Perdagangan Anak (Laki-Laki)

traffiking-kccd-org
kccd.org

Kulwap ke 51

Jumat, 2 September jam 13:02 WIB

Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati:

Tema ini diusulkan oleh Mahmud Admin Suci Shofia. Saya sebenarnya tidak nyaman membahasnya, tapi ini sedang terjadi dan kita perlu tahu.

Perdagangan seksual anak yang terungkap di Puncak beberapa hari ini bikin saya mulas. 99 anak lelaki yang ditawarkan sebagai pemuas seks itu dijajakan melalui Facebook. Innalillahi, media sosial yang saya akrabi dan diakrabi anak-anak saya.

Lebih sedih lagi ketika diberitakan bahwa anak-anak di bawah umur secara “sukarela” melakukannya demi mendapatkan uang cepat.

Geram sekali dengan dalih si mucikari. Dia sembarangan menyebut kata sukarela pada anak yang dia jadikan korban.

Ini alarm buat kita. Apa yang harus kita lakukan untuk menjaga anak-anak dari pemangsa keji ini—bahkan kata predator pun tidak layak bagi mereka.

1.       Eratkan ikatan dengan anak. Kerahkan semua cara: peluk, ajak bicara, ajak main, temani, lindungi—tanpa harus jadi parnoan tentu saja.

2.       Ajak anak diskusi secara terbuka tentang bahaya berkomunikasi dengan orang asing melalui media online. Ajak anak nonton film di youtube tentang eksperimen sosial tentang anak dan penipuan melalui media sosial. Anda bisa dengan mudah menemukannya dengan kata kunci: sosial experiment child predator. Tonton dulu, ya. Baru ajak anak nonton. Saya juga mau ajak anak-anak nonton lagi.

3.       Perhatikan cerita anak-anak. Kadang di antara ocehan mereka yang menurut saya lebay, nggak penting, bawel, diulang-ulang, ada informasi penting terselip dan orangtua wajib tahu.

4.       Sesekali undang teman-temannya ke rumah, perhatikan konten obrolan mereka. Para ibu paling tahu cara nguping yang paling elegan #halah

5.       Sesekali juga luangkan waktu untuk bepergian dengan orang tua lain, kenali gaya pengasuhan mereka. Anak kita dididik oleh banyak pihak, termasuk oleh temannya. Dan temannya adalah bagian dari pengasuhan orang tua mereka. Saya tidak suka ke kolam renang, malas basah. Tapi demi rumpi dengan ibu-ibu lain, saya lakoni juga.

6.       Saya menemukan bahwa anak SD sudah paham jenis-jenis kissing justru dari teman-teman anak-anak saya—mungkin anak-anak saya juga paham #cobatanya

7.       Jangan pernah jadikan isu LGBT bahan guyonan atau ejekan, misalnya “Banci, lu, ah!”, di mana pun. Secara langsung atau di media sosial. Ajak anak-anak membahasnya dengan proporsional sesuai cara pandang masing-masing.

8.       Dengan adanya kasus “sukarela” ini, masih layakkah kita berpikir bahwa menjelaskan hubungan seksual dan menyimpangannya secara terbuka kepada anak itu tabu? Kita bisa terbuka tanpa harus vulgar. Siapa yang mau share caranya? Dalam buku Parenting With Heart juga disinggung—dalam buku berikutnya akan kita bahas lebih detail. Karenanya pengalaman Bapak Ibu sangat penting sebagai masukan.

9.       Sudah, ah. Tidak bisa nyengir bahas materi ini. Capek. Mari diskusi.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Pengen ikutan Kulwap Keluarga Sehati? Masih single juga boleh, lo, ikutan! Kirim nomor WhatsApp ke 0896 5041 6212 (Suci Shofia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s