Tanya Jawab Jatuh Cinta Pada Anak dan Remaja

Senin siang [12:41, 07/03/2016]

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu semua.
Bandung dirundung mendung
Bahagia sekali menyimak diskusi minggu ini. Bernas!
Terima kasih sudah saling berbagi kebaikan, semoga mendatangkan keberkahan.

Kulwap ini disponsori oleh Buku Marriage With Heart dan Parenting With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan.

Tanya 1:
Saya bingung. Si Sulung seperti mencari tahu kisah cinta masa lalu kami. Kami bermaksud memberi teladan baik dengan pamer kisah ‘the first n the last’ kami. Rupanya si kakak ini jadi malu mau cerita (saya menduganya sih begitu).

Dalam sebuah ketidaksengajaan *eh sengaja dikiit…* saya menemukan diary nya di tempat yg tidak semestinya. Kebaca deh, rahasianya. Bahwa dia pernah “stucked” pd seseorang. Senior kayaknya.

Jadi dari situlah  saya menyimpulkan, bahwa dia jadi tidak berani cerita, karena mungkin takut dianggap sbg sebuah “noda” kalau jatuh cinta (padahal kami ngga bilang begitu)

Dia pernah bilang ke kami, kalau suka sama seseorang. Tapi dia bilang ya trus kalo suka mau diapain juga? Orang perjalanan kakak masih jauh. So what? Kakak mau improve diri aja dulu Bu.

Kesannya sih bagus ya? Tapi apa ini sebenarnya baik atau tidak, ya wallahu alam

Semoga ke depannya bonding kami semakin baik sehingga tetap bisa menjadi ortu yang bisa jadi sahabatnya. Semoga “kekeliruan” itu bisa menjadi pelajaran buat saya.

Jawaban  Bu Elia Daryati

Cinta adalah kebutuhan pribadi.

Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam menentukkan waktu, kapan sebaiknya memiliki pasangan yang serius.  Memilih untuk memiliki pasangan yang serius berbeda dengan perasaan jatuh cinta secara umum.  Jadi jika belum memilih untuk memiliki “teman dekat”, bukan berarti perasaan jatuh cinta itu tidak ada.

Begitu pun, perasaan mencintai juga merupakan perasaan yang sifatnya sangat pribadi dan kadang menjadi rahasia sendiri. Sensasi perasaan jatuh cinta pun tidak selamanya mudah untuk diungkapkan, bahkan pada orang tuanya sekalipun. Akan tetapi, jika hubungan itu sudah “sangat dekat” dan terasa lebih pasti. Seorang akan akan mencari tempat untuk berbagi, siapa lagi jika bukan dengan orang terdekatnya.

Persoalannya siapa orang yang dianggap paling dekat buat anak. Orang tua nya kah ? atau sahabat-sahabatnya. Biasanya mereka akan diskusi dengan teman-teman dekatnya, karena mereka akan merasa aman, jika berbicara dengan teman-temannya terlebih dahulu. Teman jarang langsung memberikan penilaian, tidak seperti dengan orang tua, yang umumnya bisa terlalu “kepo” dan melakukan penilaian-penilaian dengan ceramah yang panjang. Akan tetapi jika hubungan antara orang tua anak cukup dekat dan memiliki relasi yang hangat, anak akan mengungkapkan perasaan yang dirasakannya pada orang tua.

Untuk itu, langkah berikut agar ibu memiliki informasi yang paling up date tentang kisah perasaan ibu dengan lawan jenis. Langkah awal adalah memperbaiki hubungan agar dapat lebih berperan sebagai sahabat, bukan sebagai figur otoritas yang berjarak perasaan. Kita percaya dan support apa yang jadi keputusan anak untuk improve diri….jika kita percaya kepada anak, anak pun akan percaya kepada kita. Termasuk masalah pribadinya.
Jawaban Anna Farida

Kepada semua anak, hal yang wajib disampaikan setiap saat adalah jaminan bahwa Ayah dan Ibu akan ada di samping kamu, no matter what—apa pun yang terjadi.

