ANAK MERDEKA

Jumat siang, 12 Agustus 2016

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Kita masuk kulwap ke-48, dalam suasana merah putih. Tak sabar menunggu hari liburnya 😀

Hari ini kita akan merumpi kembali tentang anak—kali ini tentang anak yang merdeka.

Beberapa waktu lalu saya dan Mahmud Admin Suci Shofia ikut acara sosialisasi undang-undang perlindungan anak. Dari sana saya mencatat beberapa hal penting terkait kemerdekaan seorang anak. Bukan hanya terjamin dari kekerasan dan eksploitasi, tapi juga terjamin dari rasa tidak merdeka mengekspresikan diri karena takut mengecewakan orang tua.

Saya pernah, besar kemungkinan sering, melakukannya tanpa sengaja kepada anak-anak.

Pernah melarang anak keluar rumah dengan baju yang sama sekali tidak matching?

Putri bungsu saya pernah mau les pakai celana kusut yang sudah kependekan, kaus kaki putih panjang, sepatu pink yang juga sudah kusut. Setengah mati saya cari cara merayu dia agar ganti baju tanpa melukai perasaannya—dan saya gagal.

Karena sudah mau telat, akhirnya saya bilang, “Peng, mau nggak ganti baju dulu?”

“Kenapa?”

“Celananya kependekan.”

“Kan pakai kaus kaki.”

“Sudah kusut. Sepatunya juga seharusnya dicuci dulu. Ibu ambilkan ganti, ya?”

“Tapi ini enak dipakai.”

“Sudah tidak layak dipakai keluar rumah, Peng. Ganti, ya. Yuk, keburu telat. Ini sepatunya. Mau dibantu buka bajunya?”

Dia ganti baju sambil menggerakkan bibir tanda tak suka. Entah bagaimana, saya merasa perlu membelikan dia es krim—cara termudah untuk minta maaf, sekaligus cara tercepat untuk merusak giginya #haduh

Anak yang lebih besar pun tak luput dari kuasa tekanan emaknya. Iya, emak yang ini, nih. Adaaa saja saat saya merasa wajib dipatuhi tanpa kompromi, ehehe. Putra sulung saya sedang saya rayu hingga saya intimidasi agar cukur rambut—dan saya yang selalu gagal. Pingin gondrong, katanya.

Ucapan seperti “Ibu mau Kakak pulang dalam keadaan rambut rapi” sudah berkali-kali lewat begitu saja. Saya kasih uang cukur selalu, dan rambut tetap seperti itu ahahaha.

Ketika mengadu ke Bapaknya, saya hanya dapat komentar yang sama sekali tidak membantu, “Biar saja, Bu. Biarkan dia merdeka dulu. Nanti istrinya yang bakal ngatur-ngatur dia.”

Haish! Kok saya merasa tersindir, ya.

Another ahaha

Nah, semerdeka apa, sih, anak-anak kita?

Seperti apa merdeka itu bagi mereka?

Adakah batasnya?

Saya pernah sampaikan bahwa batas yang selalu saya pegang dalam berbagai hal adalah tidak melanggar agama dan kesehatan.

Jadi?

Mari merumpi, berbagi pengalaman dan cerita merdeka.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Merdeka!

Salam takzim,
Anna Farida
www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s