Puisi Untukmu Anakku

Kulwap Keluarga Sehati ke 126 kali ini menyajikan sebuah puisi pengingat diri sebagai seorang hamba Allah yang mendapatkan sebuah amanah berupa anak.

Berikut puisi dari narasumber kulwap, Anna Farida:

ANAKKU, INILAH SESALKU

Aku menyesal tak banyak memelukmu
Padahal pelukan menyembuhkanmu, pun menyembuhkanku

Aku menyesal melewatkan waktu tertawa bersamamu
Padahal kau tak akan selamanya di sisiku

Aku menyesal meninggikan suaraku padamu
Sedangkan tindakanku lebih kautiru daripada ucapanku

Aku menyesal menatapmu dengan tajam
Sedangkan senyum dari mataku penguat jiwamu

Aku menyesal lebih banyak melihat kebaikan anak lain
Pada saat yang sama, kuanggap biasa kebaikanmu

Aku menyesal lebih mudah memaafkan kesalahan anak lain
Pada saat yang sama, kuhukum berat kesalahanmu

Aku menyesal mendorong hingga memaksamu
Lebih demi membanggakan orang tuamu, bukan demi dirimu

Aku menyesal telah melontarkan celaan dan kalimat keras
Lebih karena aku tak mampu jadi teman bicaramu

Aku menyesal telah mendesakkan tuntutan ini itu
Dengan alasan menumbuhkan semangatmu

Aku menyesal tak banyak mendengarkan pendapatmu
Dengan alasan aku lebih berpengalaman darimu

Aku menyesal sibuk bersaing dengan orang tua lain
Bukan berjuang memenangkan cinta dan hatimu

Aku menyesal berkhayal tentang anak ideal yang kuinginkan
Bukan belajar menemani dan mengasihi anak yang kumiliki

Sungguh tak kan kutuliskan sesalku
Karena satu sesal mengungkit sesal yang lain

Anakku, maafkan aku
Berikan selalu padaku kesempatan memenangkan hatimu
Hingga akhir waktu

(Anna Farida, 2015)

Advertisements

Anak Dihantui Bayang-Bayang Sukses Saudara Kandung?

Anna Farida berkata di Kuliah Via WhatsApp Keluarga Sehati:

 

Salam sehati, Bapak Ibu.

Mohon maaf terlambat post materi. Ini kulwap ke-115, kita akan membahas tentang menemani anak percaya diri di bawah kesuksesan orang tua atau saudara.

Ada yang pernah cerita begini:
Anak saya yang kedua, sembilan tahun, mendadak ingin les musik karena kakaknya menang lomba musik dan dielu-elukan keluarga besar saat Lebaran. Padaal, dia tidak mau ikut les sebelumnya. Lantas di sekolah, kakaknya diikutsertakan lomba komik dia juga ikut-ikutan mendadak suka bikin komik. Apa pun yang kakaknya lakukan dia ingin lakukan juga, padahal sebelumnya tidak.

Saya jadi sedih, jangan-jangan ini karena saya kurang kasih perhatian ke dia sehingga dia merasa kurang istimewa dibanding kakaknya. Dia suka main game, dan memang menurut saya itu kan bukan prestasi. Mana ada orang mengelu-elukan anak yang doyan main game—kecuali para gamer, tentu. Tapi saya juga tidak ingin dia ikut-ikutan kakaknya karena ingin dapat pujian padahal dia tidak suka kegiatannya. Bagaimana?

Pertanyaan saya (saya = Anna):
Mengapa anak pertama suka (dan dapat dukungan) musik dan menggambar, sedangkan anak kedua suka (dan dapat dukungan) main game?
OK abaikan dulu, isunya bukan itu.
Isunya adalah anak yang ikut-ikutan karena melihat orang lain sukses.

Apakah ini wajar?
Sangat wajar.
Pada tahap tertentu, kakak beradik adalah teman. Pada tahap yang lain, secara natural akan ada yang memimpin dan dipimpin. Tidak selalu yang lebih tua memimpin yang lebih muda–sebagaimana saya menjadikan anak ketiga saya sebagai panutan dalam hal tertentu.

Akan ada saat ketika anak melihat saudaranya sebagai panutan, dan tugas kita sebagai orang tua adalah menemani pemimpin dan yang mengikutinya.

Bagaimana caranya?

+ Berlaku objektif. Yang baik ya disebut baik, prestasi ya disebut prestasi dan diapresiasi. Anak yang suka main game dianggap bukan prestasi padahal dia yang selalu membereskan selimutnya sendiri. Mengapa membereskan selimutnya diabaikan? Secara objektif, ini prestasi. Coba gali kebaikannya, fokus pada itu dulu.

+ Beri peluang. Siapa tahu dia memang tertarik ke musik dan menggambar—kalaupun karena ikut-ikutan, so what? Kok kaya kita nggak pernah melakukan sesuatu karena ikut-ikutan saja, ah #tutupmuka
Biarkan dia ikut-ikutan, lihat perkembangannya, beri peluang padanya. No prejudice.

+ Passion? Bisa jadi passion adalah sesuatu yang memang jadi panggilan jiwa. Tapi, saya juga punya keyakinan bawah passion bisa hadir ketika kita menekuni sesuatu. Mungkin awalnya dia tidak suka musik dan hanya ingin ikut-ikutan. Ketika dia menekuninya, dia bisa jatuh cinta dan jadilah musik passion-nya.

+ Tar dia jadi follower, dong? To follow dan being followed itu alamiah. Kita mengikuti orang lain dalam satu hal dan diikuti orang lain lagi dalam hal lain itu wajar. Selama yang diikuti itu tidak melanggar kesehatan dan agama, biarkan dulu. Beri dia waktu.

+ Sampai kapan? Jika dia memang ikut-ikutan, dia akan berhenti segera. Sayang ongkos, dong, kalau dilesin lantas dia berhenti. Iya, memang sayang. Piye jal? Mau bagaimana lagi? 😀 Sesuaikan dengan anggaran dan kondisi keluarga, beri dia batasan—misalnya tiga bulan.

+ Sabar, lihat dulu, tahan komentar. Beri dia waktu untuk menimbang tanpa didesak, apalagi ketika dia masih dalam waktu percobaan yang tiga bulan itu, misalnya. Hindari pertanyaan “Gimana, ternyata kamu suka atau tidak?”
Dukung, ingatkan dan temani dia latihan, apresiasi gambarnya, ajak kakaknya untuk mendukungnya

+ Jika kakaknya jadi terintimidasi karena merasa ada saingan, kita bahas pada kulwap yang lain.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Gimana, Sih, Prosedur Pengangkatan Anak?

