Tanya Jawab Sahabat Dengan Pasangan

ilustrasi: google

Tanya 1

Mengapa saat berkomunikasi dengan pasangan seperti bukan menjadi diri sendiri. Saya harus menggunakan bahasa yg singkat namun jelas (jika kelamaan, pasangan akan mengalihkan pandangan). Saya harus berbicara dengan banyak tersenyum dan semangat berapi-api seperti mendongeng pada anak kecil (agar ia tertarik mendengar omongan saya). Sedangkan saya seorang introvert. Intinya saya merasa bersandiwara saat ngobrol dan membuat lelah hingga cenderung menghindari percakapan. Apa karena latar belakang pendidikan yang berbeda? (saya lulusan S1 dan dia D3).

Sudah benarkah metode ini?

Jawaban Bu Elia Daryati

Pernikahan juga seperti membesarkan anak. Keduanya merupakan perjuangan sepanjang hayat. Namun demikian, tidak semua cerita pernikahan adalah pengorbanan. Kebahagiaannya pun cukup banyak. Satu pengorbanan yang kita berikan dalam berkeluarga biasanya Allah hadiahkan berlipat-lipat kebahagiaan yang luar biasa.

Demikian karakter pasangan dalam pernikahan. Biasanya juga memang komplementer. Saling menggenapkan. Kekurangan yang satu menjadi ibadah buat pasangan dan sebaliknya. Adapun kelebihannya adalah anugerah buat pasangannya.

Demikian juga dalam hal pola berkomunikasi. Sebetulnya rumusnya sederhana. Ada penyampai pesan, ada media, ada pesan, ada penerima pesan dan ada feed back. Atau umpan balik. Adapun cara adalah kekhasan masing-masing dalam menyampaikannya.

Bukan ukuran bahwa sifat ekstrovert akan lebih baik dalam menyampaikan pesan dan yang introvert yang akan lebih sulit. Patokannya adalah bahwa pesan itu dapat disampaikan dengan.baik ke si penerima pesan. Melalui proses komumikasi yang efektif.

Ada pasangan yang cukup terampil berkomunikasi, ada juga pasangan yang memiliki hambatan dalam beekomumikasi. Jika hubungan pasangan itu memiliki hubungan yang cukup sehat, penyampain pesan akan lebih mudah dan kesalahpahaman dapat diminimalisir. Hal ini bukan berarti tidak ada masalah komunikasi sama sekali.

Dengan demikian sebetulnya tidak selamanya karena introvert dan ekstrovert. Juga masalah pendidikan asal tidak terlalu jauh, tidak terlalu masalah pula. Saya memiliki teman yang istrinya lulusan S3 dan suaminya tidak selesai kuliah, mereka baik-baik saja.
Menikah itu syaratnya cuma satu, yaitu menerima pasangan secara tulus apa adanya.

Jawaban Anna Farida

Dalam buku Marriage With Heart disebutkan bahwa menikahi itu saling menginspirasi pasangan. Pribadi yang berbeda akan saling mempengaruhi, bisa baik bisa juga buruk. It’s so natural.

Ibu jadi cenderung harus berbicara dengan cara yang tidak Ibu suka tapi ternyata efektif, itulah yang menurut saya perlu diacungi tiga jempol. Artinya, Ibu bisa menempatkan diri bukan semata-mata sebagai “aku” tapi juga sebagai “kami”. Ibu menemukan aneka gaya komunikasi, tidak saklek dengan gaya tertentu. Tidak banyak orang yang bisa melakukannya, lho.

Apakah Ibu sedang bersandiwara?

Saya kira tidak. Ibu sedang memelihara iklim komunikasi yang pas bagi pernikahan Ibu. Ibu merasa lelah karena Ibu merasa terpaksa. Coba lakukan saja dengan niat “I am in control, saya ingin pernikahan saya aman komunikasi lancar. Saya pakai gaya komunikasi ini. Gaya inilah yang saya pilih. Ya, saya yang pilih.”

Peneguhan diri semacam itu akan lebih membuat Ibu ringan hati.

Tentu dengan niat terus belajar, Ibu akan menemukan lagi cara-cara lain yang lebih aduhai. Uhuk!

Toh Ibu sudah teruji berhasil memanfaatkan gaya banyak tersenyum dan berapi-api. Ibu mampu melatih diri seperti itu. Saya yakin, Ibu tidak akan kesulitan menemukan inovasi lain dalam berkomunikasi dengan pasangan.

Percaya deh, diri Ibu yang asli tidak akan hilang, dan tanpa ibu sadari, sebenarnya pasangan pun akan terpengaruh oleh Ibu.  🍀

 Tanya 2

Bagaimana cara agar bisa saling curhat-curhatan sampe lega? Laki-laki kan tipenya bicara seperlunya. Kalau bahas masalah-masalah penting. Apalagi secara keseluruhan sudah satu visi jadi enggak perlu waktu banyak sudah sepakat. Kalau wanita kan pinginnya bicara banyaaaakkkk bahkan yang enggak penting dan pengennya penumpahan pertama dan utama adalah suami,  padahal laki-laki susah mendengarkan panjang lebar 😅

Jawaban Bu Eli Daryati

Suami yang baik akan paham kebutuhan istrinya dan istri yang baik juga harus paham kebutuhan pasangannya. Demikian juga dengan pola komunikasi.

