Menyapih Dengan Cinta

Jumat Siang, narasumber kulwap Keluarga Sehati berbagi ilmu seputar Weaning With Love.

Anna Farida: Salam Sehati, Bapak Ibu.

Ada usul materi yang juga unyu, bikin galau sebagian ibu, dan keterlibatan para bapak jadi perlu.

Tak terasa, ini kulwap ke-30, kan ya, Teman-teman dan Mahmud Admin Suci Shofia.

 

WEANING WITH LOVE

Bagi sebagian besar ibu yang menyusui, menyapih bisa jadi salah satu hal yang ditunggu sambil deg-degan. Bukan hanya memikirkan balita yang bakal rewel tapi juga payudara yang bakal sakit. Selain dua hal itu, saya juga berpikir tentang lepasnya ketergantungan anak ke saya, ehehe, takut ditinggalin anak—sekaligus senang juga, sih, sebenarnya. Pas, kan, galaunya 😛

 

Kapan saat yang tepat?

Umumnya setelah dua tahun. Minimal setahun, setelah bayi mulai terbiasa dengan makanan pendamping—itu yang saya baca-baca dari beberapa buku. Yang lebih penting sebenarnya bukan hanya ukuran waktunya, tapi kesiapan anak dan ibu.

Perhatikan apakan situasi memungkinkan? Hindari menyapih saat anak sedang sakit, misalnya. Atau ketika Anda sedang mengalami hal besar seperti pindah rumah, ada masalah keluarga, atau kondisi lain yang membuat situasi akan makin runyam jika bayi disapih.

Lakukan bertahap dengan cara menjarangkan penggantian ASI dan menggantikannya dengan makanan atau minuman lain. Cara ini juga lebih nyaman bagi ibu karena payudara akan perlahan-lahan mengurangi produksi ASI—sehingga bengkak dan rasa nyeri bisa diminimalkan. Jika pun terjadi—aduh saya panas dingin, lho, saat itu—siapkan kompres dingin untuk mengurangi nyeri.

Yang sangat perlu diperhatikan dalam proses penyapihan adalah kondisi psikologis anak—pastikan dia diajak bicara, dialihkan perhatiannya, bukan dijauhkan dari ibu dan ASI secara frontal. Pilihan mengolesi payudara dengan bahan yang pahit atau pedas saya sesali hingga kini. Saya baru belakangan tahu bahwa tindakan itu bisa membuat anak bingung—mengapa sesuatu yang sebelumnya sangat menyenangkan dan membuatnya sangat dekat dengan ibu, kini jadi pahit dan mengerikan?

Jadi kuncinya adalah perlahan-lahan, bertahap, dan anak tetap ditemani. Di sinilah peran ayah atau orang dewasa lain menjadi sangat penting. Pada masa ini mungkin ibu tidak enak badan sekaligus sedih melihat anak rewel. Suasana jadi tidak seru, anak kian gelisah. Masa ayah tak mau bantu?—minta dijitak itu sih.

So, suasana tenang dan tetap seru harus dihadirkan saat masa penyapihan. Inilah masa anak beralih ke makanan yang lebih variatif sesuai pertumbuhannya, dan anak bisa diajak bicara.

“Adik sudah lebih besar, perlu makanan lain. Sudah punya gigi, sudah pintar mengunyah. Kita makan sambil main, yaa.”

Jadi unsur fun tetap ada, walau ASI diambil perlahan-lahan dari dia.

Jangan gunakan kalimat negatif seperti “Ih sudah besar masih nenen. Malu, ih!”, karena baginya menyusu adalah kesenangan tertinggi.

 

Catatan: Alihkan ASI ke gelas, bukan dot. Kita sudah pernah bahas, kan, ya. Biasakan anak minum dengan gelas atau sendok selagi dia masih dapat ASI, jadi dia sudah terampil ketika disapih.

Gitu, ya?

Mari kita berbagi kenangan dan berbagi pengalaman.

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh di Teh Aan, ada diskon menarik.

 

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)
Mau ikutan kulwap? hubungi Suci Shofia di nomor WA 089650416212

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s