Diskusi Pornografi

5 Februari 2017  08:05 WIB

Diskusi berikut setelah materi tentang Pornografi Pada Anak disampaikan di kelas Kulwap Keluarga Sehati.

Ag: Iya ya Mbak.

(Jadi PD lagi huehehe)

Ag sependapat dengan cara ini.
“Ibu melarangmu karena…” 👍👍

Makasih jawabannya ya Cikgukuu yang cantik 😘

H: https://youtu.be/O9rMmjVa5QI salah satu bagian slide yang ditampilkan saat seminar.

6 Februari 2017

N: ada kejadian nih, tetanggaku, anak perempuan usianya kurang lebih 3 thn, dirumahnya banyak karyawan laki-laki. Bapaknya membuka gudang bahan-bahan kue d rumahnya. Ga tahu bagaimana ceritanya, anak tersebut suka pegangin kemaluan teman-teman mainnya, kalau lagi main bunda-bundaan. Itu yg pernah saya temuin, terus suka gesek-gesekin kemaluannya ke sepeda. Apa hal itu wajar ato ga ya? trus gimana ya cara ngasih tau ortunya biar ga tersinggung. maaaf yaa, rada vulgar begini…🙈

 D: 😲kita pan tetangga 😓jadi takut 😰

Iq: no comment. merinding ahh kasian anaknya cedera ahlaknya. monggo yg berkompeten Mba Anna, Mba Hera, juga lainnya.

N: cedera akhlaq? nular kah???hehe..😅

7 Februari 2017

H: Pas banget, kasus yg mirip ini dibahas pembicara pas Sabtu kemarin di seminar parenting, Mba.

Saya bukan ahlinya, hanya mau mengemukakan pendapat (berdasarkan pemahaman saya).
Anak usia 3 tahun belum paham yang dia lakukan (memegang kemaluan teman mainnya atau menggesek-gesekkan kemaluannya pada sepeda) itu tidak baik. Yang dia pahami, dia merasa senang ketika melakukannya. Ada kemungkinan dia pernah (secara tidak sengaja melakukan -sebagai pelaku atau objek pelaku- dan kemudian merasa senang jadi diulangi).

Ada baiknya orang dewasa (orangtua dan keluarga dekat) yang melihatnya tidak langsung panik.

* Acuhkan (tidak memberi respon seperti “tidak boleh begitu”, “itu tidak boleh”, dsb.) ketika dia melakukannya.
* Alihkan perhatian anak ke hal-hal lain yang menyenangkan seperti bermain permainan untuk anak seusianya. (Orang terdekat pasti tahu yang dia sukai dan kegiatan itu aman untuk usianya).
*Jauhkan dari situasi atau kondisi yang memungkinkan anak melakukannya lagi. Misal, tidak dibiarkan sendirian, temani ketika bermain dengan temannya.
*Tidak membahas/bertanya/menyelidiki perihal tindakan si anak tadi, kecuali oleh ahlinya (psikolog anak) karena mereka yang tahu “cara” bertanya ke anak.
*cmiiw

Suci Shofia: Mumpung pas SELASA KOMUNITAS, saya jadi ingat ada yang curhat masalah anak mainin kemaluan di usia tersebut ke pengelola komunitas parenting tersebut (Pondok Parenting HARUM), ada di FB.
Usia 3 tahun memang masanya asyik dengan kemaluannya. Tidak perlu merespon berlebihan, lebih pada pengalihan aktivitas seperti kata Mb Hera di atas.

N: tengkyu, Mbak Hera….😘

Anna Farida: Sip, Hera.
Btw dalam KBBI, acuhkan artinya perhatikan 🙊
Anak yang 3 tahun bisa mendapatkan perlakuan seperti yang disampaikan Hera atau Mahmud Admin.

Yang perlu diperhatikan adalah orang lain (pegawai) yang bekerja di dalam rumah – tidak terpisah.

Jadi yang perlu diperhatikan adalah lingkungan aman bagi si anak.

Ortunya perlu diberi rambu-rambu bahwa menghadirkan  banyak orang di rumah = waspada.

N: bilang ke ortunya juga ga usah ya? kalau diberikan pengertian kasian vagina na nanti sakit lo, gimana kalau sampai susah pipis?kan dedenya kesakitan ya. kalau gatel cebok yg bersih ya.

