rasakan.

Kita harus menjelaskan peristiwanya apa? Siapa saja yang terlibat disana, apa saja yang sesungguhnya diharapkan terjadi dalam peristiwa tersebut.

Bentuk komunikasi seperti apa? bentuk sentuhan seperti apa? Dan penyelesaiannya seperti apa? Sehingga peristiwa-peristiwa tersebut memang clear terselesaikan.

Setiap orang dapat melakukannya dengan satu persatu diselesaikan secara individual. Jika belum mampu menghapus semua peristiwa, paling tidak mengurani beban emosi mental secara bertahap satu persatu yang dibawa dari masa lalu.

Demikian semoga bermanfaat.

Maaf saya kirim gambar panduan dari Bu Elia untuk pembagian kolom yang sudah dijelaskan oleh beliau di atas. Ada ralat, pembagiannya atas bawah.

Bu Elia Daryati: Abjad itu nama-nama peristiwa, sekaligus hal tersebut menunjuk di usia berapa peristiwa tersebut terjadi.

Abjad-abjad bercerita ttg masa lalu, awal-awal kehidupan dan terus maju ke masa kini.

Abjad begerak dari A…sd…seterusnya. bergerak dari masa lalu ke masa kini.
Anna Farida: Terima kasih, Bu Elia.

Teman-teman, saya tidak ikut-ikutan jawab, ya. Nanti salah resep 🙈

Saya juga mau ikutan bikin tabelnya, sambil takut-takut gitu mengakui beberapa hal yang sudah berlalu 🙊
[4/3, 4:34 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: meresapi materi
[4/3, 4:38 PM] Dieni Elha Kulwap: PR banget ini. Semoga bisa mengatasi inner child ya 🙏🏻
[4/3, 4:42 PM] Suci Shofia: amiinn, semoga semua bisa berdamai dengan masa lalu yang kurang menyenangkan😇
[4/3, 7:26 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: blm paham, yg atas masa lalu bawah masa depan atau gmn? 😆
[4/3, 7:28 PM] Suci Shofia: atas untuk inner child yang menyenangkan, bawah untuk inner child yg tak menyenangkan😇
[4/3, 7:36 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: oohh ic , saya kalo lagi marah yg terbayang wajah emak lagi marahin saya.. huaah .. PR banget nahan si Inner Child ga keluar

H: kalo sy lagi ga waras dan dede bkin kesel padahal usianya 3 tahun aja belum, dia nangis kejer saya kayak dengerin musik.. harus terapi ini yah
R: Terimakasih bu elia buat jawabannya. Smoga saya bsa segera mendamaikan inner child saya..dngan proses ga lama lama

Advertisements

Diskusi Pemilihan Jurusan

5 April 2017

5:43 AM

Salah satu peserta Kulwap Keluarga Sehati menanyakan perihal pilihan jurusan di bangku kuliah :

A: Salahkah memaksa anak untuk menempuh pendidikan yg lebih tinggi / dengan jurusan tertentu, sedangkan anak tidak berminat ??

Atau mungkin anak lebih ingin dengan jurusan A, tapi orang tua lebih senang dg jurusan B, karena orang tua tahu klo si B punya potensi di bidang B

Atas jawaban terimakasih, maaf sudah mengganggu waktu panjenengan semua.
U: Saya belum punya anak yang menginjak usia kuliah.. Tapi kalau tentang memaksa.. Rasanya memang salah. Apapun paksaannya 🙏🏼
Ea: Saya sangat berminat ke fakultas hukum. Sejak SMA saya berminat ke hukum.
Tapi saat kuliah saya diminta ke psikologi. Dan akhirnya saya nurut orangtua masuk ke psikologi.
Tapi hati kecil saya selalu ingin ke fakultas hukum. Teman2 saya jg semua ke banyakan dr fakultas hukum.
Skrg saya bekerja sebagai wirausaha. Saya berbisnis.
Jika saya dibolehkan mengulang, saya tetap ingin ke fak hukum.

Atau saya diberikan kesempatan S2, saya masih ingin ke fak hukum rasanya 😊
V: kuliah lagi aja mbak..sy gitu..karena kuliah ikatan dinas ya sesuai saran ortu..stlh skrg sy ambil.lagi peminatan awal sy..toh gak ganggu siapa2 juga😊
Ea: Iya mbak..
Tergantung keadaan nanti..
Klo dalam waktu dekat belum ada rencana kuliah. Baby2 saya masih jadi prioritas saat ini 😊
D: Saya pun mengalami hal yang sama dengan mbak Ea nih.

Saya mengambil kuliah keguruan seperti yang diharapkan Ibu saya dan saya berusaha menjalani profesi saya sekarang dengan senang hati dan perlu saya akui.. Dr tempat saya bekerja ini dan juga para kolega, saya mendapat banyak ilmu tentang parenting, yang bisa jadi tidak saya temukan di bidang yang saya idamkan.

Meskipun betul.. Jauh di dasar lubuk hati saya masih ada perasaan “menyesal” kenapa tidak coba keukeuh dengan cita2 pribadi. Melihat teman yg sukses di bidang yg saya inginkan dulu. Kadang ada perasaan.. “andai saja.. Pasti skrg bisa begini begitu.. Bisa kesana kemari”. Toh saya punya skill juga. #hahahahahaPEDE

Tapi keputusan itu sudah saya ambil dan inilah saya sekarang.
Jadi berusaha mencintai apa yang saya miliki sekarang.

Tapi entah ini ada kaitannya dengan Innerchild topik kmrn apa tidak.. Apakah bisa disebut saya belum “berdamai” dengan masa lalu. Tapi yang jelas sepertinya saya akan memberikan sedikit banyak kebebasan kepada anak-anak untuk menjalani passion mereka Tentu saja dengan sedikit banyak arahan dan nasihat #maklumEmak2 😁
M: Kalau menurut saya #sotoy
Inner child ini terkait dengan tahapan perkembangan psikologi yang belum tuntas, sehingga ketika dewasa akan mencari jalan untuk menuntaskannya.
Misalkan orang yang ketika kecilnya belum tuntas pada tahapan air, ia akan “senang” bermain air ketika dewasanya.

