Mengenalkan Jajanan Aman untuk Anak

Image result for jajanan anak sekolah yang sehat
keripik.co.id

[12:38, 1/29/2016] Anna Farida: Salam Sehati, Bapak Ibu.
Kita mau bahas sebuah kabar yang kurang menyenangkan.
Buat apa? Agar kita bisa menempatkan diri di posisi yang jelas.

Beberapa hari yang lalu saya dapat berita tentang jajanan anak-anak yang dibungkus dengan benda tak layak. Ada juga kabar tentang permen yang mengandung zat adiktif.
Pernah juga baca tentang proses pembuatan baskso goreng yang tidak manusiawi.

Kabar semacam itu biasa hinggap di media sosial dan kadang tidak jelas dari mana sumbernya. Jadi plis jangan mudah menyebar-nyebarkan berita kecuali jelas dan tepercaya sumbernya, ya.

Namun demikian, kabar semacam itu bikin deg-degan juga. Ada kemungkinan anak kita terpapar juga jajanan tak sehat semacam itu. Bukan hanya tak bersih dari sisi bahan-pengolahan-penyajian, tapi juga ada kemungkinan tidak halal.

Anak anak saya biasa bekal makanan dari rumah, tapi ada kalanya kepingin juga saat lihat teman. Apa yang biasa saya lakukan untuk memberi pengertian kepada mereka?

Berikut adalah hal yang perlu diingat ketika berdiskusi dengan anak:
1. Tidak menuduh. Misalnya, jangan beli makanan itu, lihat, tangan penjualnya kotor, wadahnya penuh debu.
Anak-anak bisa saja berpikir, ah, ibu sotoy.
Lain halnya jika kita bertanya, “Di mana, ya, penjualnya cuci tangan setelah pegang uang?”
Atau, “Kita beli di tempat lain, yuk. Yang itu belum tentu bersih”.

  1. Netral, terbuka. Bahas semua kemungkinan yang baik dan yang buruk terkait jajan di tempat terbuka. Minta mereka yang menemukan baik buruknya, pancing pancing dengan pertanyaan, misalnya, kalau kena debu gimana, ya? Cuci mangkuknya di mana, ya?
  2. Tidak reaktif. Ajak anak ngobrol pas dia siap, bukan ketika sedang mengunyah jajanannya. Tar beteee sama Bunda, kwesseel sama Ayah.

Ada yang mau berbagi pengalaman?
Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage with Heart dan Parenting with Heart karya Elia Daryati – Anna Farida.

Salam takzim

Anna Farida
[15:16, 1/31/2016] Anna Farida: Potongan siaran dunia pendidikan di RRI tentang memupuk kebiasaan membaca. Kurang jernih karena siarannya melalui telepon

https://m.soundcloud.com/anna-farida-963434394/rri-pro-4-bdg-kebiasaan-membaca-30-jan-2016

 

Sharing dari peserta Kulwap Keluarga Sehati 1
[13:27, 1/29/2016] Julia Rosmaya:

Semasa sekolah saya selalu membatasi bekal makanan. Biasanya roti. Bahkan hingga SMA. Selain roti coklat meses (standar banget ya), saat SMA saya juga membawa nasi dan lauknya. Karena selepas sekolah biasanya langsung lanjut ke tempat les. Uang jajan tetap dikasih tapi saya kurang suka jajan karena punya keinginan beli berbagai macam buku. Ortu membatasi kalau ke toko buku sehingga mau tidak mau uang jajan ditabung untuk beli buku. Alhamdulillah di rumah selalu tersedia berbagai makanan. Minimal roti tawar dan kue. Sehingga jarang kami tertarik untuk jajan ke abang penjual makanan yang sering lewat. Kebetulan papa saya bekerja di department kesehatan sehingga beliau sering bercerita mengenai efek jajan sembarangan. Beliau melarang kami kakak beradik untuk mengkomsumsi saos tomat atau sambal yang ada di tukang bakso atau mie Ayam. Caranya memberikan article terkait bahwa saos tomat dan sambal itu dibuat dari bahan yang tidak aman. Sampai sekarang saya selalu makan bakso tanpa tambahan saos gegara artikel itu. Heran juga sih kok iya kami anak kecil disuruh baca article berat soal saos tomat berbahaya. Tapi begitulah cara papa dulu. Sekarang anak-anak saya biasakan membawa bekal. Jajan seperlunya saja. Yang sulung tanpa dilarang membatasi diri jajan minuman yang menggunakan gula biang. Karena dia merasakan sendiri tenggorakannya gatal seusai mengkomsumsi minuman tersebut. Kedua anak saya juga tidak suka soda dan saos tomat/sambal yang ada di tukang bakso atau mie ayam.

