Jejak Kulwap “Permissive Parenting”

Rabu, 26 Oktober 2016

07:29 WIB

Hari rabu waktunya saya, admin kulwap Keluarga Sehati memposting ulang materi kulwap yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

*Jejak Kulwap*

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Kita masuk ke materi-14. Semoga kulwap ini memberikan manfaat bagi kita semua dalam mengelola keluarga.

Bahasan kita kali ini adalah “Permissive Parenting”.

Rumpi dulu:
Suatu siang saya mengunjungi seorang kawan. Setelah saling menanyakan kabar, masuklah kami pada topik yang sangat menarik.

Teman saya itu berkata, “Saya sebenarnya tidak suka dengan gaya pengasuhan ala Barat yang memberikan kebebasan pada anak. Yang sering saya lihat, di tempat-tempat umum, misalnya pengajian, anak-anak bebas lompat sana sini tanpa permisi, berlarian hingga mengganggu jamaah. Padahal sudah bukan balita lagi. Orang tuanya saya lihat hanya bilang ‘hati-hati’ atau memanggil mereka, ‘sini, sini’. Ya mana mau, lah, namanya juga anak-anak. Pernah juga ada yang bertamu bawa anak 8 tahunan, dan anaknya itu ngoprek segala pernik saya. Ibunya hanya komentar, ‘dia penasaran, belum pernah lihat barang seperti itu.’ Kan beda, Mbak, penasaran dan tidak sopan. Kalau di rumah orang kan harus menghargai, gitu. Ya itu tuh, hasil pendidikan sok Barat yang kebablasan.”

Setop dulu, ngadem dulu.

Gaya pengasuhan memang tidak bisa pakai teknik all size  . Ada gaya yang cocok diterapkan pada satu keluarga tapi bikin berantakan jika diterapkan di keluarga lain. Saya pernah menyaksikan orang tua yang setahu saya tidak pernah melarang anak-anaknya melakukan apa pun ketika mereka masih kecil-kecil. Saya amati, sikap kanak-kanak mereka tetap hidup, tetap usil, kadang bandel juga .  Tapi secara umum, kesantunan mereka terpelihara. Mereka seperti punya alarm kapan bisa ribut dan kapan perlu anteng. Usut punya usut, orang tua tadi memang layak jadi teladan anak-anaknya. Jadi tanpa beliau banyak bicara, sejak kecil anak-anak paham mana yang baik dan tidak.

Nah!
Bagaimana dengan kita? Eh, kita? Saya aja, kali

Bisakah kita juga membiarkan saja anak-anak melakukan apa saja dan berharap mereka menemukan jalan kebaikan?

Di buku “Parenting with Heart”, ada bahasan tentang gaya pengasuhan yang diusung oleh Diana Baumrind. Salah satunya adalah permissive parenting. Secara sederhana, orang tua bergaya permisif memberikan kebebasan pada anak seluasnya dan lupa memberikan tuntunan.

Bisa jadi orang tua permisif itu merasa sangat penuh cinta, penuh dukungan, dan menjadikan anak sebagai pusat kehidupan mereka. Anak bahkan memiliki kontrol atas orang tua. Wujudnya bisa macam-macam sesuai usia, mulai dari yang sederhana: nangis sampai keinginannya terpenuhi, mengancam akan merusak barang, hingga mengancam kabur dari rumah.

Orang tua dengan gaya ini memilih tidak berkonflik dengan anak daripada bikin aturan bersama untuk disepakati. Ketika anak bikin aturan sendiri dan dilanggar, tidak ada konsekuensi. Saat aturan berhasil ditegakkan pun tidak ada apresiasi. Kadang, saat terjepit, orang tua bahkan menyogok anak agar taat pada aturannya sendiri.

Ada kecenderungan bahwa dengan membiarkan anak mengatur diri sendiri, mereka akan tumbuh mandiri. Eh, tapi tunggu dulu, yang jadi teladan dan rujukan anak-anak mengatur diri itu siapa

Benar, pengasuhan adalah proses mendampingi anak menuju dewasa, agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan keunikannya masing-masing. Yang perlu kita catat adalah, pendampingan memestikan tuntunan. Anak-anak tetap mengharapkan kita hadir, memberikan panduan dan jadi panutan, karena dengan itu mereka akan merasa dicintai.

Lalu bagaimana?