10 November 2017

Jumat siang kali ini bertepatan dengan hari Pahlawan Kulwap Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Buku Marriage With Heart membahas tema Pengangkatan Anak.

Kondisi anak yang diasuh atau diangkat di Indonesia masih jauh dari peraturan yang berlaku.

Mari kita cerna informasi berikut ini:

Selamat siang, Ibu dan Bapak semua,

Perkenalkan saya Suratman, seorang suami, dan ayah dari 3 jagoan. Selama ini bergiat di isu perlindungan anak.

Saya diminta oleh admin kulwap Keluarga Sehati, Suci Shofia untuk mengisi materi hari ini.

Mohon menyiapkan waktu sejenak untuk menyimak karena cukup panjang dan serius.

Saya memilih masih banyaknya praktek pengangkatan anak secara ilegal di Indonesia.

*Pengangkatan Anak Yang Legal di Indonesia*

Praktek pengangkatan anak secara tidak semestinya banyak terjadi di tengah masyarakat. Sering kita dengar bayi yang terlantar di rumah bersalin yang kemudian diasuh dan diakui sebagai anak sendiri oleh perawatnya atau warga sekitar yang mau mengasuhnya.

Terdapat juga kasus-kasus dimana ibu-ibu yang terlantar dan hamil, setelah melahirkan kemudian menitipkan anaknya di panti. Anak tersebut kemudian dibesarkan di panti dan diberikan oleh pihak panti ke keluarga lain karena ibunya yang tidak mengambil anak tersebut kembali.

Selanjutnya anak tersebut dibuatkan akte kelahiran oleh orang yang mengasuhnya dimana di dalam kutipan akte kelahirannya dinyatakan bahwa anak itu adalah anak dari orang tua yang mengasuh tersebut .

Keseluruhan proses tersebut terjadi tanpa melibatkan dinas sosial maupun aparat pemerintahan lainnya sebagaimana digariskan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hal ini berpotensi memunculkan masalah di kemudian hari karena ketidakpastian status hukum, serta dapat memicu terjadinya beragam pelanggaran hak anak, mulai pemalsuan akte kelahiran hingga praktek jual beli anak dan bayi baik untuk tujuan eksploitasi maupun perdagangan organ serta menempatkan mereka berisiko terhadap segala bentuk kekerasan, penelantaran, dan eskploitasi.

Oleh karena itu penting bagi masyarakat luas untuk mengetahui tentang pengangkatan anak beserta syarat dan tata cara yang telah diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku agar masyarakat tidak telibat dalam pelanggaran hukum serta lebih jauh lagi, juga sebagai bekal pengetahuan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam memantau indikasi terjadinya praktek pengangkatan anak yang ilegal.

*Apa itu Pengangkatan Anak?*

Menurut Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat.

Beberapa rambu yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini antara lain:

– Pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan terbaik anak dan sejalan dengan adat istiadat yang masih berlaku dan penetapan pengadilan;

– Tidak memutuskan hubungan darah;

– Agama calon anak angkat dan calon orang tua angkat harus sama;

– Pengangkatan anak antar negara sebagai pilihan terakhir;

– Serta orangtua angkat wajib memberitahukan anak angkatnya tentang identitas orangtua kandungnya.

Rambu-rambu ini dibuat untuk memberikan kepastian hukum baik bagi orang tua angkat maupun untuk anak angkatnya, memberikan perlindungan pada hak-hak anak, serta menghindari permasalahan di kemudian hari terkait keturunan, hak waris, status hukum, dan lain sebagainya.

Pengaturan lebih lanjut tentang pengangkatan anak diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 54 tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak dan Peraturan Menteri Sosial (Permensos) No. 110 tahun 2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak

Syarat Calon Anak Angkat dibagi dalam 3 (tiga) kategori:

1. Anak belum berusia 6 (enam) tahun merupakan prioritas utama, yaitu anak yang mengalami keterlantaran, baik anak yang berada dalam situasi mendesak maupun anak yang memerlukan perlindungan khusus;

2. Anak berusia 6 (enam) tahun sampai dengan belum berusia 12 (dua belas) tahun sepanjang ada alasan mendesak berdasarkan laporan sosial, yaitu anak terlantar yang berada dalam situasi darurat;

3. Anak berusia 12 (dua belas) tahun sampai dengan belum berusia 18 (delapan belas) tahun yaitu anak terlantar yang memerlukan perlindungan khusus.

Syarat Calon Orangtua Angkat (COTA):

– Sehat jasmani dan rohani

– Berumur paling rendah 30 tahun dan paling tinggi 55 tahun

– Beragama sama dengan agama calon anak angkat

– Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindak kejahatan

– Berstatus menikah paling singkat 5 tahun

– Tidak merupakan pasangan sejenis

– Tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak

– Dalam keadaan mampu ekonomi dan sosial

– Memperoleh persetujuan anak dan ijin tertulis orang tua atau wali anak dan izin tertulis dari orang tua kandung atau wali anak;

– Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan dan perlindungan anak;

– Adanya laporan sosial dari Pekerja Sosial Instansi Sosial Propinsi setempat;

– Memperoleh rekomendasi dari Kepala Instansi Sosial Kabupaten/Kota;

– Memperoleh izin Kepala Instansi Sosial Propinsi.

*Tata Cara Pengangkatan Anak*

– COTA mengajukan permohonan izin pengasuhan anak kepada Kepala Instansi Sosial Propinsi diatas kertas bermaterai cukup dengan melampirkan semua persyaratan administratif Calon Anak Angkat dan Calon Orangtua Angkat;

– Kepala Instansi Sosial Propinsi/Kabupaten/Kota menugaskan Pekerja Sosial Propinsi/Kab/Kota untuk melakukan penilaian kelayakan Calon Orangtua Angkat;

– Permohonan pengangkatan anak diajukan kepada Kepala Instansi Sosial Propinsi melalui Instansi Sosial Kabupaten/Kota;
Kepala Instansi Sosial Kabupaten/Kota mengeluarkan rekomendasi untuk dapat diproses lebih lanjut ke propinsi;

– Kepala Instansi Sosial Propinsi mengeluarkan Surat Keputusan tentang Izin Pengangkatan Anak untuk dapat diproses lebih lanjut di pengadilan;

– Setelah terbitnya penetapan pengadilan dan selesainya proses pengangkatan anak, COTA melapor dan menyampaikan salinan tersebut ke Instansi Sosial dan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten/kota;

– Instansi sosial mencatat dan mendokumentasikan serta melaporkan pengangkatan anak tersebut ke Kementerian Sosial RI.

