Tanya Jawab Kebiasaan Membaca

 

Image result for gambar kebiasaan membaca
motherandbaby.co.id

Tanya 1:  

Anak saya (2,5th) sejak bayi sudah dibacakan buku. Belum bisa miring-miring sudah saya bacakan buku keras-keras. Sekalian buat diri sendiri sekaligus biar anaknya ngerasa dikudang (timang:jawa) ☺
Sekarang anaknya udah lari-lari nyari rak buku anak kalau diajak ke toko buku. Dia suka pilih buku dengan gambar favoritnya yaitu frozen. Nah emaknya ngerasa sayang kalau beli buku itu. Pinginnya yang lebih ada nilai-nilainya gitu. Baiknya gimana, ya? Buku pilihannya dituruti gak ya? Tapi kalau dituruti besok-besok lagi pas ke toko buku ambil yang gambar frozen lagi 😅 #emaknya yang bosen😝

Jawaban bu Elia Daryati

Kecintaan terhadap buku sejak masa kanak-kanak sebetulnya merupakan awal yg sangat baik. Awalnya biasa lama-lama jadi suka dan akhirnya buku menjadi bacaan yang dibutuhkan.

Adapun kesukaan untuk memilih “jenis buku” adalah pilihan.
Buku seperti juga makanan  memiliki kadar gizi tertentu. Ada yang memiliki gizi yang baik ada juga yang kurang baik. Ada yang ringan untuk dicerna, ada juga buku yang memang terlalu berat untuk dicerna.

Adapun anak-anak mereka akan senang membaca buku yang menarik. Buku untuk anak-anak biasanya akan menarik jika bukunya kaya dengan gambar yang berwarna-warni dengan tulisan yang sedikit. Anak-anak masih dalam alam imajinasi yang sangat kuat.

Bagaimana dengan buku frozen? Apakah buku ini memiliki tampilan yg sangat menarik secara visual? Kita belum bicarakan isinya baru kita bahas kemasan dan fisiknya. Jika memang iya … jangan heran jika anak-anak sangat menyukainya. Apalagi dari tokoh yg ada di buku tersebut, didukung dengan ada boneka yang secara fisik dijual dan ada lagu yang diciptakan terkait dengan buku tersebut. Lengkap sudah paket penokohan dan bagaimana kecanduannya anak untuk senang memilih buku dengan kategori seperti ini.

Bagaimana supaya anak memilih buku yang lain, yang memiliki kandungan gizi yang lebih baik dan berkualitas? Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Pilihlah buku yang memiliki kriteria tadi secara fisik menarik, menurut sunatullah anak.

Pengalaman saya dengan anak-anak 17 tahun yang lalu, ketika mereka masih kecil. Ada seri buku yang isinya gambar semua. Kemudian si pembaca (anak) itu berimajinasi sesuai isi bacaan dengan versi sendiri. Waktu itu anak-anak saya sangat menyukai kegiatan tersebut. Bisa diulang besoknya, kadang dengan cerita berbeda sesuai imajinasi dirinya. Cukup seru, sangat menarik tapi buku seperti itu saya lihat sudah tidak ada.

Ini mungkin akan jadi tantangan tersendiri bagi semua orang tua, dan juga penerbit untuk menyuguhkan buku yang bergizi sekaligus menarik secara kekinian, sehingga tidak mengurangi minat anak untuk membacanya. Dibutuhkan inovasi dan kreativitas untuk mewujudkannya.

Jawaban Anna Farida

FROZEN

Dia adalah anak yang bahagia karena punya “the reading mother”.  Semoga kebiasaan membacakan buku bagi anak bisa jadi budaya di rumah kita masing-masing.

Menurut saya, sih, biarkan anak memilih buku sesuai seleranya, apalagi masih 2.5 tahun. Mau Frozen terus juga biarin, nanti juga lewat masanya. Yang penting, kita tetap arahkan konten bacaan yang pas buat si kecil. Misalnya, kita bisa tanya mengapa suka Frozen, apa yang akan dia lakukan seandainya jadi Elsa atau Anna. Menurut kamu apakah keputusan Elsa melakukan ini dan itu baik atau tidak? Apa yang bisa kamu katakan kepada Hans agar bersikap lebih baik? Materi diskusi seperti ini masih bisa dipakai sampai anak berumur 7 tahunan—artinya, kita mengajak anak menempatkan diri pada tokoh yang baik dan yang tidak baik, dan bagaimana dia memilih. Dan tetaplah tenang ketika anak ternyata terlihat lebih menyukai si tokoh antagonis—tanya saja alasannya mengapa. Bisa jadi dia menyukainya karena dianggap berani. Atau, dia tak suka pada tokoh utama karena dianggap terlalu cengeng dan terlalu baik saat jadi korban kok tidak melawan malah memaafkan hahah.

Pandangan anak pada tokoh yang sedang dia sukai bisa jadi pintu masuk diskusi yang menyenangkan. Btw saya tidak nonton Frozen, saya tahu ceritanya dari anak-anak 😀
Tanya 2:

Bagaimana cara membacakan buku bilingual (indonesia+inggris)?

Jawaban Bu Elia Daryati

Mengajarkan bilingual pada anak sesungguhnya akan sangat menarik jika dilakukan dalam situasi infornal. Akan tetapi perlu di ketahui sebelum kita mengajarkan bahasa asing pada anak, penguatan bahasa ibu sebagai bahasa utama sudah terbangun dengan baik. Selanjutnya baru kita kenalkan bahasa asing sebagai bahasa yang dapat memperkaya kosa kata anak-anak kita. Hal ini perlu diperhatikan agar anak tidak mengalami kebingungan atas konsep bahasa yang mereka miliki.

