Tanya Jawab Merawat Lansia

Senin siang, * Agustus 2016  13:03 WIB

Tanya 1:

Merawat anak-anak kita, mungkin lebih mudah dilakukan karena kita pernah mengalami menjadi anak-anak. Jadi kita bisa sedikit memahami hal-hal yang membuat mereka bahagia, kecewa atau sedih.
Tetapi kita belum pernah menjadi sepuh. Kita belum paham perasaan mereka untuk situasi/keadaan tertentu. Seringkali tindakan yang menurut kita akan membuat mereka bahagia malah membuat mereka sedih. Hal yang kita pikir akan merepotkan mereka (jadi tidak kita lakukan) malah sebenarnya itu yang mereka inginkan.
Pertanyaannya, bagaimana cara menjembatani keinginan orangtua (yang belum kita pahami) dengan maksud baik kita?

Jawaban Bu Elia:

Ini merupakan tema mengenai, seni memahami perasaan orang tua. Menjadi orang tua merupakan tahapan hidup yang akan dialami setiap oleh orang. Satu fase yang hampir semua orang melaluinya.

Dalam ilmu psikologi ada yang disebut sebagai tugas-tugas perkembangan. Dimana setiap fase memiliki tugas-tugas perkembangannya tersendiri. Demikian juga dengan orang tua. baik secara fisik maupun psikologis tentunya mengalami satu perubahan.

Secara fisik fungsi2 tubuhnya mulai menurun, sehingga mulai banyak keluhan-keluhan secara fisik. Demikian juga secara mental, dari segala hal yang serba bisa dilakukan sendiri,  beberapa mulai meminta bantuan dari orang lain.
Bagi orang tua yang melalui tahapan hidupnya dengan bahagia dan banyak kegiatan positif yang dijalaninya, masa tua akan membuat mereka tetap merasa bahagia dan bermakna. Akan tetapi bagi orang tua yang kurang memiliki aktivitas positif dalam mengisi hari tuanya, mereka akan merasakan perasaan tidak bermakna dan berdaya. Kondisi inilah yang biasanya dapat memicu konflik dan membuat orang tua merasa tidak berguna dan sensitif.

Bagaimana dengan orang tua ibu sendiri? Apakah memang cenderung pasif dan kurang berinteraksi secara sosial atau memang sudah memiliki aktivitas yang relatif positif.

Jika belum, maka ibu dapat ciptakan kegiatan2 yang dapat membangkitkan kebahagiaan orang tua, sehingga mereka merasa lebih bermakna dan berharga. Misalnya, berkebun, berolah raga atau berjalan-jalan ke tempat2 yang sangat disukainya.

Saatnya sekarang, dunia dibalikkan dulu kita yang diurus, diasuh dan dibesarkan. Maka saatnya sekarang kita mengurus, mengasuh dan membahagiakan. Selagi mereka ada berikan cinta yang tanpa batas, seperti cinta mereka yang pernah diberikan kepada kita….

Jawaban Anna Farida

Memang, kita belum pernah menjadi tua—apalagi saya yang masih muda begini #halah

Untuk menjembatani keinginan dan pemikiran lansia dengan kita yang masih (mengaku) muda, kata klisenya adalah komunikasi. Atau bukan klise, deh, kita pakai istilah klasik biar lebih keren, gitu.

Kita bisa awali selalu dengan bahasa bertanya, bahasa minta tolong, bahasa menawarkan bantuan. Artinya, lansia yang ada dalam perawatan kita itu adalah manusia yang punya pilihan.

Ada beberapa hal yang memang wajib kita pilihkan terkait kesehatan beliau, misalnya. Tapi untuk hal hal yang bersifat sosial, lansia wajib tetap diberi peran.

Komunikasi yang baik akan terjalin di antara orang dewasa jika masing-masing pihak merasa sejajar, atau saling bisa memberi manfaat—bukan sekadar yang satu tergantung pada yang lain, atau yang satu merasa “berkuasa” atas yang lain—ini berlaku juga dalam komunikasi pasutri.

