Taking Risk dan Kurikulum Sekolah

Kamis, 3 Maret 2016

Salah satu peserta memulai diskusi tentang taking risk pada anak.

N: Saya ingin buka diskusi tentang ‘taking risk.’ Di aussie saya pernah diperlihatkan sebuah dokumen, kalau tidak salah semacam kurikulum pendidikan.Tercantum bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah membuat mereka memiliki kemampuan Taking risk (siap mengambil resiko).

E: ‘Kalo s g slh smcm’ apa, Bu N?

I: Taking Risk dalam hal apa, Bu N?Boleh dong sharing. Saya pribadi malah ambil jalan aman, heee Gak berani ambil resiko dalam hal-hal tertentu. Banyak pertimbangan.

N: Nah, itu dia Bu I. Kita di Indonesia sepertinya tak mengarahkan anak untuk memiliki sikap ‘siap mengambil resiko’ jadi cenderung cari aman. Contoh kecil, bila anak belum ngerjain PR padahal besoknya harus dikumpulkan. Sebagian anak bahkan kadang dipengaruhi ortu untuk tidak sekolah ketimbang ‘menghadapi’ situasi yang ‘mungkin’ terjadi sebagai  resiko dari PR  yang tidak selesai.

N: makanya ketika besar biasanya senang “lari dari kenyataan” atau menghindari masalah karena dari kecil terbiasa begitu.
E: Iya sih, memang seperti itu. Saya juga lebih seringnya main aman. Walau dalam keadaan tertentu, terpaksa harus ngambil resiko juga.  Ada beberapa kali saya menyuruh anak, kalau PR-nya tidak selesai apalagi kalau itu karena salahnya sendiri, untuk tetap pergi ke sekolah. Kalau dihukum ya, hadapi.

C: menyimak….🏼
I: Mental Taking Risk memang harus dipupuk sejak dini ya. Termasuk tidak memberi fasilitas berlebihan yang terkadang membuat mereka terlena dan lalai. Padahal di depan sana berbagai rintangan harus mampu dihadapi dengan mental kuat. Aaah, harus bisa menanamkan Taking Risk.

F: taking risk=kereen. hal yang tidak diajari di Indonesia.

I: Ditunggu kulwap Taking Risk
N: Hayooo, Bu Anna Farida!
Anna Farida: Hayah saya yang kena tembak
T: Risk taker itu memang masuk dalam salah satu student profile di kurikulum IB.
Dulu saya mengajar di sebuah IB world school, dan untuk sekolah dengan kurikulum IB student profilenya seperti ini:

Inquirers: siswa mengembangkan keingintahuan alami mereka.

Berpengetahuan (knowledgeable): siswa mengeksplorasi konsep, ide dan isu-isu yang memiliki aspek, baik lokal dan global.

Pemikir (thinker): siswa berpikir kritis saat terlibat diri dalam memecahkan masalah yang kompleks.

Komunikator (communicators): siswa mengekspresikan diri dan informasi melalui berbagai moda komunikasi.

Berprinsip (principled): siswa bertindak jujur dan penuh pertimbangan akan kesetaraan (fairness), keadilan (justice), dan penghormatan terhadap martabat individu, kelompok, dan masyarakat.

Berpikiran terbuka (open-minded): siswa menghargai budaya mereka sendiri dan sejarah pribadi, dan terbuka untuk perspektif, nilai-nilai, serta tradisi orang lain dan masyarakat.

Merawat (caring): siswa menunjukkan rasa hormat dan perhatian terhadap kebutuhan orang lain.

Pengambil resiko (risk-taker): siswa menghadapi situasi yang tidak biasa dengan keberanian serta mempertahankan keyakinan mereka.

Seimbang (balanced): siswa memahami pentingnya keseimbangan intelektual, fisik dan emosional untuk mencapai kesejahteraan pribadi.

Reflektif (reflective): siswa mempertimbangkan pembelajaran dan pengalaman mereka sendiri.
Profile itu ‘diselipkan’ dalam tema pembelajaran harian.
Sehingga, saat parents-teacher conference, evaluasi yang guru berikan atas perkembangan karakternya, berbasis profile tsb.