– Pengajuan pengangkatan anak ke pengadilan dilakukan oleh COTA atau kuasanya dengan mendaftarkan permohonan pengangkatan anak ke pengadilan.

Bila praktek pengangkatan anak dilakukan secara tidak semestinya seperti gambaran diawal serta tidak mengikuti syarat dan tata cara pengangkatan anak diatas, maka hal itu adalah praktek pengangkatan anak ilegal dan merupakan tindak pidana yang dapat diancam dengan pidana penjara sebagaimana diatur dalam:

– UU Perlindungan Anak, Pasal 79, ancaman hukumannya berupa pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100 juta rupiah.

– KUHP Pasal 277 ayat (1) : Barang siapa dengan salah satu perbuatan sengaja menggelapkan asal-usul orang, diancam karena penggelapan asal-usul, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.”

 

– KUHP Pasal 278: “Barang siapa mengakui seorang anak sebagai anaknya menurut peraturan Kitab Undang- undang Hukum Perdata, padahal diketahuinya bahwa dia bukan ayah dari anak tersebut, diancam karena melakukan pengakuan anak palsu dengan pidana penjara paling lama tiga tahun.”

– Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO), Ketentuan pidananya terdapat pada banyak pasal, misalkan Pasal 2 – 6 dan beberapa pasal lainnya, termasuk pemberatan 1/3 masa hukuman jika korbannya anak-anak.

Mari berdiskusi 😃

Jawaban Inner Child

Kali ini sesi tanya jawab di kelas Kulwap Keluarga Sehati, 3 April 2017 1:48 PM

Suci Shofia: Siang, teman-teman semua.

Jawaban kali ini agak berbeda dengan biasanya.

Menurut Bu Elia narasumber kita (psikolog): “Materi inner child itu sangat klinis sesungguhnya. Biasanya hanya biasanya dapat diselesaikan di tempat terapi dan ruang konseling.

Jika dibahas selintas mungkin bisa, namun mmg utk memutus rantai membutuhkan bbrp jenis terapi yg harus dipraktekkan.”
Berikut jawaban untuk semua pertanyaan:

Bu Elia:

Salam. Selamat siang semua. Pembahasan kita kali ini cukup seru yang terkait dengan masalah inner child.

Dari artikel yang disampaikan di grup oleh mbak Anna, cukup memberikan penjelasan inner child itu seperti apa.

Dari keempat pertanyaan sebetulnya memiliki kemiripan kasus satu sama lainnya. Ada yang tidak terselesaikan masalah/trauma di masa lalu yang masih atau kadang kala muncul di masa kini, ketika berhadapan dengan situasi serupa atau ketika kondisi emosi sedang tidak terlalu tenang.

Sepertinya menjadi sulit untuk di kendalikan.

Sesuatu yang tidak terselesaikan di masa lalu biasanya terbawa di masa kini dan ikut mewarnai bagaimana dia berkeluarga, bekerja, berinteraksi dan ketika menjadi orang tua.

Seperti kasus di atas, sesungguhnya cukup sadar akan tetapi kenapa kadang tidak dapat dikendalikan?

Ingin berdamai, ingin menghilangkan trauma dan ingin memutus rantai, tapi tidak tahu caranya.

Bahkan salah satu kasus di atas si istri ikut terduplikasi dari sikap suaminya yang keras/kasar yang diduga memiliki inner child.

Beberapa cara yang dilakukan sebenarnya bisa menggunakan hypnotherapy atau forgiveness therapy dan membutuhkan beberapa sessi untuk menyelesaikan masalah inner child tersebut.

Ada juga teknik sederhana yang dapat dilakukan dengan menggunakan personal life line.

Misal : seseorang membuat garis di atas kertas kosong. Dibagi ke dalam 4 bagian. kiri kanan dan atas bawah.

Tuliskan sekitar 20 peristiwa yang bermakna yang cukup mempengaruhi kita di masa lalu dan masa kini berdasarkan lintasan umur dan waktu. Bagian atas hal-hal yang membahagiakan dan bagian bawah adalah hal-hal yang kurang atau tidak membahagiakan.

Semakin bawah semakin bermakna trauma yang tidak membahagiakan dan semakin atas merupakan kebahagiaan.

Selanjutnya kita rasakan setiap peristiwa, jika ternyata masih tersisa sampah-sampah emosi yang masih mengganjal berarti kita belum berdamai dengan peristiwa-peristiwa tersebut dan terbawa ke masa kini dan berdampak pada perilaku yang kurang kita sadari.

Begitulah rasakan berbagai peristiwa tersebut dan berikan angka kedalaman terhadap hal yang kita rasakan.

Kita harus menjelaskan peristiwanya apa? Siapa saja yang terlibat disana, apa saja yang sesungguhnya diharapkan terjadi dalam peristiwa tersebut.

Bentuk komunikasi seperti apa? bentuk sentuhan seperti apa? Dan penyelesaiannya seperti apa? Sehingga peristiwa-peristiwa tersebut memang clear terselesaikan.

Setiap orang dapat melakukannya dengan satu persatu diselesaikan secara individual. Jika belum mampu menghapus semua peristiwa, paling tidak mengurani beban emosi mental secara bertahap satu persatu yang dibawa dari masa lalu.

Demikian semoga bermanfaat.

Maaf saya kirim gambar panduan dari Bu Elia untuk pembagian kolom yang sudah dijelaskan oleh beliau di atas. Ada ralat, pembagiannya atas bawah.

Bu Elia Daryati: Abjad itu nama-nama peristiwa, sekaligus hal tersebut menunjuk di usia berapa peristiwa tersebut terjadi.

Abjad-abjad bercerita ttg masa lalu, awal-awal kehidupan dan terus maju ke masa kini.

Abjad begerak dari A…sd…seterusnya. bergerak dari masa lalu ke masa kini.
Anna Farida: Terima kasih, Bu Elia.