Bagaimana? perlu disampaikan juga? ini ngingetin ke anaknya.

Anna Farida: Ke anak cukup dialihkan kegiatannya.
Ortu yang perlu diajak bicara, apakah dia ngeh tentang keamanan rumahnya. Jika dia tahu alhamdulillah. Artinya dengan kondisi banyak orang, dia punya SOP yang jelas, misalnya tidak seenaknya nitipin anak ke karyawan lantas dia pergi.

N: ow ok. siiiip. smoga ortunya tidak merasa tersinggung dengan berita ini. Hehe.

Anna Farida: Saya mendukung rumah yang difungsikan sebagai tempat usaha atau berkegiatan. Jika lokasinya jadi satu dengan rumah tinggal, syarat dan ketentuannya yang harus berbeda dengan rumah yang tidak melibatkan orang lain yang bebas keluar masuk.
Semangat Bu.

I: Baik, siapp! terima kasih, Mba Anna, Mba Hera atas pencerahannya dan solusinya. Semoga kejadian-kejadian seperti ini tidak ada lagi di anak-anak kita atau anak-anak lainnya, aamiin.

semangat semua selamat pagi☕☕

N: saya sempat heran, soalnya ibunya 24 jam ada di rumah (kegiatan di dalam rumah) tapi mungkin karena ada balita yang usia kurang lebih 2 thn jadi kakaknya kurang terperhatikan sepertinya,jadi sering main sama karyawan. inimah perkiraan saya aja siih. walloohu a’lam. kasian sama anaknya aja. apa ortunya tau ato enggaka perlakuan terhadap anaknya itu.. Makasih, Bu Anna….😘
aaamiiiin.

Iq: mungkin dari saya karena ini sangat sensitif dan tidak semua orang tua mau menerima kenyataan atau mau di gurui dalam persoalan didik mendidik anak. Gimana kalo Mba dengan tindakan  mengalihkan anak nih bermain di rumah Mba atau apalah hingga dia teralihkan. Jadi ketika sudah dekat dengan Mba, orangtuanya mulai dekat dengan Mba bercerita dsbnya secara halus mgkin bisa kita masuk ke persoalan-persoalan atau ajak ngerumpi kejadian di koran biasalah bu ibu. Jadi kita tidak secara serta merta ke persoalan tetapi kita ajak berfikir si orangtua.

Kejadian yang saya lewati pengalaman, ternyata benar tidak semua orgtua merespon dengan cepat tindakkan pornografi,apakah karena faktor lelet otak dan perasaan orangtua atau karena faktor gengsi waullahu ‘alam. Jadi ibarat saya buih dilautan hingga sekeras apapun teriakkan kita pasti hanya lewat.

H: Oh gitu ya? ☺
Berarti salah saya. Maksudnya *ignore*, berarti harusnya *jangan acuhkan*.
Gitu ya?
🙏🏻☺

Iq: jd cobalah adakan pendekatan ke anak di sibukkan bermain dengan kita, tak usah menunggu tindakan org tuanya kelamaan mah. Lebih baik kita berbuat yang bisa kita buat dengan memberi contoh.

N: makasih, Mba Iq, ya betul juga, harus tau karakter oortunya ya. Mungkin saya akan pilih pelan-pelan sambil memperhatikan anaknya kalau sedang main ke rumah, soalnya saya bisa ketemunya hari sabtu atau minggu. hihi, rada-rada takut juga sih saya menyampaikannya. Makanya liat situasi aja dulu.

N: aduuh maafkan, ya, Bu Admin, dah bikin huru hara nih. Makasih buat semuanyaaa..😘

Iq: oya krn nih hari komunitas salah satu program dari kami di *kalimantan hebat* ada namanya  *CBE* #community based education# dimana kita sebagai  masyarakat menjadi pendidik  dari dan untuk ke kita sebagai masyarakat.
Menyatukan visi dan misi mendidik anak sesuai dengan fitrahnya.
Terima kasih Te Suci udah ada hari komunitas 😊

Anna Farida: Apa saja kegiatan CBE, Iq?

