Tanya Jawab Toilet Training

Image result for toilet training
ilustrasi: play.google.com

Senin siang, 21 Maret 2016 13:02 WIB

Waktunya posting jawaban atas pertanyaan peserta Kulwap Keluarga Sehati.

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu.
Senang bisa merumpi bersama
Tanya 1:

Kalo toilet training, anak saya hampir sempurna. Tapi urusan minum susu, dia harus  ngedot. Usianya sekarang 5,5thn. Sampe berapa usia yang normal anak ngedot?
Jawaban Bu Elia Daryati

Toilet Training pada anak adalah latihan menanamkan kebiasaan pada anak untuk aktivitas  buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) pada tempatnya. Toilet traning sebetulnya terkait dengan pengembangan disiplin pada diri anak. Secara psikologis, usia untuk melakukan toilet tarining itu dua tahun. Jadi 2 tahun adalah masa ketuntasannya, dimana diharapkan  kontrol diri pada anak mulai terbangun, dimulai dengan masalah aktivitas buang air, BAB dan BAK. Hanya saja setiap anak memiliki keterampila yang beragam tergantung pada latihan yang diberikan orang tua atau orang dewasa lainnya dalam mengawal proses toilet training. Jika usia 5,5 tahun toilet trainingnya hampir sempurna, ini merupakan hal yang cukup menggembirakan.

Bagaimana dengan “ngedot”nya.  Ngedot itu terkait dengan oral sucking.  Pada bayi, sampai usia dua tahun. Anak menyusu pada ibunya. Diatas usia itu hal itu terkait dengan kondisi kurangnya rasa nyaman dan hanya dapat ditenangkan dengan mengedot. Jadi batasan usia sampai dengan 2 tahun. Jika lebih dari usia itu letaknya pada pembiasaan dan rasa nyaman anak. Dengan bertambahnya usia oral sucking seperti ini akan menurun dengan sendirinya.

Jawaban Anna Farida

Sesotoy saya, ngedot itu kebiasaan yang sudah bermula dari zaman entah (apa pula itu zaman entah?). Ada lukisan bayi pegang dot yang diyakini berasal dari abad ke-15.

Singkat cerita, dot memberikan rasa nyaman pada bayi yang memang punya reflek mengisap, dan sebenarnya berlaku untuk bayi yang sama sekali tidak bisa menyusu langsung pada ibunya. Untuk bayi yang masih bisa menyusu pada ibu walau tidak setiap waktu, pemakaian dot sudah mulai ditinggalkan, pemberian susu denan sendot atau cup lebih dianjurkan.

Pakai dot memang mudah dan praktis, tapi efek sampingnya terutama pada gigi kurang menyenangkan.

Nah, karena tugas dot adalah menggantikan puting ibu demi rasa nyaman, berarti setelah periode menyusu selesai (2 tahun), dot pun berhenti.

Yang masih mempertahankan dot sampai usia TK … errr … takut ditimpuk ibu-ibu, niiih #pakaihelm ahaha.

Sambil sembunyi saya harus bilang bahwa itu akibat kurang tanggapnya orang dewasa di sekitar anak mengalihkan perhatiannya dari dot.

Ah, yang penting anteng. Ah, daripada minum susunya berceceran. Ah, nanti juga malu sama temannya … dan berbagai ah ah yang lain untuk membenarkan pemberian dot setelah masa menyusui berlalu.

Pertanyaannya sampai usia berapa, kan, ya?

I vote for 2 years. Jadi anak-anak harus disapih sebelum usia itu.

Sekali lagi, dot hanya untuk bayi yang sama sekali tidak menyusu pada ibunya. Yang ditinggal ngantor kan masih bisa nyusu pakai sendok atau cup. Jadi anak tak perlu bingung puting, tetap menanti kehangatan ibu, dan tidak repot nyapihnya.
Tanya 2:

Terkait toilet training, saya pernah membaca tentang “Ellimination Communication”.
Saya ingin tahu tentang hal ini.
Jawaban Bu Elia Daryati

Ellimination communication, terkait dengan bahasa ekspresi anak. Untuk anak yang masih usia dini (infant). Mereka tidak selamanya mampu menyampaikan keinginannya dalam bahasa verbal, jadi komunikasi disampaikan dengan menggunakan bahasa non verbalnya.  Disini terkait dengan kemampuan orang dewasa untuk memahami, kapan si bayi atau anak menunjukkan keinginan ke toilet, dengan menggunakan signal  dari bahasa non verbal anak.

Misalnya : muka anak mulai memerah, melotot atau badannya mengkerut seperti menahan sesuatu. Maka orang dewasa disekitarnya dapat memahami hal tersebut.

