Tanya Jawab Menemani Anak Berani Mengambil Risiko

Senin siang 12:41 WIB 09/05/2016 Suci Shofia: 🌤 Siang teman-teman, kali ini saya yang memosting jawaban yang sudah masuk. Narsum sedang ada keperluan keluarga👨👩👧👦.

Mohon untuk tidak memberikan komentar sebelum saya menyelesaikan posting jawaban, yaaa😎

Tanya 1:

Anak saya 6,5 thn kls 1SD. kalau di lingkungan baru selalu nempel dgn bundanya. disekolah kalau bermain pun cari aman. Kurang berani. Selalu bilang malu. Bagaimana mengatasinya ya?

Jawaban Bu Elia:

Prinsip dasarnya semua individu memiliki kemampuan untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan manapun. Anak usia 6,5 dan kelas 1 SD masuk dalam masa stadium belajar. Bersamaan dengan hal tersebut, mereka pun mulai untuk lebih meluaskan diri dengan lingkungan yang lebih luas di luar keluarganya. Hal ini berkaitan dengan keterampilan sosial, yang merupakan kelanjutan dari kemampuan anak di usia sebelumnya.

Bagi anak-anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri di lingkungan baru, bisa terkait dengan :

1. Kebutuhan anak memang tidak terlalu besar untuk bergaul dan merasa bahagia dengan teman yang terbatas. (anak introvert, teman sedikit tapi bahagia dan tidak terlalu menyukai lingkungan yang luas)

2. Anak merasa ingin bergaul tapi sulit, ingin memulai namun tidak mudah.

Dari kedua hal tersebut mana yang paling menonjol. Untuk alasan yang pertama, kita mungkin harus lebih membaca kebutuhan anak untuk bergaul seperti apa. Jika memang sangat mengalami kesulitan. Ini pun yang harus dirubah bukan sekedar anak, namun perlakuan kita sebagai orang tua.

Semua anak lahir berani, menjadi kurang berani karena keberaniannya sedikit terbelenggu oleh cinta yang kurang memerdekakan, yaitu perlindungan. Kuncinya berikan kepercayaan setahap-demi setahap. Anak perlu didukung bukan dipertanyakan dengan kalimat “kenapa”. Selanjutnya ketika anak kembali gagal kita support lagi, tidak disalahkan atau ditatap dengan mata yang keheranan. Sekecil apa pun perubahan, kita hargai sebagai perubahan. Sebagai orang tua berikan apresiasi. Hal ini akan menjadi penguatan yang lebih baik untuk langkah yang lebih besar. Insya Allah…anak akan menemukan dunia bahagianya dalam bersosialisasi, walau setiap anak memiliki daya adaptasi yang berbeda. bandingkan anak dengan dirinya sendiri dan bukan dengan orang lain.
Jawaban Anna Farida:

Ngaku. Saya punya anak 11 tahun, laki-laki. Dia selalu bilang tidak mau tumbuh. Katanya, kalau gede, nanti kalau pengajian harus di barisan laki-laki, nggak bisa duduk dekat Ibu 😀

Tapi di sisi lain, dia pulang sekolah sendiri, dia cukur rambut sendiri, bikin makan sederhana bisa juga sendiri. Saya bisa pergi dengan tenang dan jemuran pasti aman, karena tanpa diminta dia akan angkat jika hujan.

Jadi yang disebut nempel, apalagi di lingkungan baru, apalagi untuk anak 6.5 tahun, itu masih wajar selama dia pun punya waktu lain untuk mandiri dan berani. Jangankan anak, saya pun akan canggung jika berada di tempat baru, setidaknya beberapa detik eheheh.

Taking risks bukan berarti tidak boleh dekat dan bermesra-mesraan dengan Ibu. Coba apakah pada saat lain, saat merasa nyaman, dia juga cenderung tidak mau ambil risiko?

Minta bantuan agar dia ambil keputusan dari hal-hal kecil, misalnya milih baju, milih mainan, atur jam main game—dengan risiko yang sudah dibahas bersama.

Semoga terjawab, salam buat si 6.5 tahun. Kita perdalam dengan diskusi, ya.

Tanya 2:

Bagaimana cara memberi pengertian pada anak usia 5 thn untuk berteman dengan teman yang baik saja.. mengingat usia segitu kan belum tahu mana teman yang baik dan yang tidak baik. Anak saya sudah mulai susah dicari karena sering ngebolang ke tempat yang cukup jauh kadang “bahaya” dengan teman-teman barunya. Sering bikin deg-degan, sementara saya punya warung jadi agak susah juga kalau  setiap saat harus mencari.

