Tanya Jawab Perdagangan Anak Laki-Laki

traffiking-kccd-org
kccb.org

Senin, jam 1:21 siang waktunya menampilkan jawaban pertanyaan dari peserta Kulwap Keluarga Sehati, yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With heart. Hayu ah, mari limpahi anak-anak di sekeliling kita dengan penuh cinta dan kasih sayang. Caranya? banyak-banyak belajar ilmu pengasuhan, bisa dari tetangga terdekat yang begitu indah menerapkan pola asuh, bisa dari buku, komunitas, ikutan kulwap Keluarga Sehati, dan masih banyak lagi lainnya.

Tanya 1:
Anak saya usia 3 tahun, sudah mulai saya ajarkan perbedaan seksual dan menjaga anggota tubuhnya. Sebaiknya usia berapa mulai diajarkan tentang bahaya yg bisa mengancamnya, atau apa yang sedang terjadi dengan isu LGBT ini?

Jawaban Bu Elia Daryati:

Tujuan pendidikan seks diberikan kepada anak disesuaikan dengan usia perkembangannya. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan organ seks yang dimiliki, seperti menjelaskan anggota tubuh lainnya, termasuk menjelas­kan fungsi serta cara melindunginya. Pada balita usia 3 tahun cara berpikir anak masih sangat konkrit. Saat yang paling tepat untuk mengajarkannya adalah ketika sedang memandikannya. Di usia ini juga, seorang anak sudah bisa diajarkan apa itu perempuan dan laki-laki.

Dijelaskan bahwa anak harus menjaga seluruh tubuhnya, karena anggota tubuh adalah milik pribadi yang harus dijaganya baik-baik. dalam hal ini termasuk organ yang harus dilindungi adalah alat kelaminnya. Tidak sembarang orang dapat menyentuh dan harus menolak segala macam bentuk kasih sayang yang dinyatakan melalui sentuhan fisik.

Untuk mempermudah penjelasan, bisa digunakan visual support dengan menggunakan gambar, agar anak bisa menangkap secara visual bagian-bagian tubuh mana yang tidak boleh sembarangan orang menyentuhnya..

Adapun penjelasan LGBT, tidak terlalu urgent untuk disampaikan, menyampaikan bahwa tidak semua orang boleh menyentuhnya baik laki-laki maupun perempuan, itu saja sudah tersirat. Penjelasan konkrit mengenai LGBT masih tidak terlalu mudah untuk dicerna, mereka pun masih baru diajarkan mengenai jenis laki-laki dan perempuan.

Jawaban Anna Farida

Mengajarkan anak tentang bagian tubuh yang tidak boleh disentuh bisa dimulai sedini mungkin. Sambil mandi, sambil pakai baju, kepada anak bisa selalu disampaikan mana bagian tubuhnya yang pribadi. Meminta anggota keluarga yang lain untuk menghargai privasi anak ketika mandi atau ganti baju juga pembelajaran yang baik.

Bukan hanya itu, perilaku sehari-hari pun membentuk pemahaman anak tentang kesantunan susila. Misalnya, hindari menjadikan isu LGBT sebagai bahan candaan. Anak balita akan merekam pernyataan seperti, “Ih, banci lucu, ya! Mending jadi laki-laki, nggak enak jadi perempuan. Repot!” —- jika diucapkan secara konsisten dan diperlihatkan dalam sikap, anak perempuan akan mengiyakan bahwa jadi perempuan itu tidak enak. Muncul rasa ingin jadi lelaki bisa terbentuk tanpa sengaja. Demikian pula sebaliknya.

Jadi, untuk anak 3 tahun, pembelajaran tentang pelecehan seksual maupun isu LGBT bisa disampaikan melalui ucapan dan perbuatan tanpa membuat anak menjadi parno atau setidaknya bingung karena tidak paham. Sebenarnya Mama ini mau ngomong apppaaa?

Tanya 2:

Saya baca di media anak-anak “sukarelawan” ini motifnya ingin gaya. Bagaimana agar anak-anak merasa PD dengan kondisinya, apa adanya, agar terbentengi dari segala iming-iming yang menggiurkan itu?

