Bincang Asisten Rumah Tangga

Anna Farida:

Salam Sehati Bapak Ibu sekalian,

Ini kulwap ke-25 ternyata. Jadi kita kopdar setelah kulwap ke berapa? Eheheh

Maaf terlambat post materi.

Ada beberapa usul yang masuk terkait tema marriage atau parenting yang diajukan para peserta. Beberapa tema penting memang pernah kita bahas. Suatu saat jika memang diperlukan, kita akan bahas ulang.  Boleh, ya, Mahmud Admin? Walau membahas tema yang sama bisa jadi wawasan kita sudah berbeda dan peserta pun berbeda karena ada yang datang dan pergi dari sarang tercinta kita ini.

Kali ini kita akan membahas hal terkait “Ironing Day” alias hari menyetrika 😀

Dua hari terakhir kelas kulwap ramai riang dengan diskusi yang menyenangkan seputar tugas rumah tangga. Terima kasih sudah saling berbagi kebaikan.

Kita akan membahas tentang Asisten Rumah Tangga.

Bagi sebagian keluarga, ART adalah bagian yang penting, bahkan ada teman yang bilang bahwa cari ART lebih susah daripada cari suami #hayah – eh tapi benar juga, sih 😀

Peran mereka jadi penting ketika kita menjadikan mereka mitra kerja yang baik. Kita bisa mendapatkan bantuan mengurus rumah, atau menjaga anak sejenak.

Dalam buku Marriage With Heart ada sebuah chapter yang bercerita tentang seorang ibu keren yang merasa kehilangan fungsi di rumahnya sendiri.

Semua anaknya sangat tergantung pada Mbak, semua cari Mbak, semua minta Mbak—untung suaminya tidak cari Mbak melulu juga #eh

Semula dia sangat nyaman karena pekerjaan rumah ada yang  bereskan anak-anak ada yang ngurus, tapi lama-lama dia merasa jadi hiasan saja di antara anggota keluarganya.

Hidup ini kadang tak adil – ada yang ngomel di mana-mana sampai curhat di fesbuk karena ART-nya nggak bisa diandalkan. Menu masakan diubah semaunya, setrika nggak halus, kalau nganggur main hape melulu.  Mau dipulangkan takut juga nggak ada yang bantuin, tapi dipertahankan kok bikin sakit hati terus.

Kalau ada yang curhat seperti itu, saya biasanya tanya, “Tar … tar … ini bosnya siapa, ya? Kamu atau dia?”

Penafian:  Pembahasan ini bersifat terbuka bagi ART di rumah dengan keluarga bekerja atau dengan keluarga yang bekerja di rumah.

Kita mulai, yaaa …

Saat berurusan dengan pembantu atau ART, hal paling penting yang harus dibangun adalah kesadaran kedua belah pihak bahwa Anda dan dia itu mitra kerja. Bukan sekadar atasan dan bawahan.

Pekerjaan ART ini tidak seperti jaga toko. Begitu selesai jam dinas langsung bubar. Yang dijaga adalah rumah Anda, apalagi anak-anak Anda. Dia ada di dalam rumah Anda, terlibat secara pribadi dengan Anda sekeluarga. Jadi aspek pribadi dan emosional pasti ada.

Mulailah dengan mambagi tugas yang jelas. Apa yang harus dia lakukan, apa yang Anda lakukan. Berikan petunjuk yang clear, misalnya:

Tugas harian:

  1. Menyapu, mengepel
  2. Menyetrika

Tugas Senin – Kamis

  1. Membersihkan kamar mandi
  2. Belanja keperluan dapur
  3. Membersihkan logistik untuk stok kulkas
  4. ….

Tugas hari Jumat

  1. ….
  2. …..

Intinya tugas dia harus jelas, sehingga jelas mana wilayah Anda dan mana wilayah dia.

Langkah kedua, ajak dia membuat jadwal pekerjaan. Pastikan dia memperoleh jam istirahat yang cukup. Minta kerja samanya agar dia benar-benar istirahat—bukan fesbukan atau ribut di grup WA seperti bosnya

Beri apresiasi ketika dia bisa taat pada jadwal kerja, beri masukan ketika dia tidak taat waktu – bahas apakah dia perlu mengubah jadwalnya agar lebih nyaman.

Langkah ketiga, pastikan dia bersikap santun. Dia adalah orang yang ikut mengasuh anak-anak kita.  Beri dia rambu-rambu sejak awal, misalnya dia tidak boleh keluar kamar mandi hanya pakai bathrobe. Anak-anak tidak boleh tidur di kamarnya, anak-anak tidak boleh disuapi — terilhami diskusi kemarin – artinya mana yang boleh dan mana yang tidak benar-benar disesuaikan dengan kekhasan masing-masing keluarga.

Terakhir, you’re the boss.

Anda bosnya, tanggung jawab sebenarnya ada di Anda. Jadi jika ada kesalahan pada pekerjaan yang dia lakukan, tegur seperlunya. Beri kesempatan lagi – terulang lagi – tegur lagi – … berapa kali Anda kasih toleransi terserah Anda—jika masih seperti itu lebih baik anda cari asisten baru.

Bagaimana kalau cari asisten baru ternyata lebih susah dari cari jodoh?

Ya itu urusan Anda, lah. Masa saya dan Bu Elia yang harus mencarikan, ahahah

Kabooor …  🏽🏽

Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage With Heart dan Parenting With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Teh Aan, dapatkan diskon menarik.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s