Berbagi Cerita tentang Anak Remaja

[20:54, 14/02/2016] A: Teman-teman, saya sedang sedih nih. Anak saya (14 th) sering melawan saya. Saya dibuat tak kuasa menahan amarah dan akhirnya menangis. Sementara dia tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Saya harus berbuat apa?

Dia lebih suka mengerjakan hal-hal yang menurutnya menyenangkan. Seperti nonton bareng (nobar) bola enggak peduli sampai malam. Saya harus teriak dulu biar dia mau nurut untuk tidak nobar. Apalagi tahun ini mau ujian nasional.

[21:27, 14/02/2016] S: Usia ini mereka sedang mengalami masa transisi menuju ke remaja. Sedang menunjukkan dirinya. Aduh musti suabarnya dobel Bunda. Laki-laki atau perempuan ya? Negosiasi waktu coba, jadi tarik ulurlah. Ajak membuat kesepakatan dan berikan punishment kalau melanggar. Tapi bukan dalam bentuk kekerasan fisik ya😊

[21:35, 14/02/2016] A: Laki-laki.

[21:47, 14/02/2016] S: Apalagi laki-laki, Bun. Jiwa pemberontaknya lebih

[21:57, 14/02/2016] R: Ga semuanya, Bun.

[21:58, 14/02/2016] W: Maaf, Bu A, ikutan ngobrol ah mumpung udah pada tidur 😁.
Udh usia teenagers ya Bu. Kemungkinan ada kebolongan di usia anak-anak, tapi it’s ok. Toh time can’t turn back. Yang jelas sekarang sudah enggak bisa lagi main perintah. Sudah enggak bisa lagi mama is the boss.
Saran saya, Bu A harus turunin standar, selama enggak melanggar syariat agama, agar kita bisa bersahabat dengan anak.

Misal (jika Ibu muslim) walau Ibu enggak suka lihat anak nonton bola melulu takut enggak belajar, tapi berbesar hati lah untuk nego (bukan mengancam) : “Kak, silakan kakak nonton bola sampai jam berapa pun, asal Kakak bisa jaga sholat subuhnya tidak kelewatan. Kalau kelewatan, mohon maaf tidak ada nonton bola.”

Kalau anak sudah merasa bisa bersahabat dengan Ibu, baru bisa kita minta anak untuk belajar, persiapkan diri utk ujian, dll.

Saya kurang suka jika masa remaja diidentikan dengan masa mencari jati diri, masa labil, masa egois. Karena itu membuat kita menjadi “permisif” dengan hal-hal yang mengarah kepada hal negatif yang mereka lakukan.

Usahakan Bu A tidak terlalu under pressure mengenai ujian nasional. Percaya deh, Bu, jika masalah komunikasi dengan anak ini tidak dibereskan dengan “cinta”, yang Ibu hadapi di depan lebih menyedihkan dari sekedar tidak bisa masuk ke sekolah favorit.

Maka, tenang, fokus untuk memperbaiki komunikasi dulu, agar hubungan menjadi baik. Dan jangan lupa yang terpenting selalu bawa dalam doa, ya, Bu.

Mohon maaf bila tidak berkenan. 😊

[22:30, 14/02/2016] H: Mba wulan 👍🏼👍🏼

[23:45, 14/02/2016] Ibu A: Makasih, Bu wulan dan yang lainnya. Maaf tadi saya ketiduran sambil nangis (lebay.com) saya justru tidak terlalu menekan anak saya. Selama waktunya masih bisa ditolerir, saya izinkan anak saya untuk berlatih futsal. Tapi yang suka membuat saya marah ketika dia mau nonton bareng di jam-jam yang seharusnya dia istirahat.

Saya juga pernah bilang kalau nonton atau kecintaan terhadap klub bola bisa membuat dia lebih rajin shalat, belajar, dsb silahkan lakukan yang dia mau. Tapi memang sayanya sambil emosi.

[05:42, 15/02/2016] SB: Bu A, apa tidak sebaiknya yang bicara pada anak adalah ayahnya?
Desibel suara ayah lebih tepat untuk menasehati anak.

Apalagi laki-laki cenderung lebih singkat bicaranya.

Kalau perempuan, kadang kepanjangan.

Merembet kemana-mana.

Cuma saran.

