Diskusi Buku dan ART

Materi ART tapi ada pembahasan soal pemilihan buu untuk anak juga. Bernas, kata narasumber kita, Anna Farida.

26/02/2016

L: Tadi dapat beberapa buku meski terbatas kalau cari di toko buku yang murah. Buku Eric Carle enggak ada.

S: Saat anak saya masih bayi, susternya baca majalah intisari dikencengin

W: Bu Sh kalau waktu kecil anaknya dibacain buku apa aja? Saya malah lagi agak bingung nih. Anak sulung saya (hampir 8), suka baca buku apa saja yang terlihat matanya di rumah. Sekarang saya sering lihat ia membaca kumpulan kisah rumah tangga Islam milik saya. Sejauh ini saya biarkan, karena isinya tidak vulgar dan biasanya diaa bertanya kalau ada kata yang tidak dimengerti. Menurut Ibu-Ibu disini bagaimana? Adakah efek negatifnya?

Sh: Saya waktu kecil sudah baca majalah tempo, majalah wanita apa aja. Apa aja lah saya baca. Kelas 6 SD sering dipinjami teman majalah Anita Cemerlang. Dulu di Balikpapan akses buku susah.

W: Anak saya juga suka baca majalah. Masalahnya kalau di majalah rubrik rumah tangganya suka agak vulgar begitu kan ya. Perlu saya batasi tidak, ya? Takutnya kalau dibatasi jadi semakin ingin tahu. Dijelaskan rasanya juga belum waktunya, khawatir tidak dipahami dengan utuh.

Sh: Meskipun dulu saya baca kasus Sum Kuning, kisah Phoolan Devi, tapi saya nggak berani kalau anak saya baca seperti apa yang dulu saya baca.

H: Saya termasuk kutu buku. Waktu kecil baca koran pembungkus terasi, hehe. Soalnya tidak difasilitasi sama orangtua. Sekarang saya memfasilitasi anak saya.

B: Makasih kulwapnya, Bu Anna. Ternyata Ironing Day jadi trending topik hari ini, salutttt. Masih tetap penasaran bagaimana cara bu Anna bikin materi sambil merem?

S: Saya tahu tentang selaput dara saat SD. Walau saya ulangi bacanya tetap tidak paham, hehe. Jaman dulu anak perempuan haid pertama rata-rata kelas 6/SMP. Nah sekarang anak-anak mendapatkan haid pertama lebih cepat. 9 tahun sudah ada beberapa yang haid. *ngaruh nggak ya hormon dgn bacaan* jd kepo.

H: cepet banget haid kelas 6 SD. Saya kelahiran 1982. Haid seminggu sebelum genap 15 tahun.

S: Anak sekarang kelas 2 SD sudah ada yang haid.

O: Anak saya kelas 6 SD belum haid. Teman-temannya malah sudah mendpaatkan haid pertamanya. Anak saya malah bertanya terus “Bunda, kapan Kakak haid?’

L: Anak temen saya di kantor baru bisa baca. Segala dia eja. Koran bungkus makanan waktu itu ada tulisan ejakulasi. Di eja dan ditanyanya ke ortu nya. Dan waktu itu ortunya langsung melotot dan anaknya yang bingung
Sr: Oot (out of topic) dari materi dulu ah. Sempet baca, anak-anak lebih cepet matang saat ini karena pengaruh hormon dari makanan. Susu dan produk-produk hewani yang hormonnya dimanipulasi untuk kepentingan industri. Ada pengaruh yang lebih serius enggak ya dari kematangan dini? Tentang topiknya nyimak dulu ah, belum punya pengalaman, siapa tau suatu ketika nanti perlu ilmunya

Sa: Kalau pertanyaan saya, bacaan mempengaruhi kematangan hormon atau kematangan hormon mempengaruhi pemahaman terhadap isi bacaannya?

Ss: Pengalaman saya dari awal mau punya ART, tanya-tanya ke tetangga siapa yang bisa kerja jadi ART, bagus nggak kerjaannya. Alhamdulillah 3 kali punya ART bagus kerjanya. Ganti ART karena pindah kontrakan. Soal gaji, saya dan suami sepakat utk manusiawi mempekerjakan mereka. Meski sempat ada tetangga yang komplain karena saya pasang tarif dianggap tidak sesuai pasaran. Hitungan saya, UMR saat ini dibagi hari kerja, kemudian dibagi jumlah jam kerja.
Misal UMR 2 juta. Saya bagi 26 hari. Kemudian dari hasil pembagian tadi saya bagi  lagi dengan 8 (jam kerja). Ketemu per jamnya berapa. Rata-rata 5 jam kerja perhari. Hari minggu libur.