Tetapkan batasan, bahas dengan anak mengapa harus ada. Misalnya, anak balita seharusnya duduk tenang di kursi ketika di restoran. Dia tidak boleh berlarian karena berbahaya sekaligus tidak sopan. Anak 10 tahun seharusnya belum boleh nonton film tertentu, atau pulang ke rumah sebelum azan magrib. Batasan ini tidak bermaksud jahat, kan? Anak-anak justru memerlukannya agar merasa aman dan dicintai. Tentu kita tahu bagaimana cara yang baik untuk membahasnya dan menerapkannya. Sudah belajar materi komunikasi asertif, kan?Lihat keperluannya. Jika anak ingin berlarian ketika pertemuan keluarga sedang khusyuk, misalnya saat akad nikah atau sedang tahlilan, mungkin mereka memang sedang jenuh. Alihkan perhatiannya, penuhi keperluannya: beri dia kegiatan lain. Silakan berbagi pengalaman. Saya sih cukup memastikan anak-anak bawa buku—kadang bawa makanan kadang tidak. Setelah baca biasanya mereka tidur. Problem solved. Anak-anak saya yang lebih besar sudah pasti main hape :-pBantu mereka. Kadang anak tidak bisa membahasakan perasaan dan lebih suka beraksi—misalnya memukul atau melempar sesuatu. Tugas pemandu tetap mengingatkan batasan dengan cara asertif, “Eit, seingat Ibu aturannya tidak pakai mukul, tidak pakai lempar barang. Lagi kesel banget, ya? Ibu bisa bantu apa?”Ummm … tar kepanjangan. Sudah dulu saja, nanti kita perdalam dengan tanya jawab bersama Bu Elia Daryati dan saya, eheheh.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Miliki bukunya segera.

Salam takzim,
Anna Farida
www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Eka Murti Kulwap: 👍

Ira Delim Kulwap: 👍😊

Halimatussya’diah 2: Setuju

Diah Ekawati Kulwap: Makasih mba suci shofia .. alhamdulilah diingatkan lagi.. refresh.. 👍👍😍😍

Suci Shofia: sama-sama😀

Evi Aviati Kulwap: Wow pencerahan sekali…. Trimakasih mba Anna atas materinya dan mba Suci untuk post materinya…. 😍😘

Suci Shofia: sama-sama 😘
Tuti Herawati Kulwap: 👍🏻

Eka Murti Kulwap: Nyimaknya disambi-sambi … Hehehe …

Pagi-pagi baca beginian rasanya adem..

Eka Murti Kulwap: Beberapa grup lain isinya bikin emosi😅

Suci Shofia: 😂😂

Hibat Ummu Alula Kulwap: parenting ala barat uhuuyy

saya, terbiasa membiarkan si dende main apapun tapi dengan pengawasan, di rumah dimanapun apapun yang mau di explore oke hayuu.. akibatnya saya ga tau ini keturunan emaknya yg cengeng atau apa, kalo mau sesuatu dan tidak di kasih ijin nangis kejeer, kalau di kabulkan baru bergenti nangis, ada yg mau beri solusi, usia 2,4thn

Niar Kulwap: ✌👍🏼👍🏼 kalo di grup-grup parenting tertentu atau grup ibu-ibu ini bisa jadi perdebatan sengit antara pro parenting ala barat dan pro parenting ala ala 😁

Eka Murti Kulwap: Hehehe.. Mengasuh anak mah yang penting jangan ala kadarnya, ya, bun..

Ari Dian Sari Kulwap: Sama mbak dengan si bungsu kami… Umur sama

Tapi saya akali.
Saya bikin lalai Dia dengan yang lain…  Misal main sepedaan di luar, atau main lompat-lompat di tempat tidur hihihi atau main kuda-kudaan…  😁😁

Suci Shofia: aduh, lebih baik saling dukung ya. Cara boleh beda, Visi utama tetap sama 😇

Niar Kulwap: Iyaa mbak

kan tiap keluarga beda, anaknya beda,  ortunya beda, caranya pasti beda-beda.

Lusi Kulwap: 👍🏻

Nuzul Quryati Hartawati kulwap: Top ini materinya..apakah karena pola asuh saja atau bawaan anak yang hiperaktif juga berpengaruh ya?
Uyun Kulwap: Anak yang kreatif butuh ortu yang lebih kreatif lagi 😁

Istiqomah Kulwap: Anak balita apa ada masanya, ya, cara bermain
Beberapa bulan lalu anak saya suka main di luar, sama siapa saja bisa , dari pagi sampe hampir sore ganti ganti teman, teman yg satu masuk …. cari teman lagi yang masih main diluar, memang masih dekat-dekat rumah.
Tapi sekarang gak mau main diluar, bahkan dipanggil temannya diajak main gak mau
Di PAUD bahkan nempeeel aja di saya.
Padahal dulu datang langsung membaur Sekarang umur 3,5 th. Apa emang begitu,  ato apa ada sesuatu sebab yang saya gak tau, ya ,mbak

Nur Fahmi Kulwap: Banyak faktor. Traumatik bisa. Ada yg intimidasi juga bisa

Hibat Ummu Alula Kulwap: nanya dong.