Cara mengenalkan tambahan kosa kata bisa menggunakan visual gambar melalui buku atau vidio. Misalnya : “bahasa inggrisnya ikan itu apa?” sambil menunjuk gambar ikan dalam bahasa Indonesia dan menyebutkan bahasa Inggris-nya. Hal ini anak akan belajar asosiasi berpikir, jika anak terlihat senang dengan kegiatan ini mereka akan lebih mudah untuk menambah kosa kata bahasa yang dapat mereka kuasai.

Sebetulnya jika anak senang membaca sejak kecil dengan menggunakan bahasa utamanya (khususnya) bahasa ibunya dan dilakukan dengan pola interaksi yang baik dengan tutornya (orang tuanya). Akan memiliki keuntungan tersendiri karena mereka umumnya tidak akan mengalami kesulitan dalam persepsi bahasa. Pada akhirnya anak pun sangat tertarik dan mudah untuk belajar bahasa lain di luar bahasa utamanya. Tanpa dengan paksaan karena pengalaman dalam belajar bahasa dan membacanya semua dilakukan dengan cara menyenangkan.
Jawaban Anna Farida

BUKU BILINGUAL

Errr … sebenarnya saya tidak suka buku bilingual ehehe, padahal saya bikin buku bilingual dan trilingual, malah #gimanasih

Maunya sih satu bahasa saja. Indonesia saja atau asing saja. Utuh, gitu. Tapi penerbit kita masih menganggap bahwa yang beli buat anak itu ortu, dan biasanya ortu kita pinginnya baca itu ya “belajar”. Katanya, “Rugi ah kalau beli buku cerita aja, mending sambil belajar bahasa Inggris, gitu.”—ehehe seperti pertanyaan di atas, maunya kasih bacaan yang “bernilai”.

Padahal, nilai kebaikan bisa diperoleh anak dari buku apa pun, termasuk buku yang kelihatannya tidak berhikmah seperti buku manual merakit meja atau lemari 😀

Tips membacakan buku bilingual. Saya pilih membacakan versi satu bahasanya sampai tuntas. Lain waktu saya bacakan versi bahasa yang satunya. Jadi tidak diselang-seling dua bahasa. Bahasa memiliki cakupan makna yang kompleks karena ada nilai budaya di sana. Jadi akan lebih tertangkap maknanya secara utuh jika dibacakan dengan satu ragam bahasa. Anak juga terbiasa berpikir utuh.

Eh, tapi, ini mau menyimak ceritanya atau bahasanya? Kalau memang tujuannya menyimak aspek bahasa, ya kita telaah bareng kalimat per kalimat. Walaupun demikian, cara belajar bahasa dengan menerjemahkan kalimat atau kata per kata itu sudah lama sekali ditinggalkan. Kita tidak akan bahas lebih jauh, tar jadi kuliah sosiolingusitik 😀

Tanya 3:

Amankah membacakan ebook bagi bayi?

Jawaban Bu Elia Daryati

Baca ebook untuk bayi.

Sebaiknya tidak terlalu direkomendasikan. Pola interaksi antara orang tua dan bayi yang natural itu lebih diutamakan.

Interaksi fisik  dan kehangatan hubungan paling dibutuhkan bayi. Medianya adalah fisik dengan fisik. Sentuhan, pelukan, dan dekapan.

Jika bayi akan kita kenalkan dengan buku sebaiknya melalui media yang memang dapat merangsang seluruh panca indranya.  bukankah sudah banyak buku yang terbuat dari pelastik ? Yang tidak mudah robek dan bisa dibawa ke bak mandinya jika bayi menginginkannya.

Buku dalam media fisik, bukan saja merangsang visualnya namun juga dapat menstimulasi motoriknya. Motorik kasar dan motorik halusnya.
Kesimpulannya, ebook adalah alternatif yang paling akhir jika memang kita tidak punya media lain untuk mengajarkan anak cinta terhadap buku. Sebuah kondisi daripada … daripada.

Jawaban Anna Farida

BACA EBOOK BUAT BAYI

Bayi-bayi kita ini bayi memang digital. Sejak di dalam rahim, kehadirannya sudah tersebar di media sosial emaknya. Perkembangannya dari minggu ke minggu dan bulan ke bulan jadi bahan update status – seandainya saya hamil di masa FB marak, pasti saya akan melakukan hal yang sama 😀

Membacakan ebook buat bayi tentu sah saja. Namun demikian, selama bayi masih ada dalam “kuasa” ibunya, saya memilih membacakan buku buatnya. Setidaknya, sebelum akhirnya dia berkenalan lebih jauh dengan gawai digital, pengalamannya tentang buku cetak pun ada. Buku bayi punya banyak variasi dari sisi bahan. Buku kain bisa dia raba, buku plastik bisa dia gigit, buku tebal (board book) bisa dia ketuk-ketuk atau dia lempar. Ibunya pun lebih tenang dan aktivitas membaca pun bebas dari rasa cemas tablet dilempar atau diompoli 😀

Selesai.
Advertisements

2 thoughts on “Tanya Jawab Kebiasaan Membaca

  1. Pingback: Membangun Kebiasaan Membaca di Keluarga – uchishofia

  2. Pingback: Membangun Kebiasaan Membaca Keluarga | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s