Katakan, tuliskan, SMS-kan, BBM-kan, WA-kan, tempel dalam ingatannya 🙂

Tidak semua anak terbuka, ada juga yang memilih menyelesaikannya sendiri. Ini bukan selalu berarti dia tidak percaya kepada orang tua, apalagi untuk remaja. Mungkin dia ingin mencoba bertanggung jawab kepada pilihannya.

Bagi sebagian orang, melihat anak menyimpan masalah sendiri memang bikin parno, apalagi di zaman sekarang ini. Tapi kan lagi-lagi anak tidak mungkin kita peluk terus dalam bedongan. Suatu hari memang harus dilepaskan dan latihannya bermula dari sekarang.

Itulah sebabnya, salah satu yang bisa kita lakukan adalah meyakinkan anak bahwa dia akan kembali ke kita ketika memang perlu bantuan. Apa yang bisa membuatnya yakin? Tentu jika memang selama dia diasuh, orang tuanya berusaha untuk hadir—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin. Anak akan terbuka jika dia mendapat jaminan bahwa keterbukaan itu tidak akan membuatnya kehilangan sesuatu—misalnya kebebasan, uang saku, akses internet 🙂 Anak akan terbuka jika dia ingat pernah melakukan kesalahan dan orang tuanya mengajaknya menyelesaikan masalah dengan cara yang baik.

Jika anak pernah kehilangan kepercayaan, misalnya orang tua pernah menghukumnya tidak boleh keluar rumah ketika ketahuan pacaran, ada kemungkinan dia akan menyembunyikannya jika dia jatuh cinta lagi.

Ada juga anak yang memang menganggap jatuh cinta itu biasa, atau dia tidak berniat “jadian”, dan merasa cukup dengan menyimpannya dalam diary. Toh dia sudah bercerita, jadi ibunya tidak perlu protes “Kok diary-nya lebih dia percaya daripada aku?” 😀

Ajak terus berbincang tentang kaidah hubungan lelaki perempuan sesuai keyakinan keluarga, minta pendapatnya, tanpa nyambit-nyambit diary. Tar dia berhenti nulis malah sayang, hilang satu cara curhat yang sehat, deh.

 

Tanya 2:
Bagaimana membuka obrolan tentang ketertarikan terhadap lawan jenis dg tipe anak pendiam atau introvert?

Jawaban Bu Elia Daryati
Anak introvert pun jatuh cinta.

Memiliki kekasih hati adalah kebutuhan manusia, termasuk anak introvert. Sifat  introvert atau ekstrovert , tidak ada kaitanntya dengan masalah jatuh cinta. Adapun yang membedakannya dalam hal cara mengekspresikannya. Sehubungan dengan anak introvert itu agak kurang ekspresif, maka memang tidak selamanya terekspresikan perasaannya.

Dengan demikian, sebelum berkomunikasi dengan anak yang introvert, apalagi terkait dengan persoalan yang sangat pribadinya, orang tua harus mengerti karakter khas anak introvert. Mereka umumnya memiliki karakter sebagai berikut :

–          Anak ketakutan bahwa orang lain tidak mengerti dirinya,

–          Perasaan tidak mau merepotkan orang lain dengan masalahnya,

–          Malu mengutarakan perasaannya takut ditertawakan,

–          Merasa mampu menyelesaikan masalah sendiri,

–          Tidak tahu bagaimana mengutarakan perasaannya.

Untuk persoalan yang tidak terkait dengan jatuh cinta saja sulit mengutarakannya, apalagi yang berhubungan dengan perasaan yang sangat pribadi, dimana dia cenderung mengubur perasaan ini dalam-dalam dari pantauan orang lain.