Iq: di Sangatta tempat say sudah mulai berjalan anak-anak dikategorikan umurnya pra baligh dan baligh.
Dari 0 sampe 6 lanjut 7 sampe 10 dan 10 sampe 15 di sini anak-anak di bimbing sesuai kategori umurnya.
Orangtua sebagai fasilisator pastinya minimal 2 keluarga atau lebih.
Misal anak-anak usia 7 sampai 10 tahun ada kegiatan masak-memasak, membuat kue, mentornya adalah org tua diantara beberapa keluarga.
Jadi, skill yang dimiliki orangtua itu yang diadakan tidak mengada-ada atau sampai mwngadakan yang tidak ada. Sebelumnya ada materi pokok yang harus minimal diikuti orangtua agar menyatukan visi dan misi.
Materi pokoknya sama seperti kulwap ini gratisss.
Kurang lebih kulwap ini sama persis cara mendidik anak sepanjang saya ikuti kuwap ini alhamdulillah wa syukurillah.
Ada matrikulasinya untuk pematangan materi intinya. WAG hebat dalam hak ini menyeluruh seluruh Indonesia dan satunya di Kalimantan mengusung  konsep pendidikan berbasis akhlaq dan talents dan hal ini ada pada keluarga dan jaringan komunitas  sebagai  pemagangan, keteladanan maupun kemandirian.
Kurang lebih seperti itu.

Er: Sama, kami juga di Pacitan awal tahun ini merintis komunitas sintesis.
Visi misi kita sama, Mbak, kami ingin keluarga dan masyarakat mendidik anak sesuai fitrahnya.
Karena dalam mendidik anak kita butuh kerjasama orang sekampung! Hehe.
Kami baru, sepertinya harus banyak belajar ke Mbak Iq, nih 😍

Suci Shofia: Wah, seneng deh ada gerakan untuk pengasuhan bersama untuk Indonesia yang lebih baik😍

Iq: Nah, itulah mba cita-citanya. Alhmdulillah belajar di sini memperkaya wawasan saya 😍 terima kasih buat narsum kulwap keluarga sehati jg sahabat2 sy di sini yg menularkan ilmunya 🙏🏻
[2/7, 10:25] Suci Shofia: sip, semoga tetep semangat 😉
[2/7, 15:16] kurnia kulwap: Menarik topicnya, saya jadi teringat materi kuliah keperawatan Anak (Tumbuh kembang Anak) 😊😊

PERKEMBANGAN  PSIKOSEKSUAL

Dalam perkembangan psikoseksual dalam tumbuh kembang dapat dijelaskan beberapa tahap sebagai berikut :
☘Tahap oral-sensori (lahir sampai usia 12 bulan)

Dalam tahap ini biasanya anak memiliki karakter diantaranya aktivitasnya mulai melibatkan mulut untuk sumber utama dalam kenyamanan anak, perasaannya mulai bergantung pada orang lain (dependen), prosedur dalam pemberian makan sebaiknya memberkan kenyamanan dan keamanan bagi anak.

☘Tahap anal-muskular (usia 1-3 tahun / toddler)
Dalam tahap ini anak biasanya menggunakan rektum dan anus sebagai sumber kenyamanan, apabila terjadi gangguan pada tahap ini dapat menimbulkan kepribadian obsesif-kompulsif seperti keras kepala, kikir, kejam dan temperamen.

☘Tahap falik (3-6 tahun / pra sekolah)
Tahap ini anak lebih merasa nyaman pada organ genitalnya, selain itu masturbasi dimulai dan keinggintahuan tentang seksual. Hambatan yang terjadi pada masa ini menyebabkan kesulitan dalam identitas seksual dan bermasalah dengan otoritas, ekspresi malu, dan takut.

☘Tahap latensi (6-12 tahun / masa sekolah)
Tahap ini anak mulai menggunakan energinya untuk mulai aktivitas intelektual dan fisik, dalam periode ini kegiatan seksual tidak muncul, penggunaan koping dan mekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini.

☘ Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa)

Tahap ini genital menjadi pusat kesenangan seksual dan tekanan, produksi horman seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual, energi ditunjukan untuk mencapai hubungan seksual yang teratur, pada awal fase ini sering muncuul emosi yang belum matang, kemudian berkembang kemampuan untuk menerima dan memberi cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s