Tanya Jawab Pubertas

Image result for puberty
kidshealth.org

Senin siang [13:17, 25/04/2016] Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Saya mulai post jawaban, ya

Tanya 1:

Biasa kalau anak kecil menyebut (maaf) alat kelamin mereka dibiasakan oleh orang tua pake sebutan lain. Bagaimana dengn hal itu ya?

Jawaban Bu Elia Daryati

Jika orangtua tidak membekali anak tentang pengertian yang sebenarnya, anak akan memiliki persepsi yang berbeda. Anak akan lebih mengenal tentang area pribadi yang ada pada tubuhnya sehingga ia pun bisa menjaga tubuhnya dengan baik. jadi dengan menjelaskan dengan benar, maka anak akan memahami jenis kelaminnya dengan benar.

Jawaban Anna Farida

Sejak anak-anak kecil saya menyebut penis dan vagina dengan istilah yang seharusnya. Justru setelah mereka beranjak lebih besar, muncul istilah lain dari luar.

Ubit saat umur 8-9 tahun pernah menyebut penisnya dengan elang 😀 mungkin karena mendengar orang lain menyebutnya dengan burung—dan tentu dia ingin burung yang gagah dan sangar hahaha

Begitu tren elang sepi, istilahnya kembali ke penis. Begitu pun ketika anak remaja saya lapor bahwa di sekitar penisnya tumbuh hutan—dia menemukan istilahnya sendiri dan saya oke saja, tidak segera mengoreksinya dengan menyebut pubis, misalnya.

Mereka tahu apa namanya yang resmi, tapi bebas juga berkreasi dengan nama-nama yang lebih unyu #halah!
Tanya 2:

Bagaimana saya harus bersikap dan menjelaskan hal-hal untuk tema kali ini untuk anak laki usia 14 thn? Dulu sekitar kelas 5 dia pernah bertanya ke kakak perempuannya, “Aku udah baliq belum?”

Hal itu di karena di sekolah di jelaskan termasuk mandi wajib. kakaknya menyampaikan ke saya. Saya bertanya apa aja kriteria baliq menurut sekolah.Ternyata banyak yang belum dia alami, jadi saya bilang belum baliq. Pas saya minta suami untuk ngobrol dengan si 14thn suami saya tidak menanggapi karena dia orangnya tertutup dan pendiam. anak lebih terbuka ke saya. Sekarang sudah kelas 3 SMP beberapa kriteria baliq sudah ada, mungkin sudah sempurna tapi untuk bicara ke area vital seperti hubungan suami istri, mimpi basah, pertemuan telur dan sperma saya jengah mengampaikannya. tapi saya mau kami yang pertama memberi tau supaya enggak salah, tapi bagaimana caranya?
Terima kasih…
Jawaban Bu Elia Daryati

Saat memasuki usia prasekolah, anak sudah mulai mengenal beda laki-laki dan perempuan. Berikan edukasi seks pada anak saat sebelum pubertas dan saat anak bertanya. Tak bisa mengajari anak tentang pengetahuan seks hanya satu kali, karena dalam tiap tahapan usia anak, mereka mendapatkan persoalan baru.

Untuk ibu yang sudah memiliki anak usia 14 tahun, seharusnya mereka mendapatkan

informasi mengenai masalah seksual itu lebih awal. Mengingat anak usia 14 tahun,

dipastikan mereka sudah akil balig. Merupakan tanggung jawab orang tua dan orang dewasa lainnya mengetahui hal tersebut.

Beberapa tahapan yang bisa dilakukan :

1. Orang tua tidak boleh sungkan membicarakan masalah seks dan seksualitas.

2. Berikan ruang diskusi mengenai hal tersebut, apalagi anak sudah berumur 14 tahun.

3. Untuk membicarakan hal yang sensitif mengenai seks dan seksualitas, orang tua

berhubungan dengan jenis kelamin dan pengetahuan mengenai tubuh anak, dia

laki-laki atau perempuan. Adapun seksualitas, mengajarkan cara

menjadi laki-laki yang baik atau perempuan yang baik.

Mereka sudah harus tahu bagaimana mengenal tubuh dan memelihara

tubuhnya, juga bertindak secara tepat sesuai jenis kelaminnya.

Hharus bersikap wajar dan tenang, sehingga anak pun akan menanggapinya secara

tenang dan wajar. Cara memberitahu tidak dilakukan dengan cara menggurui.

Jawaban-2 Anna Farida

Coba awali dengan membahas momen Ramadan. Saya biasa me-review kembali tata cara Ramadan bersama anak-anak begitu masuk bulan Rajab (sekarang) atau Syakban (sebulan menjelang Ramadan). Mereka akan merujuk pada apa yang tertulis pada buku tata cara puasa dan satu per satu kami bahas. Mau tidak mau kami akan menyebutkan tentang hal yang dilarang di siang hari bulan Ramadan, termasuk siapa saja yang terkena kewajiban puasa (yaitu anak yang sudah baligh).

 

Latih beberapa kali di depan cermin agar Bunda bisa menyampaikannya tanpa jengah – jangan tertawa, siapa yang berbagi pengalaman kemarin?—

Rasa jengah muncul karena pandangan kita sendiri kadang masih menganggap hal-hal seperti menstruasi atau mimpi basah itu tabu, dan hubungan suami istri itu memalukan.

Saya justru merayakan masa akil baligh anak—anak dengan traktiran 😀

Saat itu saya sampaikan, “Telah sampai saatnya kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri juga kepada Tuhanmu. Telah sampai saatnya secara fisik kamu bisa punya anak, dan harus lebih hati-hati bergaul. Kalau mau nikah bilang saja, tar dilamarin.” —– Dan anaknya teriak, “Ibbbuuu!”