Sa: makasiih mbak Ss.

H: Saya haid kelas 2 SMP dan berharap Si Kakak nanti saja hadinya (sekarang baru kelas 2 SD). Karena anak sekarang lebih cepat dapat haidnya, pergaulan juga cukup mengkhawatirkan.

🏻🏻 Mbak Ss hitungannya. Kira-kira kalau hitunganuntuk seterika seminggu 2-3 kali, perbulan brp ya?

Sa: pas banget aku sedang butuh ART yang nginap biar tidak sepi. Sekarang pulang pergi sehari 2 jam-an. Kemarin ada yang nawarin jasa ART (pakai behel, alis dihabisin, dihias pake pensil alis, rambut dilurusi, pas duduk benerin kaosnya yang kependekan bagian belakang). Saya sampai istikharah karena takut tidak adil kalau menilai orang dari covernya aja. Karena saya juga iba mendengar kisah hidupnya. Tapi saya tunggu hampir seminggu tidak muncul lagi. *terlena Si Mbak yang dulu lamaaa tidak gant, jadi tidak siap *

P: Selama 12 tahun usia pernikahan, saya sudah 7 kali gonta ganti ART. Ada yang kerjanya cuma sehari, karena besoknya saya berhentikan Pernah punya ART sampe 2,  yang satu ngurus anak, yang satu lagi urusan nyuci gosok saja. Semuanya penuh suka duka. Yang paling asik ART yang mantan TKW, kerjanya resik banget sampe ngepel lantaipun sambil jongkok padahal sdh saya sediakan kain pel yang pake gagang, tapi katanya kurang bersih kalau pake itu.

M: Mbak Ss, jadi kira-kira berapa perharinya? Mau nyontek
P: ART yang terakhir paling lama kerja di saya 7 tahun, sama anak telaten banget dan rajin. Saya pulang sore udah tinggal istirahat anak udah mandi, makan Tapi saya berhentikan karena saya pindah ke Bandung. Sekarang hampir 2 tahun enggak pake ART lagi. Alhamdulillah 2 anak perempuan udah bisa nyuci piring , beres-beres rumah  jadi lebih mandiri. Kalau saya cari ART prinsipnya enggak mau capek hati. Udah capek di kantor, sampai rumah capek hati ngeliat hasil kerjaan ART.
Biarin gonta ganti ART sambil berdoa semoga dapat yang cocok.

Ss: Mb H, hitungannya ya tinggal dikalikan saja per kedatangan berapa jam dia kerja.

Mb M, terakhir saya pakai ART tahun 2013, waktu itu UMR kl enggak salah 1,5 jt. Jadi perbulan saya kasih 600 ribu dengan jam kerja 4-5 jam. Selesai kerjaan langsung pulang.

H: Sip, Mba Ss. Jazakillah.
M: Makasih, Mbak.

Y: Perhari sekitar 48 sampai 50 rb ya, Mb kalo itungan UMR 2jt.

Ss: Ya sekitar itu, Mb. Sempet kepikiran juga waduh banyak juga buat bayar asisten karena ngeliat harga pasaran yang murmer (murah meriah). Tapi kembali lagi saya sendiri juga enggak mau dihargai murah ketika melakukan pekerjaan. Jadi ya diniatkan bantu orang (sedekah/amal).

H: Iya Mba Ss, rata-rata yang lain bayarnya lebih murmer.  Alhamdulillah hitungannya hampir sama dengan yang selama ini saya berikan

Np: Mba Sa kelas 2 SD gitu ??
R: Mba Ss, ART-nya rutin setiap hari datang, kecuali tanggal merah ya?

Ss: Iya tgl merah libur, hari libur nasional juga libur.

V: Setiap punya ART alhamdulillah baik orangnya.. Selama 14 th ada 6 orang yang pernah kerja di rumah dan semuanya ndilalah kok lulus dengan dapet jodoh .. Soal gaji saya siapkan perjanjian tertulis biar sama-sama enak meski 6 orang itu datang voluntarily bukan saya ambil via yayasan.. Meski 2 diantara nya dapet lewat bantuan kawan. Gaji, bonus, de el el ikut UMR. So far enggak pernah ada masalah. Alhamdulillah.Untuk cuci gosok pernah pakai orang 3 x seminggu,. Pasaran honor 750 ribu. Sekarang lagi enggak punya ART. Urusan cuci saya urus di rumah, gosok di laundry kiloan .. Lebih irit. Untuk 20 kiloan setrikaan 400ribu sebulan lho.

