Diskusi Anak Hiperaktif

Senin siang, 10 Oktober 2016

Y: Ok, boleh bertanya ya..
Mungkin ada yang punya pengalaman yang sama boleh sharing ya ibu-ibu 😊

Ini anak teman dan tetangga, dia tidak bisa diam di rumah, maunya main di luar rumah, sukanya lari lari. Ketika belajar dalam kelas tidak bisa anteng seperti teman yang lain.

Jika ditanya pura-pura tidak mendengarkan. Dia tidak bisa menyelesaikan tugas menyusun permainan dengan baik, pasti terakhir selesainya.

Apakah itu termasuk ciri anak hiperaktif? Dan bagaimana cara menangani metode pembelajaran yang pas buat si anak?

Terima kasih 😊

U: Usianya?

Y: 4th sama 4,5th

K: Ikutan nyimak share dari teman-teman…
#sambil meluk guling ☺

H: Anak saya 5 tahun 7 bulan, sukanya lari-lari di rumah dan di luar rumah. Suka juga manjat-manjat. Karena ga ada pohon tinggi, jadinya meja dia panjat. 😁
Kalo ditanya, kadang jawab kadang pura-pura tidak mendengarkan. Kalo dipancing dengan nanya pendapatnya (tentang sesuatu) baru keluar banyak cerita. Di tempat baru cenderung diam (tapi matanya berbinar dan aktif😊) dan memperhatikan sekeliling. Orang baru akan menyangka dia pendiam. Tapi kalo dia sudah merasa nyaman, baru keluar aslinya (lari-lari dan talkative).

Hiperaktif? Sepertinya tidak.
Aktif? Yes, dia banget. 😁
But then, he’s just being a kid.
Saya malah khawatir kalo anak saya ga lari-lari. Biasanya kalo gitu, dia lagi sakit.
Sependek yang saya tahu, setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Ada auditory learner, visual learner, kinesthetic learner. Pasti ada salah satu atau salah dua yang dominan. Guru dan orangtua harus pintar-pintar memilih strategi belajar yang tepat sesuai dengan gaya belajar (learning style) dominan anak kita.
Kita tidak bisa menyuruh anak kinestetik untuk duduk manis mendengarkan guru menjelaskan. Atau memaksanya mencatat. Si kinestetik harus mendapatkan _hands-on experience_ untuk mempelajari sesuatu.
*cmiiw

Y: Jadi yang kinestetic belajar yang cocok itu di outdoor , ya, mbak .. Sekolah alam gitu?
Sedangkan sekolah di indo kebanyakan gitu, duduk manis 😊

L: Bisa jadi. Bahkan mungkin model alternatif seperti homeschooling pun, menurut saya bisa dijadikan pertimbangan, sejauh sejalan dengan konsep pendidikan yang disepakati keluarga. *Cmiiw

E: Saya punya keponakan.. aktifnya ‘pake banget’ dan tinggalnya di sebelah rumah saya persis. Usia 6 tahun.
Saking aktifnya, seringkali sampai mencederai saudara-saudaranya yang lebih kecil.
Ibu kandungnya tidak akan berani meninggalkan  anak ini dengan adiknya yg 2,5 tahun. Karena bolak balik adiknya terluka, yang kepala adiknya benjol dll. Gerakan keponakan saya ini sangat cepat, dan tidak bisa diam.

Anak saya yang 3 tahun pun bolak balik tercelakai tanpa sengaja saat bermain dengan keponakan saya yg 6 tahun ini (laki-laki).

Adakah yang punya pengalaman sama? Mohon masukannya.

Meski tidak serumah, mereka bersaudara dan anak-anak tentu ingin main bersama..

Tapi kalau ujung-ujungnya bolak balik ada yang tercelakai?? 😳😳

L: Saya dulu mencoba berkonsultasi dengan psikolog tentang memilih kriteria sekolah anak, melalui hasil psikotes. Alhamdulillah sangat membantu mbak

Suci Shofia: Sepertinya bagus nih buat tema minggu ini “Mengasuh Anak Hiperaktif”

Y: Betul mbak, hiperaktif ada kata gorinya gak sih?