Teman-teman, saya tidak ikut-ikutan jawab, ya. Nanti salah resep 🙈

Saya juga mau ikutan bikin tabelnya, sambil takut-takut gitu mengakui beberapa hal yang sudah berlalu 🙊
[4/3, 4:34 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: meresapi materi
[4/3, 4:38 PM] Dieni Elha Kulwap: PR banget ini. Semoga bisa mengatasi inner child ya 🙏🏻
[4/3, 4:42 PM] Suci Shofia: amiinn, semoga semua bisa berdamai dengan masa lalu yang kurang menyenangkan😇
[4/3, 7:26 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: blm paham, yg atas masa lalu bawah masa depan atau gmn? 😆
[4/3, 7:28 PM] Suci Shofia: atas untuk inner child yang menyenangkan, bawah untuk inner child yg tak menyenangkan😇
[4/3, 7:36 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: oohh ic , saya kalo lagi marah yg terbayang wajah emak lagi marahin saya.. huaah .. PR banget nahan si Inner Child ga keluar

H: kalo sy lagi ga waras dan dede bkin kesel padahal usianya 3 tahun aja belum, dia nangis kejer saya kayak dengerin musik.. harus terapi ini yah
R: Terimakasih bu elia buat jawabannya. Smoga saya bsa segera mendamaikan inner child saya..dngan proses ga lama lama

Diskusi Pemilihan Jurusan

5 April 2017

5:43 AM

Salah satu peserta Kulwap Keluarga Sehati menanyakan perihal pilihan jurusan di bangku kuliah :

A: Salahkah memaksa anak untuk menempuh pendidikan yg lebih tinggi / dengan jurusan tertentu, sedangkan anak tidak berminat ??

Atau mungkin anak lebih ingin dengan jurusan A, tapi orang tua lebih senang dg jurusan B, karena orang tua tahu klo si B punya potensi di bidang B

Atas jawaban terimakasih, maaf sudah mengganggu waktu panjenengan semua.
U: Saya belum punya anak yang menginjak usia kuliah.. Tapi kalau tentang memaksa.. Rasanya memang salah. Apapun paksaannya 🙏🏼
Ea: Saya sangat berminat ke fakultas hukum. Sejak SMA saya berminat ke hukum.
Tapi saat kuliah saya diminta ke psikologi. Dan akhirnya saya nurut orangtua masuk ke psikologi.
Tapi hati kecil saya selalu ingin ke fakultas hukum. Teman2 saya jg semua ke banyakan dr fakultas hukum.
Skrg saya bekerja sebagai wirausaha. Saya berbisnis.
Jika saya dibolehkan mengulang, saya tetap ingin ke fak hukum.

Atau saya diberikan kesempatan S2, saya masih ingin ke fak hukum rasanya 😊
V: kuliah lagi aja mbak..sy gitu..karena kuliah ikatan dinas ya sesuai saran ortu..stlh skrg sy ambil.lagi peminatan awal sy..toh gak ganggu siapa2 juga😊
Ea: Iya mbak..
Tergantung keadaan nanti..
Klo dalam waktu dekat belum ada rencana kuliah. Baby2 saya masih jadi prioritas saat ini 😊
D: Saya pun mengalami hal yang sama dengan mbak Ea nih.

Saya mengambil kuliah keguruan seperti yang diharapkan Ibu saya dan saya berusaha menjalani profesi saya sekarang dengan senang hati dan perlu saya akui.. Dr tempat saya bekerja ini dan juga para kolega, saya mendapat banyak ilmu tentang parenting, yang bisa jadi tidak saya temukan di bidang yang saya idamkan.

Meskipun betul.. Jauh di dasar lubuk hati saya masih ada perasaan “menyesal” kenapa tidak coba keukeuh dengan cita2 pribadi. Melihat teman yg sukses di bidang yg saya inginkan dulu. Kadang ada perasaan.. “andai saja.. Pasti skrg bisa begini begitu.. Bisa kesana kemari”. Toh saya punya skill juga. #hahahahahaPEDE

Tapi keputusan itu sudah saya ambil dan inilah saya sekarang.
Jadi berusaha mencintai apa yang saya miliki sekarang.

Tapi entah ini ada kaitannya dengan Innerchild topik kmrn apa tidak.. Apakah bisa disebut saya belum “berdamai” dengan masa lalu. Tapi yang jelas sepertinya saya akan memberikan sedikit banyak kebebasan kepada anak-anak untuk menjalani passion mereka Tentu saja dengan sedikit banyak arahan dan nasihat #maklumEmak2 😁
M: Kalau menurut saya #sotoy
Inner child ini terkait dengan tahapan perkembangan psikologi yang belum tuntas, sehingga ketika dewasa akan mencari jalan untuk menuntaskannya.
Misalkan orang yang ketika kecilnya belum tuntas pada tahapan air, ia akan “senang” bermain air ketika dewasanya.

Diskusi Bra, Cantolan Bayi, Menstruasi, dan Narkoba

Yuk, ikuti diskusi seru narasumber dan peserta kulwap di hari Jumat, 24 Maret 2017.

 

[3/24, 12:08 PM] Suci Shofia: Yes! Jangan ikut gila😆
Yn: Kadang kelepasan ikut gila…

Tapi nggak sampe bikin banyak ufo dadakan dirumah.
Ls: Nah itu diaa bu Anna….
Menahan diri untuk tidak ikut gila sembari melayani dengan baik (dengan harapan dia akan membaik ) kok ya …duh…kadang telaten kadang enggak yaaa…(akhirnya ikutan bete..)
Ir: siappp jgn ikut gila mendingan jdi 🤡 hihi
lahh beneran sy kadang merasa kalo suami lgi krg enak bodi sy mulailah berperan ganda hahah termasuk mjd 🤡 yg bukan profesi untung gk pake acara ngecet muka tppi ckp buat lucu lucan ..
sampe suami berkata ..ummi kenapa ..demam k 😂

dan selesailah gk enak bodinya
Ma: haha…ya ..butuh cooling down ituh kanda prabu… 😄
A: Gila tdk, tp melarikan diri darinya alias kabooor😅😅
D: Jangan gila .. jangan marah sayang ..
Nanti kau menyesal 😊😋
Katakan abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
Versi BCL
[3/24, 1:20 PM] Suci Shofia: kaburnya jangan kelamaan yaaa😬
[3/24, 1:21 PM] Suci Shofia: Kalau ada pertanyaan seputar pembahasan kali ini, silakan japri ke saya.

Sebelum jam 24.00 malam ini.
[3/25, 6:10 PM] Anna Farida: Saya sedang lipat baju. Upeng (10 th) bantuin. Dia melipat breast holder dan tanya bagaimana pakainya dan kenapa pakai.
Kami jadi bicara ttg menyusui, tentang haid.
Ingatkan saya untuk cerita nanti, yaaa. Sudah magrib.
Hp: siap, mengingatkannya skrg ahaha
[3/25, 6:11 PM] Suci Shofia: Siap!
Is: asyik…
ini bagian yang perlu banget cikgu

bagaimana menyiapkan diri menghadapi putri kita yang mendapatkan haid pertamanya
[3/25, 7:34 PM] Anna Farida: Jadi mari cerita.
# emang kenapa harus pakai?
@ nanti payudara kan tumbuh membesar. Kan nanti buat nyusuin bayi. Lagian kalau payudara membesar, nggak enak kalau dibiarkan boing boing
# Hahahahahaha Ibu mah
Ubit teriak dari atas.
% Ibuuu ada ubit nih. Ubit kan laki-laki!
@ Lah laki-laki juga kudu tau. Nanti juga punya istri.
% Iya, tapi istilahnya jangan (vulgar) gitu. Malu.
@ oke maaaaf.
Nah, Upeng, payudara tumbuh buat nyiapin ASI. Ini biasanya bareng dengan rahim juga siap.