A: Memang susah cari ART. Untungnya adikku mau jd ART ku,khusus cuci +setrika aja. Katanya daripada sama orang lain dan itung-itung dapat uang jajan anaknya. Tapi sering juga suamiku nyuci sendiri, jadi tugas adikku lebih ringan.

Sa: Di sekitar rumah, ART menginap 1,5 jt – 2 juta. Pulang Pergi 2-3 jam sehari cuci gosok 800 rb-1juta.

M: Dimana Mbak Sa? Mahal ya?

A: Mahal ya untuk ukuran tempat saya.
M: Surabaya 2-3 jam perhari gajinya 500ribu.
V: Mbak Sari, jabotabek rate itu ya
Sa: Iya, Jakarta Timur. Cuma Depok daerah tertentu lebih mahal. Dan sayaaa seediiihh… gaji guru PAUD terbesar 500rb rata” 300rb. (hasil survey 45 PAUD sekecamatan).

V: Ya gitu itu ya.. Padahal investasi pendidikan

A: Turut sedih… Teman saya yang sarjana ngajar di SMA juga lebih rendah dari gaji ART

H: Betul, Mbak Sari.

E: Tapi aneh juga banyak orang nggak mau jadi ART. Padahal tidak semua orang bisa juga ngedadak jadi guru PAUD.

S: yg di PAUD mlh S2. Wajib S1 dengan iming” isentif sejak 5 tahun lalu. akhirnya berbondong kuliah nembak.

V: Ya gitu itu ya. Padahal investasi pendidikan

V: Mbak Ella.. Beda profesi beda juga kontribusi yg bisa dibagi. Mungkin itu dasar pertimbangannya. Paling sederhana pertimbangannya soal gengsi.

E: Iya. Nampaknya itu

V: Utk tenaga pendidikan saya turut prihatin. Secara umum negara memang kurang peduli pada dunia pendidikan kita. Aneh. Padahal ini basic nya Indonesia masa depan

V: Dua thn terakhir apbn diserap habis2an utk infrastructure.. Bukannya gak urgent hanya alokasinya tdk proporsional dg bidang pendidikan yg anggarannya gak nambah2

E: Khusus tentang PAUD, belum menjadi prioritas karena belum masuk usia wajib belajar. Pada usia 0-5 tahun, saya pribadi lebih setuju anak di’pegang’ ibunya.
Kalau soal alokasi infrastructure, bukan hanya APBN tetapi pinjaman luar negeri dan pinjaman dari rakyat termasuk sukuk
Anggaran pendidikan sebenarnya sudah besar 20% APBN.Kalau diperhitungkan dengan beasiswa, sangat besar alokasinya. Gaji guru dengan TPG nya sudah termasuk besar.  Hanya memang tidak semua guru bisa memperoleh TPG, karena harus sesuai dengan kompetensinya.
H: gaji ART lebih gede dari uang bulanan saya

L: Saya dan suami sepakat tidak menggunakan ART setelah kami memiliki anak, dan saya butuh teman dirumah untuk ikut serta mengawasi anak. Karena saya berbisnis di rumah.

Sekarang kami memilih mencari anak tidak mampu yang ingin melanjutkan kuliah, tetapi tidak memiliki biaya.

Tinggal dengan kami. Turut mengawasi anak saya. Dan kami mengerjakan pekerjaan rumah secara bersama-sama.

Dan ternyata, biayanya sama dengan waktu kami memiliki ART. Tetapi sekarang lebih nyaman karena saya merasa dia sebagai anak angkat, bukan ART. Uang tambahan yang saya beri bulanan juga tidak pernah saya sebut dengan gaji, tetapi kami bilang ini uang saku bulananmu.

Tidak ada libur khusus juga. Dia boleh libur di saat dia butuh, tidak harus hari libur juga. Tetapi dengan catatan urusan kuliah selesai, dan saya juga sedang tidak repot di rumah.

Dan anak saya terbiasa melihat sebuah kerjasama, dengan harapan semakin memiliki tanggung jawab nanti untuk hal-hal yang bisa dikerjakannya secara mandiri.

S: saya butuh teman di rumah karena rumah kami sepi sangat kalau tidak ada ART. Saya dan si bujang bisa ngerjain nyapu, ngepel, masak, nyuci, nyupir, siram tanaman, ngunci pintu, berdua bagi tugas.