Cara yang dapat dilakukan , pertama bangun kepercayaan antara orang tua anak. Iklim psikologis yang menggaransi anak, akan membuat anak akan merasa sangat nyaman. Mengingat anak introvert itu cenderung tidak mudah percaya kepada orang. Temannya terbatas, namun mendalam. Demikian juga tidak mudah bagi mereka untuk jatuh cinta, sekaligus tidak mudah pula untuk melupakan cinta. Perasaan mereka pun cenderung sensitif.

Jika iklim psikologis dan hubungan baik sudah terbangun, sebaiknya orang tua tidak bersikap tenang. Tidak mengintrograsi, lebih bersikap sebagai pendengar dengan ekspresi muka yang tenang. Sikap ekspresif dan “kepo”yang berlebihan akan membuat si introvert kurang nyaman dan mereka akan kembali tertutup. Berikan pendapat ketika mereka meminta, namun sebaiknya menjadi pendengar yang baik dan sesekali memberikan komentar. Jadilah sahabat yang dapat dipercaya. Jika si introvert sudah sangat percaya, mereka umumnya akan kembali mencurahkan seluruh perasaannya kepada kita, yaitu kita sebagai, orang tuanya.
Jawaban Anna Farida

Anak yang introvert itu cenderung mendengar, menyimak—ini aslinya. Penampilan luarnya bisa berbeda. Anak introvert bisa jadi sangat riang, ribut, tapi tidak pernah bersedia diajak diskusi tentang dirinya.

Jadi, salah satu cara memulainya adalah bercerita dan meminta pendapatnya. Jika dia menolak atau menarik diri, santai saja. Semakin didesak, biasanya dia akan semakin emoh cerita. Lakukan perlahan-lahan, karena ekspos berlebihan anak membuatnya segera menduga bahwa sebenarnya yang disasar orang tua adalah dirinya.

Btw, introvert itu bukan hal yang perlu dicemaskan selama ikatan keluarga tetap kuat.

Mungkin dia tidak akan bicara banyak, tidak rewel, tapi dia perlu tahu bahwa dia tetap kita “dengarkan”. Selalu minta pendapatnya, apa pun reaksinya. Biar saja kita dianggap penyiar radio yang selalu menyampaikan update berita—ada yang mendengar ataupun tidak, heheh.
Tanya 3:
Assalamu alaikum wr wb.

Anak gadisku berusia 21 thn. Baru pertama kali jatuh cinta. Sebenarnya sih tindak ingin melarang. Dulu saya pernah bilang silakan cari teman sebanyak-banyaknya. Kalau cari pacar syarat utama seiman. Dari suku manapun boleh. Ternyata pilihan jatuh ke kakak seniornya di tempat job training. Baru ketemu tapi katanya membuat nyaman.
Masalahnya cowok ini usianya 23 dan penderita diabetes yang harus disuntik insulin setiap hari. Ya Allah, berat sekali aku mau mendukung dia. Karena diabetes itu induk segala macam penyakit. Takutnya ini bukan cinta tapi kasian karena penyakitnya.
Bagaimana sebaiknya bersikap? Saat ini mereka LDR, karena anak gadisku kembali kuliah dan cowoknya tetap kerja. Cowoknya berencana melanjutkan kuliah di kampus yang sama untuk ajaran ini.
Terimakasih untuk bantuannya.
Jawaban Bu Elia Daryati

Makna menjalin hubungan.