Saya pribadi, mencoba menerapkannya sbg target children profile anak2 saya. Ini terjemahan bebas saya, cikgu yg jago english jgn di-ponten yee :

*inquirer(selalu ingin tahu ttg dunia sekitarnya,mampu meneliti utk suatu tujuan,menikmati belajar,dan jadi pembelajar seumur hidup)
*reflective(mampu mereview pelajaran dan mengambil hikmah dari kejadian yg dialami)
*open minded(menghargai pendapat org lain,bisa berpikir dr sdt pandang lain,terima hal baru)
*responsible(melakukan apa uyg dipelajari dan diucapkan,mampu memilih dgn tepat,menerima konsekuensi perbuatan sendiri)
*Knowledgeable(tahu dan paham banyak hal)
*caring(peduli,peka dan sensitif thdp perasaan dan kebutuhan org lain)
*communicator(bahasanya mudah dmengerti org lain&dpt bbahasa lebih dr 1bhs)
*risk taker(berani eksplorasi dan mncoba hal baru)
*principled(adil,punya prinsip,berani berkata apa adanya)
*thinker(pemikir yg mampu membuat keputusan dan memecahkan masalah)
*self directed(berinisiatif tinggi,selalu menyelesaikan semuanya by schedule tanpa hrs diperintah2)
*well balanced(balance antara ruhiyah, batiniyah, fisik-nutrisi, olahraga, ibadah, belajar)

Dan karena saya muslim, children profile untuk anak-anak saya utamanya yang ini dulu:
*Shiddiq(benar)
Bicara benar, berkata tepat, akhlaknya baik
*fathonah(cerdas)
Akalnya panjang, sangat cerdas, sebagai pemimpin slalu
bwibawa,menyelesaikan mslh dengan tangkas
*tabligh(menyampaikan)
Menyampaikan yg benar,tanpa ragu
*amanah(dapat dipercaya)

Ini yang menjadi dasar bagi kami merancang kegiatan mereka sehari-hari.

#just share
Eh, jd panjang geuningan
Hapunten ah mahmud admin, cikgu, n teman2 semua 🏻
R: @Mba Tasya mau juga nerapin anak-anak seperti itu dong. Materinya bisa didapat dari mana? Atau mungkin ada buku panduan?🏻
S: makasih sharing nya mbak. Kalau di Indonesia ada pendidikan karakter plus K13 dengan metode saintifik dimana anak belajar mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengembangkan jaringan semua mata pelajaran. Sehingga terwujudlah anak-anak Indonesia yang sempurna antara sikap, perilaku & ketrampilannya🏻🏻🇮🇩🏻🏻

N: Pendidikan karakter plus K13 maksudnya kurikulum 2013?
Kurikulum 2006 juga mengembangkan ketiga aspek itu (sebenarnya). Tapi kembali ke praktek di lapangan.
T: Sebetulnya utamanya praktek. Karena kurikulum itu benda mati, ia hanya akan hidup di tangan guru-guru yang berdedikasi, kreatif, dan mau terus belajar. Mba R, kami dulu ada buku panduannya dari pihak IB, tapi setahu saya memang tidak dijual bebas, Mba. Coba di-googling aja Mba

S: Iya bun, untuk K13 memang lebih dikedepankan untuk pendekatan saintifik dan karakter bun.
Bu T semoga kita bisa jadi guru-guru yang berdedikasi, kreatif, & terus belajar(belajar juga di kulwap keluarga sehati tercinta juga🏻)
Aamiin ya Rabb
R: Oke terimakasih mba Tasya.. 🏻 ohya IB itu apa?
Jumat, 4 Maret 2016

Anna Farida: Yang jelas bukan Islamic Banking, R.

Terima kasih, T dan N.
Keep sharing.
Kusimpan karakter risk taking di Google Keep biar aman
F: jazakillaah teteh
T: Aamiin….Insya Allah bu A 🏻
K13 bagus menurut saya, hanya sayangnya memang ada banyak guru/sekolah yang keteteran karena belum terbiasa eksplorasi materi/bahan ajar secara mandiri ya
#ini subjektif banget sih, bisa jadi salah
Haha, cikgu
IB= international baccalaureate

www.ibo.org
I: Nuhun, sharing ilmu nya Teh T dan Bu N. Nyambung banget, kemarin malam di grup parenting lagi bahas “Dilema Emak saat anak UAS”. Risk taking saat anak ujian.

