Tanya Jawab “Recehan”

Image result for receh
ilustrasi: asku.fm

Senin siang, 14 Maret 2016 12:55 WIB

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu. Mari kita bahas pertanyaan yang masuk.
Tanya 1

Kalau cuma masalah salah menyimpan sepatu, handuk, dst. Alhamdulillah saya sudah bisa meninggalkan recehannya. Tapi kalau masalahnya sering komunikasi yang macet, haduh, lelah rasanya hati ini. Tentang perbedaan pola asuh antara kami dengan ibu mertua. Suami sudah seringkali saya curhati. Tapi suami masih belum berani membuka komunikasi dengan ibunya. Atau tentang suami yang enggak mau tau bahwa uang belanja yang diberikan istrinya itu sebenernya cukup atau enggak buat beli ini itu selama sebulan. Intinya menurut saya, masih susah membuka komunikasi dengan suami. Sering suami susah berusaha menjadi pendengar yang baik. Daripada cerewet terus-terusan, akhirnya beberapa hal cuma bisa dipendam (jengkel sendiri). Bagaimana cara meninggalkan recehannya??? Maaf, kepanjangan ya
Jawaban Ibu Elia Daryati

Dalam pernikahan selalu penuh dengan dinamika permasalahan yang mungkin menguras energi kita.
Persoalan utamanya terkait  pola asuh yang berbeda dengan mertua. Sesungguhnya pola asuh yang akan diserap anak adalah pola asuh yang paling dominan. Kecuali pola asuh yang berganti-ganti dan sama dominannya.

Demikian juga terkait masalah keuangan, sebetulnya hal ini pun dapat disampaikan kepada pasangan. Masalah keuangan seringkali memang sedikit sensitif untuk dibicarakan, namun itu merupakan hajat hidup yang secara jujur untuk disampaikan.

Cara berkomumikasi yang baik bisa dilakukan dengan mudah. Asal orientasi diniatkan untuk pemecahan masalah bukan mempermasalahkan masalah.

Saling mempercayai pasangan merupakan kunci terpentingnya. Kita tidak sedang berhadapan dengan suami dalam menyelesaikan persoalan tapi kita sedang berdampingan dengan suami dalam menyelesaikan persoalan bersama-sama. Jika ini terbangun dengan baik. Pada akhirnya tidak akan ada dusta diantara kita. Termasuk dalam menyelesaikan persoalan yang Ibu hadapi saat ini.
Jawaban Anna Farida

Errr … masalah komunikasi macet sih bukan recehan, Bu.

Yang saya maksud dengan recehan adalah pernak-pernik yang terjadi dalam kebersamaan setelah hal-hal prinsip sudah mencapai kemufakatan.

Jika masih ada perbedaan pola asuh dengan mertua (neneknya anak-anak?) dan anggaran keuangan yang seharusnya diketahui bersama, berarti dua hal prinsip itu yang perlu dikomunikasikan dengan baik.

Cara mengurainya tidak bisa dibiarkan atau ditangani sebagaimana kita menyisihkan recehan. Harus diurai satu-satu dibahas satu-satu.  Kemungkinan besar jika pola komunikasi yang diperbaiki, dua masalah berikutnya lebih mudah dibahas.

Kapan biasanya Ibu mengajak suami berdiskusi?

Sebelum makan? Saat suami pulang kerja? Setelah “dinas malam”? Ketika ada mertua?

Urusan dengan mertua bisa lebih simpel jika beliau dilibatkan secara aktif, bukan jadi obyek rasan-rasan atau sasaran keluhan.

Jika ada hal terkait mertua, sebaiknya diskusi bertiga.

Gunakan bahasa minta tolong kepada ibu mertua. Justru menurut saya, jika Ibu berhasil, mertua akan jadi sekutu yang paling ampuh.

“Ma, gimana ya bagusnya. Ini catatan keperluan sehari-hari. Coba Mama baca. Padahal ayahnya anak-anak kasihnya segini. Cukup, sih, tapi siapa tahu Mama lebih teliti. Menurut Mama, bagian mana yang bisa dipangkas?”