Jawaban Bu Elia:

Anak usia 5 tahun, merupakan tanggung jawab orang tua untuk mengontrol. Jika terjadi sesuatu pada anak di usia tersebut, maka orang tua sebagai pengawas utama yang harus bertanggung jawab terhadap hal tersebut.

Untuk membicarakan mana yang baik dan tidak baik, masih merupakan konsep anbstrak buat mereka. Tanggung jawab orang tua, hanya menjelaskan batas-batas mana yang boleh ddan tidak boleh, karena itu penerapan disiplin cukup penting. Apalagi dengan bermain jarak jauh “ngabolang” istilah ibu, faktor resiko buat anak terlalu besar.

Jika ibu memang sulit untuk meninggalkan warung, paling tidak memberikan ruang gerak sosial anak, sebatas wilayah warung sesuai jangkauan mata kita. jika juga memang sulit, harus ada pengasuh lain yang bertanggung jawab atas keselamatan anak kita di luar jangkauan mata yang tidak bisa kita lihat.

Jawaban 2 dan 3 Anna Farida:

Anak yang masih balita masih perlu mendapatkan pengawasan orang dewasa, lho. Bahas dengan dia, sampai mana dia boleh main dan apa sebabnya. Ajak selalu cerita anak – baca lagi materi komunikasi asertif, ehm, agar dia tidak merasa terintimidasi dan malah cenderung ingin main secara sembunyi-sembunyi.

Sampaikan apa yang harus dia lakukan berulang-ulang, berulang-ulang. Start –restart. Lakukan bukan sebagai reaksi atas tindakan dia, maksudnya jangan dimarahi setelah pulang, tapi sampaikan rambu-rambunya sebelum dia berangkat main—dan sebaiknya ada orang dewasa yang dipercaya menemaninya.

Untuk anak yang masih 5 tahun, sebaiknya kita undang teman-temannya main ke rumah. Jika main ke rumah teman, pastikan ibunya sedang ada di rumah dan bersedia dikunjungi. Jadi risiko itu dicontohkan ke anak secara bertahap, bukan berarti boleh mencoba segala hal tanpa perhitungan.

Untuk anak 5 tahun, risiko yang bisa dia latih adalah menerima konsekuensi baik dan buruk atas perbuatannya namun masih dalam pengawasan orang dewasa.

Saya sependapat dengan pandangan bahwa anak di bahwa usia 7 tahun masih perlu pengawasan optimal dari orang dewasa di sekitarnya. Jadi semua orang dewasa bertanggung jawab, lho.

That’s why, kita mulai, yuk, peduli dengan anak orang lain. sudah bukan zamannya sekarang bilang “yang penting bukan anak saya”. Kalau ada anak tetangga terlihat main terlalu jauh, coba ingatkan. Jika dia berkata kasar, coba ingatkan juga – tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan juga, semoga anak-anak kita pun terjaga saat di luar pengawasan kita.

Tanya 3:
Mengajarkan anak mengambil risiko dikenalkan sejak dini kah? Apakah identik dg coba-coba akan segala hal?

Jawaban Bu Elia :

Aspek yang dikenalkan kepada anak sejak dini sebelum pengambilan resiko adalah “self help”. Melalui activity daily living. Dengan munculnya rasa tanggung jawab pada anak, anak akan memiliki kemandirian secara fisiologis dan psikologis. Jika ini sudah terbangun otomatis anak akan memiliki kemampuan dalam penngambilan risiko. Kemandirian psikologis anak pada akhirnya, akan tergambarkan dalam pengambilan risiko. Mengingat keduanya memiliki kaitan yang erat.

Jadi kesimpulannya, untuk anak kecil sebaiknya diajarkan untuk activity daily living, yang merupakan embrio dari kemadirian dan kemampuan anak dalam mengambil risiko.

Jawaban Mb Anna Farida ada di pertanyaan ke 2 👆🏻

Tanya 4:
Saya agak ragu2 mengambil resiko ttg antar jemput anak yg tinggal bersama kami yg sudah SMP (anak dari kakak suami saya, ibunya beda kota dengan kami).

Saya masih tidak nyaman jika tidak mengetahui info ttg anak lg dimana, ngapain, sama siapa, kapan pulang dll.

Saya cenderung ingin anak ini antar jemputnya via ojek yg saya kenal atau jemputan, krn jelas yg diserahi tanggung jawabnya.

Sedangkan si anak ingin naik umum atau gojek krn katanya lebih berasa mandiri.