Mencintai itu memang berbeda dengan memiliki. Pemahaman ini yang mungkin sebaiknya dihayati oleh putri ibu. Mempertimbangkan segala hal sebelum menjatuhkan sebuah pilihan. Namun, bagi seseorang yang sedang dilanda cinta yang mendalam, cinta sepertinya memiliki logikanya sendiri. Tidak akan mudah untuk menerima adanya masukan sebagai bahan pertimbangan. Padahal sesungguhnya cinta itu tidak sepenuhnya buta,tidak ada satu orang pun yang mencintai pasangannya tanpa sesuatu hal. Selalu ada sesuatu hal pada diri kekasih yang dicintainya baik yang berbentuk fisik maupun non fisik, selalu pada awalnya memiliki alasan untuk mempertahankannya. Misalnya, karena ketampanan atau kecantikan, tingkah laku, preatasi, kemapanan finansial, kasih sayang dan perhatiannya, atau kewibawaannya, dan yang lainnya. Jadi pada dasarnya selalu ada alasan yang paling diinginkan dan dibutuhkan seseorang pada pasangannya.

Apakah sebagai orang tua kita boleh memberikan masukkan? Tentu saja.  Memberi masukan dengan menentang hubungan dua hal yang berbeda. Masukan dapat berupa memberikan pertimbangan, dan menginspirasikan anak untuk berpikir dan melakukan evaluasi ulang  sebelum melangkah lebih jauh. Tanggung jawab anak gadis sebelum menikah masih ada terkait erat dengan orang tuanya. Hanya harus dipahami urusan cinta itu. Semakin di tentang semakin tertantang.

Cara terbaik sekarang adalah berdialog yang menginspirasi, diminta untuk lebih mengenal pasangan dengan segala kendalanya. Diabetes bukan sekedar menyangkut masalah kesehatan secara umum, perlu dipertimbangkan pula masalah seksual yang ada kaitannya baik secara fisiologis maupun psikologisnya. Semua konsekwensi harus diketahui, sebelum menjadi masalah besar dalam perkawinan kelak. Selanjutnya meminta petunjukNya, berdoa bersama untuk mendapatkan jalan terbaiknya. Insya Allah akan ada jawaban yang tepat dengan caraNya.
Jawaban Anna Farida

Kesehatan adalah salah satu di antara sekian aspek yang perlu dipertimbangkan selain “cinta”. Sebelum menikah ada pemeriksaan kesehatan (siapa di antara kita yang sungguh-sungguh melakukannya sebelum menikah? Saya tidak, hehe) untuk menghindari dampak yang tidak diinginkan. Ada dokter tampaknya di kelas kita, siapa tahu berkenan berbagi.

Ada beberapa manusia kuat yang lahir dengan kekhususan, termasuk menderita diabetes. Secara obyektif, dari rujukan yang saya baca, jika disiplin lahir batin, penderita penyakit ini tetap bisa memiliki hidup yang berkualitas-walau tetap ada keterbatasan.

Risiko sudah pasti ada, dan kesiapan kedua belah pihak adalah patokannya.

Kita tidak bisa menghindar jatuh cinta pada siapa, dan kapan. Yang bisa dipertimbangkan ulang adalah kesiapannya.

Ajak putri Ibu berdiskusi, bukan mengapa dia jatuh cinta padanya, tapi apa yang sudah dia persiapkan untuk menikah dengannya. Jika dari sisi pengetahuan tentang diabetes dan risikonya saja dia tidak paham, ajak dia untuk belajar.

Libatkan kerabat atau kenalan dari bidang kesehatan, termasuk cara merawat penderita diabetes—jadi upaya yang dilakukan orang tua tidak tendensius sekadar untuk menghentikan hubungan.

Kita usahakan dia membuat pilihan yang logis, bukan hanya karena emosi sesaat.

Akhirnya, pilihan tetap ada pada yang akan menjalaninya.

Sebagai orang tua, selalu ada hal yang meleset dari sangkaan—yang baik dan buruk—karena itu ada mantra bernama doa. Kita upayakan dengan niat baik, seoptimal mungkin, Allah yang menggenapkan.

Anna Farida: Sampun, Mahmud Admin Suci Shofia  ✅✅

Advertisements

One thought on “Tanya Jawab Jatuh Cinta Pada Anak dan Remaja

  1. Pingback: Ketika Remaja Jatuh Cinta | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s