Komitmen

relatably.com

Jumat, 13 Mei 2016 Anna Farida berkata: Salam sehati, Bapak Ibu. Ini materi kulwap ke-35, tentang komitmen dalam pernikahan. Sebuah kata yang tampak mudah dilakukan ketika pernikahan sedang adem ayem.

Atau sebaliknya, kata ini selalu muncul dan jadi nasihat standar jika pernikahan mengalami masalah, “Ayo, dong, kembali ke komitmen. Ingat komitmen.”

Sebenarnya apa sih, komitmen itu?

Secara sederhana saya mendefinisikan sebagai kemauan untuk melakukan apa pun agar pernikahan berjalan baik—tentu apa pun = tidak melanggar hukum negara, hukum agama, kesehatan lahir batin, lho, ya. Apa pun berarti apa pun yang baik.

Kemauan ini tidak hanya berlaku sekali—yang dimaksud komitmen mengisyaratkan kemauan yang berulang-ulang, START and RESTART.

Bagaimana memelihara komitmen tadi? Saya simpulkan beberapa hal, nanti kita bahas dalam diskusi, ya.

+ Sepakati, buat daftar, tulis dan bingkai jika perlu, hal hal yang akan dilakukan oleh masing-masing pihak pasutri untuk menjaga pernikahan tetap sehat.

+ Lihat apa yang disukai pasangan, usahakan lakukan. Lihat apa yang tidak dia sukai, hindari. Perhatikan hal yang paling mudah dilakukan, sehingga tidak memberatkan. Misalnya, pasangan suka koleksi capung dan makan donat keju. Pilih salah satu, mana yang lebih mudah Anda ikuti, koleksi donat atau makan capung keju 😱🙈

+ Saya suka banget ilustrasi ini. Saya pakai berulang di berbagai kesempatan. Bayangkan Anda seorang pemain bola. Di depan gawang Anda, tim Anda berkumpul siaga. Tiba-tiba bola meluncur ke arah Anda. Seharusnya Anda segera menjauhkan bola itu dari wilayah gawang.
Tapi Anda memainkannya sejenak, main oper dengan pemain lain.

Penonton berteriak gemas, pemain lawan terlihat kesal. Anda menikmati situasi ini. Gawang terjaga, bola dalam kendali Anda. Main-main sejenak tak ada ruginya.

Tanpa disangka, seorang pemain lawan meluncur ke arah Anda, menyambar bola dari kaki Anda dan menembakkannya ke gawang. Teman-teman Anda tak kuasa menghalangi, dan gooool!
Sesal kemudian lama sembuhnya.

Demikian pula komitmen dalam pernikahan.
Keharmonisan rumah tangga dalam kendali kita sebagaimana bola tadi. Kita bisa menjauhkannya dari risiko bahaya bisa juga memainkannya demi kesenangan sejenak.

Saya jadi ingat bahasan TP alias tebar pesona beberapa hari yang lalu. Ruammenyaa 😬😬

Pesona kita ada dalam kendali kita. Apakah kita hendak menempatkannya di mulut gawang yang penuh bahaya atau menjauhkannya, pilihan bebas ada di tangan kita.

Kemauan untuk melibatkan diri menjaga pernikahan dari hal-hal yang mengandung risiko adalah salah satu bentuk komitmen juga.

+ Sampaikan pada pasangan bahwa Anda melakukannya demi menjaga pernikahan yang sehat lahir batin. Sampaikan bahwa ini komitmen Anda. Let him/her know. Dia akan tahu bahwa Anda mengupayakan komitmen itu secara sadar karena peduli pada kebaikan pernikahan.

Nah, apa komitmen Anda?
Mari berbagi cerita.
Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage With Heart dan Parenting With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

 

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s