Memilih Bahagia

bahagia
segiempat.com

Jumat, 10 Juni 2016 16:58 WIB

MEMILIH UNTUK BAHAGIA

Kulwap Keluarga Sehati ke 39 yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart kali ini membahas tentang Memilih Untuk Bahagia. Jalan hidup setiap manusia yang dipenuhi dengan warna perlu disikapi dengan bijak dan positif. Tidak mudah memang, namun patut dicoba. Mau manyun tiap hari atau let it go?

Anna Farida (narasumber Kulwap Keluarga Sehati): Salam sehati, Bapak Ibu.

Maafkan, saya terlena “beribadah siang” eheheh dan lupa hari ini harus menge-post materi kulwap. Ibadah siang Ramadan memang asyik eheheh. Tahu, kan, ibadah apa yang saya maksud?

Nah, ini kulwap kita yang ke-39, dan semoga Bapak Ibu semua dalam keadaan bahagia bersama pasangan dan keluarga masing-masing.

Secara sederhana, kita bahagia ketika semua yang terjadi sesuai dengan harapan kita dan kurang bahagia jika yang terjadi  ternyata sebaliknya. Kita bahkan punya standar tertentu untuk disebut bahagia, bahkan kita juga mengenal istilah indeks kebahagiaan ehehe.

Ternyata, menurut Mas William James, kebahagiaan itu adalah pilihan yang bisa kita ambil, bahkan ketika indeks kebahagiaan itu di bawah normal, aias ketika banyak kejadian yang tidak sesuai dengan yang kita kehendaki. Kata dia, “penemuan terbesar dari sejarah manusia adalah bahwa dia bisa mengubah hidupnya dengan mengubah sikapnya.”

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk tetap bahagia?

Ciptakan saja. Kita punya banyak pekerjaan sekaligus masalah yang tidak ada habisnya. Sebagian terjadi karena ulah kita (eheheh) sebagian lagi ulah orang lain (karena kita–halah!), sebagian lagi memang sesuatu yang secara misterius hadir untuk kita.

Terhadap masalah yang hadir karena ulah kita atau orang lain tadi, hal yang terbaik adalah mengurainya dan menyelesaikannya. Adapun masalah yang secara misterius hadir, dalam bahasa lainnya adalah musibah, kita bisa memilih untuk tetap bahagia.

Seperti kata Mas James tadi, bagaimana sikap kita menghadapi masalah, di situlah ditetapkan apakah level kebahagiaan itu merosot atau tetap asyik-asyik saja. Dalam bahasa agama Islam kita mengenal istilah usaha, berdoa, tawakal. Pasrah bukan dalam arti menyerah, tapi lebih pada prasangka baik atas kehendak Tuhan. Saya yakin teman-teman yang beragama lain pun punya konsep serupa.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk menciptakan kebahagiaan adalah dengan mendekatkan diri dengan orang-orang yang bermuatan positif.

Pilih teman yang bisa menularkan kebaikan dan semangat untuk optimis. Teman seperti ini mahal sekali.

Pernah dengar ungkapan dekat dengan penjual minyak wangi akan ketularan wanginya? Dekat dengan penjual kolak kebagian kolaknya – eehhh

Hal kedua yang perlu kita lakukan untuk tetap bahagia adalah membahagiakan orang lain. orang lain yang paling dekat dengan kita adalah pasangan kita.

Dalam sekian lama masa pernikahan, pernahkan kita membuat daftar yang berjudul:

Kebaikan yang pernah kulakukan untuk pasanganku—atau hal-hal yang membuat pasanganku bahagia. Coba bikin, kita lihat sebanyak apa nomornya.

Mana yang lebih banyak jika daftar yang sama dibuat untuk hal-hal yang membuatnya tidak bahagia 😀 #tutupmuka

Bagi yang belum punya pasangan atau sedang stay single but very happy, kita bisa bahagiakan orang-orang terdekat dengan berbagai cara. Bu Elia bilang, cinta dan kebahagiaan itu energi yang tidak pernah hilang. Dia mencari tempat-tempat untuk diisi, jadi pastikan dia mengisi tempat yang tepat. Di mana? Ya di hatimu 😛

Kalau saya bilang, sih, kebahagiaan itu memantul. Begitu dilemparkan ke arah lain, dia akan memantul kembali ke kita atau ke arah lain dengan kekuatan yang sama. Seperti bola ping pong gitu, deh. Bola ini yang bisa dijadikan eksperimen pantul-pantulan, karena bola basket bisa bikin perkara dan Anda bisa jadi tidak bahagia ahahah.

 

Jadi, tugas kita segera adalah membuat daftar tentang hal apa yang pernah kulakukan untuk membahagiakan orang terdekat. Boleh dimulai dari sekarang. 😀

Sebagai penutup, ini adalah ucapan sepupu Nabi yang saya jadikan pegangan saat tergoda untuk tidak bahagia “Jika yang terjadi tidak kau sukai, sukailah apa yang terjadi.”

So, mari kita berbahagia dan berbagi bahagia.

Salam Ramadan untuk semua alam.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s