Allah bikin tubuh kita menyiapkan tempat buat bayi setiap bulan. Dinding rahim menebal nanti buat cantolan bayi. Kalau bayinya nggak ada, dindingnya nggak kepake, keluar jadi haid. Nanti bulan depan gitu lagi.

# berdarah gitu?
@ iya. Biasanya ada sakit perut dulu, atau sakit pinggang. Makanya Ubit juga kudu tau, nanti istri haid kudu tahu juga.
% Iyaaaa – sambil males gitu haha

@ tar kalau upeng haid segera bilang ibu. Ibu punya menspad baru. Kayaknya ibu perlu pesan lagi buat jaga-jaga.
Jangan pakai pembalut sekali pakai – kalau darurat sih oke tapi jangan jadi kebiasaan. Tar banyak sampah.

# jadi (breast holder) ini disimpan di mana?
@ rak nomor 3
[3/25, 7:34 PM] Anna Farida: Sudah
[3/25, 7:35 PM] Anna Farida: Rumpi cewek selesai, kami segera bahas hal lain
Nggak perlu kepo dia paham atau enggak.
Sampaikan saja setiap ada kesempatan.
[3/25, 7:35 PM] Anna Farida: Mari makaaaan #eh
A: 👍👍👍
Map: Semoga kami dikaruniai anak perempuan, agar ceritanya lebih lengkap.
Um: Assalaamu’alaikum …subhanalloh banyak ilmu yg amat bermanpaat. Jazakalloh…ikut gabung ya bun. Ummi zamzam.

R: Ya ampuun, belom biasa pake menspad..hiks…
Ls: Wah..
Jd mas Ubit dilubatkan juga yaa…
Mm..blm pernah sih bahas hal2 kewanitaan dgn sulung saya yang cowok.
🙏🙏
[3/25, 8:03 PM] Anna Farida: Amin amin P Muzayin, selamat rumpi, Ummi Zamzam
menspad bisa dibiasain. Saya juga baru bbrp tahun ini.
[3/25, 8:03 PM] Anna Farida: Ubit nguping – jadi ikut komen hahah
Dap: Anak2 saya cwo semua jd blm cerita masalah haid, tp giliran uminya ga sholat mereka protes bingung deh ngejelasinnya. Gimana ya?
[3/25, 8:13 PM] Anna Farida: 3 anakkku cowok, biasa bahas haid kok.
[3/25, 8:14 PM] Anna Farida: Kan nanti jadi suami. Jadi perlu tau juga. Bahas saja seperti bahas mau makan apa besok pagi 😬
Iq: di simpen dlu lom punya anak cowok ..nyari tips aa bisa dpt anak cowok 😁
[3/25, 8:35 PM] Suci Shofia: hahaha, boing boing, pesawat kaliii 😝

kedua anak saya laki semua 8 thn dan 5 thn sudah tahu soal mens, krn pas waktunya salat jamaah, bundanya ga ikutan.

sakit ga kalau keluar darah (mens), ya saya jelasin aja mirip kisah cantolan bayi (baju kali cantolan, hehehe)
Md: Habis bingung boing boing skrg cantolan bayi😂
[3/25, 9:05 PM] Suci Shofia: 😝😝
[3/25, 9:16 PM] Kh: 😍😍
[3/26, 6:39 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Kemarin ini anak tertua saya umur 8 nanya apa sih drugs.
Saya tanya liat dimana kata2 drugs.
Itu loh mi, di papan di pinggir jalan.say no to drugs.
Oh itu. Jadi giniiii….

Drugs itu obat. Ada obat yg kalo kita ga sakit trus pake sembarangan, malah bikin sakit. Itulah drugs.
Kog bisaga sakit minum obat? Emangnya beli dimana?

Nah kadang sengaja dibeli sama orang yang mau menghindar dari masalah. Misalnya, dia lagi sedih karena ga bisa bisa main piano (anak saya belajar piano tapi suka lebay ga latihan) tapi dia malah minum obat itu supaya dia merasa dia bisa main piano. Jadi begitu dia makan obat itu dia akan merasa senang, bahagia, bisa tidur, berasa hebat piano nya. Itu efek obatnya. Jadi begitu efek obatnya habis, coba tebak, dia bisa main piano ga?
Enggaaaa….. Koor duo bocah 8-6taon

Nah jadinya dia ulangi terus makan lagi obatnya supaya berasa bisa. Makin sering makan obatnya, makin jelek akibatnya.

Itu kalo minum drugs dengan sadar. Nyari sendiri obatnya.

Adalagi yang secara ga sadar dikasih obat sama orang jahat.
[3/26, 6:52 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Lanjut ga nih?
Lanjut dong mi…..

Inget ga pas lebaran suster pulang kampung? Kan pake bus tuh, sering ketemu banyak orang. Nah, kadang suster atau orang yg pulkam sering ngobrol sama org lain di tengah jalan dan kadang saling membagi makanan dan minuman. Ini harus hati2. Karena ada yang memasukkan obat di makanan atau minuman tersebut, trus kita jadi ketiduran. Begitu bangun, barang yang kita bawa sudah dibawa kabur sama orang itu, atau kalau kamu anak kecil bisa saja kamu diangkut sekalian,diculik, atau uang di dompet diambil. Kan kamu tidur.

Makanya jangan suka terima makanan minuman dari orang asing. Kalo dikasih, tanya mami dulu boleh ga diambil. Mami bilang ok baru boleh.
Soalnya sekarang banyak anak sekolah yang dikasih permen sama orang yang sering duduk2 di sekitar sekolah. Kamu sering liat orang itu, jadi pikir ini orang biasa disini kog, bukan orang asing.
Permennya gratis, isinya ada obatnya. Pertama kali kamu makan, ga berasa apa2, paling kamu jadi senang, bahagia.
Besok kamu minta lagi obat yg enak itu. Dikasih lagi. Beberapa kali dikasih gratis, kamu jadi ketagihan. Kepengen terus. Itu salah satu efek si drugs.
Nah kali ini, orang itu ga mau ngasih kamu gratis. Dia minta kamu bayar. Kalo kamu ga ada uang, dia suruh ambil duit mami atau barang di rumah dikasih ke dia.
Jadi karena sudah ketagihan dan kepengen, dan kalo ga minum obat itu kamu malah sekarang berasa sakit badannya,maka kamu mulai bohong tuh sama mami. Mulai ambil duit, barang. Itu mencuri.
Nah makin lama barang atau uang yg diminta orang itu makin banyak dan besar. Akhirnya kamu jadi terbiasa nyuri.