H: Indoor juga bisa.
Di dalam kelas pun bisa beraktivitas dengan bergerak.
Saya ada beberapa contoh aktivitas untuk itu. Tapi sekarang harus jemput anak-anak dulu. 😊
InsyaAllaah nanti sorean.

E: Sementara ini pilihan orang tuanya adalah keras. Karena si anak hanya akan menurut dengan cara itu. Sedih saya melihatnya. Tapi saya juga belum tau cara lain menyikapi anak seperti itu 🙄
Y: Iya mbak H di tunggu ya… 😊

Suci Shofia: harus tanya ke ahlinya. Bisa kontak ke FB Noor Ruly Abyz Wigati 😉

Yn: Anak saya sepertinya bgitu.. Tapi psikolog bilang bukan hiperaktif.. Kalau ada sekolah SLB masuk kesitu tapi klasnya “F”

H: Setau saya kalo hiperaktif ada treatment khusus/terapi.
Kata *hiperaktif* atau *hipoaktif* itu harus ada perlakuan khusus.
Kata *hiperaktif* itu bukan sama dengan *aktif sekali*
*cmiiw

Y: Oh beda ya…

Lah gak jadi jemput anak mbak H 😄

S: kasihan yaa. dia kan ga minta dilahirkan dengan kelebihannya tadi.

H: Hati-hati.. jangan sampai _melabeli_ anak-anak kita. 🙏🏻😊

masih di parkiran, si Tengah minta ke rest room dulu. 😀
Hujan.. kedinginan keknya..

E: Iya, S.. saya sudah minta ibunya untuk berkonsultasi, tapi sayang ibunya merasa anaknya baik-baik saja.
Y: Iya mbak H, baru tahu saya kalau itu beda😊

S: itu korban sudah di depan mata lho hihi

Y: Nyimak lagi ah, sambil nunggu air rebusan anak-anak panas buat mandi, persiapan anak-anak ngaji😊
S: praktisi parenting😇

Y: Iya mbak S sudah saya add

Terima kasih ya 😊
S: sama-sama😉

Y: Keponakan tetangga ada yang disalurkan ke taekwondo atau semacamnya

Yn: Anak saya futsal dan renang mbak.

Y: Hasilnya bagaimana mbak?

Yn: Tapi belum intensif. Alhamdulillah berkurang gerak di rumah.

E: Dan yg sering jadi korban adalah adik kandungnya sendiri..

Karena si adik sering terbentur kepalanya, maka sekarang adiknya harus berobat rutin selama 6 bulan. Kalau enggak salah karena ada gelombang otak si adik yang bermasalah.
Saya akan coba simak pengalaman ibu-ibu di sini sebagai bahan masukan…🙏🏻

Yn: Karena menurut psikolog anak yang energinya banyak jika belum habis akan iseng di rumah atau buat ulah.
Y: Ngeri ya😰

Yn: Biarkan saja sampai capek. Walaupun seharian.. Anak akan bisa ukur tenaganya sendiri walaupun kita lihatnya kasihan capek.
S: ajak ikutan kulwap di sini gimana? 😉
E: Sudah saya tawarkan lama.. tapi tidak mau 😔

Y: Gitu ya…
Manfaat banget sharingnya

Ada saran lainkah selain itu?
Sesuai minat anak atau bagaimana ya?

E: Ada beberapa group parenting tapi  dia keluar dari semua grup itu karena merasa semua baik-baik saja.

Yn: Iya biarkan sesuai minat..

S: ide bagus tuh futsal, renang, taekwondo. puas puasin dia gerakin badan di tempat yang tepat, aman, positif.

Sekolah alam juga pas melihat aktifnya anak.

