Pengasuhan dengan Time Out

Kulwap ke 49 kali ini melanjutkan pembahasan tema sebelumnya tentang Anak Merdeka.

Berikut ulasan dari Anna Farida, narasumber kulwap Keluarga Sehati:

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Minggu lalu kita merayakan tujuh belasan dengan membahas tema anak merdeka. Dari diskusi tersebut muncul ide untuk merumpikan time out.

This is it. Let’s out of the time 😀

Pernah jengkel sama anak sampai rasanya kita bisa mendengar degup jantung sendiri? Pernah gemas sama anak sampai tergoda (atau telanjur) berteriak?

Pernah lihat anak tetap nangkring di depan komputer dan ngambek ketika diingatkan padahal sudah ada kesepakatan jadwal?

Pernah menghadapi anak bertengkar dengan saudaranya sampai saling dorong atau saling berteriak?

SAYA PERNAH, mungkin SERING

Saya cenderung ngomel di awal sadar beberapa saat kemudian #tobatgakabisabis

Nah, daripada terpancing untuk ngomel dan menyakiti diri sendiri maupun anak—secara psikologis maupun fisik—lebih baik kita belajar Time Out (TO).

Kita samakan persepsi dulu.

Dalam diskusi kita ini, TO dimaknai sebagai upaya memberi ruang antara anak dan orang tua agar masing-masing punya waktu menenangkan diri. time out bukan hukuman bagi anak, bukan juga pelarian bagi orang tua.

TO efektif untuk usia berapa pun walau iasanya anak usia SD ke bawah lebih kooperatif. Ada yang pernah memberlakukan TO bagi anak SMA? Ehehe, sejuta rasanya 😀

Jadi

Bagaimana tahap-tahapnya?

+ Sepakati tempat TO. Waktu Ubit 3-4 tahun, tempat TO dia adalah kursi plastik di dapur.  Tempat TO harus nyaman dan aman bagi anak, tetap dalam pengawasan. Jadi TO bukan mengurung anak atau emaknya lari ke kamar mengurung diri.

Bukan di kamar mandi—tar repot kalau ada orang lain yang mau pipis eheheh. Bukan juga di kamar yang penuh mainan eheheh

+ Sampaikan pada anak, ini adalah tempat TO. Pastikan anak paham apa maknanya. Kepada Ubit saat kecil saya sampaikan. “Kursi ini buat duduk sebentar pas Ubit rewel”

Anak saya yang ganteng ini waktu kecil tangisannya mirip raungan singa 😀

Dia tanya kenapa. Saya jawab: Kalau Ubit guling-guling di lantai kan dingin dan capek. Jadi nangisnya sambil duduk di kursi saja.

+ Sepakati waktu TO, misalnya 5 menit. Set alarm jika perlu. Jika anak mengomel atau marah-marah, abaikan. Jika dia berusaha meninggalkan tempat TO, bimbing dia kembali ke sana.

+ Biarkan dia, berikan ruang. Maksudnya, Anda juga diam, jangan ngomel. Bukan TO namanya kalau Emak atau Bapak melakukan Time In 😀

Kerjakan hal lain sampai waktu berlalu, atau Anda diam juga. Soalnya kalau nungguin anak TO sambil main hape bisa bablas dua jam, deh #ampoon

+ Move on. Setelah TO usai, segeralah cairkan suasana. Bersikaplah seperti biasa, tunggu anak yang angkat bicara tentang peristiwa yang baru saja terjadi.

Bagi saya pribadi, TO adalah TIME OUT buat saya. Serius, buat saya.

Saat itulah saya sadar bahwa tugas dan kewajiban anak-anak adalah bikin saya jengkel, dan hak saya adalah berlatih bersikap tenang. Superhalah.

Mari merumpi dan berbagi pengalaman.

Kulwap ini ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s