Trauma Pada Anak

trauma
naturalhealthprotocol.com

Jumat siang, 20 Mei 2016

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini materi ke-36, kita akan membahas trauma pada anak.

Kita awali pemahaman kita tentang trauma dengan mengamati (kembali) perilaku kita saat berhadapan bahaya. Dari usia anak-anak hingga dewasa, pengetahuan kita tentang bahaya kan terus berubah. Hal yang semua dianggap berbahaya ternyata tidak, demikian pula sebaliknya, hal yang semula jadi mainan ternyata berbahaya.

Curhat dulu tentang anak saya. Saat masih kecil, mungkin 4-5 tahun, dia digodain omnya. Saat itu lift kosong, hanya ada mereka berdua. Ketika pintu lift hendak tertutup, omnya mendadak lompat keluar sambil tertawa-tawa. Anak saya ikut lompat keluar.

Eeeh, begitu dia sampai di luar, omnya lari ke dalam lift. Demikian sampai beberapa kali dan akhirnya meledaklah tangisan ketakutan. Omnya menyesal, tapi sudah terjadi.

Bertahun kemudian, anak saya selalu lari dari lift dan pilih tangga walau 5 lantai. Jika terpaksa pakai lift bersama-sama, tangannya dingin sekali dan dia selalu ingin keluar atau masuk duluan. Takut tertinggal, katanya.

Sekarang dia sudah remaja, saya sudah lama tidak pakai lift bareng dia, jadi tidak teramati lagi. Ketika ditanya tentu dia jawab, “Sudah berani, dooong” ehehe.

 

Jadi, menurut anak, ditinggal di dalam lift sendirian itu berbahaya. Kucing yang imut sekalipun bisa jadi sangat mengerikan bagi anak-anak. Eh, bukan hanya bagi anak, lho.

Saya punya teman ibu-ibu. Dia akan naik kursi begitu ada kucing lewat. Padahal dia tahu, jangankan kursi, naik atap pun kucing piawai, kan? 😝

Balik lagi ke trauma pada anak. Kadang orang dewasa menyangka bahwa kalau masih anak-anak, mereka tidak paham semua peristiwa dan akan mudah melupakannya.

Ternyata tidak semudah itu.

Ada peristiwa tertentu yang bisa meninggalkan dampak ingatan sangat lama dan muncul sebagai trauma, misalnya mengalami atau menyaksikan kekerasan. Saat itu anak merasa sangat ketakutan dan tidak berdaya. Perasaan tidak bisa melawan inilah yang membekaskan trauma. Ketika peristiwa atau hal yang terkait dengan peristiwa itu muncul, emosinya akan segera terpicu diiringi detak jantung yang kuat, gemetar, sakit perut, bahkan pingsan.

Jadi, yang bikin trauma itu bukan semata-mata peristiwanya, atau kucingnya, misalnya. Yang membuatnya trauma adalah perasaan tak berdaya saat mengalaminya. Sama-sama dicakar kucing, jika saat itu dia bisa melawan, hasilnya akan berbeda. Jadi jangan pernah mencela anak ketika dia takut sama kucing, misalnya. Kita tidak pernah tahu apa yang pernah dialaminya. We just do not know wthat they’ve gone through.

Apa yang bisa kita lakukan?

+ Memberikan jaminan bahwa kita menemaninya—temani saja dia dulu, please. Karenanya saya merasa miris ketika korban sexual abuse diminta menceritakan ulang apa yang dia alami di hadapan orang yang tidak dikenalnya.

+ Pahami dulu ketakutannya sambil sampaikan bahwa dia sudah dan akan mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Tanpa menyindir ketakutannya, bilang saja, “Eh, celanamu sudah menggantung. Sudah tambah tinggi rupanya.” – SETOP. Tidak perlu dilanjutkan dengan “kucing sekarang takut, deh, sama kamu.”

+ Ajak dia melakukan banyak aktivitas yang menstimulasi pikiran dan fisik, bersenang-senang bersama dengan kegiatan yang bermanfaat. Traumanya adalah bagian dari hidupnya, tapi kecil saja. Dia akan memasukkan lebih banyak hal yang seru. Mana yang dominan, itu yang akan mewarnai hidupnya.

+ Bantu dia mengungkapkan perasaannya, termasuk ketakutannya, misalnya dengan bercerita pengalaman Anda atau teman yang memiliki ketakutan serupa. Ingat, trik ini tidak cocok buat emak-emak bawel seperti saya 🙈 Gunakan timer, cerita saja 3 menit dan sudahi.

+ Dekatkan anak dengan keluarga besar agar dia merasakan cinta yang kuat. Keyakinan akan tertanam dalam hatinya bahwa ketika hal buruk terjadi (lagi), aku punya banyak saudara yang menemani.

So, tidak ada trik yang lebih manjur untuk menepis trauma selain memberikannya cinta lebih banyak dan rasa aman bahwa dia selalu ada teman. Dengan konsistensi tentu semua keluarga bisa mendampingi anak melewati masa trauma. Namun demikian, perhatikan, jika trauma mulai menuju ke arah yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, bantuan tenaga ahli harus dilibatkan.

Kulwap ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

 

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s