I Message dalam Pernikahan

Sabtu pagi, 5 November 2016

04:31 WIB

Kali ini materi Kulwap Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Bu Elia Daryati dan Mba Anna Farida, dibagikan ke peserta tidak seperti biasa di siang hari karena ada masalah teknis. Mba Anna sang narasumber punya laptop baru, jadi adaptasi dulu, deh! Hihihi …

Anna Farida: Salam Sehati, Bapak dan Ibu,

Ini kulwap ke-60, dan kita akan membahas tentang I-message dalam pernikahan.

Ehm, saya pernah sampaikan, menikah itu seperti sepasang sandal: sisi kanan dan sisi kiri. Ada yang pernah pakai sandal kanan semua? Bagaimana rasanya? Ada yang punya waktu luang dan mau mencoba? Ehehe

Karena ada dua sisi tadi, sudah pasti akan ada perbedaan. Namanya juga menikah dengan dua orang yang berbeda. Dengan diri sendiri saja kita sesekali (atau sering?) berbeda—bahasa kerennya galau suralau #bukanEBI

Jadi, jika ada masalah antara dua orang yang berbeda ini, komunikasi selalu menjadi kata klasik yang jadi sasaran tembak.

Jadi, ayo kita ingat kembali I-message atau komunikasi asertif antar pasangan. Apa yang seharusnya kita katakan dan tidak kita katakan ketika menyampaikan pesan.

Ingin dibantu bersih-bersih rumah:

— Kok nggak mau bantu-bantu, sih. Ini kan rumah Ayah juga.

++ Aku paling senang pas Ayah mau bantu bersih-bersih rumah.

Ingin dibuatkan nasi goreng

–          –  Dulu Mama selalu bikin nasi goreng spesial. Sekarang pakai bumbu instan melulu.

++ Papa paling cinta sama nasi goreng spesial Mama

Perhatikan.

Pada kalimat yang bertanda ++, “aku” menjadi aktor utama. Aku yang berpendapat, aku yang ingin. Engkau hendak memenuhinya atau tidak itu urusan lain. Aku hanya menyampaikan pesanku.

Pada kalimat bertanda – ada unsur menyalahkan pihak lain, dan tak ada yang senang disalahkan walau sebenarnya memang salah #ngaku #tutupmuka.

 I-message dipercaya sebagai salah satu cara berkomunikasi yang baik karena melatih kita untuk mengenali diri sendiri dan “memperkenalkan diri” kepada pasangan.

Siapa yang jamin bahwa pasangan Anda sepenuhnya mengenal Anda tanpa diberi tahu? Anda memendam rasa ingin dibelikan bunga mawar tapi hanya menggerutu:

– – Mas nggak pernah beliin aku bunga

Mungkin memang pasangan tidak beli bunga karena tidak tahu bahwa Anda ingin.

Apa, sih, yang membuat Anda tidak menyampaikan pesan, “Mas, aku pingin, deh, sesekali dapat bunga.”

Masalah pasangan segera tanggap dan langsung bertindak atau harus diingatkan tujuh belas kali, itu urusan lain. The point is the I-messages.

Jadi, mari berlatih menyampaikan I-message dalam berbagai kasus 😀

Besok boleh.

Ini sudah malam. Durasi bertanya boleh diperpanjang karena saya terlambat post materi.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart”  karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Baca juga diskusinya di sini.

Tanya jawab dengan narasumber di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s