Mengenalkan Tuhan Pada Anak

23 Desember 2016

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-67. Kita akan merumpikan bagaimana mengenalkan Tuhan dalam keseharian anak.

Pernah nonton film “Surat Untuk Bidadari?”
Seorang anak meyakini bahwa ada malaikat yang menjaga desanya. Dia pun berkirim surat.

Dalam sebuah film lain, seorang anak berkirim surat pada Tuhan memohon kesembuhan ibunya, atau pada ayahnya yang telah meninggal karena rindu. Ada pula yang dengan setia menanti Sinterklas walau tak pernah benar-benar bertemu.

Dari mana asal keyakinan ini?
Bagaimana anak-anak percaya pada hal-hal gaib (tak terlihat)?

Anak-anak itu pembelajar sejati. Apa pun yang memaparnya akan membentuk keyakinannya. Khusus bagi anak-anak, keyakinan ini mudah diterapkan ketika ada contoh konkret yang dia saksikan sehari-hari.

Jadi, kebiasaan melibatkan Tuhan dalam keseharian akan mengena jika anak menangkap pesan bahwa hal itu penting. Caranya?

1. Sering-sering menyebut nama-Nya. Dalam situasi apa pun, saat sedih dan senang. Saat sedang luang atau buru-buru.

2. Jadikan Tuhan sahabat anak, bukan penghukum. Smiling God is more easily embraced. Tuhan yang ramah, penuh kasih, maharahman lebih mudah membuat anak mendekat daripada Tuhan yang sangar dan maha menghukum.

3. Miliki doa khusus bersama anak. Saya biasa berseru pada anak yang hendak berangkat, “Have fun! Baca Al Fatihah, Kulhu 11 kali, salawat, ayat kursi …”
Ketika anak yang sudah remaja menelepon hendak telat pulang, saya pun menyampaikan pesan yang sama.
Saat mereka berangkat, saya pun menggumamkan doa yang sama. Jadi, kami membaca doa bersama-sama walau di tempat yang berbeda. Ini yang kita kenal sebagai upaya menyamakan frekuensi.

4. Ajak anak diskusi tentang keberadaan Tuhan sejak dini. Tanyakan sesekali, mengapa Tuhan harus ada? Jika tidak ada Tuhan, apa yang terjadi dengan manusia? Apa tujuan Tuhan menciptakan manusia? Pertanyaan semacam ini mungkin tak akan mereka jawab, tapi membuka pemahaman bahwa pertanyaan ini penting harus diawali.
Jangan didebat, tak perlu disalahkan. Simak saja, jawab “Begitu, ya, menurutmu. Ok, nanti kita bahas lagi.”

Errr, kalau saya tanya, untuk apa Tuhan menciptakan manusia, Bapak Ibu mau jawab apa? Ehehe.
Masing-masing punya cara pandang yang berbeda, tentu.

Sudah, ya.
Kita rumpiiii.
Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart. Buku bisa diperoleh melalui website Mizan.
Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s