Anna Farida: Topik ART terbukti lebih menarik daripada topik membangun romantisme
S: Mbak Anna, ART bisa jadi satu tips membangun romantisme. Karena jika punya ART yang pas, pasutri bisa honeymoon tiap tahun tanpa was..was.. xixi.. maksain nyambung..
Tapi beneran ART itu antara dan tidak butuh bagi saya. Yang terakhir dapat janda bawa anak 4 tahun. Saya seneng rumah rame, tapi anak saya sebel mainan yang sudah disimpan pada rusak. butuh ART yang rajin ngaji, jujur paling utama, rajin baca, dan mau belajar (kursus masak/njahit/kejar paket)  seperti yang sudah-sudah seneng aja. Apalagi kalau udah diskusi buku bisa eyel-eyelan/diskusi mempertahankan pendapat tentang buku yg dibaca.
I: Ikut nyambung ART, memang bener ART gampang-gampang sulit nyarinya. Ada profesional tapi enggak pas di kantong. Dapat yang pas dikantong enggak pas di sopan santun walaupun kita sudah mengajari. Ada yang pas bener tapi milik org atau cepat dipinang orang hehe. Mencari yg berakhlak dan pas semua seperti cari jarum dalam jerami. Saya pribadi berusaha untuk tidak mengunakan ART karena bagi saya ART tetaplah orang asing. Saya tipe orang enggak percaya dengan orang lain apalagi untuk urusan anak-anak.
Anak saya 3 alhamdulillah hanya saya yang ngasuh. Dari orok sampai sekarang bahkan tanpa campur tangan orang tua.Walaupun anak 1 sempat di rumah mertua tapi saya berusaha untuk melaksanakan sendiri. Anak ke-2 ke-3 operasi habis pasca penyembuhan di RS. 5 hari kurang lebih saya langsg turun ranjang, ke dapur masak, nyuci, nyetrika.Alhamdulillah berhasil dan ini kerja sama dengan suami.
Bagi saya kita dilahirkan sebagai perempuan sudah ditakdirkan Allah ITU jadi perempuan yang kuat dan tangguh. Jadi jangan heran setiap ada ceramah atau kajian/undangan apapun saya pasti enggak ada karena saya harus bawa 3 anak. Mengondisikan anak-anak yang masih lincah, aktif banyak bertanya itu sangat sulit karena pasti saya enggak konsentrasi dengan acara.

Q: Semangat pagi bundaaa dan ayaaahh. Di rumah gak punya ART soalnya tinggalnya di desa. Nyimak aja. Hehe. Allah dah mempercayakan kita untuk dititipin anak. Rasanya, malu hati ini kalau anak dititipin lagi ke orang. Hmmm, all izz well. Semua itu adalah pilihan hidup. Namun, percayalah. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya tanpa bekerja di luar akan berasa waaahh. Mungkin, kalo di kota, gak kerja itu gak eksis. Namun, pemikiran suami dan aku sehati. Lebih baik suami yang kerja keras di luar untuk bisa ‘menggaji’ istrinya yang seharian kerja di rumah plus mengasuh anak. But, kembali lagi. Semua itu pilihan. Masak dulu yuk bun ^.^

D: Saya pun tidak punya ART. Tidak ada keluarga lain yang membantu. Alhamdulillah masih bisa menulis dan berbisnis. Semua dilakukan dari rumah.

Saya, suami (PNS) saling membantu urusan rumah. Anak yang paling besar (SMP kelas 2), kami libatkan membereskan rumah, menyapu dan menjemur baju yang sudah saya cuci.

Kuncinya: pintar-pintar manajemen waktu. Karena semua diberi waktu yang sama oleh Tuhan, 24 jam sehari semalam. Tidak ada yang diberi lebih atau kurang.

Dulu pun Mama saya wanita karier (bekerja di luar rumah).Tidak pakai jasa ART. Masih bisa memasak untuk kami anak-anaknya, membereskan rumah, lebaran menjahit baju untuk kami dan membuat kue.

Kerja keras Mama inilah yang saya tiru. Mama terbiasa bangun dini hari. Ini pun menurun pada saya.

I:  semangat yang enggak ada ART. Yang pake ART semangat juga awasi anak-anak dan kerjaan di rumah.

S: wah ibu-ibu keren selalu salut dengan ibu yang bisa menangani semua sendiri. Kalau saya ibu nyantai serasa di pantai. Ini hari baru jam segini kelar masak  padahal dikerjain dari pagi. Minggu ART off

.
H: Saya pernah punya ART tapi cuma 40 hari pertama setelah melahirkan. Perjanjiannya di awal juga emang cuma 40 hari. Dari anak pertama sampai ketiga saya selalu menjalani perawatan tradisional pasca persalinan. Dua tahun yang lalu ada ART juga, dia mahasiswi. Sebenarnya bukan mau jadi ART, tapi teman bermain dan belajar anak sulung dan anak tengah saya selagi saya nemenin yang bungsu. Tp dia rajin, semua dikerjain, alhamdulillah jadi banyak terbantu. Tapi itu enggak lama, sekarang dia mau konsen menggarap skripsi, jadi saya lepas, biar cepat selesai kuliahnya. Datangnya juga cuma dua atau tiga kali seminggu, tergantung kegiatannya di kampus dan jadwal kuliah.