Jadi drugs itu bagus ga?
Enggaaaa…… Si duo bocah masih koor.
Kenapa?
Ntar bikin kita mencuri dan ga mau latihan piano lagi.

Okeh deh. Bibir mami sudah jontor. Mami haus. Yuk kita minun es campur.
😁😁😁
[3/26, 6:58 AM] Anna Farida: Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Masalah drug dibahas, latihan piano jalan – soal drug belum pernah kubahas sedetail itu. Catat!
Thanks, Greysiaaaa
[3/26, 7:16 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Wkwkkwk… Kreasi dalam masa kefefet bundaaa
Em: Emak emang kudu kreatif ya.. hehehe
Rw: Dicatat semua, dua lelaki yang baru akil baligh sudah mengerti tentang haidh, bahkan Mas kedua suka ngomong, yah calon adik kita sudah pergi, kl saya haidh.
Menyiapkan dua gadis kecil yang masih menyamakan menspad dengan popok dede atau popok Simbah☺

Th: Makasih mba Anna cerita tentang menstruasinya. 👍🏻😊
Anak perempuanku (8,5 thn) sudah mulai tanya-tanya tentang ini.
Mba Greysia, makasih juga ceritanya tentang drugs. 👍🏻😊

Beberapa bulan lalu pernah ada pameran/bazar dari kepolisian. Sosialisai turn back crime, kalau ga salah. Saya ajak anak-anak lihat dan tanya-tanya seputar drugs (ada stand khusus drugs), yang jelasin polisi yang jaga stand.
Saya juga baru tahu jenis-jenis drugs mulai dari ganja, heroin, sabu, dll., karena ada display-nya. Beneran barangnya, bukan cuma gambar. 😊
Is: masih ngebahas haid kan?
putri2 kecilku suka penasaran soal haid, saya masih pakai pembalut😬
mereka bilang bunda pake pampers.
setiap saya haid dibuntuti… ternyata mereka penasaran gimana cara pakaianya…
ya udah akhirnya aku perlihatkan cara memasang pembalut di celana dalam.
tentu saja bukan di kamar mandi
😊
setelah itu mereka stop membuntuti saya …
😊
Df: Kalau berhasil..

Share tipsnya ya mbak 😉
[3/26, 1:27 PM] Greysia Susilo Junus kulwap: Pengen juga sih dikasih liat, lewat yutub misalnya, tapi ga tau ada yg ramah anak apa engga. Tar mereka meniru malah bahaya
[3/26, 8:19 PM] Anna Farida: Iya hati hati dengan kampanye antidrugs – banyak yang nggak ramah anak – adegan memakai narkoba tidak boleh ditampilkan

Diskusi Menyiapkan Anak Menjadi Pasangan yang Baik

18 Maret 2017

BA: Mksh bu @Anna Farida, TOP BGT

Klo anak cewek said : kenapa to (sih:red) ibu selalu nurut dan ngikutin ( patuh.red) ayah terus?
“Karena seorang istri itu harus patuh pd suami kak, karena ridho Allah tergantung pada Ridho Suami, dan juga anak harus patuh pada orang tua, tapi dalam hal kebaikan dan ketaatan pada Allah.

#Sudah pas apa belum ya cikgu dengan pilihan bahasanya? sudahkah pesan tersampaikan utk mempersipkan kakak menjadi “calon pendamping”
Anna Farida: Kalau saya sih bukan karena harus patuh semata, tapi karena kesadaran bahwa di antara saya atau suami harus ada yang terus berbuat baik 🌿 Suatu saat anak saya tanya, dalam suatu peristiwa, “Kenapa Ibu ngalah?”
Saya jawab begini,
“Coz I’m in control. It’s not always about winning”
Sr: 😲👏🏻👏🏻
Cikgu keren. Saya jadi ingat sering berencana kelak kalau punya anak laki-laki akan saya ajari begini begitu agar istrinya senang. Eh tapi saya sering lupa bagaimana mencontohkan sikap istri ke suami. Paling banter cuma ayah sebagai pemegang keputusan tertinggi.

BA: Terima kasih cikgu, inspirarif bgttt😊

Menyiapkan Anak Menjadi Pasangan yang Baik

Salam sehati, Bapak Ibu.

Maafkan atas keterlambatan kulwap ke-79 kita. Tukang servis mesin cuci datang pagi-pagi menyela bikin saya terpesona 😃

Nah, kita bahas tema yang sudah lama diajukan tapi selalu terlewat, mendampingi anak menjadi (calon) pasangan yang baik. Apa yang mesti kita lakukan sebagai pasutri agar anak-anak sedini mungkin memiliki konsep yang baik tentang pernikahan dan bersedia menjaganya.

Anak-anak ini belajar dari apa pun yang ada di sekelilingnya. Ada yang baik ada yang buruk, ada yag langsung diserap ada pula yang tidak—artinya, ada anak yang bisa menyaring ada yang tidak, ada yang bisa memberi pemaknaan setelah dia dewasa ada yang tidak. Misalnya, anak menyaksikan orang tuanya sering bertengkar dengan suara tinggi—ada anak yang menyerap dan meyakininya sebagai cara berumah tangga hingga dewasa, sehingga dia melakukan kekerasan yang sama. Ada pula yang menemukan hal lain dalam tumbuh kembangnya dan ketika dewasa dia memaknai pertengkaran orang tuanya sebagai sesuatu yang salah dan memutuskan untuk tidak menirunya. Kita sih maunya anak-anak kita menyerap yang baik dari pernikahan orang tuanya dan mengoreksi yang salah, kan? Jadi buat jaga-jaga, kita bisa melakukan beberapa tips sederhana seperti ini:

+ Tunjukkan ungkapan cinta secara visual – perlihatkan bahwa Anda saling sayang. Ada yang bilang cinta itu kan terpancar dari hati—memang, sih. Tapi ingat, cara belajar anak-anak kan konkret operasional—apa yang dia liat, itu yang dia pahami. Dia lihat ayahnya memeluk ibunya = ayah sayang — walau dalam hati ayah sebenarnya sedang bete sama ibu karena sebab tertentu.

