Menyiapkan Anak Tinggal di Asrama

Bandung, 12:36 WIB

Jumat, 28 Oktober 2016

Salam sehati, Bapak Ibu semua. Ini kulwap ke-59.

Kita akan membahas tentang bagaimana menyiapkan anak tinggal di asrama atau tempat kos.

Untuk Teman-teman yang anaknya masih unyu, itung-itung ingat-ingat masa kos, deh 😀

Anak saya pernah tinggal di asrama ketika SMA. Saya juga pernah mengajar di sekolah berasrama dan ikut membina penghuninya—halah.

Awalnya saya merasa gamang melihat anak-anak yang biasa hidup bersama orang tua kini harus berpisah dan emngurusi diri sendiri.

Awalnya tentu diawali dengan euforia. Bebasss dari Ayah Bunda, apalagi yang ibunya cerewet bawel seperti saya, eheheh.

Setelah euforia berlalu, mulailah muncul problema, yang paling sering adalah tidak cocok menu makan. Muncul pula problem lain seperti tidak cocok dengan teman sekamar, tidak betah, daaan sebagainya.

Nah, apa yang sebaiknya kita lakukan jika anak hendak masuk sekolah berasrama?

+ Pastikan keputusan untuk masuk asrama adalah keputusan bersama anak dan orang tua. Pertimbangkan baik dan buruknya, tetapkan tujuannya apa.

+ Siapkan mental berbagi dan siap kehilangan barang—ehm—di berbagai asrama, berapa pun uang bulanannya, kehilangan barang lazim terjadi.  Diskusikan bagaimana mengatasinya tanpa membuat anak jadi jutek ke temanya .

+ Pastikan Anda mengenal baik guru pembimbingnya, berikan informasi sedetail mungkin yang sekiranya akan berguna bagi pendampingan anak di asrama, misalnya hal yang dia suka dan tidak suka.

+ Bekali anak dengan doa. Ajak dia mencari “jimat”nya sendiri. Doa yang dia temukan sendiri dan dia lazimkan akan membuatnya tenang saat jauh dari orang tua.

+ Jalin komunikasi yang sehat—tidak terlalu sering sehingga anak merasa tidak dipercaya, tapi jangan bikin juga dia merasa dibuang dari lingkaran keluarga.

+ Jika dia mengeluhkan sesuatu, awali dengan PERCAYA. Misalnya dia mengeluh di-bully. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah percaya padanya. Selanjutnya ajak dia bicara, lakukan penyelidikan dan investigasi, sewa detektif seperti Hercule Poirot – halaaah

+ Periksa kesehatannya begitu dia pulang—apakah di berkutu, ada gatal atau penyakit lainnya.

+ Beri dia apreasiasi selalu karena berani menjadi anak mandiri dan bertanggung jawab. Ucapkan selamat karena sudah bisa mengurus dirinya sendiri.

+ ini teknis tapi penting, karena masalah ini umum terjadi. Mulailah mengondisikan anak untuk mengenal aneka menu makanan, pastikan dia punya menu andalan ketika darurat, misalnya abon, telur asin, atau kering teri—lapaar

Itu saja, sih, yang paling penting. Sisanya akan kita rumpikan bersamaaa. Bagi pengalamannya, doong.

Yuk, aah.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

 Baca juga diskusi serunya di sini.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s