[06:16, 15/02/2016] Bu A: Saya juga maunya begitu, tapi sayangnya ayahnya “bermasalah”

[06:22, 15/02/2016] SB: Oh, maaf.

Adakah paman atau kakek yang dekat dengannya?

Atau kalau tidak, guru atau ustadz?

[06:41, 15/02/2016] R: Bu A ikutan nimbrung ya. Usia anak Ibu terpaut satu tahun dengan anak saya.

Masalahnya juga hampir sama, cuma saya siasati Bu.😄😄😄

Memang harus punya stok sabar yang ekstra 😄😄😄

Tapi alhamdulillah, semua baik-naik saja

[06:59, 15/02/2016] N: Menyimak, diskusi bunda-bunda di sini. Sangat bermanfaat..👍🏻👍🏻, nambah ilmu.☺😍

[07:08, 15/02/2016] A: Bagaimana siasatnya?

[07:29, 15/02/2016] H: Pertanyaan yang sama dengan mba Ati.

[07:38, 15/02/2016] R: Bentar ya, saya selesain tugas domestik, barusan datang ngojek hehehe.

[08:16, 15/02/2016] Bu A: Mothers yang bijaksana. Saya juga bekerja dari pagi sampe sore. Ketemu anak saya maghrib. Quality time sama anak saya cuma sedikit. Terima kasih buat semua.

[08:33, 15/02/2016] M: Bunda-bunda,dulu saya bacakan Al-‘Asr setelah sholat subuh. Alhamdulillah sampai sekarang anak saya jadi anak manis,tapi harus sabar ya bunda karena anak enggak langsung baik tapi bertahap dan doa ibu adalah yang terbaik.
Caranya Al-‘Asr dibaca 3x terus ditiupkan ke dada anak habis sholat subuh ya. Insya Allah.

Kalau sang ayah yang bermasalah, saya bacakan Al-Kautsar juga 3x setelah sholat subuh
Jadi sebelum saya bangunkan saya bacakan surat tersebut terus saya tiupkan ke ubun-ubun suami.

[08:40, 15/02/2016] Ibu A : Kalo suami tidak tidur gimana caranya ya? Suami saya baru tidur sesudah shalat shubuh atau siangnya.

[08:44, 15/02/2016] M: Sesudah sholat subuh kan tidur bunda
Ya yang saya tahu itu bunda, dikondisikan saja bunda.

Asal bunda sudah wudhu aja.

[08:50, 15/02/2016] T: Nyimak, banyaknyaaaa belajar dari ibu-ibu senior 😄

[08:54, 15/02/2016] R: Anak saya 2 bunda, cowok dan cewek. Keduanya punya keunikan tersendiri yang harus dihadapi dengan ekstra sabar.Yang cowok usia SMP, anaknya usil, enggak mau diam, enggak mau mikir pelajaran sekolah, lebih suka main dan main baik di rumah maupun di sekolah. Sering enggak ingat apa yang sudah kita rundingkan. Kalau orang jawa bilang ” ndablek” 😄😄, awalnya saya memang sering ceramah. Tapi enggak mempan. Akhirnya kita tanya maunya dia gimana, jadilah kesepakatan.Kalaupun masih lupa dengan kesepakatan tersebut kita ingatkan. Jika saya sudah habis kesabaran saya tinggal diam aja dan untuk melampiaskan ceramah saya ngomeng-ngomeng sendiri saat pulang kerja😄😄😄😄..untungnya saja jalan ramai dan kendaraan lewat lalu lalang jadi saya bisa puas-puasin.

Pernah juga bunda, saya dan suami di panggil ke sekolah gegara nilainya yang super jeblok..😄😄😄

Di sekolah saya senyum-senyum saja gurunya ceramah kesana sini.