Tapi kl ilang saya mo telp siapa hehehe…

Mana di sekolah ga boleh bawa hp. Dan saya ga tau pulang sekolah kegiataannya positif atau negatif, secara anaknya kurang bisa berkomunikasi dgn baik. Cenderung tidak suka ditanya dan terganggu kl harus memberi informasi.

Apa ketakutan saya benar atau ada sisi yg lain yg harus diperhitungkan? Sebagai tambahan saya tidak melarang dia pergi kemana saja, asal memberi informasi kemana, acara apa (acara bersenang2 juga gpp), sama siapa? Kapan pulangnya? Minta kontak ibu temennya kl semisal yg jemput lg telat jemput. Ya saya ga suka anak itu nunggu d tempat yg ga jelas krn yg jemputnya telat. Takut kenapa2. Apa lagi kl pulangnya cenderung malam. Tapi dgn alasan biar mandiri dan tidak merepotkan, ibunya dan suami saya mendukungnya naik umum. Bagaimana saya bisa bertanggung jwb kl kayak gitu. Mungkin memang itu yg dimaksud mandiri, tapi bagi saya terdengar seperti kebebasan. Bagaimana agar kemandirian ini menjadi kebebasan yg bertanggung jawab? Nanti kl anak saya ikut2 an minta diperlakukan demikian gimana? Hatur nuhun sebelumnya.

Jawaban bu Elia:

Pada anak SMP, kemandirian memang sudah harus terbentuk dan terbangun. Sejauh mana kita mengenal anak kita dan sejauhmana kita mengenal diri kita. ini merupakan satu hal yang penting. Jika sebagai orang tua, kita belum mengenal anak dengan sangat baik, mungkin kita boleh menerapkan aturan sementara seperti yang ibu lakukan, namun bersama waktu sebagai orang tua pada akhirnya kita akan mengetahui sejauh mana anak bisa mempertanggungjawabkan perilakunya, maka secara fleksibel orang tua bisa merubah aturan.

Misalkan, setelah dievaluasi anak memperlihatkan sikap dan tanggung jawab yang baik dan membuat orang tua cukup mempercayainya. Secara bertahap berikan ruang pada anak untuk memberikan keleluasaan bertanggung jawab dalam pengaturan waktu pulang. Selanjutnya bisa dievaluasi dalam jangka waktu tertentu. Setelah itu diskusikan kembali, apakah sekiranya dapat dilanjutkan aturan yang diterapkan oleh orang tua terkait antar jemput, atau memberikan kepercayaan penuh pada anak untuk mengikuti kemauan dengan naik angkutan umum. Alternatif ketiga adalah, mencari irisan di tengah-tengah, prosentase awal lebih banyak mengikuti aturan orang tua, bersama jalannya waktu prosentase anak menggunakan kendaraan umum secara perlahan di lepas pelan-pelan.

Semua harus menggunakan komunikasi dua arah, tujuannya untuk mencari solusi atau menciptakan masalah baru dengan anak remaja.

Jawaban Anna Farida:

Usia SMP itu sudah mulai bisa diajak bicara tentang kaidah keselamatan di jalan, termasuk ketika dia menggunakan angkutan umum. Ibu atau Tante bisa menemaninya sesekali untuk memilih jalur yang paling aman dan nyaman—tunjukkan bahwa kepedulian itu tidak sama dengan rewel. Ahaha persis saya rewelnya.

Setelah itu, pastikan anak tahu apa yang harus dia lakukan ketika ada problem. Jadi taking risk di sini bukan berarti melepas anak tanpa pengetahuan dan wawasan yang memadai ketika dia sendirian.

Jika dirasa cukup, saatnya Ibu melepas dia sedikit demi sedikit.

Beri dia kepercayaan untuk naik angkot untuk jalur yang dirasa aman, jika terbukti oke, boleh, deh dilepas untuk jarak yang lebih jauh.

Prinsipnya, berlatih dan terus berkomunikasi itu yang paliiiing penting.

Jangan sampai ketakutan kita menular ke anak-anak dan berkembang jadi pandangan bahwa anak tidak dipercaya. Saya juga melakukannya dengan penuh perjuangan, Bu. Kita sama! Sip?

 Kulwap Keluarga Sehati ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Advertisements

2 thoughts on “Tanya Jawab Menemani Anak Berani Mengambil Risiko

  1. Pingback: Menemani Anak Berani Ambil Risiko – uchishofia

  2. Pingback: MENEMANI ANAK BERANI AMBIL RISIKO. | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s