Pornografi Pada Anak

Yuk, kita cerna materi dari narasumber kulwap Keluarga Sehati, Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Hari ini adalah kulwap yang ke-73, dan kita akan membahas tentang anak dan pornografi. Apa yang harus dilakukan ketika anak terpapar pornografi.

Saya curhat dulu saja, yaaa.

Suatu ketika saya iseng melihat history situs yang pernah terbuka di komputer rumah. Ada situs asing dan saya buka.

Glek, perempuan tak berpakaian layak terpampang di layar. Dia melambaikan tangannya (setop imajinasi Anda, hei!) 😀

Saya tenangkan debur jantung yang mendadak kencang. Siapa ini yang buka?

Tunggu … tunggu. Tenang dulu.

Saya cek history yang lain, ternyata situs yang menawarkan game-game gratis buat anak-anak. Jadi ini awalnya.

Rekonstruksi imajinatif saya menggambarkan anak-anak pakai komputer, cari game gratis, lantas ada pop up atau iklan yang memang otomatis muncul. Kemudian, tanpa sengaja terklik oleh mereka, atau memang mereka penasaran dan mengkliknya dengan sengaja.

Ini, nih, yang sering terjadi.

Sebelum konfimasi ke anak-anak, orang tua cenderung menebak hingga menuduh. Berdasarkan tuduhan itu, keputusan (maksudnya hukuman) diberikan pada anak-anak: tidak boleh pakai internet seminggu. Tak boleh pakai komputer sampai Sabtu. Tak dapat uang saku, kudu bersihin selokan! Daaan sebagainya.

Kejadian ini membuat anak tidak suka dan merasa bersalah. Komunikasi langsung sreeet, tertutup. Bukan tidak mungkin, dia akan menutup diri ketika menemukan kasus yang terkait dengan pornografi – ah, daripada nanti kena hukum lagi.

Jadi, sebaiknya bagaimana?

Kita sepakati dulu prinsip umumnya.

Saat ini mengakses pornografi sangat mudah – benar-benar di ujung jari.

mengurung anak dalam kotak steril bukan lagi pilihan mudah—bisa, sih. Anda mau coba?

Berdasarkan pengalaman orang tua yang mengalami hal serupa, hal yang relatif bijak disampaikan kepada anak-anak adalah pemahaman bahwa internet itu bukan dunia yang terpisah dari dunia mereka (maksudnya dunia nyata).

Masih ada yang menganggap dunia maya itu berbeda dari dunia nyata, jadi apa yang dilakukan di antara kedua dunia itu tidak saling berpengaruh.

Nyatanya tidak.

Anak-anak perlu tahu bahwa internet adalah sarana berkomunikasi. Apa yang dilakukan melalui internet akan berpengaruh pada hidup mereka—langsung saat itu atau setelah beberapa waktu.

Prinsip itu yang kadang dilewatkan oleh orang tua dan buru-buru menjatuhkan sanksi karena panik dengan isu pornografi.

Nah, setelah prinsip ini disampaikan—mungkin harus berulang-ulang—baru kita bahas dengan anak, apa yang mereka lihat.

Sampaikan kepadanya bahwa ada orang-orang yang berniat buruk dengan memasukkan gambar tidak pantas. Tanyakan pendapat mereka.

Sesi ini yang penting.

Apa yang mereka ketahui tentang pornografi dan mengapa hal itu tidak layak disaksikan. Muslim bisa menggunakan konsep aurat, atau secara umum konsep modesty dan kesantunan bisa disampaikan.

Setelah itu?

Sudah.

Ulangi diskusi itu beberapa waktu ke depan.

Latihan, latihan, latihan.

Saya tidak menyampaikan detail cara mencegah atau memahami pornografi. Sudah banyak kasus dari yang paling mild hingga hardcore. Mules saya.

Yang paling penting adalah menyampaikan prinsip utamanya. Kasusnya bisa berganti.

Mari kita merumpikan kasus per kasusnya.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s