Berdamai Dengan Masa Lalu

bambangpurnomohp.blogspot.com

Kuliah via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati yang disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart kali ini mengangkat tema Berdamai Dengan Masa Lalu.

Setiap manusia tentunya memiliki masa lalu, entah manis, asam, atau pahit. Semua yang telah terjadi lebih baik dijadikan sebuah pelajaran berharga bukannya merutuki, mencaci maki, apalagi mendendam.

Jumat siang, , 29/04/2016 jam 12:39 WIB

Anna Farida: Kulwap ke-33 🙂 Angka bagus, nih.

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Kangmas Paulo Coelho pernah berkata, “Make peace with your past so it won’t destroy your present.”

Saya jadi bertanya-tanya, apakah tanpa sadar, saya dihantui oleh hal yang pernah terjadi di masa lalu? Apakah saya selalu ingat orang yang pernah menyakiti saya? Apakah saya menyesali apa yang pernah saya putuskan?

Tentang hal buruk yang pernah saya alami, atau keputusan salah yang pernah saya ambil, tentu ada. Tak perlu kepo, kita semua mengalaminya, kan? Sotoy as always#tutupmuka

Saya sudah tak bisa mengubahnya, menyesalinya juga menghabiskan tenaga. Karenanya, saya belajar memaafkannya. Bukan berarti saya menganggap hal buruk atau kesalahan itu jadi benar. Yang buruk ya buruk, yang salah ya salah.

Saya hanya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk move on. #cieee

Apa yang saya lakukan?

+ Rasa tidak nyaman atau sakit itu memang ada, saya tidak menyangkalnya. Saya sedih, memang sedemikian adanya. Kata ahli komunikasi favorit saya, musibah itu tak terelakkan tapi terus merasa menderita itu pilihan.  I am in control. I am in control. Itu mantra saya.

+ Saya mengisi hidup saya dengan hal yang bermanfaat. Saya bergaul dengan tiga macam kelompok manusia: guru saya, teman saya, murid saya. Ketiganya menyumbang energi positif yang luar biasa.

+ Berdamai dan memaafkan diri sendiri itu bukan seperti bikin mi gelas. Kadang saya sudah memaafkan, tapi sekali waktu sulur-sulurnya menggoda saya lagi. Biasanya, rasa sedih atau rasa bersalah itu muncul dalam bentuk keluhan, omelan, atau kemarahan. Siapa korbannya? Ya, Anda benar. Orang terdekat, terutama anak-anak. Memang perlu waktu, saya beri diri saya waktu. Start – restart,  ingat?

+ Masa lalu saya tidak bisa diubah, tapi penafsiran saya bisa berubah. Mungkin saat itu saya masih muda—sekarang juga masih muda, sih—jadi saya mengambil keputusan yang saya sesali. Kini saatnya saya melihat sisi baiknya, setidaknya saya punya pengalaman, kan?

+ Saya belajar free writing kepada Pak Hernowo Hasyim, pakar baca tulis. Setelah sekian tahun menulis untuk orang lain, untuk Anda, para pembaca, saya belajar (kembali) menulis untuk diri sendiri. Saya tuliskan apa pun yang mengganggu perasaan saya, tanpa sensor. Saya pindahkan sampah itu dari dalam diri saya ke laptop. Hal pertama yang harus saya ingat adalah menghapusnya segera, eheheh. Ajaib, walau hanya beberapa sentimeter, hantu itu jadi berjarak dengan saya.

+ Beberapa hal saya bagikan kepada suami saya, orang-orang terdekat saya; beberapa hal saya tangani sendiri. Saya memilih masa kini untuk dijalani sepenuh hati, masa depan untuk diperjuangkan, kampung akhirat untuk pulang.

Masa lalu akan menjadi milik saya selamanya. Sebagaimana cangkir dan tatakan dalam peti plastik di bawah meja saya, mau dikeluarkan kapan ya terserah saya. Mau dihibahkan juga terserah saya—jadi Anda mau dapat hibah apa? Cangkir atau masalah? Buku atau masa lalu?:-D

Pertanyaan:

Mengapa kata “masa lalu” lebih sering dikaitkan dengan hal yang buruk? Bukankah masa lalu itu lengkap dengan baik dan buruknya?

Mengapa yang buruk sering disebut-sebut dan jadi hantu, sedangkan yang baik diabaikan begitu saja?

Mengapa saya juga menulis tentang pengalaman buruk dan keputusan yang salah?

Hapus saja dan bikin artikel baru?

Ini sudah setengah satu, saatnya post materi kulwap, ahahaah.

Mari berbagi pengalaman berdamai dan mensyukuri masa lalu, karena apa pun yang terjadi saat itu membentuk apa adanya dirimu.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s