Y: Iya mbak, kalau anak 4 tahun gitu apa ya kalau misal di arahkan

Yn: Dulu saya lihat waktu kelas 2 dibilang sama ibu gurunya bodoh. Saya tidak terima. Akhirnya pindah sekolah dan mulai cari-cari konseling dan psikolog kemana-mana. Alhamdulillaaah dapat yang pas di hati orangnya hehehe..

Dilihat keseharian cenderungnya apa, mbak.. Bulu tangkis mungkin.
Sebelum ketemu sama psikolog, Masya Allah.. Dirumah itu … Indaaah! Ada saja yang bikin kita tarik nafas..
S: zabaaarrrr😁

Y: Benar mbak S sabarnya pake z…
Segala crayon ditumbuk di cobek.. Ketahuan Pas mau masak nasgor mau ulek cabe..padahal laki-laki.
😖😖

Iq: ikut nimbrung setuju dengan bunda H …jangan khawatir berlebih …setiap anak itu unik menurut saya, tinggal kita mengolah melihat potensi anak. Pernah sepertinya di bahas.
Anak saya 3. Si sulung 7 tahun  kalo liat dia masya Allah mandiri cepat nanggap apa aja gak disuruh hafal langsung bisa sendiri.
Berbeda dengan anak kedua,  5 thn 4bln … persis seperti Mba H katakan lebih aktif di saat kakaknya dulu usia 4 tahun setengah, juz amma al fajr. Anak kedua mah gak maju-maju di al qoria  dan usia 5 thn belom bisa baca lancar padahal kakaknya sudah lancar arab indo membaca.

Kadang mikir gue makan apa waktu hami tapi ..alhamdulillah nih  nikmat yang harus di syukuri ..dan bagi saya itu bukan ukuran …
anakku hebat hanya belom saya ketahui apa yang tepat untuknya

Anak nomor 2 lebih sensitif di balik ke lincahannya. Ketika saya sakit duluan airmatanya menetes  dan gesit beresin mainannya. Tapi kalau saya sehat huhuyyy jangan ditanya

Yn: Pikiran yang sama mbak. Perasaan hamil gak aneh-aneh. Makan biasa saja kalau dibanding  dengan kehamilan adiknya. Hanya kadang saya worry. Mesti bagaimana. Karena belum ketemu format yang pas untuknya
S: laki ga apa-apa dong turun ke dapur😉

M: Mirip kejadiannya dengan anak saya yang sempat dibilang autis sama gurunya. Akhirnya saya konsultasi ke psikolog, dikatakan anak saya baik-baik saja. Aktif & kreatif cuma gurunya yang kurang kreatif 😁
Akhirnya di anjurkan pindah sekolah, cari sekolah yang bisa mengakomodasi keaktifan anak saya. Alhamdulillah anak-anak saya sekarang sangat enjoy di sekolah alam bandung.

Iq: kalo ada tamu dan saya masih ganti baju anakku nomor 2 akan menjamu dengan kisahnya,  hahaha kayak emak-emak dia akan bertanya tante gimana kabar,sudah makan? makannya dimana? Aku punya buku baru, mobilku mogok lho abis akinya, ummi belom ada duit, kasian ummiku hahaa dan sebagainya …jadi jangan pernah cerita rahasia bakalan dia cerita kemana-mana.
S: sip! jangan langsung percaya omongan orang (guru)😉

Iq: jadi pasti ada kelebihannya cuma kita belum menyadari

Yn: Gpp memang, Mbak.. Malah sekarang minta bantu cuci piring dan menyapu, hehehe

S: 😇😇

Yn: Kalau disuruh masak semangat walaupun kadang ceroboh dan sok tahu.. 😅😅
S: hahaha, harus ada tes buat ortu😁

Yn: Sekarang bagaimana anaknya, Mbak M?

Tn: Ibu-ibu, kalau mau konsultasi dengan psikolog untuk masalah seperti di atas harus pergi kemana, ya? Kisaran biaya kira-kira berapa? barangkali ibu-ibu punya pengalaman?