S: jadi inget saya punya temen, selalu ada penghapal Al Quran si rumahnya. Di gaji untuk ngajar ngaji 3 putra/i. Ikut tinggal di rumah (cukup besar) tetapi tidak ikut ngerjain pekerjaan rumah. Seru juga dan banyak variasi tentang ART.Kalau saya seneng rumah ramai orang daripada ramai hantu… heheh…

Anna Farida: Hari ini mahmud admin sedang repot surepot. Rupanya urusan ART sudah terpuaskan via curhat dan bagi bagi pengalaman beberapa hari ini  Jadi tidak ada pertanyaan yang masuk. Alhamdulillah, terima kasih sudah bersedia berbagi cerita.

Nanti semua diskusi di Kulwap-1 dan Kulwap-2 akan diarsipkan dengan nama disamarkan, akan dibagikan ke publik.

Siang ini pk 1 – 2 saya online, silakan kalau mau rumpiii

Suci Shofia: Hehehe … Balada Sang Kontraktor

A: Tema nanti bu, Balada Sang Kontraktor.

Anna Farida: Tema menarik!  Tapi tar kata Mahmud Admin, kali ini tema Parenting, Mbaaak .
A: Hee

S: Kontraktor dan tumbuh kembang anak. Seru tentang adaptasi, tentang repotnya pindahan.

V: Iya.. Menarik bahas keluarga yang sering pindah, terutama karena mengikuti tugas parents nya.

A: Pola pengasuhan ala kontraktor. Maksa.com

I: Tpi serunya kita bisa ke tempat bahkan propinsi lain gratis. Wkwk. Enaknya 1 tapi perjuangannya cukup ketar ketir apalagi urusan anak yang suka bilang kenapa ummi?  Aku kan enggak ada kawan lagi.

E: Pindah kota pindah budaya. Seperti anak pegawai bank, TNI, dll

S: pegawai pajak mutasi 2 tahun sekali.Seru pastinya.

V: Pindah kota pindah budaya. Seperti anak pegawai bank, TNI, dll… – – seru, bikin deg-degan juga. Tapi yang jelas bikin kayak hati dan pengalaman

S: kaya bahasa.

E: Lebih toleran

Anna Farida: Catat!

R: Waduh sudah ramai maaf belum sempat baca ini masih tetap sibuk mau ngantar anak ke sekolah si ABG masuk telat hari ibuk.

U: Tips share buku anak murah, dulu saya biasa hunting buku anak-anak impor di Senen sama Kwitang, mengapa buku impor bekas, karena:

1. Ilustrasinya menarik dan cerah merangsang otak si anak, yang inderanya mulai berkembang.
2. Buku impor bekas, bahannya tidak mudah robek, dan awet
3. Bukunya murah toh kita hanya butuh ilustrasinya karena banyak gambar jadi kita yang kreatif bercerita kepada anak  ngarang-ngarang dikit, jadi enggak harus ngerti bahasanya
3. Buku impor meski tebal kadang lebih ringan
4. Harganya murah dibanding ditoko buku besar kenapa, karena enggak banyak yang minat beli, buku yang lagi asyik diliat (bukan dibaca anak saya di atas, kebetulan berbahasa jepang)  demikian sedikit berbagi pengalaman

Y: Terimakasih atas saran sarannya. Benar-benar mencerahkan.
Saya pun jadi lebih termotivasi untuk lebih menularkan kebiasaan membaca kepada anak anak.

Anna Farida: Salaaaam,  maaf jarang halo-halo. Insya Allah monitor selaluuu.

R: Wa’alaikum salaam..@bunda Anna tenang aja🏻
@temen2 baru, slamat bergabung salam kenal jugaa..

C: memiliki.ART harus disesuaikan dengan apa yang tidak bisa kita tangani sendiri. Namanya juga asisten bukan pengambil alih semua urusan RT. Awalnya saya menggunakan jasa ART karena saya baru melahirkan dan pangais bungsu masih berusia 2,5 tahun tapi seiring waktu tugas ART mulai berkurang. Mulai dari durasi waktu dalam seminggu sampai saya mulai memberikan tanggung jawab pada anak-anak saya sehingga ’tugas utama’ ART itu menyetrika karena tugas yang lain sudah beres 80%.

N: Gak punya ART, Baby umur 10 bulan. Berasa ini rumah gak pernah rapih . Kamar mandi dan dapur apalagi. Padahal Cucian baju di laundry.