[09:45, 15/02/2016] D: Alhamdulilah, ya, mba M usulnya ngademin hati 😊 . Saya juga coba amalkan surat Ar-Rahman, Mba. Anak pertama dan ke 2 saya juga cowok. usia 14 th dan 12 th. Sama dengan Mba A saya pribadi juga sedang teruuus belajar dan berlatih sabar menghadapi anak cowok mba. Hampir sama yang dihadapi kalau ngomong cuek. Gampang ketus. Kalau saya amati kuncinya ya di saya. Kalau saya bicaranya marah-marah emosi dan cerewet panjang kali lebar. Hal seperti itu yang muncul dari mereka. Tapi kalau saya bicara secukupnya apalagi dengan nada lembut dan menghargai mereka respon mereka juga enak dan cenderung mendengarkan. Dan memang kata suami juga begitu menghadapi anak cowok cukup katakan atau minta mereka melakukan hal-hal yang prinsip. Tidak berulang memintanya dan kasih sayang yang terus ditunjukkan. Itu yang syuusyaah.. 😄😄 .  Saya IRT yang selalu keep in touch dengan mereka. Kalau sudah capek muncul deh ngomel-ngomel dan cerewetnya. Alhamdulilah ada grup keluarga sehati. Jadi saya pribadi diingatkan kembali dengan hal-hal tersebut.  Semangaaat belajar dan bersabar yuuk.. 😘😘

[09:52, 15/02/2016] M: Iya bunda, dulu saya juga pusing menghadapi anak cowok,terus saya dapat masukan dari ustadzah dan saya terapkan ke anak. Alhamdulillah kok jadi nurut meskipun ya kadang agak belok tapi bisa dilurusin lagi😥 memang ikut kulwap ini saya juga jadi nambah ilmu, banyak teman, biasanya kalau punya masalah saya hadapi sendiri. Di sini bisa sharing sama teman bunda-bunda hebat 💪

[10:24, 15/02/2016] DA: Nuhun infonya, Mom. Saya juga punya anak cowok tapi masih balita. Mungkin karena anak pertama cewek dengan karakter lembuuuut. Jadi rada kaget dengan anak kedua ini. Iseng banget, sukanya ngajak main berantem-beranteman. Kalau sudah mau, enggak peduli apapun, dibilangin nanti jatuh, nanti sakit, cuek ajah. Kalau sudah kejadian, baru deh nurut. Kalau saya cerita ke orang-orang sih, mereka pada bilang ya itu cowok banget. Ya Alhamdulillah cowok saya cowok banget, tapi pengennya ya terarah ke hal baik lha kecowok-annya itu  🙂

[12:23, 15/02/2016] M: enggak apa-apa bunda, jangan dilarang-larang,cuma diingatkan saja pengalaman ponakan-ponakan saya juga begitu. Tapi dengn bertambahnya usia anak-anak semakin mengerti  dan agak anteng.

[12:48, 15/02/2016]  F: Jabat tangan dulu sama bunda DA. Mirip banget bunda, anak kita yang cowok. Baru usia 3 tahun bener-bener harus ekstra deh sabarnya.
Kakaknya cewek 7 th dari kecil aktif bgt. Eh ternyata adiknya berkali-kali lipat aktifnya.
Pengalaman pertama ngasuh anak/adik cowok ternyata wow banget. Tapi alhamdulillah masih aman dan alhamdulillah sekarang dapat kesempatan emas belajar bersama ibu-ibu hebat disini.
Big hug bunda-bunda semua, terima kasih sudah berbagi inspirasi disini…:)

[12:51, 15/02/2016] DA: Jabat tangan juga sama bunda F 🙏

[12:51, 15/02/2016] DA: Iya ya Bu M, belum usianya ya hehe.

[12:52, 15/02/2016] F: Makasih, Bunda DA☺

[13:06, 15/02/2016] A: Saya akan coba lakukan ke anak saya, Insya allah besok shubuh sebelum saya membangunkan dia. Terima kasih masukannya Bu M. Bu R, anak saya juga 2. Yang pertama 14 th, adiknya baru 5 tahun. Lumayan jauh jaraknya. Dia juga sama adiknya suka kasar dan gak sabaran. Adiknya perempuan. Saya akan coba bicara lagi sama anak laki-laki saya. sekali lagi terima kasih atas saran-sarannya yang luar biasa.

[13:11, 15/02/2016] R: Bu A anak saya yang ke 2 juga perempuan, usia 5th

[13:15, 15/02/2016] AD: Anak saya laki 3 orang dan luarrrr biasa.😂😂
Pengalaman bunda-bunda yang lain cukup memberi inspirasi.

[13:16, 15/02/2016] R: Memang anak laki-laki dan perempuan ..sangat unik 😄😄😄

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s