D: K13 sebenarnya merepotkan dalam hal penilaian. Kalau masalah pengajaran atau pemberian materi pembelajaran bisa diambil dari sumber mana saja.Dalam K13 siswa tidak boleh diberi nilai rendah, padahal anak tersebut tidak mampu. Pengalaman saya pas K13 kemarin saya beri masukan ke ortu siswa” mungkin anak Ibu/Bapak tidak berhasil/belum berhasil dalam akademis tapi pasti ia(anak) punya kelebihan yang lain seperti lebih sopan, rajin ibadah, dll. Karena setiap anak punya kelebihan yang berbeda-beda. Seperti pengalaman kita saat masih sekolah dulu. Saya pun bilang ke siswa setiap orang punya kelebihan dan kelemahan. Bila kita lebih di Mtk (matematika) mungkin kita punya bakat yang lain misalnya menggambar atau bisa membuat puisi dll.

U: Nah itulah sistem penilaiannya harus diubah. Mungkin lebih cocok menggunakan grading dengan berbasis rate.

D: Penilaian K13 range 1-4 seperti penilaian dalam kuliah. Dalam rapot pun banyak ortu yang tidak paham isi rapot anaknya. Karena memang rapotnya bertele-tele. Untuk rapot yang KTSP saja kami para guru sudah lembur untuk mngodok nilai supaya tidak merugikan anak. Apalagi K13 bisa berhari-hari tidak tidur supaya tidak salah dalam pemberian nilai.

S: Klo untuk di taman kanak-kanak kami ibu guru sudah terbiasa menyiapkan bahan ajar sendiri, dengan memanfaatkan lingkungan alam sekitar.
U: 🏼 yup, kayanya lebih mudah di TK. Saya sendiri terkadang ketika memberi kuliah menyisipkan metode kemandirian seperti anak TK
Mahasiswa sekarang cenderung lebih manja dibanding 5-10 th lalu. Juga rendahnya minat baca, serta ketergantungan mencari informasi dengan google.

T: Bu D, rapot anak-anak di sekolah IB semuanya bentuknya deskriptif lho. Dari TK-SMA . Sepakat Pak U. Sewaktu jadi dosen, akhirnya saya mewajibkan mahasiswa untuk datang ke rumah saya, hanya untuk membiasakan  membaca+diskusi seputar buku
C: sekolah IB? dimana ya?
U: Sama, saya sekarang mewajibkan bimbingan skripsi saya untuk topik yang sama saya minta untuk presentasi dari buku yang dipilihnya sendiri. Bahkan kadang ada tugas yang saya minta untuk ditulis tangan karena kalo diketik kebanyakan pasti copas . Mahasiswa sekarang tulisannya jelek enggak kaya jaman kita yang rapi. Minimal dia akan baca sebelum menuliskannya.
T:    Pak U.

Btw, sepertinya kita beda jaman, ya, Pak. Karena tulisan saya sudah termasuk yang enggak begitu rapih
T: Mba C domisili mana? IB School tersebar dimana-mana,Mbak. Bisa lihat di web ibo.org

U: Untuk nilai saya mengutamakan perilaku karena itu yang akan membuatnya diterima dimasyarakat. Sedangkan materi kuliah tinggal googling aja ketemu. Meski secara teori rendah tapi kalau perilakunya bagus maka saya akan kasih nilai A. Kalo bandel saya kasih nilai B dengan catatan saya motivasi dulu. Karena kalau saya kasih nilai rendah, itu akan mempengaruhi kepercayaan dirinya. Harapannya dikemudian hari dia akan terpacu untuk membuktikan kemampuannya karena ditranskrip nilainya bagus. Beda kalau dikasih nilai rendah ada dua kemungkinan dia akan terpacu, atau dia justru makin malas, karena kalo sudah jadi transkrip tidak bisa langsung berubah kecuali harus mengulang, dan kadang mengulang membutuhkan biaya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s