Ko orang tua jaman dulu bisa ya tanpa ART ???

N: ART saya ‘ngantor’. Waktu anak-anak masih balita dia datang sebelum jam saya pergi kerja, dan pulang setelah saya datang. Alhamdulillaah, anak-anak saya enggak ada yang nempel ke ART, malah sepertinya terpaksa. Resikonya begitu saya pulang, ART saya dianggap enggak ada sama anak-anak. Walaupun saya jadi enggak ada waktu istirahat karena begitu datang, anak-anak langsung curhat ini itu dan bermanja-manja minta ini itu. Kadang sirik juga sama yang anak-anaknya bisa anteng sama org lain. Hehehe.

H: kadang pengen punya ART, minimal enggak ada setrikaan numpuk. Tapi suami bukan tipe percaya orang lain.

N: Ya, ngeliat setrikaan numpuk itu serasa berada dipenampungan ya, hehehe …. Kalo saya suka dipilihin baju-baju yang enggak ‘kelihatan’ mah enggak perlu dimasukkan ke tempat kumpulan para baju calon ketemu setrikaan, dilipat aja trus disimpan deh di lemari. Nah, yang mau disetrika dilipat juga, ditumpuk di wadah/ keranjang utk baju-baju calon disetrika. Walaupun kadang-kadang tumpukannya menggunung juga, melebihi tumpukan di lemari, wkwkwk.

E: Idem mbak Nining…

W: Kalau saya pribadi nunda dan tentu sama dengan prinsip suami, this is just sharing. Sejauh pekerjaan rumah bisa dihandle berdua kami lakukan termasuk nyuci dan nyetrika. Pun jika terpaksa enggak bisa kami londry diluar. Karena kami belum bisa jika ada ART karena bagi kami masih privacy. Tapi semua pilihan ada baik dan tidaknya.Terima kasih sharingnya semua bunda di sini. Tambah wawasan, sodara, saling tukar pengalaman.

R: Alhamdulillah aku enggak suka ART. Semua di handle sendiri. Aku awali hari dengan bersih-bersih tempat tidur bila suami sudah bangun. Kalau belum tunggu sampai dia bangun terus masuk kamar mandi gosok gigi & terus mandi (kamar mandi wajib kinclong sebelum tidur) abis tuh subuh, terus merapikan apa saja yang belum rapi dan alhamdulillah rumah selalu kinclong 24 jam. Begitu kata penilaian orang yang sudah pernah main ke rumah kami sayangnya banyak teman-teman yang malu ngundang aku ke rumah mereka karena selalu belum siap alias berantakan. Padahal aku ga peduli urusan domestik mrk. Kan tiap orang berbeda-beda. Taman pun terawat dengan baik luar dalam berbunga subur (maaf kalo aku beda dengan teman-teman lainnya tapi kita ada kan karena perbedaan bukan karena persamaan terus).

U: Tips setrika, yaitu buat kabel setrika menggantung karena kalo tidak dibuat menggantung, maka kabel akan menarik bagian baju yg dibawah yg telah kita setrika, demikian semoga bermanfaat ayo gosooook terus.

Y: Saya sekarang kerja dari rumah, dengan 2 putri, yang sulung 4 tahun, bungsu 2 tahun. dulu waktu awal menikah, saya ikut suami tugas belajar di negara sebrang (jadi senyum-senyum sendiri baca sharing dari Bu R, ingat pengalaman dulu, salam kenal ya bu). Alhamdulillah Si Sulung dulu kooperatif sekali, jadi rumah selalu kinclong meski ada bayi, dan saya masih menyetrika lho. Saat si bungsu lahir, saya sudah di indonesia dan kini rumah saya  jauh dari rumah mertua  dan saudara. Lain halnya dengan si sulung, si bungsu ini aktif sekali, rumah bersih klo dia tidur saja hehe. akhirnya saya pakai ART yang menghandle cuci setrika, bersihin rumah, sama nyiapin bahan masakan. Lainnya tetep saya yang handle. Alhamdulillah, minimal saya punya lebih banyak waktu dan energi untuk main sama anak-anak dan ngerjain kerjaan.
C: betul bu Anna….kenapa lebih membangun romantisme? karena suami bekerja di luar Bandung. Jadi akhir pekan bisa kumpul dengan keluarga. Nah, saat itu lah ART diperlukan. Itu permintaan suami lho, supaya saya, suami dan anak-anak bisa silaturahim dengan saudara yg lain.

H: Ini cerita saya..

Pertama ada pembantu saat anak ke-2 lahir, jarak anak pertama dan kedua, 20 bulan. Saya tinggal di Papua, jauh dari saudara yang mayoritas di Jawa. Pekerjaan suami yang mengharuskannya untuk sering ke luar kota, membuat keluarga kami butuh ART.

