KDRT

14 Januari 2017

Anna Farida: Salam sehati Bapak Ibu. Ini kulwap yang ke-70, kita akan membahas KDRT. Biasanya, ketika empat huruf itu disebut, yang paling cepat terbayang adalah seseorang yang mencederai korbannya secara fisik. Wajar, sih, jika pandangan itu yang umum diketahui masyarakat. Kan media lebih sering memberitakan dari sudut pandang fisik, apalagi jika melibatkan perkara hukum, ada visum, dsb. Jadi terbentuklah pemahaman bahwa KDRT = kekerasan fisik.

Ternyata, kekerasan fisik hanya salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Bentuk yang lain bisa berupa kekerasan psikologis, finansial, hingga seksual.

Orang yang jadi korbannya—bisa lelaki maupun perempuan—merasa tak berdaya, ragu pada identitas dirinya, ragu bertindak karena banyak sekali pertimbangan. Itulah sebabnya bayak sekali kasus KDRT yang tidak dilaporkan, tidak ditangani dengan baik, bahkan banyak korban yang tidak merasa bahwa dirinya jadi korban.

Tar, tar, saya capek ngetiknya padahal baru mau mulai. Membahas materi ini memang menguras energi, tapi penting agar kita waspada, bisa membantu diri sendiri, dan atau membantu orang lain di sekitar kita untuk mengenali dan menanganinya.

Hal pertama yang perlu diketahui, ketika kekerasan terjadi, banyak korban yang membenarkan tindakan pelaku, dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa nanti juga membaik. Tak jarang yang justru menyalahkan diri sendiri, “Aku memang bukan pasangan yang baik. Aku pantas dapat hukuman. Kasihan dia, sudah kehilangan kendali karena aku, daaan sebagainya.”

Sayangnya, dari berbagai kasus yang saya baca, anggapan bahwa situasi akan membaik jika korban diam saja jarang terbukti. Yang lebih sering terjadi adalah frekuensi dan intensitasnya kian meningkat. Awalnya “hanya” didiamkan, lantas diintimidasi, kemudian diancam, dan … ah sudah, lah. Kita sama-sama tahu saja.

Belum lagi jika korban memiliki anak. Dalam keluarga, anggota yang biasanya paling tidak berdaya adalah anak. Ketika salah satu orang tuanya mengalami kekerasan, bukan tidak mungkin anak ikut jadi korban—secara langsung atau tidak langsung, dan akibatnya bisa di luar dugaan. Tambah lemes saya.

Jadi, yang paling penting dipahami adalah segera mengenali gejala KDRT dan segera selesaikan—bisa diselesaikan sendiri atau dengan bantuan pihak lain seperti teman atau kerabat yang tepercaya, tenaga ahli seperti konselor pernikahan, hingga aparat hukum.

Apa yang harus dikenali?

# Kekerasan fisik: serangan dengan menggunakan kekuatan tubuh terhadap tubuh pasangan. Tidak harus luka, tidak harus memar. Mendorong dan menarik secara kasar tidak meninggalkan bekas fisik yang terlihat, tapi itu kekerasan.

# Kekerasan psikis: yang diserang adalah harga diri pasangan. Bentuknya bisa hinaan, kritik, kecurigaan, hingga tuduhan. Kekerasan jenis ini sulit dideteksi karena banyak alasan: ini kan hanya salah paham, nanti juga membaik. Aku juga sih yang salah. Nggak papa lah, aku juga nggak segitunya baik.

Menerima kekurangan pasangan sebagaimana pasangan menerima kekurangan kita tentu berbeda dengan membiarkan diri menjadi korban kekerasan.

# Kekerasan finansial. Diskusi minggu lalu membahas suami yang menyalahgunakan penghasilan istri. Ini bentuk kekerasan. Sebaliknya, melarang pasangan mendapatkan penghasilan sehingga dia tidak mandiri atau sepenuhnya tergantung itu juga kekerasan, lho. Ketergantungan secara ekonomi membuat pilihan sangat terbatas. Aku nggak bisa apa-apa tanpa dia. Biar saja dia marah asal aku dikasih uang belanja. Karenanya, khusus untuk perempuan, mandiri secara finansial—sekecil apa pun, kerja di luar rumah maupun di rumah—itu wajib. Ini provokasi saya, bukan fatwa siapa-siapa.

# Kekerasan seksual: Ini juga jarang disadari jarang pula dibahas karena dianggap tabu. Kekerasan ini meliputi perilaku menyimpang yang dipaksakan kepada pasangan. Jenisnya macam-macam, dari yang paling keras sampai yang paling diam. Mendiamkan pasangan juga kekerasan. Jadi, jangan pernah abaikan dia, please, eheheh.

Sudah, ah. Jadi lapar.

Saya mohon maaf terlambat menyampaikan materi. Alasannya banyak, dari yang paling pribadi sampai alasan yang dicari-cari #tutupmuka.

Mari merumpi, mari berbagi pengalaman memperbaiki kualitas hidup.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui website mizan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s