Diskusi Bra, Cantolan Bayi, Menstruasi, dan Narkoba

Yuk, ikuti diskusi seru narasumber dan peserta kulwap di hari Jumat, 24 Maret 2017.

 

[3/24, 12:08 PM] Suci Shofia: Yes! Jangan ikut gila😆
Yn: Kadang kelepasan ikut gila…

Tapi nggak sampe bikin banyak ufo dadakan dirumah.
Ls: Nah itu diaa bu Anna….
Menahan diri untuk tidak ikut gila sembari melayani dengan baik (dengan harapan dia akan membaik ) kok ya …duh…kadang telaten kadang enggak yaaa…(akhirnya ikutan bete..)
Ir: siappp jgn ikut gila mendingan jdi 🤡 hihi
lahh beneran sy kadang merasa kalo suami lgi krg enak bodi sy mulailah berperan ganda hahah termasuk mjd 🤡 yg bukan profesi untung gk pake acara ngecet muka tppi ckp buat lucu lucan ..
sampe suami berkata ..ummi kenapa ..demam k 😂

dan selesailah gk enak bodinya
Ma: haha…ya ..butuh cooling down ituh kanda prabu… 😄
A: Gila tdk, tp melarikan diri darinya alias kabooor😅😅
D: Jangan gila .. jangan marah sayang ..
Nanti kau menyesal 😊😋
Katakan abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
Versi BCL
[3/24, 1:20 PM] Suci Shofia: kaburnya jangan kelamaan yaaa😬
[3/24, 1:21 PM] Suci Shofia: Kalau ada pertanyaan seputar pembahasan kali ini, silakan japri ke saya.

Sebelum jam 24.00 malam ini.
[3/25, 6:10 PM] Anna Farida: Saya sedang lipat baju. Upeng (10 th) bantuin. Dia melipat breast holder dan tanya bagaimana pakainya dan kenapa pakai.
Kami jadi bicara ttg menyusui, tentang haid.
Ingatkan saya untuk cerita nanti, yaaa. Sudah magrib.
Hp: siap, mengingatkannya skrg ahaha
[3/25, 6:11 PM] Suci Shofia: Siap!
Is: asyik…
ini bagian yang perlu banget cikgu

bagaimana menyiapkan diri menghadapi putri kita yang mendapatkan haid pertamanya
[3/25, 7:34 PM] Anna Farida: Jadi mari cerita.
# emang kenapa harus pakai?
@ nanti payudara kan tumbuh membesar. Kan nanti buat nyusuin bayi. Lagian kalau payudara membesar, nggak enak kalau dibiarkan boing boing
# Hahahahahaha Ibu mah
Ubit teriak dari atas.
% Ibuuu ada ubit nih. Ubit kan laki-laki!
@ Lah laki-laki juga kudu tau. Nanti juga punya istri.
% Iya, tapi istilahnya jangan (vulgar) gitu. Malu.
@ oke maaaaf.
Nah, Upeng, payudara tumbuh buat nyiapin ASI. Ini biasanya bareng dengan rahim juga siap.

Allah bikin tubuh kita menyiapkan tempat buat bayi setiap bulan. Dinding rahim menebal nanti buat cantolan bayi. Kalau bayinya nggak ada, dindingnya nggak kepake, keluar jadi haid. Nanti bulan depan gitu lagi.

# berdarah gitu?
@ iya. Biasanya ada sakit perut dulu, atau sakit pinggang. Makanya Ubit juga kudu tau, nanti istri haid kudu tahu juga.
% Iyaaaa – sambil males gitu haha

@ tar kalau upeng haid segera bilang ibu. Ibu punya menspad baru. Kayaknya ibu perlu pesan lagi buat jaga-jaga.
Jangan pakai pembalut sekali pakai – kalau darurat sih oke tapi jangan jadi kebiasaan. Tar banyak sampah.

# jadi (breast holder) ini disimpan di mana?
@ rak nomor 3
[3/25, 7:34 PM] Anna Farida: Sudah
[3/25, 7:35 PM] Anna Farida: Rumpi cewek selesai, kami segera bahas hal lain
Nggak perlu kepo dia paham atau enggak.
Sampaikan saja setiap ada kesempatan.
[3/25, 7:35 PM] Anna Farida: Mari makaaaan #eh
A: 👍👍👍
Map: Semoga kami dikaruniai anak perempuan, agar ceritanya lebih lengkap.
Um: Assalaamu’alaikum …subhanalloh banyak ilmu yg amat bermanpaat. Jazakalloh…ikut gabung ya bun. Ummi zamzam.

R: Ya ampuun, belom biasa pake menspad..hiks…
Ls: Wah..
Jd mas Ubit dilubatkan juga yaa…
Mm..blm pernah sih bahas hal2 kewanitaan dgn sulung saya yang cowok.
🙏🙏
[3/25, 8:03 PM] Anna Farida: Amin amin P Muzayin, selamat rumpi, Ummi Zamzam
menspad bisa dibiasain. Saya juga baru bbrp tahun ini.
[3/25, 8:03 PM] Anna Farida: Ubit nguping – jadi ikut komen hahah
Dap: Anak2 saya cwo semua jd blm cerita masalah haid, tp giliran uminya ga sholat mereka protes bingung deh ngejelasinnya. Gimana ya?
[3/25, 8:13 PM] Anna Farida: 3 anakkku cowok, biasa bahas haid kok.
[3/25, 8:14 PM] Anna Farida: Kan nanti jadi suami. Jadi perlu tau juga. Bahas saja seperti bahas mau makan apa besok pagi 😬
Iq: di simpen dlu lom punya anak cowok ..nyari tips aa bisa dpt anak cowok 😁
[3/25, 8:35 PM] Suci Shofia: hahaha, boing boing, pesawat kaliii 😝

kedua anak saya laki semua 8 thn dan 5 thn sudah tahu soal mens, krn pas waktunya salat jamaah, bundanya ga ikutan.

sakit ga kalau keluar darah (mens), ya saya jelasin aja mirip kisah cantolan bayi (baju kali cantolan, hehehe)
Md: Habis bingung boing boing skrg cantolan bayi😂
[3/25, 9:05 PM] Suci Shofia: 😝😝
[3/25, 9:16 PM] Kh: 😍😍
[3/26, 6:39 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Kemarin ini anak tertua saya umur 8 nanya apa sih drugs.
Saya tanya liat dimana kata2 drugs.
Itu loh mi, di papan di pinggir jalan.say no to drugs.
Oh itu. Jadi giniiii….

