Tanya Jawab Trauma

Senin Siang, , 23/05/2016 jam 13:21 WIB

Anna farida: Salam, Bapak Ibu. Selamat datang para peserta Kulwap Keluarga Sehati yang baru. Saya akan mulai post jawaban, mohon waktu sejenak hingga ada tanda ✅

Tanya 1:
setelah anak saya mengundurkan diri dari pesantren karena sebab yg membuatnya trauma, adik-adiknya tidak mau diajak berkunjung untuk melihat kehidupan pesantren dan bersekolah disana. Saya dan pasangan juga tidak pernah memaksa kakaknya masuk sekolah itu. Bagaimana menghilangkan trauma sang kakak untuk adiknya? minimal, agar adiknya tidak menyamaratakan  pengalaman kakaknya pada semua pesantren.

Jawaban Bu Elia Daryati:

Perasaan adik yg disebabkan kakaknya mengalami trauma di pesantren. Yang dialami adik2nya dari kakak yang di pesantren, bukanlah trauma akan tetapi persepsi negatif adik terhadap pesantren. Persepsi merupakan pemaknaan atas sesuatu.
Dalam kasus ini mengambil suatu kesimpulan dengan berdasarkan pengalaman masa lampau kakaknya di pesantren. Sang adik telah menyimpan pemahaman bahwa pesantren adalah tempat yg kurang aman dan menyenangkan.

Bagaimana untuk mengubah persepsinya? Yaitu dengan memberikan beberapa perbandingan. Tentunya dengan cara komunikasi yang baik, sehingga proses “menggeneralisasi” anak perlahan-lahan berkurang. Jika anak sdh mengerti dan memahami ini, lambat laun juga paham. Bahwa tidak semua pesantren seburuk yang pernah dia tahu.

Dalam memberikan proses pengertian dan perbandingan, juga harus diperhatikan usia anak. Sehingga pola komunikasi yang dibangun sesuai dengan tahapan berpikir anak.

Jawaban Anna Farida

Trauma bisa berasal dari peristiwa yang dialami sendiri, bisa juga dari peristiwa yang dialami orang lain—biasanya orang terdekat.

Sikap Bapak dan Ibu tidak memaksa anak sudah pas. Sekarang tinggal diurai baik-baik, apa yang membuatnya trauma. Misalnya, Kakak trauma tinggal di pesantren karena jadi korban perisakan (bullying). Cek, apa pemahaman anak tentang bullying. Ajak anak bicara bahwa hal baik dan tidak baik bisa terjadi di mana saja. Fokus pada peristiwanya, ajak anak untuk mencari solusinya. Jadi bukan pada pesantrennya—kemudian Bapak Ibu berkata, kan pesantrennya beda. Kan Adik tidak masuk ke pesantren yang sama. Sikap ini sama sekali tidak disarankan.

Jadi sekali lagi, fokusnya pada bullyingnya, bukan pesantrennya. Yang dibahas adalah obyek traumanya, bukan sekadar pindah tempat.

Memang, pindah tempat bisa dilakukan sebagai emergency exit alias pintu darurat. Anak bermasalah di sekolah kemudian pindah. Ada masalah lagi pindah lagi … akar masalahnya sebaiknya diurai dulu.

Memang, pindah bisa membantu menetralisir rasa cemas Adik. Tapi begitu di tempat yang baru dia mengalami hal serupa, traumanya justru akan semakin kuat.

Jadi kuatkan anak pada bagaimana mengatasi masalahnya, suasana di tempat yang baru akan menguatkan semangatnya. Semoga segera terurai, ya, Ayah Bunda. ☘

Tanya 2:

Assalamu’alaikum, saya mau tanya, kategori trauma itu apa ya? Saya ada anak yang tiba-tiba menangis meraung-raung di sebelah ibunya ketika denger anak yg lain dimarahin. Katanya dia trauma, enggak bisa denger orang marah-marah karena pernah melihat KDRT ortunya (ada adegan pemukulannya) semasa bayi. Tapi kayaknya ga selalu nangis kalau mendengar orang marah-marah. Apa artinya sebenernya dia sudah enggak trauma? Kalau masih trauma, apa harus dihindarkan dari mendengar orang marah marah? Nuhun.

