Tanya Jawab Melatih Kemandirian Pada Anak

Senin di awal bulan (3 Oktober 2016)  1:18 siang

Ada 2 pertanyaaan yang berkaitan dengan materi kemandirian. Berikut pemaparannya:

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Saya mohon izin menge-post jawaban pertanyaan hingga ada tanda cek.

Tanya 1:

Saya dan suami sudah dan sedang melatih kemandirian untuk anak-anak sesuai usia mereka. Anak pertama sekarang sudah SMP kelas 9. Dia sudah bisa pulang sekolah sendiri (2 kali ganti angkot) sejak kelas 7. Sesekali saya jemput kalau dia harus ke tempat les yang tidak dilalui angkot. Kalau saya jemput, sepanjang perjalanan dia suka tanpa sadar cerita (enggak sengaja curhat yang keceplosan😊). Padahal di rumah anaknya diem jarang cerita. Pulang sekolah, mandi makan terus langsung masuk kamar.

Pertanyaannya:

Demi dapat cerita dan curhatan dia, saya maunya jemput pulang sekolah. Tapi demi kemandirian dia, saya mau dia belajar pulang sendiri naik angkot.
Lebay enggak sih kalo saya dilema tentang masalah ini. 😁. Baiknya gimana ya?

Jawaban Bu Elia Daryati:

 Pada masa remaja. Anak biasanya sudah lebih dekat dengan kelompok daripada kepada orang tuanya. namun  hal tersebut tergantung pada pola komunkasi dan pola interaksi keluarga itu sendiri. Jika dikatakan anak lebih mudah berbincang-bincang terbuka dalam mobil, sepulang sekolah, kondisi ini menunjukkan bahwa anak cukup nyaman pada situasi tersebut. Padahal sebagai orang tua, ibu sedang menanamkan sikap kemandirian dengan membiarkanya menggunakan kendaraan umum. Bagaimana cara mensiasati agar keterbukaan anak tetap terjaga, dan kemandirian tetap terproses dengan baik.

 Orang tua tugasnya adalah harus mencari situasi yang sama. Situasi yang sama atau mirip. Orang tua harus melakukan penjelajahan (discovering ability), seperti menjelajah Dimana kemandirian terbangun dan rasa nyaman tetap terjaga. Apakah ada cara lain untuk membangun kemandirian anak selain naik kendaraan umum atau mencari cara lain untuk mencari kondisi rasa nyaman anak? Sehingga ibu dan suami tetap dapat menggali informasi mengenai kondisi up to date anak tanpa harus memangkas kemandirian anak yang sudah terbangun.

Jawaban Anna Farida:

Menurut saya, tidak ada yang lebay ketika menyangkut quality time (QT) dengan anak.

Jika anak memang lebih nyaman bercerita saat diantar jemput, raih kesempatan itu.
Saat ini QT dengan anak dan pasangan itu mahal bangeeet.

Melatih kemandirian anak tidak selalu dengan memintanya naik angkot, bisa dengan cara lain.
Anak SMP bisa diminta mengurus urusan pribadinya, misalnya cukur rambut, ke pasar, mengatur menu makan, bikin daftar tugas, dsb.

Prinsipnya, QT itu prioritas – sip?

Tanya 2:

Bisa dijelaskan batasan kemandirian anak berdasarkan usia? Kemandirian dalam hal apa saja yang seharusnya dimiliki anak usia TK, SD, dan SMP?
Terima kasih.

 Jawaban Bu Elia Daryati:

Kemandirian,  secara umum dapat dikatakan:

Kemandirian merupakan sikap mental seseorang yang memungkinkan  untuk bertindak  secara independen dan bertanggung jawab  untuk bertiingkah laku sesuai dengan norma-norma yang berlaku di lingkungannya. Dimana seseorang berupaya untuk  berusaha melakukan segala sesuatu dengan jujur dan benar atas dorongan dirinya sendiri dan kemampuan mengatur diri sendiri, sesuai dengan hak dan kewajibannya, sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.

