Melatih Kemandirian pada Anak

Kuliah via WhatsApp (Kulwap) ke 55 kali ini membahas tentang kemandirian pada anak. Sering dong, lihat anak yang usia 8 tahun masih disuapin, baju dibantu memakainya bahkan mengancingkan juga dibantu. Salah ga sih? Baca yuk materi berikut ini.

Anna Farida:

Salam Sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap kita yang ke-55.

Hari ini kita merumpi bersama tentang melatih kemandirian pada anak.

Sebenarnya ini edisi curhat, karena saya pun masih naik turun dalam hal konsistensi menjaga ritme kemandirian anak-anak saya—terutama ketika waktu sudah mepet.

Ini contohnya. Yang mengalami hal yang sama boleh angkat tangan.

jam dinding menunjukkan pukul 6, dan putri saya, 9 tahun, masih sibuk dengan plastisin yang baru dibeli kemarin.

Beberapa kali saya ingatkan untuk segera siap-siap ke sekolah, dia bilang “sebentar lagi”. Dua kakaknya masuk sekolah lebih siang, jadi mereka masih ngobrol ke sana kemari. Saya pun terbawa suasana sibuk, pegang hape, dan mulai lupa menyanyi, eheheh.

Tiba-tiba ada yang berteriak, “Ibuuu! Sudah setengah tujuuuh!”

Si bungsu berlari ambil baju, tak sempat mandi lagi. Saya setengah mati menahan diri untuk tidak berkomentar. Toh saya juga berperan membuat dia terlambat dengan membiarkannya asyik pada saat yang tidak tepat.

Pada saat seperti itu, dia mendadak ingin pakai kerudung dengan cap kupu-kupu yang mendadak juga lenyap. Pensil yang semalam dia raut pun tinggal satu. Mulailah dia uring-uringan, dan akhirnya menangis karena kedua kakaknya terus saja membahas game sambil tertawa-tawa.

Kata saya, “Qosima, hari ini pakai kerudung ini saja. Ayo Ibu bantu siap-siap.”

Tanpa menunda waktu lagi, dalam waktu lima menit saya bergerak dengan kecepatan super.

Sret! Sreeet! Gadis cilik itu langsung rapi. Saya sambar tasnya—ya ampun, ternyata bekal masih belum ada!

Saya ambil kotak makanan dan memasukkan kue apa pun ke dalamnya, mengisi botol air minumnya, lantas segera membantunya pakai kaus kaki dan sepatu.

Sepuluh menit kemudian dia sampai di sekolah sambil terengah-engah. Adegan peluk-peluk dilewat, digantikan sun tangan kilat. Dia berlari cepat, tas punggungnya berayun-ayun, seolah ikut takut terlambat.

Saya lega.

Dalam perjalanan pulang, saya bertemu tukang sayur dan segera berbelanja. Hari ini mau masak ikan goreng dan cah kangkung saja. Cukup lama saya di sana, menunggu antrean panjang agar ikan bisa dibersihkan dan dibuang kepalanya.

Di rumah, saya segera memasak, menjalani hari seperti biasa, hingga keesokan hari terdengar teriakan yang sama, “Ibuuu sudah setengah tujuuuh!”

Saya pun mengulang gerakan cepat yang sama, membantunya.

Ini tidak benar.

Yang saya lakukan adalah menghindari masalah jangka pendek —-> terlambat sekolah.

Yang saya lakukan adalah menjadikan putri saya kehilangan kemandirian, mengandalkan bantuan saya—karena memang terbukti selalu menyelamatkan dia dari terlambat—dan makin jauh dari disiplin.

Salah siapa?

Wait. Blaming is easy but reflecting is better. Jika Anda pernah atau masih hobi bertingkah sebagai juru selamat dadakan bagi anak, mari belajar bersama saya, ehehe:

1.    Bantu Mama
Minta anak untuk membantu “Anda” berubah. Saya katakan kepada gadis kecil saya, juga pada para pemuda di rumah saya, “Maaf. Ibu kok memperlakukan kalian seperti bayi, padahal kalian sudah besar dan bisa melakukannya sendiri. Bantu Ibu untuk lebih pede membiarkan kalian membereskan urusan sendiri. Sip?”

2.     Buat daftar kegiatan yang bisa dia lakukan sendiri, tuliskan, beri kolom check list. Bahas dengannya, tugas mana yang berat dan dia perlu bantuan, mana yang dia bisa lakukan sendiri.

3.    Pak, Bu, buat prioritas. Rasanya saya pernah kasih contoh dalam kulwap sebelumnya. Jika prioritasnya adalah berangkat sekolah tepat 06.30 WIB, jangan ajak dia belajar menyeterika baju sendiri pagi-pagi. Mainan berantakan sementara boleh diabaikan, mandi kurang bersih juga biarkan. Yang penting prioritas tepat waktu hingga dia menemukan ritmenya, baru tambah tugas baru—nyuci karpet, misalnya #halah!

4.    Atur waktu. Putri saya punya kebiasaan makan sambil melakukan apa saja—baca, beresin kartu-kartu, ngobrol … apa pun yang bikin makan jadi lama! Saya sudah hafal kebiasaannya, jadi seharusnya saya mulai mengajaknya sarapan 10-15 menit lebih awal. Dia tetap bisa makan sambil rempong bahagia, berangkat tepat waktu. Kalaupun saya memintanya bergegas, nada suara saya akan lebih positif.

5.    Ada yang salah? Santai saja. Salah satu anak saya rajin sekali beres-beres. Saking beresnya, barang-barang hilang karena dia angkut semua dan dipindahkan ke lokasi yang tidak biasa. Buku tulis adiknya yang tergeletak di meja makan pun kena angkut dan ini bikin masalah baru 😀

Saya siasati dengan keranjang ajaib: semua barang yang menurut dia berantakan harus dimasukkan ke keranjang itu. Jadi kalau ada bidak catur atau saus sambal hilang, kami akan mencarinya di sana 😀

6.    Beri pujian, beri pelukan, ucapkan terima kasih. Ketika dia berusaha melakukan hal sendiri, bagaimana pun hasilnya atau efek sampingnya—haha—beri dia pujian.

7.    Lihat situasi dan kondisi. Ketika anak sedang murung atau tak enak hati, biarkan dulu dia sampai nyaman.  Sabar dulu melihat tas berantakan atau piring yang tak segera dibawa ke dapur—tunggu beberapa saat. Tanya dia, “Sudah enakan?” jika sudah, lanjutkan, “Yuk, kita bereskan piringnya.”

8.    Sudah hafal langkah 1-7 dan Anda tetap menjelma jadi “juru penolong dadakan”? Tenang, kita tetap berteman. Ingat, start – restart. Start – restart.

Nah, sudah terlalu panjang, mari merumpi.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Tanya jawabnya ada di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s