Jawaban Bu Elia Daryati

Trauma artinya luka. Demikian juga yang terkait dengan masalah luka jiwa. Seberapa dalam luka itu terjadi dan seberapa mampu setiap individu mengatasinya. Semua berbeda-beda terkait tingkat pemaknaannya.

Bagi sebagian orang teriakan dan pertengkaran dianggap biasa saja, namun bagi sebagian lain hal ini menjadi masalah besar, jika ketika peristiwa itu terjadi dia cukup fokus dalam menghadapinya.

Adapun yang menarik dari peristiwa di kasus ini adalah anak akan menangis jika orang yang lebih dewasa memarahi anak kecil dan akan biasa saja ketika mendengar amarah lain yang tidak ditujukan ke anak-anak. Ini menyangkut adanya selektivitas terhadap stimulus kemarahan.

Artinya anak memaknai amarah. Itu sebagai suatu yang melukai jika ditujukan pada anak-anak tapi rangsang marah menjadi tidak berarti jika tidak ditujukkan pada anak-anak. Apakah ini merupakan reaksi terhadap  trauma? Trauma biasanya sifatnya tidak selektif. Jika dilihat kasus ini adalah anak yang memilliki sifat sensitif.
Bagi anak-anak yang sensitif biasanya memiliki rasa empati yg sangat besar. Kemarahan orang desawa terhadap anak, seperti kemarahan ortu pd dirinya. Hal ini suatu yang sering terjadi, bagi anak sensitif, pohon ditebang saja yang merasa ikut ngilu adalah dirinya.

Jadi jika dilihat dari kasusnya bisa jadi reaksi anak terhadap kemarahan. Bukan karena trauma, namun reaksi umum yang biasa terjadi pada anak yang sensitif.

Jawaban Anna Farida

Trauma dipicu oleh sesuatu yang pernah dialami atau sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa atau benda itu. Misalnya, seorang ibu takut anai-anai (rayap—selama ini saya kira laron, ternyata bukan, heuu) karena peristiwa yang menurut dia menakutkan dan dia tak berdaya saat itu.

Saat ada orang menyebut kata rayap, dia langsung merasa deg-degan dan mulai melihat-lihat jangan-jangan ada kumpulan rayap di dekat kakinya. Saya mohon maaf jika ada peserta kulwap yang memang takut pada binatang ini. Intensitasnya kian kuat jika dia dalam keadaan sendiri, tegang—misalnya sedang menanti jemputan yang tak kunjung datang.

Ketegangan bisa mereda jika ada hal lain yang mengalihkan perhatiannya dan menggusur emosi negatifnya, misalnya ada teman lain yang segera mengajaknya ke warung dan makan bubur kacang nan panas—duh, jadi lapar!

Jadi anak yang biasa menjerit-jerit saat lihat orang lain dimarahi bisa jadi memang saat itu dia dalam kondisi tidak berdaya tadi. Jadi, yang bisa dilakukan kepada orang atau anak yang mengalami trauma adalah membuatnya berdaya.

Pilihannya ada dua:

Pada anak yang lebih besar, kita bisa ajak dia berbincang perlahan-lahan bahwa ada urusan orang dewasa yang memang tidak menyenangkan. Ada orang dewasa yang memang tidak mampu menyelesaikan urusan dengan cara baik-baik sehingga terjadi kekerasan. Itu bukan salahmu. Saat itu kamu tidak bisa membela atau bertindak karena masih kecil. Sekarang, lakukan yang terbaik, jadi anak yang bisa membesarkan hati orang tua yang pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan itu.

Remember, it’s not your fault. Ingat selalu,peristiwa itu terjadi bukan karena kamu, bukan salahmu.

 

Untuk anak yang lebih kecil, perkaya dia dengan kasih sayang, jamin rasa amannya. Pada saat yang sama, arahkan potensi positifnya. Jika suatu saat trauma yang masih tersimpan itu muncul, kemampuan kontrol emosinya akan lebih matang karena dia punya hal lain yang jauh lebih menarik untuk dilakukan.

