Merawat Lansia

Jumat siang , 5 Agustus 2016  13:23 WIB

Kulwap Keluarga Sehati ke 47 membahas tema tentang Merawat Lansia.

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke 46, kah, Mahmud Admin Suci Shofia?

Kita akan membahas tema merawat orang yang sudah sepuh di rumah kita—misalnya nenek kakek, bahkan ayah ibu dari pihak kita maupun pasangan.

Saya akan memulai dengan prinsip yang nanti bisa kita bahas bersama—mungkin ada yang tidak setuju dengan saya.  Prinsip saya adalah, merawat lansia adalah kesempatan yang sangat besar untuk berbuat baik.  Saya bersyukur pernah merawat ayah mertua dan ibu saya (dengan kasus, waktu, dan tempat yang berbeda) walau hanya dalam hitungan bulan sebelum mereka wafat. Saya bersyukur di akhir hidup mereka, kami sekeluarga berkesempatan berkhidmat walau singkat. Ada rasa yang tak terbeli, pengalaman yang besar buat kami sekeluarga.

Apa saja yang bisa kita siapkan ketika kesempatan seperti itu datang?

Merawat lansia di rumah itu memerlukan dedikasi berupa waktu, energi, juga materi. Ada baiknya, sebelum orang tua benar-benar menjadi sepuh, kita bahas rencana—dan ini tidak mudah. Bisa dianggap tidak santun jika kita bertanya, “Bu, Pak, nanti kalau sudah sepuh mau tinggal sama siapa? Mau tinggal di mana” karena budaya kita kan memang tidak seperti itu.

Saya juga tidak bertanya ketika dua orang tua saya itu perlu perawatan—apalagi kepada ibu saya, karena saya anak satu-satunya. Kepada siapa lagi beliau bersandar jika bukan pada saya.

Walaupun begitu, kepada anak-anak saya, terutama kepada yang sulung, juga pada suami, saya sesekali berkata, “Ibu sedang nabung, nih. Someday when I’m getting old and can not do anything, I will stay at a luxurious nursing home. Sun bathing, praying, and writing till I die. You may visit me every other week.”

Anak sulung saya protes, saya tertawa—tapi niat seperti itu memang ada, ahaha. Entah nanti, apakah saya akan merengek pingin ikut mantu saya dan jadi mertua paling rewel di seluruh dunia. We never know.

Karena itu, ketika saya dapat kesempatan berkhidmat kepada orang yang sudah sepuh, saya akan lakukan semampu saya—karena pertimbangan “we never know” tadi—hayah, terlihat banget pamrihnya #tutupmuka.

Jadi, ketika ada lansia di rumah kita, atau kita tinggal di rumah mereka, apa yang harus dilakukan?

Banyak lansia yang masih bugar hingga tutup usia. Walau jadi agak pelupa dan lebih perasa, nenek buyut saya masih mencuci pakaiannya sendiri dan menjemurnya suatu pagi, dan meninggal siang harinya.  Jadi merawat lansia tidak selalu bermakna membantu keperluan fisik mereka, tapi lebih bermakna menemani mereka. Memastikan mereka tenang karena ada kita di sisi mereka—walau tidak setiap saat, atau bahkan setiap saat.  Ada beberapa petunjuk teknis seperti:

+ Pastikan rumah aman bagi mereka. Perhatikan barang yang bisa membuat mereka terpeleset seperti karpet yang licin,  tata letak barang yang membuat mereka kagok bergerak—termasuk tangga.

+ Beri tambahan pegangan di kamar mandi agar mereka bisa keluar masuk dengan aman

+ Pastikan ada lampu yang selalu menyala untuk membantu mereka bergerak di malam hari—apalagi jika saklar lampu sulit dijangkau.

+ Libatkan mereka selalu dalam aktivitas keluarga: memasak, makan, bersih-bersih, mengasuh cucu—tentu dengan takaran yang layak—ini akan membuat mereka tetap berpikiran positif, merasa berharga, dan tetap sehat.

+ Mudahkan akses menuju telepon—bisa berupa telepon yang berlokasi tetap di tempat yang mudah terjangkau, atau hape yang enteng, jadi bisa dikalungkan.

+ Jika lansia menderita penyakit tertentu, pastikan semua anggota keluarga tahu bagaimana perawatannya dan pertolongan pertama jika terjadi hal darurat.

+ Diskusikan hal yang memang dirasa kurang pas, misalnya keinginan lansia untuk makan menu yang dilarang, kemudian merasa keinginannya tidak dipenuhi dan tersinggung—jika kita tidak mampu menjelaskannya, minta dokter untuk memberikan penjelasan.

Apa lagi?

Sebenarnya hal-hal di atas adalah petunjuk teknis yang sangat bervariasi tergantung karakter lansia yang sedang berada dalam perawatan kita.

Hal yang lebih penting dan akan menjadi bekal gerak kita adalah pemahaman seluruh anggota keluarga agar bisa nyaman dengan kehadiran mereka dan terlibat bersama mereka.

Saya ini bukan mantu idaman, juga bukan anak yang baik banget—saya dengan keterbatasan saya dan kebawelan saya ingin menjadi teladan bagi anak-anak, bagaimana memperlakukan orang tua—jauuuh di hati saya, saya ingin mereka pun memperlakukan saya dengan baik ketika saya tua nanti—Nah! Deepest reason-nya keluar: pamrih ahaha, biarin.

Mari merumpi!

Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage With Heart dan Parenting With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku tersedia di Teh Aan.

Mohon doa, “Communicate with Heart — membangun komunikasi penuh makna dalam keluarga” lancar proses penulisannya, dan segera hadir di hadapan pembaca

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Simak juga tanya jawabnya di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s