Iq: hihi test orang tua boleh juga, usulan bagus, ikut daftar.

M: Alhamdulillah sangat enjoy di sekolah alam.
Apalagi kalau dapat guru yang tahu bagaimana cara belajar yang pas buat anak-anak.
Karena  tadi disebutkan masing-masing anak punya kelebihan alias kecerdasan yg berbeda-beda.
Kebetulan anak yang no 2 ini cenderung kinestetik. Jadi lebih mudah belajar dengan praktek langsung dan ini didapatkan di sekolah alam ini.

Oh ya waktu saya konsultasi ke psikolog 4 tahun yang lalu (RS Islam Cempaka Putih 200 rb). Psikolognya langsung nanya ada apa ini kenapa anaknya? Saya lihat baik-baik aja kok. Gak usah test IQ segala. Udah keliatan cerdasnya. Gurunya aja yang musti ganti..kurang kreatif 😁

S: 😅😅

Yn: Dulu di sekolah yang pertama .. Saya harus bikin surat perjanjian sama kepsek  yang isinya kalau saya mengakui anak saya bodoh dan kalau tidak naik tidak akan gugat.. 😁 Aarrggh..
Psikolog banyak kok, Mbak.. Di rumah sakit juga menyediakan.
S: sekolah macam apa itu??? 😠

Yn: Benar mbak padahal sekolah islam.. Hadeuuhh.. Kalau sekarang lihat sekolahnya. Kadang miris n pengen nangis saja.
M: Hehe.. sekolah yang bilang anak saya autis itu juga sekolah islam😁

Yn: 😭😭😭😭

4 tahun yang lalu 250rb. Entah sekarang mbak.

H: Saya mau sharing tentang pengalaman saya mengajar. Pengen berbagi tentang _learning style_ anak-anak yang bisa berbeda satu dengan lainnya.
Di tempat kerja saya, setiap guru yang akan mengajar Children Class dibekali dulu dengan training (yg salah satu materinya tentang _handling children class_).
Bedanya ngajar orang dewasa dengan anak-anak ada di persiapannya. Ngajarnya hanya 1-1,5 jam per sesi tapi persiapannya bisa lebih dari sehari 😀.
Ngajar anak-anak itu selain what (materi yg diajarkan), yang paling penting adalah *how* (cara materi disampaikan).
Salah satu dari sekian banyak how itu adalah mengakomodir gaya belajar siswa.
Misal, materi hari ini tentang *things in the classroom*.
Guru harus menyiapkan pictures, realias (benda aslinya), recording/video showing untuk listening, dsb.
Aktivitas yang dilakukan bisa dengan:
*mencocokan gambar dengan tulisan.
Untuk visual learners, mereka lakukan aktivitas ini di tempat duduk sudah cukup.
*mencocokan gambar dengan nama gambar dalam bahasa Inggris yang diucapkan guru.
Untuk auditory learner, mencari gambar sambil mendengar guru mengucapkan kata sudah bisa.
*mencocokan gambar yang disimpan acak di satu sisi kelas kemudian anak harus mengambil kata yg disimpan di sisi lain kelas dengan berlari, ini cocok untuk kinesthetic learner. Apalagi kalau ditambah dengan main cepet-cepetan. Mereka suka berkompetisi.
Itu satu dari sekian banyak aktivitas belajar yg mengakomodir gaya belajar anak.

Sebenernya nulis ini saya jadi inget cikgu Anna ☺. Proyek pribadi yg belum selesai. 😁
M: Kereenn👍🏻👍🏻👍🏻

H: Hal sedikit yang saya tahu dan praktekan pas ngajar bahasa Inggris, saya coba praktekan juga untuk hal lain ke anak sendiri.
Misal, si Tengah bisa dengan mudah menghapal kalimat ini *proses pembekuan adalah berubahnya zat cair menjadi zat beku*. Diterangkan dengan kalimat dia langsung paham. Nah, beda dengan si Sulung. Saya harus ajak dia langsung mempraktekkan air dalam kantong plastik yg disimpan di freezer dan akhirnya jadi es batu.
Salah itu hehe.. benda cair menjadi benda padat.
Eh bener ga? 😅