 

Trauma itu bukan perkara sepele. Jangan pernah sebut dia cengeng atau sembarangan bilang, “Ih, nggak bisa move on”.

Temani saja, atau diam. Jika Anda tak bisa membantu, paling tidak jangan bikin masalah lebih buruk. Libatkan tenaga profesional jika trauma sudah mengarah pada hal yang membahayakan diri sendiri tau orang lain.

Tanya 3:

Bu Anna, Bu Elia, saya kalau pas hari yang teduh kok pembawaannya kok sedih ya? Misalnya setelah hujan atau awan mendung. Apa ini berkaitan dengan masa kecil saya yang seringkali “home alone” ditinggal di rumah sendirian, meski sedang hujan? Terus bagaimana cara mengatasinya? Terima kasih sebelumnya.

Jawaban Bu Elia Daryati

Keadaan alam memang dapat mempengaruhi kondisi suasana hati. Hari menjelang sore sekitar jam 5 ke atas suasana hati akan lebih diwarnai perasaan dan emosi yang lebih kuat dibandingkan pada waktu sepanjang siang.

Hampir setiap orang akan merasakan suasana perasan “melow” jika dihadapkan pada situasi ini.  Apalagi jika memiliki pengalaman masa kecil yang sering “home alone”. Perasaan ini semakin kuat, jika dikaitkan dengan memori masa kecil yang sering ditinggal dan pada saat-saat tertentu kondisi alam sedang mendung atau hujan.

Itu merupakan asosiasi berpikir yang dirasakan cukup kuat pada masa itu yang menimbulkan rasa kesepian yang mendalam, sehingga ketika menghadapi  suasana yang memiliki kemiripan dengan situasi masa itu, memori terbangkitkan kembali. Bagi yang tidak memiliki kenangan atas kesendirian saja, situasi-situasi alam tertentu kadang membangkitkan perasaan syahdu, apalagi bagi ibu. Itu wajar saja.

Pada kenyataannya situasi sekarang sudah berbeda keadaan. Ibu sudah tidak home alone lagi. Bagaimana cara menyikapi situasi ini. Pastinya, harus lebih mampu mengelola perasaan dan tidak hanyut dengan situasi.

Bagi sebagian orang perasaan akibat situasi di atas tidak selanya membuat mereka sedih, tapi bisa seperti perasaan syahdu dan dapat dimanfaatkan secara kreatif untuk menciptakan tulisan, puisi dan lagu yang indah.

Jika ibu kurang berbakat dengan membuat karya seperti ini, maka kompensasinya dapat dilakukan dengan cara mencari situasi yang ramai bersilaturahmi dengan teman dan mencari kesibukkan kegiatan lain, sehingga kondisi alam di luar diri tidak menghanyutkan kita pada memori yang kurang menyenangkan.

Jawaban Anna Farida

Suasana yang serupa memang bisa mengungkit trauma. Di usia yang sudah dewasa, kita bisa mengimbangi suasana sendu itu dengan melakukan hal menyenangkan yang lebih banyak. Libatkan orang lain jika perlu, misalnya, untuk berkegiatan bersama.

Sometimes when we can not find happiness, we just need to create it. Jika rasa bahagia di saat mendung itu sulit diperoleh, coba ciptakan.

Bisa jadi trauma itu memang bagian dari Anda. Tak ada yang pantas mencela Anda karena itu. Sekali waktu merasa mendung sih boleh, kemudian bersyukur bahwa kini Anda tak lagi home alone 🙂

I feel you, pokoknya 😀

Walaupun begitu, bahagia itu pilihan Anda, lho. Dan kabar baiknya, rasa bahagia itu bisa banget dihadirkan. Mungkin kulwap berikutnya kita bisa bahas tema menghadirkan bahagia.

Ini matahari untuk Anda #uhuk.

🌻🌞

Pengen ikutan kulwap Keluarga Sehati, juga? Daftarkan nomor WhatsApp Anda ke 0896 5041 6212 (Suci Shofia). GRATIS!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s