Komunikasi non verbal sebagai signal toilet training ini pun dapat digunakan dalam perkiraan waktu, bagi orang dewasa, sehingga kapan waktu yang tepat untuk mengajak anak/bayi ke toilet.
Jawaban Anna Farida

Secara sederhana, istilah Elimination  Communication (EC) itu latihan bagi orang tua (pengasuh lain) untuk peka pada tanda-tanda anak mau BAB atau BAK – dari kata eliminate alias membuang.

Setiap bayi atau anak punya gejala khas ketika mau BAB atau BAK – anak-anak saya biasanya duduk diam, tanpa berkedip 😀

Ada juga yang menggerak-gerakkan kaki dulu baru cuurrr … pipis.

Nah, jika kita peka pada tanda-tanda itu, anak bisa diajak ke kamar mandi atau duduk di pispotnya. Lama-lama anak akan terbiasa dan tahu kapan dia perlu ke kamar mandi dan akan menyampaikannya kepada orang tua atau pengasuhnya.

Yang paling penting adalah, begitu anak menunjukkan tanda-tanda mau BAB atau BAK, sambut dengan tenang. “Ke kamar mandi, yuk.”

Sikap ribut dan buru-buru akan membuat anak kaget dan kapok. Mending pipis dan pup di celana saja, santai ehehehe.

Tanya 3:
Alhamdulillah, materinya aku banget. Si kecil sudah umur 2,5th. Pengen banget lepas diaper. Namun, serasa beban di pundak semakin bertambah. Hehe. Karena aku masih serumah dengan mertua, dia agak susah diajak makan, bab, bak, dll. Jadi, lumayan stres mikir cara untuk itu. Kalo si kecil hanya berdua dengan ibunya, dia mau bilang pipis atau eek. Jadi, diapernya kering. Tapi, kalo sudah ada orang lain, termasuk bapaknya, dia malah diam seribu bahasa. Ooohh, jadi puyeng kepala. Kenapa ya?
Jawaban Bu Elia Daryati

Penggunaan diaper, pada usia yang seharusnya lepas. Hal itu akan berhubungan dengan sensitivitas anak terhadap kontrol dirinya. Mengurangi sensor anak untuk BAB dan BAK. Penggunaan diaper sebaiknya dikurangi setelah anak usia 2 tahun. Bahkan harusnya sudah dilatihkan di usia sebelumnya.

Ini merupakan salah satu proses toilet training juga. Proses toilet training sebetulnya bukan fokus pada anak seutuhnya, namun berhubungan dengan sang trainer itu sendiri. Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Memerlukan tahapan tersendiri untuk lepas dari diaper dan mulai menggunakan toilet. Anak harus mulai dikenalkan pada sensor BAK dan BAB. Orang tua juga memiliki kepekaan untuk menangkap respon itu.

Untuk BAK

–          Setiap 2 – 3 jam sekali di bawa ke toilet untuk BAK, biasanya anak akan kebelet setelah 1 jam minum yang banyak.

–          Beberapa anak awalnya mogok, namun dengan cara yang santai lama kelamaan akan muncul perasaan nyaman dan menimbulkan keberanian untuk berbicara.

–          Lepaskan dulu diapernya, baru sensor itu akan muncul lebih baik.

Untuk BAB

–          Dilakukan pembiasaan dengan cara mengajak anak mendekati “pot” dengan perasaan nyaman.

–          Penting dipegang dan dipeluk, sehingga anak merasakan perasaan damai ketika harus melakukan pembuangan.
Jawaban Anna Farida

Ini mah tebak-tebak buah manggis, ya. Maaf tiga ribu maaf kalau salah—namanya juga tebakan, namanya juga #sotoyasalways.

Kecemasan itu mudah sekali menular, terutama dari ibu ke anak 🙂

Coba cek dulu kecemasan ibu terkait dengan tinggal di mertua—apakah ibu harus sangat menjaga sikap, sehingga anak pun jadi ikut “berhati-hati”?

Kehadiran orang dewasa lain di rumah memang bisa membuat anak yang sudah biasa toilet training kembali mengompol. Dia malu bilang karena ada orang lain.

Ibu tinggal di rumah mertua, dan nenek seharusnya bukan orang lain bagi anak 🙂

Seharusnya dia tetap nyaman sebagaimana ketika berdua saja dengan ibu.

Tampaknya yang perlu diselisik lebih dalam adalah hubungan ibu dan mertua atau suami. Setelah terbukti clear, baru deh bahas toilet training si kecil.

Semangat, ya, Bu.

Bisa baca materi kulwap tentang mertua, minta link-nya ke Mahmud Admin Suci Shofia.
Anna Farida: Demikian tiga pertanyaan terumpikan, masih ada waktu hingga jam 2, mari kita diskusi.

Senangnyaaa jadi anak-anak Bapak Ibu semua. Urusan buang membuang saja sambil dipeluk disayang dikuatkan

 

Advertisements

3 thoughts on “Tanya Jawab Toilet Training

  1. Pingback: Toilet Training | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s