Diskusi Jatuh Cinta Pada Anak dan Remaja

ilustrasi: arnidolog.blogspot.com

Jumat siang, penyampaian materi Kulwap Keluarga Sehati dengan tema “Jatuh Cinta Pada Anak dan Remaja”, yang disponsori oleh buku Marriage With Heart dan Parenting With Heart mengundang peserta untuk berpendapat.

Z: Alhamdulillah. Topiknya anak saya banget. Anak pertama saya laki-laki kelas 9 sedang ”jatuh cinta” sama anak kelas 10. DP smartphone gambar ceweknya juga. Saya suka bilang dalam Islam tidak ada pacaran lho, Bang. Kalo suka enggak apa-apa. Tapi tidak usah pacaran. Sebatas teman saja. Anak saya tidak mau mendengar sepertinya. Yang membuat saya khawatir, misalnya naik motor, saya suka pegang dia,terus dia bilang “Kagok nih bawa motornya kalo dipegangin tapi kalo sama cewek sih enggak apa-apa.

Astaghfirullah … bisa-bisanya dia bicara seperti itu. Kalo udah kayak gitu saya langsung cerewet teriak gak peduli lagi di motor. Anak saya flat saja.
C: Alhamdulillah … dapat ilmu. Semoga bermanfaat menjelang si sulung akil baligh, semoga saya tidak heboh sendiri
I: Duh, pengennya sebijak itu kala kita dapat masalah tentang anak. Tetap tenang gituu.
Tapi kadang di kenyataan, suka susah mengendalikan emosi sendiri. Saking parnonya sama anak, jadi emosi ke anak.

D: Mba Z anak pertama kita sama-sama kelas 9 juga.  Sulung saya adem ayem sekalipun kata adiknya (laki-laki, 12 th,kelas 7) sebenarnya si masnya juga pernah naksir temennya. Ehem,  nah yang ke 2 ini malah udah nembak temennya. Alhamdulillah dia cerita ke kami. Alhamdulillah tips dari Mba Anna (Farida) juga sudah kami dialogkan. Sekalipun deg-degan juga. Trus putus  eh ternyata gamov (gagal move on) katanya. Tapi enggak jadian lagi  Ya gitu deh abegeh (ABG) hehe.. bersyukurnya dia mau cerita pada kami. Jadi alhamdulillah bisa disisipkan pesan-pesan nenek eh pesan-pesan kita.
Yang paling susah berusaha menerima dulu kalau dia sudah jadian.  Trus mikir kalimat apa yang terbaik diucapkan pada saat dia cerita supaya dia enggak malah menjauh karena saya nasehati terus. Itu yg bikin muter otak dan perasaan.

H: Dimedsos lagi heboh tentang sepasang anak yang awalnya mungkin jatuh cinta namun menyalah gunakan arti cinta yang sesungguhnya. Miris kalo baca entah itu hoax atau tidak namun saya deg-degan sebagai ortu semakin kesini semakin penuh tantangan.

L: Mba Anna … pas bangeet nih topiknya. Emang bisa aja nih
Crita saya justru lagi bingung. Sempat si sulung seperti cari-cari tahu kisah masa lalu kami. Nah, kami bermaksud memberi teladan baik. Pamer deh tuh kisah “the first and the last” kami. Ternyataa apa yang terjadi? Rupanya si kakak ini jadi malu mau cerita (saya menduganya sih begitu. Pasti Mba Anna bilang sotoy ah!)

Pada suatu hari dalam sebuah ketidaksengajaan *eh sengaja dikiit…* saya menemukan diary-nya di tempat yang tidak semestinya. Kebaca deh, rahasianya. Bahwa dia pernah “stucked” pd seseorang. Senior kayaknya.

Jadi dari situlah saya menyimpulkan, bahwa dia jadi tidak berani cerita, karena mungkin takut dianggap sebagai sebuah “noda” kalau jatuh cinta (padahal kami nggak bilang begitu).

Singkat cerita dia tetap bilang pernah suka sama seseorang. Trus kalau suka mau diapain juga? Orang perjalanan kakak masih jauh. So what? Kakak mau improve diri aja dulu Bu.

Nah lo… kesannya sih bagus ya? Tapi apa ini sebenarnya baik atau tidak, ya wallahu alam

Semoga ke depannya bonding kami semakin baik sehingga tetap bisa menjadi ortu yang bisa jadi sahabatnya. Semoga “kekeliruan” itu bisa menjadi pelajaran buat saya.
A:
W: Bu Annaaaaa, topiknyaaaa kekinian banget. *deg deg deg deg*
M: Dulu Si Sulung juga begitu Bu Anna,sampai-sampai dia masuk SMA negeri berkat doa si doi katanya. Doa ibunya enggak dianggep
Terus aku larang pacaran dan dia galau. Aku hibur, beri masukan-masukan, alhamdulillah bisa move on dan sekarang sudah kuliah. Tiap aku tanya-tanya pacar dia bilang enggak mikir pacar, Bu. Nanti kalau aku sukses cewek datang sendiri. 🏻
S: Jadi deg-degan deh
I: pasang mode #nyimak nih lanjut senior-senior, secara anak-anak masih kecil
A Anak saya kelas 9, kelihatannya masih cuek soal pasangan, walaupun teman-temannya ada yang “jadian”. Istilahnya adik kakak tapi nggak tau tuh.

M: Bu A bukan nakut-nakuti ya. Dulu anak saya juga gitu kliatannya cuek. Tapi waktu aku gerilya HP-nya ketahuan deh dia sudah jadian sama adik kelasnya.
A: Iya Bu, saya juga sudah jaga-jaga siapa tahu dia menyembunyikan sesuatu.  Kalau ada temen atau kakak kelasnya yang punya pacar, saya suka tanya “Dede punya pacar ga?” Dia jawab “Ngga.” Mudah-mudahan betul.
M:

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s