K: 😄 anggap saja benar…
Btw, soal memilih sekolah… saya masih susah “move on”… pingin anak-anak saya yang ke-2,3,4 bisa dapat sekolah seperti anak pertama 😊
Anak pertama saya mungkin kebalikannya (dari yg “dianggap” hiperaktif maksudnya), meski tidak juga bisa dibilang begitu, karena dia juga aktif klo lagi main…
di TK dia sempat jadi “korban” “keaktifan” temannya (bagian muka ada yg terluka), tapi ngakunya ke saya, jatuh dari ayunan… saya baru tahu yang sebenarnya setelah diberitahu oleh gurunya… 😄

Y: 👍🏿 mbak H,
Boleh, kan di praktekin sama anak-anak buat maen di rumah

K: Saya juga sempat harus menunggui saat awal-awal masuk TK, bahkan SD (hingga sepekan pertama)…
Tapi asuhan & bimbingan guru-guru di SD-nya membuat dia banyak “berubah”, jadi lebih berani, bahkan sejak tahun pertama sekolah dia sudah ikut pondok romadhan (menginap) tanpa menangis ingin ditunggu atau pulang…

Y: Butuh contoh yang real, bukan abstrak

K: Dan terus begitu setiap tahunnya… bahkan untuk kegiatan kepanduan, dengan penuh keyakinan dia menerima tawaran ikut kemah (diadakan JSIT se-jatim waktu itu) selama 3/4 hari…
Sebagai ibu, saya merasa leggaaa… 😊😊

K: Sempat baca-baca, kalau anak yang “super aktif” itu harus sering-sering dipeluk…
Anak ke-4 sy, usia 4 thn, suka berlarian, panjat-panjatan… bekas yg ditinggalkan sudah banyak (bekas luka krn jatuh atau apalah 😄)… tapi buat saya itu “wajar” siiih… (smoga saya gak salah anggap 😁) daripada diam saja, ntar malah susah…
Naah, biasanya buat “ngerem”-nya, saya tangkap & peluk dia, ajak ngobrol… lumayanlah… sesaat berhenti meski akan kembali lagi jika dirasa “energi”-nya masih cukup (menurut dia tentu saja 😜)…
Suami sy sering komen, “mari di-charge?” kalau melihat dia lagi aktif sekali 😊
Maaf, jadi bikin cerpan…
😄🙏🏻🙏🏻🙏🏻

H: Maklum saya bukan guru sains. 😅
*ngeles
👍🏻😊
Betul, mba.
Untuk sebagian anak2, membayangkan dan memvisualisasikan sesuatu/pernyataan mudah. Untuk sebagian lainnya, mereka harus mengalami/mempraktekan (hands-on experience)
Ini persis Bungsuku. 😊
Dia juga suka lari2an di rumah. Satu waktu sy hentikan dengan memeluk. Responnya malah gini, “Bund, tau Mowgli kan yg di jungle book? Mowgli kan keren larinya cepet dan bisa manjat. Aku mau ky Mowgli. Jadi skrg aku latihan lari cepet.” Dia lepas pelukannya dan lari2 lagi di dalam rumah. Emaknya cuma bisa senyum aja. 😀

K: 😄👍🏻👍🏻
Y: Sharing yang 👍🏿👍🏿👍🏿😍

L: Dulu, sulung saya (perempuan) juga begitu. Pohon biola cantik yang masih kerabatnya beringin itu dipanjatnya sampai ke atas, sampai kelas 5 SD. Begitu memasuki kelas 6, saat jadwalnya makin padat (ada pendalaman materi, les vokal, paduan suara, latihan angklung, tugas2 gambar ilustrasi), baru deh berkurang. Sepertinya karena cukup lelah, dan energinya tersalurkan. 🙂