Drugs itu obat. Ada obat yg kalo kita ga sakit trus pake sembarangan, malah bikin sakit. Itulah drugs.
Kog bisaga sakit minum obat? Emangnya beli dimana?

Nah kadang sengaja dibeli sama orang yang mau menghindar dari masalah. Misalnya, dia lagi sedih karena ga bisa bisa main piano (anak saya belajar piano tapi suka lebay ga latihan) tapi dia malah minum obat itu supaya dia merasa dia bisa main piano. Jadi begitu dia makan obat itu dia akan merasa senang, bahagia, bisa tidur, berasa hebat piano nya. Itu efek obatnya. Jadi begitu efek obatnya habis, coba tebak, dia bisa main piano ga?
Enggaaaa….. Koor duo bocah 8-6taon

Nah jadinya dia ulangi terus makan lagi obatnya supaya berasa bisa. Makin sering makan obatnya, makin jelek akibatnya.

Itu kalo minum drugs dengan sadar. Nyari sendiri obatnya.

Adalagi yang secara ga sadar dikasih obat sama orang jahat.
[3/26, 6:52 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Lanjut ga nih?
Lanjut dong mi…..

Inget ga pas lebaran suster pulang kampung? Kan pake bus tuh, sering ketemu banyak orang. Nah, kadang suster atau orang yg pulkam sering ngobrol sama org lain di tengah jalan dan kadang saling membagi makanan dan minuman. Ini harus hati2. Karena ada yang memasukkan obat di makanan atau minuman tersebut, trus kita jadi ketiduran. Begitu bangun, barang yang kita bawa sudah dibawa kabur sama orang itu, atau kalau kamu anak kecil bisa saja kamu diangkut sekalian,diculik, atau uang di dompet diambil. Kan kamu tidur.

Makanya jangan suka terima makanan minuman dari orang asing. Kalo dikasih, tanya mami dulu boleh ga diambil. Mami bilang ok baru boleh.
Soalnya sekarang banyak anak sekolah yang dikasih permen sama orang yang sering duduk2 di sekitar sekolah. Kamu sering liat orang itu, jadi pikir ini orang biasa disini kog, bukan orang asing.
Permennya gratis, isinya ada obatnya. Pertama kali kamu makan, ga berasa apa2, paling kamu jadi senang, bahagia.
Besok kamu minta lagi obat yg enak itu. Dikasih lagi. Beberapa kali dikasih gratis, kamu jadi ketagihan. Kepengen terus. Itu salah satu efek si drugs.
Nah kali ini, orang itu ga mau ngasih kamu gratis. Dia minta kamu bayar. Kalo kamu ga ada uang, dia suruh ambil duit mami atau barang di rumah dikasih ke dia.
Jadi karena sudah ketagihan dan kepengen, dan kalo ga minum obat itu kamu malah sekarang berasa sakit badannya,maka kamu mulai bohong tuh sama mami. Mulai ambil duit, barang. Itu mencuri.
Nah makin lama barang atau uang yg diminta orang itu makin banyak dan besar. Akhirnya kamu jadi terbiasa nyuri.

Jadi drugs itu bagus ga?
Enggaaaa…… Si duo bocah masih koor.
Kenapa?
Ntar bikin kita mencuri dan ga mau latihan piano lagi.

Okeh deh. Bibir mami sudah jontor. Mami haus. Yuk kita minun es campur.
😁😁😁
[3/26, 6:58 AM] Anna Farida: Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Masalah drug dibahas, latihan piano jalan – soal drug belum pernah kubahas sedetail itu. Catat!
Thanks, Greysiaaaa
[3/26, 7:16 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Wkwkkwk… Kreasi dalam masa kefefet bundaaa
Em: Emak emang kudu kreatif ya.. hehehe
Rw: Dicatat semua, dua lelaki yang baru akil baligh sudah mengerti tentang haidh, bahkan Mas kedua suka ngomong, yah calon adik kita sudah pergi, kl saya haidh.
Menyiapkan dua gadis kecil yang masih menyamakan menspad dengan popok dede atau popok Simbah☺

Th: Makasih mba Anna cerita tentang menstruasinya. 👍🏻😊
Anak perempuanku (8,5 thn) sudah mulai tanya-tanya tentang ini.
Mba Greysia, makasih juga ceritanya tentang drugs. 👍🏻😊

Beberapa bulan lalu pernah ada pameran/bazar dari kepolisian. Sosialisai turn back crime, kalau ga salah. Saya ajak anak-anak lihat dan tanya-tanya seputar drugs (ada stand khusus drugs), yang jelasin polisi yang jaga stand.
Saya juga baru tahu jenis-jenis drugs mulai dari ganja, heroin, sabu, dll., karena ada display-nya. Beneran barangnya, bukan cuma gambar. 😊
Is: masih ngebahas haid kan?
putri2 kecilku suka penasaran soal haid, saya masih pakai pembalut😬
mereka bilang bunda pake pampers.
setiap saya haid dibuntuti… ternyata mereka penasaran gimana cara pakaianya…
ya udah akhirnya aku perlihatkan cara memasang pembalut di celana dalam.
tentu saja bukan di kamar mandi
😊
setelah itu mereka stop membuntuti saya …
😊
Df: Kalau berhasil..