Jadi, saat merawat lansia, kalimat yang perlu sering diucapkan adalah, “Saya bisa bantu apa. Bu, Pak? Saya perlu ini itu, Bapak atau Ibu bisa bantu?”

Jadi jika mereka perlu bantuan ya kita bantu, jika mereka merasa masih sanggup ya kita beri keleluasaan yang lebih—tentu syarat dan ketentuan berlaku.

Kemarin ketika diskusi saya membaca salah satu sharing teman-teman bahwa orang tua itu menjadi kanak-anak kembali—bukankah kepada anak-anak kita dianjurkan selalu memberi pilihan?

Ada kalimat bijak yang bikin saya gimana, gitu.

“Kita merawat anak-anak kita sambil mengharapkan mereka tetap hidup lama. Ketika kita merawat orang tua … apakah harapan kita sama?”

Tanya 2:

Assalaamu’alaikum

Apa yg musti dilakukan ketika ibu meminta untuk menggantikan melanjutkan majelis taklim yang selama ini beliau kelola di rumah dalam kondisi suami keberatan,krn di rumah beliau ada kakak dan adiknya yang sudah berumah tangga.

Sedangkan di satu sisi beliau paling nyaman dan deket sama saya.

beliaunya udah lanjut usia ingin ditemani juga.

Jawaban Bu Elia:

Suatu permintaan baik orang tua agar kita bisa melanjutkan kegiatan positifnya, pertama-tama harus ditanggapi dengan positif terlebih dahulu. Langkah selanjutnya adalah mencari irisan keleluasaan waktu mana yang dapat dilakukan bersama.

Jika ibu tidak memiliki kegiatan yang cukup sibuk dan waktu yang cukup leluasa. Kesempatan ini ada baiknya diambil. Tentu saja,  mengingat ibu pun sudah berkeluarga, nampaknya harus diselaraskan dengan kondisi keluarga juga.

Niatnya adalah win-win solution. Melakukan kegiatan bersama yang positif dan memberikan solusi juga terhadap ketentraman keluarga orang tua.

Anggap saja ini merupakan cara Alloh mendekatkan ibu kepada orang tua ( ibu ), sebagai bakti dan kado terakhir yang dapat membahagiakannya.

Salah satu tugas anak terhadap orang tua adalah, membahagiakan mereka dengan mengikuti kegiatan mereka yang disukainya.

Jawaban Anna Farida

Menggantikan orang tua mengelola majelis taklim insya Allah perbuatan mulia. Semua agama memuliakan ilmu, memuliakan orang yang mengajarkannya, yang mencarinya, dan memudahkan orang lain mendapatkannya—misalnya dengan menyediakan tempat.

Namun demikian, kita tetap perlu melakukan pendekatan kepada suami agar pandangan bisa selaras. Alasan masih ada kakak yang lain saya kira perlu digali lebih jauh, ya. Apa sebenarnya alasan terdalam yang ada—misalnya khawatir dengan biaya yang akan timbul, masih belum siap rumahnya jadi riuh, masih mempertimbangkan kerepotan ini itu – alternatif lain bisa diajukan kepada Ibu, misalnya, apakah ada kemungkinan majelis ilmu dikelola oleh sang anak di tempat lain, misalnya di masjid terdekat.

Ibu memilih salah satu anaknya bukan tanpa alasan.

Walau alasannya sekadar merasa dekat dengan anak tersebut, menurut saya itu bukan sekadar. Itu sesuatuhhh.
Suci Shofia: Hanya ada dua pertanyaan😉.

Materi dan tanya jawab kulwap Keluarga Sehati bisa dibaca di www.uchishofia.wordpress.com
[8/8, 1:08 PM] Suci Shofia: Kulwap Sehati ini disponsori penuh oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart, karya Elia Daryati dan Anna Farida😇

Bagi yang ingin bergabung di Kulwap Keluarga Sehati, silakan daftarkan nomor WhatsApp ke 089650416212 (Suci Shofia)

Advertisements

One thought on “Tanya Jawab Merawat Lansia

  1. Pingback: Merawat Lansia – uchishofia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s