N: Anak sulung saya dulu juga banyak gerak. Menghafal materi pelajarannya sambil naik skuter pedal itu keliling2😄
Keliatannya aneh,  tapi kata dia lebih enak begitu,  lebih cepet hafalnya.
Kalo lagi tanya jawab soal2,  saya duduk manis dia naik turun tangga sambil menjawab pertanyaan saya 😀
H: Kinestetik banget. 😊👍🏻

N: Iya,  saya jadi maklum setelah mencari tau lewat bacaan bahwa gaya belajar dia kinestetik. Padahal sebelumnya saya cukup sering minta dia duduk diam kalo lagi belajar,  karena ketidaktahuan gaya belajar ini.
Anaknya hampir tidak pernah tidur siang. Waktunya dihabiskan dengan bersepeda, menggambar, menjahit,  membuat sesuatu entah apa 😄 sepanjang hari keliatannya sibuk saja.

Iq: bunda H seandainya semua sekolah gurunya seperti mbak H …kenyataannya banyak para guru yg sekedar guru mengajar duduk di depan kelas

Iq: moga kedepannya mgkin pemerintah melalui menteri pendidikannya bisa berikan traning khusus utk anak2 bahkan ada traning khusus jg utk org tua biar seiring sejalan …
*traning utk guru2 utk anak2
K: 👆🏻hihi… sulit… (meski bukan tdk mungkin) 😄
*guru yg seperti mbak H itu muncul karena kesadaran diri (mendidik) yg tinggi & jiwa mengabdi yg luar biasa… meski guru juga tdk bisa disalahkan, krn memang tuntutan kurikulum yg “luar biasa”… 😁
H: 😁
Sy mengajar di lembaga pendidikan non formal.

Y: Mbak H guru toh
N: Waaah pas sharingnya dg putra sy yg kinestetik😍

Iq: usulan buat teh suci nih utk hari2 ngobrol bebas gimana kalau para guru share ilmunya menghadapi murid2 yg pasti latar blkg berbeda
L: Setuju..👌
Suci Shofia: silakan buat para pendidik utk berbagi ilmu di sini😉
disesuaikan jadualnya saja tidak mengganggu aktivitas utama
Iq: nahh sdh bersambut tuh 😍 alhamdulillah monggo para pahlwan tanpa tanda jasa …formal in formal homescholling bagi ilmunya.. hihi

Suci Shofia: semua anggota kulwap boleh kok berbagi ilmu. selama masih dalam koridor parenting dan marriage, ayo aja😎

Misal Mb Iqa yang pengalaman ngajarin ananda berbahasa arab, bisa dibagikan di sini😉

Y: Setuju…
😍😍😄

Nah ini bisa yang guru bahasa inggris bisa di tularin… 😘😘

Iq: ixixix kalo yg nih ada senior saya di sini mbk halimah😘
sy masih bersilang pendapat dengan para guru2  dalam memberi penilaian ..sepertinya terlalu pelit dlm memberi nilai dan krg menghargai upaya anak2 dan emak dirumah.
kira2 gimna pendpt para teman2
😬

S: hargai, dong, Mb Iqa. sekecil apapun pencapaian mereka😉

N: Pemberian nilainya berupa angka atau huruf mbak?
Kalo angka keliatan banget besar kecilnya ya…
Saya sebagai ortu melihat reaksi anak kalo dapat penilaian berupa angka itu saat angkanya kecil ekspresj mereka gimanaaa gitu.
Saat diberi penilaian berupa label “Hebat!” atau “Coba ditingkatkan lagi” mereka lebih enjoy