Share tipsnya ya mbak 😉
[3/26, 1:27 PM] Greysia Susilo Junus kulwap: Pengen juga sih dikasih liat, lewat yutub misalnya, tapi ga tau ada yg ramah anak apa engga. Tar mereka meniru malah bahaya
[3/26, 8:19 PM] Anna Farida: Iya hati hati dengan kampanye antidrugs – banyak yang nggak ramah anak – adegan memakai narkoba tidak boleh ditampilkan

Diskusi Menyiapkan Anak Menjadi Pasangan yang Baik

18 Maret 2017

BA: Mksh bu @Anna Farida, TOP BGT

Klo anak cewek said : kenapa to (sih:red) ibu selalu nurut dan ngikutin ( patuh.red) ayah terus?
“Karena seorang istri itu harus patuh pd suami kak, karena ridho Allah tergantung pada Ridho Suami, dan juga anak harus patuh pada orang tua, tapi dalam hal kebaikan dan ketaatan pada Allah.

#Sudah pas apa belum ya cikgu dengan pilihan bahasanya? sudahkah pesan tersampaikan utk mempersipkan kakak menjadi “calon pendamping”
Anna Farida: Kalau saya sih bukan karena harus patuh semata, tapi karena kesadaran bahwa di antara saya atau suami harus ada yang terus berbuat baik 🌿 Suatu saat anak saya tanya, dalam suatu peristiwa, “Kenapa Ibu ngalah?”
Saya jawab begini,
“Coz I’m in control. It’s not always about winning”
Sr: 😲👏🏻👏🏻
Cikgu keren. Saya jadi ingat sering berencana kelak kalau punya anak laki-laki akan saya ajari begini begitu agar istrinya senang. Eh tapi saya sering lupa bagaimana mencontohkan sikap istri ke suami. Paling banter cuma ayah sebagai pemegang keputusan tertinggi.

BA: Terima kasih cikgu, inspirarif bgttt😊

Menyiapkan Anak Menjadi Pasangan yang Baik

Salam sehati, Bapak Ibu.

Maafkan atas keterlambatan kulwap ke-79 kita. Tukang servis mesin cuci datang pagi-pagi menyela bikin saya terpesona 😃

Nah, kita bahas tema yang sudah lama diajukan tapi selalu terlewat, mendampingi anak menjadi (calon) pasangan yang baik. Apa yang mesti kita lakukan sebagai pasutri agar anak-anak sedini mungkin memiliki konsep yang baik tentang pernikahan dan bersedia menjaganya.

Anak-anak ini belajar dari apa pun yang ada di sekelilingnya. Ada yang baik ada yang buruk, ada yag langsung diserap ada pula yang tidak—artinya, ada anak yang bisa menyaring ada yang tidak, ada yang bisa memberi pemaknaan setelah dia dewasa ada yang tidak. Misalnya, anak menyaksikan orang tuanya sering bertengkar dengan suara tinggi—ada anak yang menyerap dan meyakininya sebagai cara berumah tangga hingga dewasa, sehingga dia melakukan kekerasan yang sama. Ada pula yang menemukan hal lain dalam tumbuh kembangnya dan ketika dewasa dia memaknai pertengkaran orang tuanya sebagai sesuatu yang salah dan memutuskan untuk tidak menirunya. Kita sih maunya anak-anak kita menyerap yang baik dari pernikahan orang tuanya dan mengoreksi yang salah, kan? Jadi buat jaga-jaga, kita bisa melakukan beberapa tips sederhana seperti ini:

+ Tunjukkan ungkapan cinta secara visual – perlihatkan bahwa Anda saling sayang. Ada yang bilang cinta itu kan terpancar dari hati—memang, sih. Tapi ingat, cara belajar anak-anak kan konkret operasional—apa yang dia liat, itu yang dia pahami. Dia lihat ayahnya memeluk ibunya = ayah sayang — walau dalam hati ayah sebenarnya sedang bete sama ibu karena sebab tertentu.

+ Kelola konflik. Rumah tangga mana yang nirkonflik? Ada, pasti. Tapi kita tidak sedang bahas kekecualian. Kita bahas yang umum saja, bahwa sebagai pasutri kita pasti pernah bertengkar. Ada yang bilang itu bumbu pernikahan—bumbu yang tidak enak dan salah resep!

Ketika bertengkar, minimalkan dampak pada anak. Mereka itu peka, lho. Jangankan perang terbuka dan bertengkar di depan anak, ayah ibu mengurangi intensitas percakapan sedikiiit saja, mereka akan merasa tidak nyaman—anak tidak selalu paham bahwa ayah ibunya sedang ribut tapi ada suasana tidak nyaman melingkupi mereka. Limpahi mereka dengan kebaikan yang lebih sehingga rasa tak nyaman itu bisa terobati.

+ Temani mereka bersiap. Sejak dini, saya biasa bicara gini ke anak-anak, “Nanti pas Kakak punya istri, bantu dia angkat jemuran juga, ya, seperti Kakak bantu ibu,” atau “Ayo, yang rajin mandi. Ibu malu, nih, sama istrimu nanti kalau kebiasaan menunda mandi ini terbawa sampai gede,” atau “Nanti baik-baik, ya, sama istrimu” daaan sebagainya. Jadi konsep bahwa someday mereka akan jadi pasangan orang lain itu bisa disampaikan sambil lalu sejak anak masi kecil.

+ Tetaplah jadi pasangan yang baik. Ini yang paling penting. Karena kita ingin mengajak anak memeiliki konsep yang benar tentang pernikahan, sudah tentu kita pun akan memperbaiki diri sebagai pasangan. Yangn terbaik tentu kompak saling dukung. Jika tidak—jika kita dikaruniai pasangan yang tidak selalu sependapat dengan kita, ada sikap penting yang perlu diambil: kamu baik aku baik, kamu kurang baik aku akan berusaha tetap baik. Anak akan melihat bahwa salah satu orang tuanya selalu menginspirasikan kebaikan dalam pernikahan—walau kadang orang tuanya yang satu lagi terlihat tak peduli atau bahkan mementahkannya. Anak akan tetap melihat bahwa ada salah satu dari orang tuanya berupaya.

