Terperanjat Saat Privat Pasutri

Jumat siang, 23 September 2016

Kulwap ke 54 kali ini membahas seputar pernikahan. Ada pembahasan di ruang kelas Kulwap Keluarga Sehati tentang aktivitas pribadi suami istri yang tertangkap mata oleh anak-anak yang masih belia. Sampai-sampai mereka mempraktekkannya di sawah bersama teman sebaya.

Ironis!

Anna Farida (narasumber Kulwap Keluarga Sehati):

Salam sehati, Bapak Ibu

Ini kulwap yang ke-53? Tanya Mahmud Admin Suci Shofia 😀

Minggu ini saya lihat ruang kulwap padat dengan diskusi bernas. Terima kasih sudah bersedia berbagi, semoga menjadi kebaikan bagi kita semua.

Kali ini kita akan merumpikan tema yang cukup mendesak,  “Terperanjat Saat Privat Pasutri”.

Kasus yang disampaikan Bu Dwi dan teman-teman membuat saya kembali “mak deg!”. Sebenarnya saya sudah beberapa kali mendengar kasus serupa, tapi tetap saja kaget.

Fyi, salah satu teman saya, seumur saya, mengaku masih ada rasa risih ketika sedang bersama suaminya karena waktu kecil pernah menyaksikan saat privat yang dilakukan orang tuanya.

Jadi bagaimana baiknya?

Menjaga keberlangsungan saat privat bersama pasangan itu wajib, dan menjadi lebih wajib ketika sudah punya anak. Pasalnya, banyak rumah tangga jadi hambar karena kehadiran anak jadi mengurangi waktu berdua, dan pada saat yang sama menambah jam kerja. Jika kehadiran anak dimaknai seperti itu, kasihan sekali bocah-bocah kecil itu. Pada gilirannya, sikap kita kepada mereka pun akan beraroma beban — dan kita kembali ke tema 😀

Prinsip utamanya adalah: namanya saja saat privat, artinya ya harus privat.

Yang kedua, ketika harus ketahuan, lihat umur anak. Penelitian di Barat menyatakan bayi tak perlu dicemaskan. Artinya cuek saja, lakukan apa saja, bayi tidak akan pernah tahu.

Seperti biasa, saya kan sotoy. Menurut saya bayi itu tahu, kita saja yang tidak bisa memahami komentar mereka. Jadi, ketika bayi bangun kemudian bersuara, “ng ng …” atau tepuk tangan, bisa jadi dia berkata “Mom, Dad, stop making noises. I’m trying to sleep” eheheh.

Bagaimana dengan balita? Dengan anak 7 tahun? Anak yang lebih besar?

Apa yang harus kita lakukan jika mereka terpapar saat privat orang tuanya?

Dalam berbagai kasus yang saya baca, balita bisa merasa orang tuanya saling menyakiti, jadi tidak suka disentuh, atau bahkan bereaksi terbalik, jadi sangat ingin disentuh, jadi marah kepada ayah atau ibunya atau keduanya. Responnya macam-macam. Bilas kecemasannya itu dengan memperlihatkan kekompakan keluarga dan kasih sayang yang lebih padanya.

Untuk anak yang lebih besar—biasanya di atas 7 tahun—kita bisa memulainya dengan minta maaf. Mungkin Anda berdua kaget dan panik, terlihat merasa bersalah—tak jarang menyalahkan anak dengan berteriak, “Kok masuk kamar tanpa ketuk pintu? Kok main nerobos saja, sih?”

Ehehe, sudah jelas Anda yang salah tidak kunci pintu. Masih berani menyalahkan anak 😛

Reaksi semacam itu membuat anak mendapat kesan bahwa saat privat adalah sesuatu yang menakutkan, memalukan.

Jadi awali dengan minta maaf.

“Maaf, ya, Lif. Ayah dan Ibu lupa kunci pintu, jadi kamu tidak sengaja masuk. Mau tanya apa sama Ibu?”

Berikan padanya keluangan waktu untuk bertanya, jawab sesuai umurnya tapi jangan pernah berbohong. Pertanyaan anak bisa macam-macam:

+ Emang Ayah dan Ibu lagi ngapain, sih?

+ Nanti aku kalau gede begitu juga?

+ Itu buat bikin adik baru, ya?

Nah, bersiaplah dengan jawaban yang jujur tanpa vulgar. Anda boleh saling berbagi pertanyaan dan berbagi jawaban ketika anak bertanya.

Memang, yang terbaik adalah mencegah anak melihatnya—namanya privat ya harus privat—remember.

Yang punya kamar dan ruangan terpisah seharusnya tak jadi masalah. Seharusnya, ya.

Saya pernah tinggal bersama anak di satu ruangan tak bersekat, di ruang bersekat, rumah dengan beberapa kamar, hingga di rumah yang kamar dan ruangannya banyak. Percaya, deh. Adaaa saja tantangan untuk mendapatkan waktu untuk benar-benar hanya berdua 😛

Suatu subuh saya mendapati salah satu anak tidur meringkuk di karpet di kamar saya, dan ketika siang, dia mengulang semua gosip yang saya obrolkan bersama suami.

Siapa suruh nggosip menjelang tidur. Walaupun saya lega juga, untuuung hanya nggosip. Kalau yang lain? –SETOP lagiii—kabarnya otak kita kidak mengenal kata “jangan” – setop itu artinya jangan atau bukan? 😁

Bagi teman-teman yang masih tidur satu ruang dengan anak, usahakan pandangan anak terhalang. Saya tidak perlu bahas detail. Anda boleh pilih: pakai tirai, sembunyi di kolong meja dan mengusir kucing 🐱 yang biasa tidur di sana, atau mengeluarkan anak sementara dari kamar.

Lebih privat, adegan kerokan tak perlu jadi modus 🤔

Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s