H: Sy anak bawang kok, Mbak 😁

Iq: itulah yg baru2 terjdi di uts sy tdk sependapat dgn guru yg mengatakan melihat kejelian anak pdhl anak masih 7 thn yg mrk tau baru bahasa yg jelas bukan yg tersirat sampe anak sy nangiiss krn bener semua hanya krn tdk jeli alasan guru …
pdhl nih bukan hanya 1 seandainya 1 org mgkin human eror tapi semuanya 1 kls bisa dibayangkan emosi meluap2 bu ibu ke sy minta di gugat 😬

kata suami sy dunia barat tdk mementikan A nilaimu tapi kerjamu sangat menghargai usaha …ntah deh dunia pendidikan di Indo sy jg krg paham tapi seingat sy sd guru sy akan berdiri mengucapkam selamat ke anak2 ats pencapaian
koq makin kesini sy pribadi merasakan dunia pendidikan di skl bahkn yg dikatakan skl modern seperti jauh bgt dri kta mendidik manusia tapi lebih dkt ke menciptkan robot manusia
apa ini perasaan sy 🤔🤔

Is: Teman anak saya yg masih paud, sudah dileskan baca tulis
Apa gak kebangetan ya ibunya, alasanya kalo TK biar udah lancarrr

K: Baiknya umur berapa ya ibu-ibu kita ajarin anak mulai mengenal huruf atau membaca?

Anna Farida:

💐💐💐
https://drive.google.com/file/d/0Bz1FU9tw35YMM0tjN21ON3RxM1E/view?usp=sharing
Semoga ebook terbuka

 Anna Farida: Itu ebook Biasa Baca Sejak Balita bagi yang belum punya 👆
[10/11, 5:43 PM] Anna Farida: Terima kasih diskusi bernas Teman-teman tentang anak anak aktif dan kinestetis (tis atau tik saya belum cek di kamus 🙈)

Y: Kebanyakan ibu2 di sekitar saya memang mengharapkan ketika anak nya tk sudah bisa baca tulis
Bahkan untuk masuk tk a, katanya ada “tes” untuk anak baru kalo mereka harus sudah bisa menuliskan namanya sebelum masuk tk

Eu: Ibu2, anak saya 6 thn tgl 15 bulan ini.  Skrg kelas 1 sd  tp masih belum bisa baca lancar.
Kalo belajar di rumah belum lama sudah bosan.
Jadi dia suka terlambat kalo mengerjakan tugas di sekolah dan akhirnya suka nangis.
Tindakan bijak seperti apa yg harus saya lakukan karena terlanjur masuk sekolah dasar😢😢
[H: Berarti waktu msk SD msh blm genap 6 thn ya

N: Bukannya masuk SD sekarang 7 tahun ya bu? Di tempat saya minimal 6 tahun 8 bulan.
H: Ditarik lg aja bu. Ntar thn dpn dftr lg 😁
H: Kalo masalah EBI mah, sy nyerah 😄

N: laki ato perempuan?

N: Anak saya masuk sd 6 thn 2 bln.. bisa ngikutin pelajaran sih.. cuma kasian jg pelajaran kls 4, 5, 6 Sd sekarang.. wiiiih beratt banget kalo menurut saya.. terutama ipa, pkn, ips..  bisa2 dah lulus lgsg jd dokter, gubernur ato ahli sejarah… rinci banget
Eu: Iya😢 saya terpaksa masukkan dia ke sd karena udah paud dari usia 2,5. Terpaksa dilakukan karena gak ada yang jaga di rumah . Kebetulan paud nya itu sekalian daycare.

Y: Anak-anak saya lahirnya pas bulan masuk tahun ajaran baru, agustus sama juli😊

N: Taun ini adiknya mau masuk  sd..usia nya 6,5thn.. tp kalo ga masuk ga akan saya paksa.. gpp taun dpn aja

Eu: Perempuan,bu.

