Tanya Jawab Memilih Setia

Senin Siang, 25 Juli 2016 .12:48 WIB

Tanya 1:

Pertanyaan dari teman tentang kulwap Jumat ini. Konon banyak orang bilang kalau seseorang sudah pernah “cheating” sekali, maka dia akan melakukannya lagi meskipun sudah bilang insyaf. Menurut pandangan psikologi, benar tidak anggapan itu?

Jawaban bu Elia Daryati

Cheating, merupakan solusi buruk, ketika seseorang mempertahankan diri untuk menutupi keburukannya.
Bagi yang terbiasa melakukannya, hal ini tentu merupakan wujud dari pribadi yang “lemah”. Berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab. Bukan seorang pemenang tapi pecundang. Sehingga ketika mereka membangun relasi dalam ikatan pernikahan atau pun ikatan-ikatan kerjasama lainnya sulit untuk di percaya.

Akan tetapi tentunya kita tidak bisa menghakimi dengan harga mati, bahwa seseorang itu tidak akan berubah. Memang secara umum yang sering melakukan  “cheating“, cenderung mengulang perilaku yang sama, akan tetapi kemungkinan berubah selalu ada.

Sikap secara teori, merupakan perilaku yang relatif menetap. Artinya cenderung menetap, tapi karena ada kata “relatif”, maka kemungkinan berubah selalu ada. Apalagi jika sudah mengatakan insyaf, inspirasikan dan kawal terus untuk menerapkan nilai-nilai positif.

Jawaban Anna Farida

Secara ilmu psikologi Bu Elia akan jawab lebih mumpuni. Saya jawab berdasarkan prinsip umum, hasil bacaan, dan sedikit kesotoyan 🙈

Manusia itu makhluk yang punya sifat berubah–bisa membaik bisa memburuk. Yang menentukan kualitas perubahan itu adalah diri sendiri dan lingkungannya, terutama lingkungan terdekatnya.

Cheating itu pilihan sadar yang salah. Jadi, ketika saya nekat pakai high heels kemudian jatuh itu bukan khilaf namanya, tapi cari perkara.
Got the point?

Ketika tahu bahwa berlama-lama ngobrol kemudian curhat dengan lawan jenis itu bisa bikin terpeleset, saya akan menghindarinya. Balik ke materi kita, siapa pun bisa terjungkal 😖

Lantas apakah yang sudah pernah cheating akan kembali melakukannya lagi?

Kembali ke niat ybs (yang bersangkutan) dan dukungan sekitar.
Dengan batasan yang berbeda-beda, jika pasangan memutuskan untuk memaafkan, lakukan dengan sungguh-sungguh.
Orang yang cheating itu hanya bisa keluar dari rasa bersalah dengan bantuan pasangannya.

Sebentar …
Ada yang perlu kita sepakati dulu.
Ada orang yang bilang gini, “Aku berpaling karena pasanganku begini begitu.”

Memang, tak ada asap jika tak ada api.
Pertanyaannya, mengapa sampai ada api yang kemudian bikin asap?

Intinya, jika sudah terjadi dan pasangan berkomitmen memaafkan kemudian saling memperbaiki diri, lakukan sepenuh hati.

Tanya 2
Sahabat saya terlihat hidupnya sangat baik-baik saja dengan pasangannya. Tapi dia memendam sebuah bentuk ekspektasi, yang kelihatannya tidak bisa dipenuhi pasangan.

Sahabat saya, sebut saja Indi. Dia merasa, berkembang jauh lebih pesat dalam pemahaman akan kehidupan, sementara suami tidak mengimbangi. Saya melihatnya masalah energi Mba. Si Indi ini memang perempuan yg sangat enerjik, jadi mungkin (interpretasi saya) dia membutuhkan sosok yang bisa seimbang. Tapi bagaimana mungkin, rumah tangga mereka saja sudah berjalan hampir dua dekade.

Akibat ketidakseimbangan ini, memunculkan sebuah needs yang mendorong si Indi ini melakukan beberapa “affair” dengan PIL. Main hati aja siih Mba. Tapi saya sebagai sahabatnya merasa perlu meluruskan ini. Tapi seperti kehabisan cara Mba. Beliau seolah punya segala pembenaran, meski kadangkala dia menyadari kekeliruannya.

Anaknya sudah lebih dari 3 lho.
Jawaban Bu Elia Daryati

Ruang jiwa yang kurang terisi dengan baik, akan menjadi celah untuk memenuhinya dengan sendirinya secara alamiah.
Pemenuhan tersebut dapat bersifat positif maupun negatif.

Jika dilihat dari kasusnya ini judulnya terkait dengan kekecewaan terhadap pasangan. Adapun yang perlu dibangun adalah mencari pemenuhan positif yang dapat mengisi ruang jiwa yang kosong. Menghadirkan PIL bukan sebuah solusi, justru mendatangkan persoalan baru pada akhirnya. Bukankah? Tidak setiap pernikahan yang kecewa dengan pasangan akan melakukan perselingkuhan.

Perselingkuhan tetap merupakan kesalahan yang lahir dari pribadi yang lemah. Perkeliruan…tetaplah  sebuah perkeliruan dan tidak bisa dijadikan pembenaran terhadap pasangan yang dinilai “kurang” level.

Yang harus dilakukan perbaiki komunikasi, dua dekade bukan waktu yang singkat dalam sebuah kebersamaan.

Jawaban Anna Farida

Kata Bu Elia, menikah itu saling menginspirasi dalam kebaikan. Jadi jika pasangan kita lihat perlu meng-upgrade diri, kita wajib mendukungnya.
Melarikan diri dari pasangan yang kurang bisa mengimbangi kita sih semua juga bisa. Yang menantang adalah mengajak pasangan berkembang bersama.

Enak banget, Mbak Anna, teorinya. Praktiknya sussaaah!

Memang susah, walau saya lebih suka menyebutnya menantang, chalenging.

Kebaikan itu mahal, Bu, Pak.

Perjuangan untuk menjaga pernikahan di zaman ajaib ini adalah pilihan yang tidak serta merta diambil semua orang.

Sebagian memilih lari.

Semoga kita tidak.

Semoga kita termasuk orang yang terus berusaha menjaga pernikahan dengan niat setia, rencana setia, menyengaja setia, dan menjaganya dengan doa.

Anna farida: Sampun, Mahmud Admin Suci Shofia. Terima kasih, Teman-teman. Pertanyaannya bisa kita jadikan bahan belajar bersama.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa dipesan melalui Teh Aan.

Mari merumpi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s