Prinsip di atas itu berlaku umum. Tidak usah ge er bahwa kita yang selalu lebih baik dari pasangan. Siapa tahu pasangan kita yang lebih sering menguatkan diri dengan berkata “kamu baik aku baik kamu kurang baik aku tetap baik” tentang kita #tutupmuka #manabaskom

Btw, ketika anak-anak saya nyisir berlama-lama di cermin, saya sering nyeletuk, “Plis, jangan terlalu ganteng begini. Nanti ibu cepat mantu dan punya cucu” 😃

Nah, siapa yang sudah mau mantu?

 

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Tanya Jawab Ayah Asyik

13 Maret 2017

 

Waktunya menjawab pertanyaan kelas Kulwap Keluarga Sehati, yang disponsori,oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart

Tanya 1:

Bagaimana memaksimalkan peran ayah yang bekerja di luar kota (ketemu anak tidak setiap hari)?

Jawaban Bu Elia Daryati:

Memaksimalkan peran ayah di luar kota, berkaitan dengan sejauhmana seorang ayah ” hadir” dalam jiwa seorang anak. Dengan demikian, walau wujudnya tidak dekat dengan anak, tapi mereka “ada” untuk anak.

Namun demikian kehadiran seorang ayah dalam diri anak, tidak sekedar hadir tiba-tiba. Semua melalui proses. Apalagi jika anak masih dalam usia balita. Bereka membutuhkan hadir secara wujud dan hadir secara jiwa. Di sentuh, dipeluk dan disayang secara fisik dan diterima melalui getaran rasa, ikatan bathin antara ayah dan anak.

Mensiasatinya, jika berjarak tempat dan waktu, maka tidak boleh berjarak hati. Sekarang media yang semakin canggih dapat meminimalisir hal-hal yang terkurangkan oleh jarak. Akan tetapi, secanggih-canggihnya alat tidak dapat menggantikan kehadiran ayah secara fisik dan jiwa.

Ketika ayah ada sebaiknya, wajib hukumnya untuk memenuhi kebutuhan anak atas fisik dan jiwanya. Jangan sampai ayah ada tapi ayah tiada. Ada juga yang ayah tiada tapi ada (ini.kondisi daripada-daripada karena situasinya memang mengharuskan berpisah). Adapun yang paling keren adalah…:”ayah ada dan bermakna”.

Jawaban Anna Farida

Memang ada yang tak tergantikan saat ayah tidak selalu di sisi anak-anak, terutama yang masih kecil, yaitu sentuhan fisik.

Riset banyak mengiyakan bahwa skin to skin contact itu besar sekali efek positifnya pada tumbuh kembang anak.

Walau begitu, jika kondisi memang memestikan ayah jauh sekian lama, optimalkan komunikasi.
Bukan hanya saling telepon atau video call, tapi lebih dari itu, sertakan selalu kehadiran ayah dalam kehidupan anak.

Sebut namanya, ajak anak mendoakannya. Begitu pun dengan Ayah. Hadirkan anak dalam kehidupan. Berceritalah tentang dia pada teman-teman Anda. Jangan cerita pertandingan bola melulu, Ayah!
Kisahkan pada teman putra Ayah sedang apa, putri Ayah umur berapa dan makanan apa yang dia sukai.

Sebut namanya, berceritalah tentang dia, Ayah.
Dengan ini dia akan dekat walau tak selalu di sisimu #halah
[3/13, 20:49] Suci Shofia: Tanya 2:

Bisakah PDKT dengan sosok ayah pengganti (kakek, om, keluarga besar berjenis kelamin laki-laki), agar mau repot mengasuh anak kami karena sudah berpisah atau sosok ayah biologis yg kurang bertanggung jawab?
Jawaban Bu Elia Daryati:

Pada prinsipnya ada ayah biologis dan ayah psikologis. Ayah biologis.adalah ayah yang.melahirkan dan ayah psikologis adalah yang ikut membesarkan anak.dengan segala cinta yang mereka.miliki.

Apapun itu. Jika memang pada akhirnya ayah psikologis.yang.membesarkan, maka yang tetap harus dibangun adalah pola pengasuhannya. Pola pengasuhan yang ajeg dan terkonsep dengan.baik, sehingga mampu membangun karakter yang.baik.
Mengapa demikian? Anak yang hadir dalam keluarga berkonflik memiliki faktor resiko jiwa yang kurang stabil. Bagaimana pun ada “luka” yang terbawa akibat perpisahan orang tuanya. Peran ayah pengganti.menjadi penting.sebagai penyembuh luka, sekaligus sebagai pembangun karakter. Ayah pengganti apakah, paman, kakek, tidak terlalu masalah yang terpenting memiliki kesepakatan yang sama untuk membuat seorang anak untuk kuat, tumbuh dan sehat secara psikologis.

Jawaban Anna Farida

Bisa. Anak itu pembelajar sejati. Saar dia tidak menemukan ayah di rumah, dia akan cari figur ayah di tempat lain. Karenanya, melibatkan kerabat tepercaya untuk ikut menemani anak.

Sampaikan pada anak bahwa ayahnya tidak bisa menemaninya saat ini, jadi kalau mau cerita bisa ke Mama atau kakek, misalnya

Pastikan Ibu menyampaikan konsep pendidikan yang ibu yakini pada kerabat yang akan dimintai bantuan. Syukur jika beliau bersedia seiring sejalan, jika tidak, Anda sudah menyampaikannya.

Semangat, Bu.
Anak itu mudah menyesuaikan diri. Yakinkan bahwa dia punya Ibu dan Ibu akan hadir untuknya.

Ayah yang Asyik

Kelas Kulwap Keluarga Sehati kali ini tentang pengasuhan oleh ayah yang asyik.

