Memilih Setia

Jumat siang, 22 Juli 2016 13:33 WIB

Anna Farida: Salam Sehati, Bapak Ibu.

Rasanya, lazimnya, tak ada orang yang menikah dan berniat tidak setia. Kita menikah dengan niat baik untuk bersetia. Niat baik—frasa itulah jebakannya.

Apakah niat baik itu cukup?

Saya pernah baca sebuah kalimat yang mak jlebb—saya harus cek lagi rujukannya, lupa.

Kalimatnya begini, “Semua orang berniat setia tapi tidak semua berencana setia.”

Artinya, kesetiaan itu dianggap paket yang memang sudah semestinya. Jalani saja pernikahanmu, jangan macam-macam. Setia pada pasanganmu, jangan tengok kiri kanan, pasti aman.

Ternyata tidak, uuuy.

Kita bisa saja keluar rumah, menstarter kendaraan, kemudian berangkat tanpa punya rencana mengalami kecelakaan. Siapa, sih, yang mau kecelakaan.

Tanpa rencana itu, kita bisa selamat sampai tujuan, bisa juga tidak. Siapa tahu kondisi jalan lengang karena baru jam 4 subuh.

Walaupun begitu, pengendara yang punya rencana mengemudi dengan cara yang benar akan memiliki peluang keselamatan lebih tinggi. Dia akan perhatikan kondisi kendaraannya, kerentanan jalan, cuaca, rambu lalu lintas …

Eh, kita tidak sedang bicara takdir di sini ya. Itu rahasia Yang Mahatinggi. Bisa saja, kan, kita mendadak berhenti bernapas di mana pun.

Artinya ada upaya-upaya manusiawi yang perlu kita lakukan demi mengemudi dengan selamat, sebagaimana kita perlu merumuskan apa saja yang harus kita lakukan untuk setia itu.

Apa saja yang bisa kita lakukan?

+ Sadari bahwa siapa pun bisa terjebak dalam ketidaksetiaan. Hingga kini belum ada vaksinnya—jika beredar, mungkin itu vaksin palsu yang sempat nge-tren.

+  Kesetiaan itu karakter, dan karakter itu dibangun.

+ Selalu prioritaskan pernikahan dan dahulukan atas kepentingan lain. Ini bukan pertanyaan siapa yang harus mengalah, suami atau istri. Hak dan kewajibannya sama.

+ Perlihatkan kepada pasangan bahwa Anda berusaha setia, berusaha menjaga pernikahan. Yakinkan bahwa dia tahu Anda SENGAJA mengupayakannya.

+  Sepakati batas-batas ketidaksetiaan. Ada yang menganggap berboncengan dengan tukang ojeg itu tidak setia, ada yang kalem saja. Ada yang tidak suka pasangannya chatting dengan lawan  jenis, ada yang santai saja. Masing-masing pasangan punya kekhasan, bahas, sepakati, dan jaga komitmennya

+ Miliki rahasia-rahasia 😀 Saya pernah bahas ini, deh, rasanya.

Tidak semua urusan rumah tangga perlu diumumkan ke seluruh dunia. Biarkan ada rahasia yang memang hanya milik Anda berdua.

+ Jaga penampilan, jaga kehangatan—yang ini japri, ya, ada beberapa jomlo di sini, haha.

+ Bagi yang bekerja di luar rumah, tak perlu sensi kalau saya bilang tempat kerja itu potensial untuk menimbulkan ketidaksetiaan. Saya bekerja di rumah pun tetap ada potensinya. Jadi akui bahwa dunia kerja itu berbahaya. Jadi, hati-hati, ya.

+ Jika Anda mulai menghapus semua pesan dari lawan jenis … uhuk, hati-hati.

+ Kesetiaan itu berawal dari kejujuran. Jika kita merasa perlu berbohong untuk melakukan sesuatu, misalnya bepergian, belanja online #eh tampaknya ada yang perlu diperbaiki dengan kesehatan pernikahan kita.

+ Apa lagi?

Apa kiat Bapak Ibu untuk menjaga kesetiaan pada pasangan? Mari kita merumpi.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Kulwap ini disponsori oleh Buku Parenting dan Marriage with Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s