El: Saya menikmati setiap fase anak..
Tdk akan memaksakan…
Meski umur 3 tahun sdh banyak hafal ayat2 (dikarenakan sering mendengar), tetapi dia sama sekali belum kenal huruf..😊
Klo nanti sekolah tdk membuat anak saya enjoy, bismillah, mungkin saya akan melakukan home schooling saja. Yg penting hidup ini adalah bahagia, tdk dalam tekanan. Kasihan Klo anak tak bahagia.. cukup kita orang tua yg kenal tekanan dr tanggung jawab2 yg ada.. masa anak2 mah jangan 😂
Saya jg waktu kecil, besok akan ebtanas, malamnya saya dibiarkan main kok.. 😁😁 bahagia rasanyaaa 😍😍😄

N: tanya aja bu anaknya ,,,nyaman ato ga nya, mau dilanjut ato tidak…

klo sudah tdk nyaman mending dicabut aja..kemudian cari sekolah yg RAMAH anak,,kasian klo gitu terus mah…

takutnya kita telat ngambil keputusan seperti sodara sy,,,awalnya dy belum siap sekolah SD,tp krn usianya udah masuk(kata ortunya) akhirnya dipaksa sekolah.krn d SD negeri anak itu,yg belum bisa calistung teh d anggap ‘bodoh’,,jd dy minder n suka paling belakang terus akhirnya dy ga mau sekolah,,,,ampe sekarang yg harusnya sekarang udah SMA,tp dy ga sekolah formal,informal ato HS ga sama sekali,,,dan ortunya udah ga peduli lg,krn dianggapnya ga nurut sama ortu,,,
E: S, chatt disini saya tunjukan k adik ipar, biasa cupture it. mau ajak dia maksudnya.. hihihi malah jadi salah paham 🙈🙈
Yg sulit adalah saat orangnya tdk terbuka utk menerima masukan.. sdhlah, saya mengalah dl 😊

Em: Sebenarnya saya juga gak suka dengan sistem belajar di sekolah itu. Anak kelas 1 udah ada mid test dan ukuran  hurufnya kayak utk anak kelas 3 bahkan anak smp. Jauh dari latihan utk kelas 1. 😢😢😢
S: bisa😊
hehehe, yang penting dah usaha 😉
semoga segera mendapatkan hidayah😊
E: Aamiin 😇
Ni: Ukuran huruf buat apaan? Penting gitu ya ukuran hurufnya buat anak 6 tahun 😌

Sa: Kalau di buku anak, ukuran huruf sangat diperhatikan. Terutama kalau target pembacanya anak yang baru belajar baca. HARUS ukuran besar, teks singkat, pilihan kata sederhana.

Ini penting sekali untuk menjaga agar anak gak kehilangan selera atau gak paham apa yang dibaca. Karena rentang waktu konsentrasinya juga masih singkat. Jadi diperhitungkan sedemikian rupa agar anak paham apa yang dibaca, bukan sekedar bisa baca saja.

Mungkin maksud Bunda Em mempertimbangkan hal tsb.
Em: Kalo menurut saya ukuran huruf utk anak sd kelas 1 sangat penting apalagi untuk anak yg belum lancar bacanya. Seharusnya soal diberikan dengan bantuan gambar yg menarik dan huruf yg lebih besar.

Yups…benar sekali bu sayidah.

Ni: Oh gitu..
Saya tdk ngerti pembicaraan ukuran huruf ini 😄

Ni: Saya kira anak2 disuruh menulis dengan ukuran huruf tertentu. Maaf maaf..

N: bu Em,pernah diskusikan hal ini dgn pihak sekolahnya?
mungkin mereka bisa lebih bijak menyikapi anak didiknya..😊

Em: Belum. Iya saya akan bicara kan dengan fihak sekolah.
Terima kasih y all mothers atas masukannya.

Iq: terima kasih banyak jg semua bunda2 yg udh berbagi Iq: ok terbuka mbk anna .syukron

Anna Farida: Sip

H: Terima kasih, mba Anna.

H: Alhamdulillah beberapa poin di e-book ini sudah sy lakukan untuk anak si Tengah dan si Bungsu.
Waktu Sulungku masih kecil, emaknya belum nemu cara2 ini. Masih _trial and error_, gitu 😁.
Tapi beneran loh terlihat beda hasilnya sekarang. 😊
H: 👍🏻😊
K: Terima kasih e-book nya mbak anna 😊🙏

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s