Yuk, simak materi dari narasumber Anna Farida: Salam sehati, bapak Ibu. Ini kulwap ke-78 dan kali ini sesi curcol. Kita akan bahas tema “Ayah Asyik”. Paling pas sih ayah yang nulis, tapi ini kan curcol. Jadi, ini harapan saya atas para ayah di muka bumi. Get ready, it won’t be that hard but never take it easy 😃

Apa sih ciri-ciri ayah asyik itu?

+ Mengutamakan kepentingan anak. Ada kebiasaan yang kudu hilang perlahan ketika Ayah punya anak, misalnya merokok atau bawa pulang teman-teman yang merokok. Misalnya juga bicara kasar atau bawa pulang teman-tema yang hobi bicara kasar. Ehehe, jadi ayah adalah momentum untuk berubah. Menjadi lebih baik tentu sajahhh.

+ Melindungi mereka. Tugas utama ayah adalah pelindung. Pastikan rumah aman buat anak-anak, apalagi yang masih kecil. Saat berkendara, ayah wajib peka pada safety riding gear seperti helm, seat bealt, central lock, dsb. Ayah juga wajib mengecek anak apakah sudah naik dan turun semua dari kendaraan dengan aman, apalagi kendaraan umum. Jadi, Ayah, ketika jalan-jalan di tempat umum, Anda yang kudu paling rempong! #rasain 😃

+ Menyisihkan waktu khusus buat anak. Kami tahu Ayah sibuk berjuang cari nafkah buat kami, tapi anak-anak juga perlu waktu yang berkualitas dengan ayah. Kata Bu Elia, ayah adalah pembangun utama karakter anak, ibu yang menjaganya.  Jadi, intensitas kedekatan ayah dan anak sangat menentukan model karakter yang diharapkan. Ayah, hal terpenting yang kami perlukan dari ayah adalah WAKTU. Jadi berikan kami waktu khususmu. Setelah itu, baru kami perlu beli sepatu, buku, hape terbaru buat ibu #eh; kami juga perlu pinjam laptopmu, diantar pilih baju, hingga piknik ke Timbuktu #ayahpingsan

Just kidding—berikan waktu khususmu, Ayah, please. Bukan yang sisa, bukan yang sesempatnya.

+ Memberi anak pelukan. Ayah, jangan takut menunjukkan cintamu. Pelukan bagi anak adalah tabungan rasa tenang, pelepas tekanan. Pelukan dan cinta dari ayah akan membantu anak lebih kuat lahir batin.

+ Bermain dengan anak. Pilihannya banyak, tergantung kondisi dan kekhasan keluarga. Anak-anak saya sedang senang bersepeda dengan ayahnya. Saat libur, putri bungsu saya selalu ribut ngajak ayahnya jalan-jalan—bukan buat beli-beli, katanya, jalan-jalan saja. Walau biasanya akhirnya sih beli-beli juga ahahah #modus. Yakult satu pak juga cukup, kok.

+ Membacakan anak buku.  Ini paling mudah dan murah. Ayah bisa baca buku bareng anak sambil selonjor di kasur. Nanti kita lihat, siapa yang paling duluan tidur 😃

+ Melibatkan diri sejak anak masih bayi. Untuk ayah yang punya bayi, luangkan waktu untuk mengganti popoknya, menyuapinya, memandikannya, menidurkannya, dan hal-hal yang bersifat “mothering” lainnya.  Ini akan menjadi pijakan hubungan yang kuat dengan anak di kemudian hari. Ingat, kulit anak itu merekam memori. Jika Anda tidak sering menyentuh kulitnya ketika bayi, jangan harap bisa menyentuh hatinya saat dia besar nanti #ancaman! 😃

+ Mengajarkan berbagai keterampilan hidup. Umumnya ibu tidak mengajarkan anak memompa ban sepeda, memperbaiki kran, atau memasang tali jemuran. Biasanya itu tugas ayah, termasuk tugas mengajarkannya pada anak-anak. Tugas seperti ini bisa menjadi wahana permainan yang menyenangkan dan produktif. Banyak yang bisa Anda ajarkan: berpikir logis, mengatur uang, merencanakan masa depan, memilih istri idaman #halah

+ Menjadi pembela ibu anak-anak. Jangan menyanggah ibu mereka di hadapan mereka, please jangan bertengkar dengan ibu mereka di hadapan mereka.  Cara Ayah memperlakukan Ibu akan membangun pandangan mereka pada diri mereka sendiri, pada orang lain, termasuk pada pernikahan. Bersikap baiklah kepada ibu mereka, walau mereka sedang tidak ada. Bantu pekerjaannya, muliakan dia sepanjang masa. Ajak dia jalan-jalan, makan malam, belanja … elaaah modus lageee.

+ Menjaga kesehatan lahir dan batin. Ini yang paling penting, Ayah. Ingat, hanya yang memiliki yang bisa memberi. Ayah akan mampu memberi cinta dalam berbagai bentuknya jika dia dalam keadaan sehat lahir batin. Please, Ayah, jaga kesehatan. Buat ayah buat keluarga. Mulai olahraga, kurangi makan makanan yang berbahaya. Kurangi belanja yang tidak penting, tabung buat masa depan anak dan traktir-traktir ibu mereka #baliklageee

Sudah, ah 😃 😃

Semoga ini mewakili curhat para ibu di seluruh dunia. Mari merumpi!

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Pornografi Pada Anak

Yuk, kita cerna materi dari narasumber kulwap Keluarga Sehati, Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Hari ini adalah kulwap yang ke-73, dan kita akan membahas tentang anak dan pornografi. Apa yang harus dilakukan ketika anak terpapar pornografi.

Saya curhat dulu saja, yaaa.

Suatu ketika saya iseng melihat history situs yang pernah terbuka di komputer rumah. Ada situs asing dan saya buka.