Si Dede 2,4thn punya kebiasaan klo tidur ga boleh berisik, jadi seringnya pagi-pagi keteteran, kerjaan rumah nunggu dede bangun bikin sarapan pelan-pelan pisan, masih Asi belum berhasil nyapih… baiknya gimana yah?

Istiqomah Kulwap: Gimana cara mencari penyebabnya ya mbak
😰😰😰

Suci Wulandari kulwap: Anak saya laki-laki, 3 tahun. Dia ekspresif sekali terutama jika keinginannya tidak terpenuhi. Kalau sudah mengamuk bisa lempar-lempar barang. Saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk tidak memarahi atau membentaknya. Tapi dikasi tau pelan-pelan pun dia tetap ga bisa tenang. Kalau diajak ketempat umum atau di depan banyak orang itu seperti jadi kesempatan unjuk gigi keahliannya dalam mengamuk. Apa yang harus saya lakukan? Problem kita hampir sama ya mbak sepertinya.

Suci Shofia: anak-anak saya sempet ngamuk juga kalau ga keturutan maunya di usia sekitar 3 thn.

memang fase ego di usia tersebut kan lagi aktif.

kalau ngasih tahu pas tantrum ya enggak mempan.

jadi kami ngasih tahu kalau sudah adem.

ya harus jadi ratu tega, Mb Icus😉

alhamdulillah sekarang mereka sudah melewati fase itu, jadi mau diajak kemana aja ga pakai ngamuk.

nikmati prosesnya 😉

Diah Ekawati Kulwap: Anak saya laki-laki saat 3 tahun juga begitu mba.. sekarang 4 tahun. Pada saat begitu, saya peluk dia agak kuat meluknya karena awalnya dia akan berontak. Peluk dulu, kasih jeda sambil bisikkan kita sayang dia, namai perasaannya.. sedih.. marah.. agak tenang tanyain kenapa. Sekarang mulai terbiasa.. setelah di peluk.. biasanya dia minta dilepas.. saya bilang iya dilepas.. tapi berhenti lempar-lemparnya.. iya.. berhenti katanya.. baru deh dialog maunya apa dan bagaimana 😊😊

Nur Fahmi Kulwap: Libatin gurunya

Suci Wulandari kulwap: Hikss iya mba suci, heheh saling panggil diri sendiri ini. Di satu sisi ada saatnya saya bisa legowo yah namanya juga anak-anak. Tp di sisi lain juga kadang suka mikir, apa sikapnya seperti ini akan terbawa hingga nanti. Contoh kecilnya pas lagi main sama ponakan dan dia kalah, ga bisa menerima kekalahan. Pokoknya harus dia yang menang. Apa karena memang belum mengerti sampai ke tahap itu yaa

[10/26, 14:06] Suci Shofia: hehe duo Suci. ini yang 5 tahun aja masih berproses menerima kekalahan. kadang bisa, sering enggaknya 😬
Kalau memang ada karakter dari ortu ya proses mengenalkan dan mengendalikan ego anak lebih ekstra😉

Suci Wulandari kulwap: Hihi ya sudah berati emang lg masanya. Iya sepertinya , dari bapaknya (emaknya ga mau jadi tersangka)

Suci Shofia: 😜

Suci Wulandari kulwap: Hihi. Makasi Mba Suci. Makasi juga materinya cik gu Anna tersayang

Dwi Astuti kulwap: Mau tanya. Bagaimana klo fase (tantrum) ini belum tuntas maksudnya masih berlanjut sampai usia sekolah. Bagaimana menanganinya apa perlu ke psikolog?

Ella Kulwap: Mlm Mb dwi astusi, fase tantrum anak  yang paling menonjol berperilaku gimana ya yang sering terjadi ? Dan anak mba sekarang usia berapa 🙂 ^ hehe pengen tau Mba.
Suci Shofia: ya harus dituntaskan segera, Mb. 😉Kalau masih bisa ditangani sendiri, belum perlu ke psikolog.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s