 

Contoh percakapan:

+ Kak, mandi Jumat, gih.

= Okay

+Tahu nggak kalau mandi Jumat itu sama dengan mandi junub?

= Tahu

+ Kakak pernah mandi junub?

Dua anak lelaki saya sih bilang pernah.  Ini contohnya saya buat yang belum, ya.

 

= Nggak tahu, ah.

+ Kak, mandi junub itu dilakukan kalau Kakak keluar sperma. Biasanya ada bekasnya di celana dalam. Agak lengket seperti lem, atau mayonaise. Baunya khas, bukan pesing seperti pipis.

= bening?

+ Ya. Bening. Kalau sudah kering tetap berbekas, bisa dikerik seperti ingus kering gitu.

= Oooo

+ Kalau nemu yang seperti itu bilang Ibu, tar kita makan-makan.

Jadi memang harus dibuat nyaman -masing-masing ortu tahu kebiasaan apa yang bikin nyaman anak-anaknya.

 

Btw, Annete – bagaimana Katolik mengajarkan konsep akil balig?

Senang jika ada teman-teman yang berbagi pandangan dari sisi selain Islam. Kalau dari sisi sains insya Allah sepakat, lah ya. Jadi mari buka wawasan, belajar bersama.
Tanya 3:
Salam. Anak saya masih 2 tahun 7 bulan. Jadi, belum menjelaskan apa-apa. Kecuali hal-hal yang dia tanya. Hanya saja, saat main ke rumah teman yang punya anak laki-laki usia TK, orangtuanya hanya mengucapkan kata ‘burung’ saat si anak tidak memakai celana. “Ayo, pake celana! Ih, malu. Burungnya kelihatan.” Sebenarnya saya tidak sepakat dengan itu. Takutnya, nanti di saat dia menggambar atau mengucap kata burung, pikirannya selalu ke arah negatif. Gimana menghadapi hal yang demikian? Thanks.

Jawaban Bu Elia Daryati

Pada anak-anak balita, menjelaskan anggota tubuh mereka, sesungguhnya merupakan hal

yang biasa. Menyangkut body image. Sebaiknya, orang tua dapat menjelaskan semua anggota tubuh sesuai dengan namanya. Seperti kita tidak menjelaskan pada anak, bahwa tangan itu sama dengan “sayap”, atau kaki itu seperti “sirip”., tangan ya dikatakan sebagai tangan saja,  kaki dikatakan sebagai kaki saja. Demikian juga dengan alat kemaluan anak, harus dijelaskan sesuai nama. Ini “penis” dan ini “vagina”. Jika disampaikan dengan cara yang biasa saja, anak tidak akan merasakan bahwa penjelasan anatomi tubuh ini menjadi sesuatu yang “aneh”.

Adapun yang dapat ditambahkan oleh orang tua, bahwa ada bagian-bagian dari tubuh anak yang harus dijaga dan tidak boleh sembarang orang untuk memegangnya.

Jawaban-3 Anna Farida

Istilah yang paling sering dia dengar akan dia ingat. Jadi tenang saja ketika akan bergaul dan mendengar istilah lain.

Paling dia tanya, “Kok burung?”

Jawab saja apa adanya, “Memang ada yang menyebutnya burung, tapi setahu Mama, nama yang lebih tepat itu penis.”

Tak perlu juga buka perang dengan mama lain dengan berkata secara frontal berkata bahwa istilah burung tidak tepat. Contohkan saja, “Kemarin penis Alif kena gigit semut, euy!”

Setelah beberapa kali biasanya mama-mama kepo akan tanya, kok bilang penis dan bukan burung.

Nah, baru deh dijawab, “Karena memang penis. Kalau burung sih tak perlu pakai celana” eehehehe

Take it easy, Mom.

 

Btw jadi ingat pelajaran bahasa arab dasar, dalam teks ada kalimat ‘usfurul zaydi – artinya burungnya Zaid – dan anak-anak ngakak tanpa henti.
Tanya 4:
Apakah bahasa penis dan vagina sudah boleh diucapkan ke anak usia 5 taun?

Jawaban Bu Elia Daryati

Menyampaikan kalimat penis dan vagina disampaikan pada usia 5 tahun bolehkah? tentu

saja boleh. Mengingat anak harus tahu bahasa asli dari anggota tubuhnya, tidak menggunakan bahasa kiasan, agar tidak terjadi salah pengertian dan persepsi anak menjadi jelas.

Jawaban-4 Anna Farida

Saya sebut istilah penis dan vagina sejak mereka bayi, jadi lebih sering terucap ketika mengajari mereka cebok. Kan pasti disebut-sebut bagian yang harus dibersihkan.

Yang paling penting justru pandangan kita pada dua kata itu. Sebut saja sebagaimana kita menyebut tangan dan kepala—ehehe, bisa?

Biasakan, tapi jangan dipaksakan. Senyamannya saja, yang penting anak tahu apa istilah yang benar. Mau pakai kata pakai kata pengganti apa, itu pilihan.

Jadi … mau pakai istilah apa untuk “itu”? — nah, kan, jadi menebak-nebak, apa maksudnya “itu”.

Hayo, imajinasinya dijaga 😝
Anna Farida: Sampun, Mahmud Admin Suci Shofia ✅✅
Terima kasih para penanya yang sudah mewakili kita semua berbincang tentang “itu” ✌
Jadi ingat Voldemort you know who 😝😁

Advertisements

One thought on “Tanya Jawab Pubertas

  1. Pingback: Menemani Anak Saat Puber | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s