Glek, perempuan tak berpakaian layak terpampang di layar. Dia melambaikan tangannya (setop imajinasi Anda, hei!) 😀

Saya tenangkan debur jantung yang mendadak kencang. Siapa ini yang buka?

Tunggu … tunggu. Tenang dulu.

Saya cek history yang lain, ternyata situs yang menawarkan game-game gratis buat anak-anak. Jadi ini awalnya.

Rekonstruksi imajinatif saya menggambarkan anak-anak pakai komputer, cari game gratis, lantas ada pop up atau iklan yang memang otomatis muncul. Kemudian, tanpa sengaja terklik oleh mereka, atau memang mereka penasaran dan mengkliknya dengan sengaja.

Ini, nih, yang sering terjadi.

Sebelum konfimasi ke anak-anak, orang tua cenderung menebak hingga menuduh. Berdasarkan tuduhan itu, keputusan (maksudnya hukuman) diberikan pada anak-anak: tidak boleh pakai internet seminggu. Tak boleh pakai komputer sampai Sabtu. Tak dapat uang saku, kudu bersihin selokan! Daaan sebagainya.

Kejadian ini membuat anak tidak suka dan merasa bersalah. Komunikasi langsung sreeet, tertutup. Bukan tidak mungkin, dia akan menutup diri ketika menemukan kasus yang terkait dengan pornografi – ah, daripada nanti kena hukum lagi.

Jadi, sebaiknya bagaimana?

Kita sepakati dulu prinsip umumnya.

Saat ini mengakses pornografi sangat mudah – benar-benar di ujung jari.

mengurung anak dalam kotak steril bukan lagi pilihan mudah—bisa, sih. Anda mau coba?

Berdasarkan pengalaman orang tua yang mengalami hal serupa, hal yang relatif bijak disampaikan kepada anak-anak adalah pemahaman bahwa internet itu bukan dunia yang terpisah dari dunia mereka (maksudnya dunia nyata).

Masih ada yang menganggap dunia maya itu berbeda dari dunia nyata, jadi apa yang dilakukan di antara kedua dunia itu tidak saling berpengaruh.

Nyatanya tidak.

Anak-anak perlu tahu bahwa internet adalah sarana berkomunikasi. Apa yang dilakukan melalui internet akan berpengaruh pada hidup mereka—langsung saat itu atau setelah beberapa waktu.

Prinsip itu yang kadang dilewatkan oleh orang tua dan buru-buru menjatuhkan sanksi karena panik dengan isu pornografi.

Nah, setelah prinsip ini disampaikan—mungkin harus berulang-ulang—baru kita bahas dengan anak, apa yang mereka lihat.

Sampaikan kepadanya bahwa ada orang-orang yang berniat buruk dengan memasukkan gambar tidak pantas. Tanyakan pendapat mereka.

Sesi ini yang penting.

Apa yang mereka ketahui tentang pornografi dan mengapa hal itu tidak layak disaksikan. Muslim bisa menggunakan konsep aurat, atau secara umum konsep modesty dan kesantunan bisa disampaikan.

Setelah itu?

Sudah.

Ulangi diskusi itu beberapa waktu ke depan.

Latihan, latihan, latihan.

Saya tidak menyampaikan detail cara mencegah atau memahami pornografi. Sudah banyak kasus dari yang paling mild hingga hardcore. Mules saya.

Yang paling penting adalah menyampaikan prinsip utamanya. Kasusnya bisa berganti.

Mari kita merumpikan kasus per kasusnya.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

26 Januari 2017

Ceritanya admin kulwap Keluarga Sehati sedang menawarkan usulan pembahasan setiap minggunya.

Sr: Mengajarkan perlindungan diri pada anak sejak dini.

Kasusnya begini:
Anak saya (3,5th) beberapa kali diganggu anak lain. Contohnya waktu di masjid. Dia ikut salat berjamaah. Lalu ada anak yang usianya tidak jauh berbeda (sekitar 4th) mendekati, melihat dengan sinis, lalu menginjak kakinya beberapa kali. Persiiiissss seperti pelaku bullying di sinetron-sinetron (sok tahu padahal gak pernah nonton sinetron, hehe). Anak saya diam aja. Gak nangis, gak menghindar, gak membalas. Cuma bergeser dikit waktu kakinya diinjak.
Seusai salat saya tanya padanya, sakit atau tidak, tadi diapain sama kakak, dia cuma jawab ‘nggak’ ‘nggak’ 😣
Pernah juga waktu didorong-dorong sama anak yang lebih kecil, dia juga diam aja. Pulangnya malah cerita ke ayahnya ‘Ayah, adiknya gak nakal, tadi adik cuma mau lewat, jadi adik dorong-dorong’.
Padahal sudah saya kasih tau beberapa kali, kalau ada yang nyakiti, bilang “jangan”. Atau lari, atau pukul. Tapi dia tetap keukeuh “nggak”. Huhu. Ibuknya yang gemes.

Suci Shofia: 😅 kok pintermen “adiknya ga nakal”

Sr: Saya antara bangga sama khawatir 😅
Potensial banget jadi korban kalau gini. Walaupun gak kelihatan cengeng.

Suci Shofia: iya kesannya mengalah ya

Y: Bener nih, anakku juga suka jajanannya disekolah dimakan sama temennya tapi klo gak ditanya gak cerita. Botol minumannya dan barang-barang lainnya suka dibuat mainan sama teman-temannya, bahkan diambil.
Saya tanya, kamu marah gak? Marah tapi temennya gak nurut. Kamu bilang gak sama bu guru? Bu gurunya diem aja 😥

Sr: Iya lho. Sudah dikasih contoh on the spot dan penjelasan setelah kejadian tetep aja. Malaterang2a-teranganan menolak, bilang “nggak” waktu saya kasih tau untuk bertindak.