“Ma, anak-anak harus ujian minggu ini. sebaiknya mereka belajar mulai jam berapa, ya?” ———– untuk Mama Mertua yang hobi sinetron bakda magrib.

Saya tidak bisa kasih contoh spesifik, tapi intinya, masalah tidak bisa selesai kalau ibu mertua hanya jadi bahan nggosip.

Jika beliau memang tinggal bersama kita, atau kita yang nebeng di rumah beliau, mau tak mau beliau harus dilibatkan dengan cara yang cantik 😉

Tanya 2

Bu Anna, bagaimana jika yang dipermasalahkan adalah masalah perencanaan keluarga? Saya orangnya terencana, meski sudah mulai bisa beradaptasi dengan spontanitas suami dalam banyak hal, tapi tetep aja pengennya semuanya teratur. Khususnya dalam pendidikan anak-anak. Suami selama ini lebih banyak ngandalin saya dalam mendidik anak-anak. (Anak-anak saya homeschooling).

Jawaban Ibu Elia Daryati

Orang tua itu terdiri dari ibu dan ayah. Jadi dalam mendidik anak sebaiknya berdasarkan komitmen bersama. Meskipun beberapa keluarga memiliki kebijaksanaan pembagian tugas antara suami istri dalam hal yang teknis. Akan tetapi semua kebijakan itu harus disepakati bersama.

Khusus untuk homeschooling diperlukan komitmen dan keteraturan dalam menjalankannya. Mengingat kendali aturan itu lebih menekankan komitmen keluarga dalam menjalankannya.

Sebetulnya gabungan yang cukup ideal antara yang spontan dan teratur. Ini akan menjadi irama pengasuhan tersendiri. Keteraturan akan menjadi program lebih terkawal dan yang spontan akan mewarnai dari sisi kreatifnya.

Berdamai dengan perbedaan akan menjadi langkah awal menuju harmoni.
Jawaban Anna Farida

Menurut Bu Elia, jodoh itu pasangan. Yang senang terencana dapat yang senang spontan.

Bukan harus saling mengalah dan mengubah salah satunya agar sama wataknya, tapi saling menginspirasi dalam kebaikan.

Terkait pelimpahan wewenang (misalnya pendidikan) pastikan Anda dan suami sepakat bahwa kendali ada di Ibu, dan Ayah akan mendukung sepenuhnya.

Jika ada pendapat yang berbeda dan tidak bisa saling sepakat, salah satu pendapat wajib didukung—sesuai spesialisasi masing-masing #halah

Misalnya, tak bisa sepakat antara sekolah atau homeschooling. Siapa yang paling bersedia dan paling mungkin mengurus pendidikan anak?

Jika Ayah yang bertanggung jawab, Ibu mendukung. Demikian pula sebaliknya.

Jadi kesepakatannya ada pada dukungan, bukan harus selalu sependapat.
Tanya 3
Bagaimana supaya tidak mengulangi mempermasalahkan recehan ujung-ujungnya menyesal belakangan, karena pola asuh ortu sejak kecil yang mempermasalahan recehan yang tersebar di sekeliling (jadi terbawa sama saya sampai sekarang)?

Jawaban Ibu Elia Daryati

Awal perubahan sikap semua bermula dari adanya kesadaran. Komponen sikap itu ada 3. Kognitif, afektif, dan konasi. Ketika seseorang secara kognitif mulai menyadari adanya sesuatu perilaku yang harus diubah, maka afektif-nya pun mulai merasakan ketidaknyamanan untuk mempertahankan kebiasaan lamanya. Hal ini akan menjadi 2 aspek penting untuk membuat seseorang cenderung secara konasi (psikomotor) menjadi berubah. Ujungnya akan mewujud pada perubahan perilaku, karena terjadinya perubahan sikap.

Kesadaran ibu sekarang ini sudah merupakan embrio dari perubahan itu sendiri. Hanya tinggal bersabar dengan waktu. Manusia berubah ada yang bersifat evolusi ada pula yang revolusi tergantung dari niat dan ikhtiarnya.