+ Kelola konflik. Rumah tangga mana yang nirkonflik? Ada, pasti. Tapi kita tidak sedang bahas kekecualian. Kita bahas yang umum saja, bahwa sebagai pasutri kita pasti pernah bertengkar. Ada yang bilang itu bumbu pernikahan—bumbu yang tidak enak dan salah resep!

Ketika bertengkar, minimalkan dampak pada anak. Mereka itu peka, lho. Jangankan perang terbuka dan bertengkar di depan anak, ayah ibu mengurangi intensitas percakapan sedikiiit saja, mereka akan merasa tidak nyaman—anak tidak selalu paham bahwa ayah ibunya sedang ribut tapi ada suasana tidak nyaman melingkupi mereka. Limpahi mereka dengan kebaikan yang lebih sehingga rasa tak nyaman itu bisa terobati.

+ Temani mereka bersiap. Sejak dini, saya biasa bicara gini ke anak-anak, “Nanti pas Kakak punya istri, bantu dia angkat jemuran juga, ya, seperti Kakak bantu ibu,” atau “Ayo, yang rajin mandi. Ibu malu, nih, sama istrimu nanti kalau kebiasaan menunda mandi ini terbawa sampai gede,” atau “Nanti baik-baik, ya, sama istrimu” daaan sebagainya. Jadi konsep bahwa someday mereka akan jadi pasangan orang lain itu bisa disampaikan sambil lalu sejak anak masi kecil.

+ Tetaplah jadi pasangan yang baik. Ini yang paling penting. Karena kita ingin mengajak anak memeiliki konsep yang benar tentang pernikahan, sudah tentu kita pun akan memperbaiki diri sebagai pasangan. Yangn terbaik tentu kompak saling dukung. Jika tidak—jika kita dikaruniai pasangan yang tidak selalu sependapat dengan kita, ada sikap penting yang perlu diambil: kamu baik aku baik, kamu kurang baik aku akan berusaha tetap baik. Anak akan melihat bahwa salah satu orang tuanya selalu menginspirasikan kebaikan dalam pernikahan—walau kadang orang tuanya yang satu lagi terlihat tak peduli atau bahkan mementahkannya. Anak akan tetap melihat bahwa ada salah satu dari orang tuanya berupaya.

Prinsip di atas itu berlaku umum. Tidak usah ge er bahwa kita yang selalu lebih baik dari pasangan. Siapa tahu pasangan kita yang lebih sering menguatkan diri dengan berkata “kamu baik aku baik kamu kurang baik aku tetap baik” tentang kita #tutupmuka #manabaskom

Btw, ketika anak-anak saya nyisir berlama-lama di cermin, saya sering nyeletuk, “Plis, jangan terlalu ganteng begini. Nanti ibu cepat mantu dan punya cucu” 😃

Nah, siapa yang sudah mau mantu?

 

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Tanya Jawab Ayah Asyik

13 Maret 2017

 

Waktunya menjawab pertanyaan kelas Kulwap Keluarga Sehati, yang disponsori,oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart

Tanya 1:

Bagaimana memaksimalkan peran ayah yang bekerja di luar kota (ketemu anak tidak setiap hari)?

Jawaban Bu Elia Daryati:

Memaksimalkan peran ayah di luar kota, berkaitan dengan sejauhmana seorang ayah ” hadir” dalam jiwa seorang anak. Dengan demikian, walau wujudnya tidak dekat dengan anak, tapi mereka “ada” untuk anak.

Namun demikian kehadiran seorang ayah dalam diri anak, tidak sekedar hadir tiba-tiba. Semua melalui proses. Apalagi jika anak masih dalam usia balita. Bereka membutuhkan hadir secara wujud dan hadir secara jiwa. Di sentuh, dipeluk dan disayang secara fisik dan diterima melalui getaran rasa, ikatan bathin antara ayah dan anak.

Mensiasatinya, jika berjarak tempat dan waktu, maka tidak boleh berjarak hati. Sekarang media yang semakin canggih dapat meminimalisir hal-hal yang terkurangkan oleh jarak. Akan tetapi, secanggih-canggihnya alat tidak dapat menggantikan kehadiran ayah secara fisik dan jiwa.

Ketika ayah ada sebaiknya, wajib hukumnya untuk memenuhi kebutuhan anak atas fisik dan jiwanya. Jangan sampai ayah ada tapi ayah tiada. Ada juga yang ayah tiada tapi ada (ini.kondisi daripada-daripada karena situasinya memang mengharuskan berpisah). Adapun yang paling keren adalah…:”ayah ada dan bermakna”.

Jawaban Anna Farida

Memang ada yang tak tergantikan saat ayah tidak selalu di sisi anak-anak, terutama yang masih kecil, yaitu sentuhan fisik.

Riset banyak mengiyakan bahwa skin to skin contact itu besar sekali efek positifnya pada tumbuh kembang anak.

Walau begitu, jika kondisi memang memestikan ayah jauh sekian lama, optimalkan komunikasi.
Bukan hanya saling telepon atau video call, tapi lebih dari itu, sertakan selalu kehadiran ayah dalam kehidupan anak.

Sebut namanya, ajak anak mendoakannya. Begitu pun dengan Ayah. Hadirkan anak dalam kehidupan. Berceritalah tentang dia pada teman-teman Anda. Jangan cerita pertandingan bola melulu, Ayah!
Kisahkan pada teman putra Ayah sedang apa, putri Ayah umur berapa dan makanan apa yang dia sukai.

Sebut namanya, berceritalah tentang dia, Ayah.
Dengan ini dia akan dekat walau tak selalu di sisimu #halah
[3/13, 20:49] Suci Shofia: Tanya 2:

Bisakah PDKT dengan sosok ayah pengganti (kakek, om, keluarga besar berjenis kelamin laki-laki), agar mau repot mengasuh anak kami karena sudah berpisah atau sosok ayah biologis yg kurang bertanggung jawab?
Jawaban Bu Elia Daryati:

Pada prinsipnya ada ayah biologis dan ayah psikologis. Ayah biologis.adalah ayah yang.melahirkan dan ayah psikologis adalah yang ikut membesarkan anak.dengan segala cinta yang mereka.miliki.

Apapun itu. Jika memang pada akhirnya ayah psikologis.yang.membesarkan, maka yang tetap harus dibangun adalah pola pengasuhannya. Pola pengasuhan yang ajeg dan terkonsep dengan.baik, sehingga mampu membangun karakter yang.baik.
Mengapa demikian? Anak yang hadir dalam keluarga berkonflik memiliki faktor resiko jiwa yang kurang stabil. Bagaimana pun ada “luka” yang terbawa akibat perpisahan orang tuanya. Peran ayah pengganti.menjadi penting.sebagai penyembuh luka, sekaligus sebagai pembangun karakter. Ayah pengganti apakah, paman, kakek, tidak terlalu masalah yang terpenting memiliki kesepakatan yang sama untuk membuat seorang anak untuk kuat, tumbuh dan sehat secara psikologis.