Y: Memang sih perawakan anakku termasuk kecil dibanding teman-temannya.
Apakah itu yg menyebabkan dia jadi gak suka main sama teman-temannya???
Gimana cara mensiasati agar mentalnya gak tertekan?
Takutnya tanpa kita sadari kejadian-kejadian itu membekas dalam dirinya 😥
Er: Tema nya pass banget tuh …
Butuh banget buat anak saya yg 3,5 thn.
Kejadiannya hampir-hampir sama. hehe …

Suci Shofia: mbarepku juga gitu dulu😉
Sr: Ternyata banyak ya yang ngalami. Anak dihindarkan dari kebiasaan main tangan tapi malah jadi korban.
Suci Shofia: pengalaman pribadi ya sering-sering diingatkan untuk selalu berani melawan (katakan tidak), kalau masih mengganggu bilang bu guru (di sekolah), bilang ayah bunda (di lingkungan rumah), sempet juga pesen balas aja, tapi muncul rasa bersalah hihihi. jadi ya berani bilang tegas, enggak boleh.

pernah suatu waktu ada kakak kelas gangguin, eh tiba-tiba dia nantangin. sudah pasang kuda-kuda juga katanya. meski ga ngapa-ngapain juga. kakak kelas jadi mikir lagi mau gangguin.
Sr: Dikasih tau terus lama2 bisa tegas juga ya 😁
Eu: Pengalaman saya, anak umur 5 tahun. Lapor ke guru kelas. Guru berinisiatif mengobservasi. Memisahkan semantara dalam beberapa kegiatan kelompok. Kemudian perlahan disatukan lagi. Dalam waktu pemisahan sementara. Kedua anak, baik pelaku maupun yg diperlakukan dibimbing diarahkan harus seperti apa berteman. Sebagai orang tua pun kami diberi laporan perkembangan.
Kh: Sammaaa… ☺
Malah kejadiannya sepengetahuan guru…
Ceritanya, pipi anak sy pulang dari sekolah luka (sedikit), pas sy tanya, dijawab jatuh dari ayunan.
Besoknya ketemu bu guru, bukanntanyaaa tanya, malah bu gurunya yang mendekati saya & bertanya. Barulah saya tahu kalau ternyata pipinya habis “kena” cakar, hihi…
Ibu gurunya juga bilang kalau anak saya cenderung diam saja, tidak menangis juga… oleh ibu guru diberitahu, kalau memang tidak mau melawan, setidaknya menghindar saat ada temannya yang ganggu… Alhamdulillah, kejadian seperti itu bukan kebiasaan, hanya bersifat insidental saja…
Dan ternyata si teman yg pernah gak sengaja “nyakar” ini jadi teman anak saya juga pas SD, bahkan jadi teman baik anak saya. Kalau diingatkan kejadian waktu TK itu, mereka sama-sama tersenyum. Sekarang mereka sudah SMA, & tetap jadi teman baik… ☺
Sr: So sweet cerita anaknya Mbak Kh 😍
Kh: Bener Mbak Sr… saya pun ikut merasakan sweetnya… 😍😊
Suci Shofia: oiya, guru berinisiatif membuat dongeng dari boneka tangan pas ada murid sekelas main beranteman, eh ada yang mukul beneran.
Eu: Nah bisa juga kejadian begini …

Mengenalkan Tuhan Pada Anak

23 Desember 2016

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-67. Kita akan merumpikan bagaimana mengenalkan Tuhan dalam keseharian anak.

Pernah nonton film “Surat Untuk Bidadari?”
Seorang anak meyakini bahwa ada malaikat yang menjaga desanya. Dia pun berkirim surat.

Dalam sebuah film lain, seorang anak berkirim surat pada Tuhan memohon kesembuhan ibunya, atau pada ayahnya yang telah meninggal karena rindu. Ada pula yang dengan setia menanti Sinterklas walau tak pernah benar-benar bertemu.

Dari mana asal keyakinan ini?
Bagaimana anak-anak percaya pada hal-hal gaib (tak terlihat)?

Anak-anak itu pembelajar sejati. Apa pun yang memaparnya akan membentuk keyakinannya. Khusus bagi anak-anak, keyakinan ini mudah diterapkan ketika ada contoh konkret yang dia saksikan sehari-hari.

Jadi, kebiasaan melibatkan Tuhan dalam keseharian akan mengena jika anak menangkap pesan bahwa hal itu penting. Caranya?

1. Sering-sering menyebut nama-Nya. Dalam situasi apa pun, saat sedih dan senang. Saat sedang luang atau buru-buru.

2. Jadikan Tuhan sahabat anak, bukan penghukum. Smiling God is more easily embraced. Tuhan yang ramah, penuh kasih, maharahman lebih mudah membuat anak mendekat daripada Tuhan yang sangar dan maha menghukum.

3. Miliki doa khusus bersama anak. Saya biasa berseru pada anak yang hendak berangkat, “Have fun! Baca Al Fatihah, Kulhu 11 kali, salawat, ayat kursi …”
Ketika anak yang sudah remaja menelepon hendak telat pulang, saya pun menyampaikan pesan yang sama.
Saat mereka berangkat, saya pun menggumamkan doa yang sama. Jadi, kami membaca doa bersama-sama walau di tempat yang berbeda. Ini yang kita kenal sebagai upaya menyamakan frekuensi.

4. Ajak anak diskusi tentang keberadaan Tuhan sejak dini. Tanyakan sesekali, mengapa Tuhan harus ada? Jika tidak ada Tuhan, apa yang terjadi dengan manusia? Apa tujuan Tuhan menciptakan manusia? Pertanyaan semacam ini mungkin tak akan mereka jawab, tapi membuka pemahaman bahwa pertanyaan ini penting harus diawali.
Jangan didebat, tak perlu disalahkan. Simak saja, jawab “Begitu, ya, menurutmu. Ok, nanti kita bahas lagi.”

Errr, kalau saya tanya, untuk apa Tuhan menciptakan manusia, Bapak Ibu mau jawab apa? Ehehe.
Masing-masing punya cara pandang yang berbeda, tentu.

Sudah, ya.
Kita rumpiiii.
Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart. Buku bisa diperoleh melalui website Mizan.
Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)