Mengubah kebiasaan tidak semudah membalik tangan, namun tidak sesulit menegakan benang basah…
Jawaban Anna Farida

Karena saya penulis, saya bikin daftar tertulis. Mana masalah yang recehan mana yang prinsip. Kadang kita tergoda membawa-bawa recehan karena mengira itu koin emang bernilai tinggi.

Dengan membuat catatan, saya lebih mudah mengingatnya dan tak terpancing untuk jengkel. Sesekali perlu tuh daftarnya ditunjukkan ke pasangan, eheheh. Biar pasangan tahu bahwa kita serius menjaga kedamaian keluarga dengan menyisihkan banyak hal yang bisa bikin ribut

Tanya 4

Assalamu’alaikum, saya punya pertanyaan buat narasumber.
Suami dari kecil dididik disiplin dan rapi, sedang saya sebaliknya santai. Sudah biasa bagi saya dikomentari dari hal A sampai Z dari rumah yang berantakan, anak yang tidak disiplin dan sebagainya. Namun kadang hal yang saya rasa sepele, seperti kuah yang tumpah ketika makan, atau lupa mematikan lampu jadi seperti hal yang dahsyat. Sungguh suami saya itu baik hati dan perhatian, ya cuma kadang kok marahnya tidak bisa dibedakan, kadang kata-katanya menyakitkan. Bagaimana ya kami harus bersikap, saya tidak mau main belakang, tidak mau pura-pura kepada anak-anak.

Jawaban Ibu Elia Daryati

Bersatunya dua jiwa dalam pernikahan membutuhkan adaptasi dan toleransi. Bahkan ada pernyataan yang mengatakan bahwa pernikahan yang baik itu lahir dari pasangan yang dapat saling memaafkan.

Yang satu menjadi obat bagi yang lain dan bukan menjadi racun bagi lainnya. Itulah adaptasi. Adaptasi dengan pasangan membutuhkan waktu, kesabaran dan jiwa besar.

Bukan hanya satu yang melangkah tapi kedua pasangan melangkah untuk melakukan perubahan dan berdamai dengan perbedaan.

Jawaban Anna Farida

Kuah sup itu recehan—komentar yang menyakitkan itu bukan 🙂

Anda boleh minta maaf karena kuah sup, dan wajib menyampaikan keberatan atas kata-kata yang tidak nyaman di hati. Cara menyampaikannya harus asertif.

“Benar, Honey, kuah sup bikin berantakan, dan aku lebih suka diingatkan baik-baik. Kubersihkan segera.”

Di saat yang sama, jika permintaan suami tentang rumah yang terorganisir itu masih masuk akal, Anda bisa mulai belajar kepadanya untuk rapi—di saat yang sama, beliau akan belajar kepada Anda untuk berantakan #eeehhh

RALAT: Dia akan belajar menerima Anda sebagai muridnya untuk belajar tentang kerapian dan mengajar Anda dengan penuh kasih sayang, ahahah.

Clear, ya. Menikah itu kompromi, belajar dari pasangan untuk jadi pribadi yang lebih baik, lebih santun.

Tanya 5

Memang dalam beberapa hal recehan jangan dijadikan sumber masalah.
Buat saya banyak recehan yang akhirnya jadi masalah karena pasangan telah melanggar hal prinsip. Kesetiaan.

Saat dia memberi kue dengan tulisan tahun yang salah di kue. Saya marah. Karena saya merasa dengan selingkuhannya dia lebih care. Dengan membuatkan video penuh cinta. Sedang saya hanya diberi kue.

Saat dia telat pulang dan tidak bisa dihubungi. Saya marah. Karena dulu dia telah menyalahgunakan kepercayaan saya saat sering terlambat pulang.

Saat dia mengabaikan saya yang sedang ingin diperhatikan. Saya juga marah dan ngambek berhari-hari. Karena saya tahu dia memberi perhatian berlebihan ke selingkuhannya serta beberapa wanita lain yang notabene katanya temannya.

