Beauty and The Beast Pernikahan

Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati menyampaikan materi di hari Jumat, 24 Maret 2017:

 

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-79. Tak terasa, Saya dapat tema “Beauty and the Beast” dan sambil menebak-nebak, ini maknanya apa.

Apakah tentang suami yang lembut hati tapi bertampang sangar? Ehehe

Dalam pernikahan tentu ada saat semua baik-bak – ini yang ditampilkan di dinding media sosial buat eksis. Saat semua sesuai rencana, rasanya semua mendukung – semua serba benar, kekurangajaran jadi bahan candaan, kesalahan jadi bahan tertawaan. Pokoke mau berbuat atau bicara apa pun dengan pasangan, hasilnya bikin bahagia sentosa 😃

Namun demikian, ada saatnya semua serba tidak pas.

Pasangan kita mendadak uring-uringan—atau bahkan diam, atau tidak seramah biasanya. Sikap kita dianggap salah, omongan kita ditanggapi seaadanya, jadi bikin suasana canggung. Ini nggak akan masuk FB, dong, ya. Atau ada yang memajangnya ke seluruh dunia? Haha.

Kita bingung, kok mendadak tidak enak begini. Kenapa, sih, ini?

Eh, dia tidak mau cerita.

Pada saat ini tidak ada bedanya lelaki dan perempuan, semua punya kalimat andalan yang maknanya bisa sangat berbeda dengan arti kamusnya bisa: “Nggak papa kok. Aku ra popo.” 😝

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan ketika suasana nggak enak seperti ini?

Ada dua pilihan:

+ Jujur brutal: sampaikan padanya Anda tidak nyaman. Tanyakan apa yang terjadi, dan minta dia bicara kenapa dia bersikap tidak biasanya. Perhatian, ini mengandung risiko berlapis. Anda dalam kondisi tidak nyaman duluan, jadi cara ngomongnya bisa jadi sudah beraroma emosi negatif.

+ Diamkan dulu. Beri dia waktu. Mungkin  sedang tidak enak badan, mungkin sedang ada masalah, mungkin juga sedang capek (capek ngomong dengan Anda, maksudnya hahah)

+ Jangan ikut gila. Sori kalau pilihan katanya agak vulgar—mau cari ungkapan lain tidak ada yang lebih pas. Artinya, saat ini di sedang tidak bisa diajak baik-baik. Anda jangan ikut-ikutan bertingkah. Bersikaplah biasa saja, ajak bicara seperti biasa—nggak usah baper kalau dicuekin. Lihat dalam beberapa jam atau seharian ini. Kalau masih belum membaik, tingkatkan level pelayanan, bukan level kegilaan. Jika dia masih seperti itu walau sudah diajak baik-baik, baru bahas.

 

Banyak pertengkaran dan masalah besar terjadi karena Anda ikut gila.  Jika Anda mau menahan diri sedikit saja, siapa tahu lebih baik hasilnya. Jika ternyata tidak berhasil, baru ke langkah selanjutnya: bicara, minta penjelasan, hingga minta bantuan.

 

Nah, bagaimana? Pilih yang mana?

Mari merumpi – belum 500 kata tapi saya mau buru-buru pergi. 😃

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s