Tetap Sehat Setelah Menikah

Salam, Bapak Ibu. Kulwap kita yang ke-50 membahas tema marriage, tetap sehat setelah menikah.

Eh, memangnya setelah menikah ada kecederungan tidak sehat? 😀 #hayooo

Pernah lihat video kakek paling keren sedunia atau biarawati yang sudah nenek-nenek dan kuat tanding renang dan bersepeda? Cari, deh, di Youtube.

Terkait kesehatan yang merosot, tak jarang pernikahan dituduh ikut menjadi faktor penyebab. Kelelahan fisik karena bekerja atau mengasuh anak, tekanan mental karena cita-cita pingin liburan keliling Eropa, bahkan pertengkaran kecil hingga besar dengan pasangan bisa ikut jadi pemicunya.

Menikah kemudian cari nafkah, kemudian mengasuh anak hingga (merasa) lelah, itu kan kemestian manusia hidup. Orang-orang saleh bahkan menyebutnya ibadah.

Jadi, ada baiknya kita mulai memperhatikan kesehatan. Semuanya. Menikah atau tidak, punya anak atau tidak, kian tua tubuh manusia kian aus, lho. Jadi memang perlu dijaga.

Bagaimana caranya?

+ Luangkan waktu untuk diri sendiri. Bu Elia bilang, “me time” beliau adalah satu paket dengan keluarga. Saya lain lagi. “Me time” saya ya dengan diri saya sendiri 😀 Maklum, saya masih egois karena masih muda 😊🙊 #mulaideh.

Selipkan waktu walau hanya 30 menit untuk sekadar mengurus rambut, misalnya. Yang punya anak kecil tahu benar. Mau “me time” di kamar mandi saja susah, ahaha. Baru masuk sudah digedor-gedor, “Ibbbuuu!”  🙈

Minta bantuan pasangan untuk menjaga anak-anak sejenak jika perlu.

+ Miliki kebiasaan berolah raga secara teratur. Olah raga beneran, ya: senam, jalan, lari, ke gym, bela diri, badminton, dsb. Luangkan waktu, please.

Ngepel dan beresin rumah atau kerja di bengkel atau jalan di mall, misalnya, itu bukan olah raga beneran. Serius. Capeknya sama, bugarnya beda.

+ Miliki kebiasaan makan yang baik. Tiga tahun ini saya mengurangi karbohidrat, gula, gorengan. Tadinya tiga piring jadi dua piring, tadinya 7 bakwan jadi 5 bakwan 😃😃 Segitu saja saya masih punya kelebihan berat 5-8 kilo, Saudara-saudari!

Saya perbanyak buah dan sayur, protein, air hangat (ya ampun, beneran saya mulai tua. oh no!)

+ Miliki kebiasaan sosial spiritual yang baik. Tetap buka wawasan, jangan kudet seperti saya, tidak ngeh bahwa Jerman Timur itu sudah tidak ada 😱😜
Saya berusaha melibatkan diri dengan tiga golongan manusia: guru saya, murid saya, teman saya. Ketiganya memberikan saya kebaikan yang berbeda.

+ apa lagi?

Prinsipnya, menikah bukan lantas membuat kita lupa nyisir #sayaitusih dan lupa merawat diri, lahir dan batin. Kita melakukannya karena rasa syukur kepada Yang Maha Memberi Kebaikan, bukan sekadar karena takut tidak cakep lagi, ehehe.

Mari merumpi, mari berbagi pengalaman memperbaiki kualitas hidup.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Salam takzim,
Anna Farida
www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s