Jawaban Anna Farida

Bisa. Anak itu pembelajar sejati. Saar dia tidak menemukan ayah di rumah, dia akan cari figur ayah di tempat lain. Karenanya, melibatkan kerabat tepercaya untuk ikut menemani anak.

Sampaikan pada anak bahwa ayahnya tidak bisa menemaninya saat ini, jadi kalau mau cerita bisa ke Mama atau kakek, misalnya

Pastikan Ibu menyampaikan konsep pendidikan yang ibu yakini pada kerabat yang akan dimintai bantuan. Syukur jika beliau bersedia seiring sejalan, jika tidak, Anda sudah menyampaikannya.

Semangat, Bu.
Anak itu mudah menyesuaikan diri. Yakinkan bahwa dia punya Ibu dan Ibu akan hadir untuknya.

Ayah yang Asyik

Kelas Kulwap Keluarga Sehati kali ini tentang pengasuhan oleh ayah yang asyik.

Yuk, simak materi dari narasumber Anna Farida: Salam sehati, bapak Ibu. Ini kulwap ke-78 dan kali ini sesi curcol. Kita akan bahas tema “Ayah Asyik”. Paling pas sih ayah yang nulis, tapi ini kan curcol. Jadi, ini harapan saya atas para ayah di muka bumi. Get ready, it won’t be that hard but never take it easy 😃

Apa sih ciri-ciri ayah asyik itu?

+ Mengutamakan kepentingan anak. Ada kebiasaan yang kudu hilang perlahan ketika Ayah punya anak, misalnya merokok atau bawa pulang teman-teman yang merokok. Misalnya juga bicara kasar atau bawa pulang teman-tema yang hobi bicara kasar. Ehehe, jadi ayah adalah momentum untuk berubah. Menjadi lebih baik tentu sajahhh.

+ Melindungi mereka. Tugas utama ayah adalah pelindung. Pastikan rumah aman buat anak-anak, apalagi yang masih kecil. Saat berkendara, ayah wajib peka pada safety riding gear seperti helm, seat bealt, central lock, dsb. Ayah juga wajib mengecek anak apakah sudah naik dan turun semua dari kendaraan dengan aman, apalagi kendaraan umum. Jadi, Ayah, ketika jalan-jalan di tempat umum, Anda yang kudu paling rempong! #rasain 😃

+ Menyisihkan waktu khusus buat anak. Kami tahu Ayah sibuk berjuang cari nafkah buat kami, tapi anak-anak juga perlu waktu yang berkualitas dengan ayah. Kata Bu Elia, ayah adalah pembangun utama karakter anak, ibu yang menjaganya.  Jadi, intensitas kedekatan ayah dan anak sangat menentukan model karakter yang diharapkan. Ayah, hal terpenting yang kami perlukan dari ayah adalah WAKTU. Jadi berikan kami waktu khususmu. Setelah itu, baru kami perlu beli sepatu, buku, hape terbaru buat ibu #eh; kami juga perlu pinjam laptopmu, diantar pilih baju, hingga piknik ke Timbuktu #ayahpingsan

Just kidding—berikan waktu khususmu, Ayah, please. Bukan yang sisa, bukan yang sesempatnya.

+ Memberi anak pelukan. Ayah, jangan takut menunjukkan cintamu. Pelukan bagi anak adalah tabungan rasa tenang, pelepas tekanan. Pelukan dan cinta dari ayah akan membantu anak lebih kuat lahir batin.

+ Bermain dengan anak. Pilihannya banyak, tergantung kondisi dan kekhasan keluarga. Anak-anak saya sedang senang bersepeda dengan ayahnya. Saat libur, putri bungsu saya selalu ribut ngajak ayahnya jalan-jalan—bukan buat beli-beli, katanya, jalan-jalan saja. Walau biasanya akhirnya sih beli-beli juga ahahah #modus. Yakult satu pak juga cukup, kok.

+ Membacakan anak buku.  Ini paling mudah dan murah. Ayah bisa baca buku bareng anak sambil selonjor di kasur. Nanti kita lihat, siapa yang paling duluan tidur 😃

+ Melibatkan diri sejak anak masih bayi. Untuk ayah yang punya bayi, luangkan waktu untuk mengganti popoknya, menyuapinya, memandikannya, menidurkannya, dan hal-hal yang bersifat “mothering” lainnya.  Ini akan menjadi pijakan hubungan yang kuat dengan anak di kemudian hari. Ingat, kulit anak itu merekam memori. Jika Anda tidak sering menyentuh kulitnya ketika bayi, jangan harap bisa menyentuh hatinya saat dia besar nanti #ancaman! 😃

+ Mengajarkan berbagai keterampilan hidup. Umumnya ibu tidak mengajarkan anak memompa ban sepeda, memperbaiki kran, atau memasang tali jemuran. Biasanya itu tugas ayah, termasuk tugas mengajarkannya pada anak-anak. Tugas seperti ini bisa menjadi wahana permainan yang menyenangkan dan produktif. Banyak yang bisa Anda ajarkan: berpikir logis, mengatur uang, merencanakan masa depan, memilih istri idaman #halah

+ Menjadi pembela ibu anak-anak. Jangan menyanggah ibu mereka di hadapan mereka, please jangan bertengkar dengan ibu mereka di hadapan mereka.  Cara Ayah memperlakukan Ibu akan membangun pandangan mereka pada diri mereka sendiri, pada orang lain, termasuk pada pernikahan. Bersikap baiklah kepada ibu mereka, walau mereka sedang tidak ada. Bantu pekerjaannya, muliakan dia sepanjang masa. Ajak dia jalan-jalan, makan malam, belanja … elaaah modus lageee.

+ Menjaga kesehatan lahir dan batin. Ini yang paling penting, Ayah. Ingat, hanya yang memiliki yang bisa memberi. Ayah akan mampu memberi cinta dalam berbagai bentuknya jika dia dalam keadaan sehat lahir batin. Please, Ayah, jaga kesehatan. Buat ayah buat keluarga. Mulai olahraga, kurangi makan makanan yang berbahaya. Kurangi belanja yang tidak penting, tabung buat masa depan anak dan traktir-traktir ibu mereka #baliklageee

Sudah, ah 😃 😃

Semoga ini mewakili curhat para ibu di seluruh dunia. Mari merumpi!

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)