Jawaban Bu Elia Daryati :

Ini apakah terkait dengan dunia remaja? jika memang iya. Saya coba jelaskan. Bahwa dalam dunia remaja ada yang disebut dengan “peer group” dan “status symbol”. Kedua hal ini dapat berdiri sendiri maupun beririsan. Aspek-aspek tersebut dapat mendorong pada perbuatan yang positif ada juga yang cenderung ke arah negatif.

Jatuh ke kelompok negatif, dimana anak bergabung dan eksis dengan cara yang salah. Misalnya masuk gank. Gank biasanya merupakan sekelompok orang yang memiliki minat yang sama namun dalam mengaktualisasikan kelompoknya lebih berkonotasi negatif, seperti gank motor. Ketika ditanya mereka akan tidak setuju dengan label negatif mereka dan stigma yang diberikan oleh masyarakat. Kelompok gank motor cenderung menamakan dirinya sebagai kelompok pencinta motor. Adapun menjadi relawan, bukan “relawan” pakai tanda kutip yang disebut-sebut mucikari Bogor, sebetulnya menunjukkan sikap yang lebih positif dalam berkelompok. Misalnya jadi relawan korban banjir,

Identitas remaja yang ingin eksis dan masuk dalam sebuah kelompok, merupakan kombinasi dari energi yang cukup baik. jika mampu untuk mengarahkannya. Berawal dari pamrih, jika dikawal dengan baik dapat berujung menjadi ketulusan. Eksis adalah sikap dasar dari mereka, namun eksis yang positif akan menjadi lebih keren jika diiringi dengan kebermanfaatan. Berulangkali menjadi relawan, lambat laun akan mengasah nurani, mengingat nilai-nilai ketulusan yang mulai tertanam. Pandai-pandai saja dalam mengarahkannya. Agar nilai kepuasan tidak selamanya diukur dari materi, namun dari kepuasan menjadi orang yang mampu berguna bagi sesama, akan lebih memuaskan dari sekedar kepuasan materi.

Jawaban Anna Farida

Anak belajar minder pertama kali itu dari lingkungan terdekatnya, alias dari rumah. Walau masih samar, dia bisa paham ketika ada orang yang tidak mengenalnya merendahkannya. Dia masih bisa berpikir, “Ah, dia tidak tahu kelebihanku yang lain.”

Tapi ketika ada orang yang sangat mengenalnya justru merendahkannya, dia akan gagal paham. Dia bingung dan berpikir, “Jadi aku ini memang nggak ada apa-apanya.”

Mana yang lebih bikin sakit hati. Disalahpahami oleh teman yang baru kita kenal atau oleh teman yang sudah akrab dengan kita sejak kecil?

Dua-duanya tak perlu bikin sakit hati, sih. Namanya juga salah paham 😀

Back to topic. Anak-anak remaja sedang berada pada masa meneguhkan eksistensi. Karena itu, kepada mereka wajib dibekalkan hal yang bisa dijadikan “modal gaul”. Selain kesalihan dan keterampilan akademis, keterampilan bermusik, olahraga, memimpin, atau membantu orang lain bisa jadi pilihan. Jika remaja bisa eksis pada salah satu bidang yang positif, lazimnya dia tidak mudah tergoda untuk melakukan hal yang negatif. Saya yakin, anak membawa nurani yang bersih dan selalu condong pada kebaikan.

Tarikan-tarikan negatif itu akan mudah ditangkis jika dia sudah yakin dengan eksistensinya sendiri di ranah yang positif. Secara fitrah anak senang pada apresiasi positif – tapi kalau dia tidak punya modal untuk eksis kan repot. Apalagi kalau di rumah kurang mendapatkan apresiasi—dia akan menumpahkan energinya ke tempat lain.

Anna Farida: Demikian jawaban atas pertanyaan hari ini. Sampun, Mahmud Admiiin ✅

Pengen ikutan Kulwap Keluarga Sehati? Kirim nomor WhatsApp ke 0896 5041 6212 (Suci Shofia)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s