Pada dasarnya, secara alamiah setiap anak telah memiliki sikap mandiri dan mampu memecahkan masalahnya sendiri. Dengan demikian setiap individu itu memang telah terlahir sebagai mahluk yang mandiri. Pertanyaannya kenapa pada akhirnya banyak anak atau bahkan individu dewasa yang tidak tumbuh secara mandiri. Sikap kemandirian ini menjadi berkembang secara sehat terkait dengan pola intervensi dari orang-orang di sekitarnya. Apakah termunculkan, terarah dan terproses dengan baik, semua bergantung dari pemberi input awal dalam pola pengasuhan.

Pada intinya, orang tua bertanggung jawab pada pengolahan kemandirian anak secara mental, sehingga anak pada masanya dia akan menjadi subjek bagi dirinya. Jika ditanyakan masalah tahapan kemandirian pada anak sampai dengan remaja. Saya akan memberikan gambaran tahapan perkembangan secara umum, sehingga kita menjadi lebih tahu fokus utama bagi pengembangan kemandirian anak seperti apa.

Masa TK : merupakan masa pra sekolah. ini merupakan masa stimulasi awal baik secara fisik maupun mental.  Pasa masa ini merupakan masa pembentukkan kemandirian yang berujung pada kemampuan toilet training. Artinya anak mulai belajar mengontrol dan peduli pada tubuhnya, melalui activity daily living . Pengarahan pada kemampuan melayani untuk menolong dirinya ini merupakan kemandirian dasar  yang berujung pada kemandirian mental pada akhirnya.

Masa SD : merupakan masa stadium belajar, dimana anak mulai diarahkan untuk memahami tugas utamanya, ketika di usia 12 tahun mulai terbentuk motivasi internal anak. Anak mengetahui apa yang harus dilakukannya di masa stadium belajar ini. Jika pada masa sebelumnya pembentukan kemandirian mental anak belum terbangun, pada masa ini motivasi anak untuk bertanggung jawab terhadap tugas stadium belajarnya lemah, sebaliknya jika masa periode sebelumnya terlampaui dengan baik maka pada masa ini anak memiliki motivasi diri yang baik.

Masa SMP dan SMA, merupakan masa pembentukan tanggung jawab anak  untuk memiliki orientasi ke masa depan. Masa ini merupakan masa remaja awal, di mana mereka sedang mengembangkan jati diri dan melalui proses pencarian identitas diri. Sehubungan dengan itu pula rasa tanggung jawab dan kemandirian mengalami proses pertumbuhan. Kematangan seksual anak sudah cukup matang dan anak mulai beranjak pada orientasi masa depan dalam meraih cita-cita.

Jawaban Anna Farida:

Sejauh yang saya baca dan amati, secara umum memang ada panduan tumbuh kembang kemandirian anak. Misalnya, anak TK seharusnya sudah tuntas dengan toilet trainingnya, usia 7-14 mulai belajar, didampingi, kemudian rampung dengan urusan pribadi dari yang ringan hingga berat: mandi, makan, berpakaian, tugas sekokah, membantu orang lain.
Usia 14-21 mulai lebih banyak membantu orang lain karena urusan pribadinya sudah banyak yang tuntas sendiri.

Namun demikian, perkembangan kemandirian anak sangat tergantung pada latihan yang dia terima sejak kecil.

Artinya, ada anak 6 tahun yang sudah mandiri bahkan membantu orang lain, ada pula anak 14 tahun yang masih bikin ibunya bernyanyi setiap pagi 🙈

Jadi yang asyik adalah mengajak anak terlibat dalam kegiatan sehari-hari baik yang menyangkut kepentingannya maupun kepentingan orang lain.

Meminta anak mandiri tentu berbeda dengan mengajaknya ikut terlibat, dong, yaaa.
[10/3, 1:21 PM] Anna Farida: Sampun, Mahmud Admin. ✅

Saya mengundang teman-teman untuk berbagi trik mengajak anak mandiri berdasarkan usia.

Terima kasih atas pertanyaannyaaa

Advertisements

One thought on “Tanya Jawab Melatih Kemandirian Pada Anak

  1. Pingback: Melatih Kemandirian pada Anak – uchishofia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s