Usia saya 25th, sementara usia ART saya sekitar 45 thn.
Masalah pekerjaan domestik saya akui memang lincah. Tapi masalah etika dengan tetangga, cara ngomong dengan anak-anak, dengan kami menyedihkan. Kalau saya tegur, dia jadikan pelampiasan ke anak-anak, marah ke anak-anak di depan saya, saya nggak bisa terima, saya marah seketika. Tapi dia malah diem nggak mau ngomong.

Suami saya kalau sudah nggak suka dengan orang, ya diam. Akhirnya saya juga yang harus ngalah. Mau ganti, tapi belum nemu.. Jadi disabarin. Dia bilang ke saya, saya bisa apapun soalnya saya sudah kerja di Malaysia 15 tahun. Karena perbedaan usia kami, dia juga nggak mau panggil saya ibu/ikutin anak-anak manggil saya, dia manggil saya dan suami “Dek”. Sudah saya tegur, tapi nggak mau berubah. Saya sempet minta tolong tetangga untuk negur cara dia manggil, tapi nggak berubah juga. Dia juga selalu banding-bandingin saya dengan majikannya di Malaysia.

Dia nggak pernah ditungguin. Majikan terdahulu kerja semua, berangkat pagi pulang malam. Anak-anak tidur dengannya beda kondisi dengan saya. Saya ibu rumah tangga, dia hanya membantu apa yang nggak bisa saya tangani dengan aturan. Saya rasanya hampir putus asa, harus di tegur dengan cara apa?

Cerita dengan Ibu mertua, saya dimarahi dengan alasan apa kata tetangga kalau nanti saya ganti ART padahal baru sebentar. Membandingkan saya dan beliau saat punya ART. Saya cerita ke ortu saya, disuruh sabar karena cari ART susah. Sekali dapat minta gaji tinggi. Ini juga minta gaji 2 juta bersih. Tiket PP 1x/tahun.

Saya rasanya mau mengibarkan bendera putih beneran. Kegiatan saya pun banyak terbengkalai, nggak bisa tinggalin anak walau sebentar karena takut.

R: Mungkin sebaiknya diberhentikan saja jika tidak nyaman dan bisa berpengaruh pada anak anak perilakunya. Karena sayang sekali jika punya ART tapi kita malah tidak bisa beraktivitas.Saya di rumah di bantu kakak ipar. Dengan posisi seperti ini harus hati hati dan menunjukkan rasa hormat, terutama bagi anak anak tetap sopan pada budenya. Beliau mengerjakan cucian dan setrika.

A: Iya mbak R, ini nyari lagi tapi belum juga dapat, mohon doanya ya Mbak..

K: Ikut menyimak.Kalau saya pernah panggil tukang setrika ke rumah (setelah lahiran anak ke-3), gak sampe lama, begitu ada baju & uang yang hilang, langsung cari celah untuk dihentikan. Enggak jodoh punya ART. Hiks.
Akhirnya pilih dikerjakan sendiri, klo pas saya ada halangan (tiba-tiba sakit ato apa), ya dibantu sm suami.

R: Bu Y, meskipun kami sedang liburan ke tanah air selama 5 minggu aku tetap ngerjakan sendiri segalanya. Kadang ponakan ada yang bantu masak, tapi aku & family enggak suka karena dia pakai penyedap. Masakan terlalu gurih akhirnya aku kerjakan sendiri juga paling ponakan atau ipar datang mereka hanya cuci piring & suami tetap enggak suka pakai ART yang pulang pergi. Jadi dia sering bantu cuci piring atau nyapu rumah kami di KBP Bandung anak-anak pun ikut bantu kadang-kadang. Alhamdulillah rumah tetap kinclong tanpa ART.

Mb H, menurut aku mending pecat aja pembantunya kelakuannya enggak bagus gitu. Supaya enggak makan hati duit pun enggak habis. Kalau aku dulu anak-anak masih balita pun enggak pernah pakai pembantu. Kalau kita bisa bagi waktu, pekerjaan IRT bisa ditangani lho, coba deh.