Kadar kepercayaan saya ke dia hampir 0%. Saya tidak nyaman dia berhubungan dengan siapa pun yang berjenis kelamin perempuan.

Saat dia membantu pekerjaan rumah tangga sekedarnya. Misal menyetrika tapi tidak semua pakaian. Mencuci tapi tidak sekaligus menjemur. Membersihkan bak mandi tapi tidak sekaligus menggosok lantai dan dinding. Saya marah.
Karena saya tahu dia membanggakan hal itu ke teman-temannya terutama ke selingkuhannya. Seakan-akan dia adalah suami paling ideal sedunia.

Memang saat ini dia perselingkuhan itu sudah berakhir dan dia berjanji untuk setia. Masalahnya ini bukan yang pertama dan saya belum percaya bahwa dia bisa berubah.

Akhirnya setiap recehan yang dia lakukan tidak bisa saya terima.  Semua saya jadikan beban.

Sepertinya saya butuh bantuan.
Jawaban Ibu Elia Daryati

Ibu sesungguhnya tidak sedang bermasalah dengan suami, namun ibu sesungguhnya sedang bermasalah dengan diri ibu sendiri.

Perasaan trauma atas ketidaksetiaan suami, berujung pada ketidakpercayaan dan rasa marah yang berkepanjangan. Energi negatif yang ibu pancarkan kembali menikam Ibu sendiri.

Mungkin saat terbaik sekarang adalah dengan melakukan evaluasi terhadap diri dan pasangan. Salah satunya dengan mengurai satu persatu persoalan.

Sifat selingkuh dari suami itu apakah memang sudah jadi kebiasaannya atau merupakan kompensasi ketidaknyamanan dari hubungan yang penuh penghakiman. Membuatnya menjadi serba salah dan mencari ruang nyaman dengan berselingkuh.

Jika itu penyebabnya, maka bagaimana kalau ibu mencoba menjadi pribadi yang lebih baik dan menyamankan pasangan. Jika suami tetap berselingkuh juga, berarti memang merupakan tabiatnya.

Dalam pernikahan diperlukan sikap saling menghargai, menghormati, dan menyayangi pasangan dengan setulus hati. Ini harus terus diperjuangkan tanpa terus saling menyalahkan dan mengungkit kesalahan-kesalahan masa lalu.

Mengingat pada dasarnya semua pernikahan adalah perjuangan sepanjang hayat dengan imbalan yang seimbang.

Jawaban Anna Farida

Ini namanya recehan kembalian 🙂

Artinya, ada masalah yang lebih besar dan ada masalah ikutannya. Masalah yang sebenarnya adalah belum pulihnya kepercayaan, dan akibatnya, hal lain yang kecil-kecil ikut kebawa-bawa.

Yang harus diperbaiki adalah komitmen pernikahan Ibu dan pasangan.

Saya tidak tahu benar, apakah kebiasaan tidak setia itu beberapa kali atau hanya sekali. Dari cerita Ibu saya menangkap beberapa kali terjadi. Maaf jika salah tangkap.

Yang harus dibereskan adalah masalah besarnya. Mengembalikan kepercayaannya—dan ini tidak bisa sepihak.

Kabar baiknya, Ibu tahu bahwa Ibu perlu bantuan—ini pertanda yang sangat baik.

Banyak orang punya masalah san dia tidak tahu.

Dalam kondisi seperti ini, saya pilih menyarankan Ibu dan pasangan memperoleh bantuan profesional untuk mengurai rasa cemas dikhianati lagi, perasaan yang sudah mengganggu Ibu sekian lama. We’re with you, Bu. Kuat, ya.

Anna Farida: Sampun,  Mahmud Admin Suci Shofia ✅

Terima kasih kepada teman-teman yang telah berbagi pengalaman dan pertanyaan, semoga berkah senantiasa.

 

Advertisements

2 thoughts on “Tanya Jawab “Recehan”

  1. Pingback: Mana Receh Mana Prinsip – uchishofia

  2. Pingback: Mana Prinsip Mana Recehan | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s