Cara saya melarang sama dengan papa. Hahaha, bukan dengan menyuruh mereka membaca artikel tapi saya bercerita mengenai bahaya bahan tambahan di saos-saos tersebut. Saya juga sering bercerita mengenai berbagai bahan berbahaya di makanan. Supaya mereka tahu. Saya rasa bila anak diajak diskusi dengan diberi dasar dan pemahaman yang tepat mereka akan tahu sendiri bahaya jajan sembarangan.

[13:43, 1/29/2016] Suci Shofia:

Mb Julia, wah sudah ditanamkan sejak kecil, ya. Boleh berbagi isi artikel kandungan apa saja dalam saos tomat dan sambal tukang mie ayam dkk?

[13:44, 1/29/2016] Julia Rosmaya:

Papa selalu menekankan kalau ada makanan warnanya gak wajar harus curiga. Itu bahan cat katanya. Saos tomat di abang bakso kan warnanya merah banget. Tahun 80an waktu saya SD sempat heboh bahan pewarna cat dipakai untuk saos tomat. Saya rasa saat ini masih Cuma mungkin bahan lain yang tetap berbahaya.

 

Advertisements

3 thoughts on “Mengenalkan Jajanan Aman untuk Anak

  1. Reblogged this on Anna Farida and commented:
    KULWAP KE-21

    Salam Sehati, Bapak Ibu.
    Kita mau bahas sebuah kabar yang kurang menyenangkan.
    Buat apa? Agar kita bisa menempatkan diri di posisi yang jelas.

    Beberapa hari yang lalu saya dapat berita tentang jajanan anak-anak yang dibungkus dengan benda tak layak. Ada juga kabar tentang permen yang mengandung zat adiktif.
    Pernah juga baca tentang proses pembuatan baskso goreng yang tidak manusiawi.

    Kabar semacam itu biasa hinggap di media sosial dan kadang tidak jelas dari mana sumbernya. Jadi plis jangan mudah menyebar-nyebarkan berita kecuali jelas dan tepercaya sumbernya, ya.

    Namun demikian, kabar semacam itu bikin deg-degan juga. Ada kemungkinan anak kita terpapar juga jajanan tak sehat semacam itu. Bukan hanya tak bersih dari sisi bahan-pengolahan-penyajian, tapi juga ada kemungkinan tidak halal.

    Anak anak saya biasa bekal makanan dari rumah, tapi ada kalanya kepingin juga saat lihat teman. Apa yang biasa saya lakukan untuk memberi pengertian kepada mereka?

    Berikut adalah hal yang perlu diingat ketika berdiskusi dengan anak:
    1. Tidak menuduh. Misalnya, jangan beli makanan itu, lihat, tangan penjualnya kotor, wadahnya penuh debu.
    Anak-anak bisa saja berpikir, ah, ibu sotoy.
    Lain halnya jika kita bertanya, “Di mana, ya, penjualnya cuci tangan setelah pegang uang?”
    Atau, “Kita beli di tempat lain, yuk. Yang itu belum tentu bersih”.

    Netral, terbuka. Bahas semua kemungkinan yang baik dan yang buruk terkait jajan di tempat terbuka. Minta mereka yang menemukan baik buruknya, pancing pancing dengan pertanyaan, misalnya, kalau kena debu gimana, ya? Cuci mangkuknya di mana, ya?
    Tidak reaktif. Ajak anak ngobrol pas dia siap, bukan ketika sedang mengunyah jajanannya. Tar beteee sama Bunda, kwesseel sama Ayah.
    Ada yang mau berbagi pengalaman?
    Kulwap ini disponsori oleh buku Marriage with Heart dan Parenting with Heart karya Elia Daryati – Anna Farida.

    Salam takzim

    Anna Farida

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s