H: Iya mbak bisa kalau ada suami di rumah. Tapi suami pekerjaannya emang mengharuskan sering keluar kota. Anak saya usianya 3th dan 1,5th. Saya tinggal di kota yang minim fasilitas. Pekerjaan saya banyak saya tinggalkan karena ini. Kalau misal ada kegiatan penting dan mendesak banget, nggak ada yang bisa jaga anak. Penitipan anak jauh mbak, sekitar 1 jam pakai mobil. Saya sudah pernah coba tanpa ART selama 2 bulan dengan kondisi suami kerja pagi-sore, tapi pulang ke rumah. Alhamdulillah teratasi semua. Tapi kl nggak ada suami, jadi susah. Pernah coba untuk jasa laundry, jadi bisa nanganin urusan domestik lain. Tapi benturannya pun ada masalah keuangan. Jatuhnya lebih mahal. Karena laundry per kg 20rb di sini hehehe. Jadi saya sedang berusaha untuk cari pengganti 🙂 mohon doanya. Pas kedua anak sakit, dan nggak ada suami, itu juga luar biasa hehehe.

R: Semoga Allah mengabulkan keinginanmu. Andai deket aku mau banget jaga anak-anak, my dear.

D: Ada dan tidak ada ART memang kadang jadi dilema. Berhubung lagi hamil tua maka saya sama suami sepakat kami pakai ART seminggu 2x. Lumayan membantu terutama buat nyetrika . Alhamdulillah pekerjaan lumayan berkurang, anak-anak belajar mandiri karena seting dilibatkan, dan tidak terlalu banyak uang keluar.
H: Aamiin.. Iya mbak  semoga yang lain juga dimudahkan ya aamiin.

N: Tuuuh, jatuhnya berat di setrika, ya. #membayangkan ada mesin setrika, kayaknya saya bakal maksain beli deh walau agak sedikit mahal.

R: Kalo aku biasanya nyetok makanan jumlah banyak simpen di freezer sekali makan jadi kalo lagi enggak sempat masak tinggal ambil di freezer  dan juga nyetok bumbu-bumbu berbagai makanan juga simpen di freezer sekali pakai. Dengan gitu pekerjaan rumah makin ringan & aku sedang nulis buku masalah ini so ibu-ibu plis beli buku aku ya gimana menghandle kerjaan IRT dengan sigap. Ciiieeee promosi nih ye.

W: Bener dah yang namanya mencuci dan nyetrika pekerjaan berat tapi wajib.

R: Kalo aku semua bumbu saat beli langsung di kupas, yang perlu potong, di potong dulu seperti jahe, kunyit, laos serai serta bawang-bawang terus simpen dalam freezer. Kalau mau pakai tinggal ambil kerjaan jadi cepet selain itu enggak ada risiko buang bumbu karena busuk atau kopong. Misalnya bawang. Ini salah satu tip hemat menyelesaikan kerjaan rumah. Calon buku yang sedang digarap semoga laris dan bisa membantu ibu-ibu.

Rn: ditunggu bukunya Bu R.

R: Mohon doa ya bu Rn semoga lancar dan banyak lagi tips merawat rumah, masak, merawat tanaman di dalam & di luar rumah .

Anna Farida: Siang ini pk 1 – 2 saya online, silakan kalau mau rumpiii

Suci Shofia: Hehehe … Balada Sang Kontraktor

Anna Farida: Semangat, Mahmud!

E: Mahmud itu siapa ya? Saya mau tny tp lupa trus…

J: Mamah muda

Anna Farida: Iya, Mamah Muda

E: Ya ampuuun… maklum deh kudet…hahahah

J: Wkwkwwk

E: Kurang nonton sinetron nih saya kayaknya…

M: Nama lengkapnya Mahmud Abas…

J: Nah abbas nya apa saya gak tahu
M: Abas = anak baru satu….

J: Ooo… Wkwkwk

E: Kalo anak tiga, apa dong singkatannya?

J: Ab3

H: Mahmud asti, mamah muda anak sudah tiga

RW: Kalau anak 6, tapi merasa muda?

Ef: Mahmud abas juga …tp abas ny = anak banyak sekali 🏻

RW: suka..suka..suka

Anna Farida:  kalian menggemaskan!
E: Ada-ada aja…
R: Kreatif
Suci Shofia: Hahaha … Ada juga yang japri  “Pak Mahmud itu domisili di mana ya?”

“di kulwap tdk ada yg namanya mahmud”

“lho itu yg sering disebut pak mahmud siapa?”

Jadi perlu perkenalan lebih lengkap neh, kalau admin kulwap punya panggilan sayang dari narsum Anna Farida.

Baru deh dia senyum-senyum sendiri .

E: Hahahha… ternyata bukan cuma saya aja yg kudet

K: Saya pertama kenal mahmud juga disini… mahmud Suci ternyata…
Mahmud = mamah muda
Klo sy mahmut = mamah mulai tua

D: Jd terkenal nih si mahmud ya ibu…ibu…

J: Saya mahgamut aja… Mamah gak mau keliatan tua

M: Saya macan aja….mama cantik 🏻.🏻

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s