Jika ada jarak kebutuhan, maka penyesuaian yang dilakukan adalah satu sama lain bergerak saling mendekat untuk memperkecil jarak. Jadi dua-duanya akan merasa menang. Sebetulnya jika cara istri dalam berbicara tidak terlalu lebay dan diulang-ulang, biasanya suami masih dapat menanggapinya dengan baik. Namun kebanyakan istri menginginkan suaminya paham terhadap semua hal  yang di sampaikan, kalau perlu disampaikan secara panjang lebar dan diulang-ulang pula. Sehingga pada akhirnya muncul masalah baru yang berujung mengatasi masalah tanpa solusi. Jika ini terjadi maka akan muncul lingkaran masalah komunikasi yang tak berujung dan dapat menimbulkan ketidakpuasan salah satu pasangan bahkan keduanya.

Solusi akhirnya adalah, jika ibu memang memiliki ide-ide atau banyak hal yang selalu ingin dikomunikasikan dengan suami. Sedangkan suami memiliki keterbatasan waktu dan juga minat diskusi yang sedikit berbeda. Ibu dapat menuangkannya dalam tulisan. Ikut komunitas diskusi yang seide sehingga ide ibu tersampaikan dan termanfaatkan, relasi dengan pasangan pun akan semakin harmonis.

Jawaban Anna Farida

Caranya mudah. Maksudnya mudah nulisnya 😁

Tanya dia, bimbing dia. Bisa jadi dia memang tidak terampil bercerita jika tidak ditanya. Wawancarai, interogasi #halah!

Jika pasangan termasuk yang model gong (dipukul baru bunyi, ya pukul saja berulang kali) —-> ini seperti mengajarkan tinju saja.

Tanya dia dengan pertanyaan “mengapa? Menurut kamu bagaimana? Waktu kamu di sana, apa yang terjadi?” Jangan pakai pertanyaan yang jawabannya hanya “ya/tidak”

Berikan apresiasi  untuk setiap respon yang dia berikan. Bisa jadi dia tidak tahu bahwa ngobrol hal-hal remeh atau curhat “tak bermutu” ternyata penting bagi pasangannya.

Katakan terbuka. “Makasih sudah nemenin aku cerita, ya, Mas. Makasih. Muah” #anotherhalah

Sabar, lakukan perlahan-lahan.

Ingat batas juga. Jangan sampai pasangan merasa dipaksa keluar dari zona nyamannya. Mungkin dia akan mengawalinya dengan banyak mendengar, merespon sedikit-sedikit. Lama-lama, nanti entah di kulwap yang ke berapa, Anda akan mengajukan pertanyaan, bagaimana menghadapi suami yang bicaranya banyaaak, curhatnya banyaaak 😀

 

Tanya 3:
Bagaimana menjadi penengah bagi pasangan yang selama pernikahan tidak bisa jadi sahabat? (kalau salah satu curhat malah dimarahin).

Jawaban Bu Elia Daryati

Setiap pasangan jika memiliki komitmen awal dalam pernikahan, seiring berjalannya waktu mereka akan saling menyesuaikan. Seperti toples dengan tutupnya, bukankah bentuknya berbeda, tapi keduanya dapat saling menggenapkan. Harmonis itu bukan berarti harus sama, jika sama persis dimana letak saling menggenapkannya.

Adapun peran mediator adalah stimulan luar yang sifatnya sementara dan netral. Jika memang merupakan kepercayaan keluarga pada akhirnya harus dekat pada keduanya. Dekat namun berjarak tidak terlalu melibatkan diri terlalu mendalam, karena pemainnya adalah suami-istri itu sendiri.  Artinya mampu membuat solusi bagi keduanya. Bahkan konselor perkawinan sekalipun perannya berbatas waktu dan menyentuh pada kedua pasangan.

Insya Allah, jika dilakukan dengan tulus dan netral pihak suami teman ibu akan sangat berterima kasih. Tidak ada dusta diantara kita. Pada akhirnya mereka akan melakukan pola hubungan sendiri sesuai kekhasannya dalam berkeluarga setelah mengetahui kebutuhan pasangan masing-masing. Dan Ibulah sang perekat itu … 😊

Jawaban Anna Farida

Sebelum kita bahas bagaimana caranya, saya mau pasang rambu dulu. Jika Anda perempuan, pastikan Anda hanya melayani curhat istrinya. Saya tidak sepakat dengan curhat ke lawan jenis, apa pun alasannya. Sebut saya kuno, nggak percayaan, biarin. Rela saya sih 😀

Itu prinsip pertama dan utama.

Berikutnya, jadilah pendengar yang baik. Bisa jadi sebenarnya teman Anda itu tahu caranya, tapi ingin didengar. Perhatikan apakan masalah yang mereka alami itu ada di level yang remeh atau memang prinsip? Jika mereka masih tidak klop karena pilihan warna cat rumah, Anda cukup dengarkan saat salah satunya ngomel.

Tapi jika mulai ada hal prinsip, misalnya ada kekekerasan atau masalah lain terkait utang piutang atau kecenderungan penyimpangan perilaku,  misalnya,  Anda harus menyarankan dia mendapatkan konseling yang layak dari ahli.

Sori, ini pertanyaannya terbuka banget, jadi saya pun jadi juru ramal untuk menebak apa maksudnya 😀

Demikian jawaban kulwap kali ini. Kami beruntung karena sebelum kulwap sudah ada diskusi yang hangat dan bernas dari para peserta. Terima kasih sudah bersedia saling berbagi kebaikan dengan kita semua.

Sampun, Mahmud Admin Suci Shofiaaaa

Advertisements

3 thoughts on “Tanya Jawab Sahabat Dengan Pasangan

  1. Pingback: Bersahabat dengan Pasangan | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s