Tanya Jawab Keuangan Keluarga

Image result for keuangan
suryanara.org

[13:59, 1/23/2016] Anna Farida: Salam Sehati semuaaaa
Mana suaranyaaa 😀
[13:59, 1/23/2016] Anna Farida:

Tanya 1:

Saya biasa mengatur pengeluaran dan pemasukan dengan suami. Saya sendiri alhamdulillah merasa cukup dengan pemberiannya selama ini. Namun kadang ada campur tangan dari mertua (orangtua suami), yang berpendapat bahwa seharusnya kami sudah memiliki ini, itu, dan ana (eh … bukan ding 😁)
Nah … Bagaimana sebaiknya kami menyikapi hal itu? Saya sih inginnya ya rumah tangga kami biar kami yang urusi. Toh kami tidak pernah mengeluh dan meminta-minta pada orangtua (yang memang berada).
Kami tahu orang tua kami sayang pada kami. Namun, cara mereka kurang sreg di hati.
Saya sudah meminta pada suami untuk bicara baik-baik. Intinya biarkan kami mengurusi rumah tangga kami sendiri. Akan tetapi suami enggan melakukannya. Kalau saya sebagai menantu menyampaikan hal tersebut pada mertua, apakah etis?
Saya sudah memikirkan kalimat (asertif, yg sudah dipelajari) untuk disampaikan pada mertua. Tapi saya masih menahannya, berharap agar suami sendiri yang mengatakannya.
Mohon saran dari cikgu Anna dan Bu Elia. Terima kasih. 😊

Jawaban Bu Elia Daryati

Kunci segala kemudahan untuk berkomimikasi adalah hubungan baik. Jika ada perasaan sedikit mengganjal saja, akan terasa oleh lawan bicara kita. Apalagi jika kita berhadapan dengan seseorang yang memang ada hambatan psikologis. Plus dia memiliki otoritas yang cukup kuat, yaitu mertua.

Hambatan persoalannya ada 2 :
1. Mertua
2. Persoalan yang akan dibicarakan adalah masalah keuangan.

Kedua hal ini sensitif.

Selesaikan dulu relasi yang harmonis dengan mertua, buat hubungan baik dan iklim psikologis yang nyaman. Selanjutnya akan mudah.
Ketika hubungan nyaman sudah terbangun, selanjutnya ada nilai kepercayaan.

Boleh jadi ikut campurnya orangtua dalam hal keuangan terkait dengan nilai kepercayaan. Jika hal ini sudah terbangun, membicarakan keuangan bukan lagi suatu persoalan.

Jawaban Anna Farida

Ternyata menikah bukan hanya urusan berdua. Ada mertua plus keluarga besar yang mau tidak mau ikut berperan. Keguyuban keluarga besar ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan jika tidak dikelola dengan bijak.

Awali dengan menyampaikan pandangan ke suami, pastikan Anda berdua punya konsep yang sama dulu.

Jika mertua mengkondisikan Anda dan suami segera punya ini itu, pastikan dulu pandangan suami selaras dengan prinsip Anda. Misalnya, niii, Anda juga sepakat untuk hidup sesuai  standar tertentu, tak perlu ngoyo nambah barang yang memang tidak diperlukan.

Setelah oke, sepakat, baru dweh bicara ke mertua tersayang.
Jangan sampai apa yang kita sampaikan ternyata tidak sejalan dengan pandangan suami. Ketauan nggak kompak, ah 🙊

Komunikasi asertif bisa dijajal dengan bahasa bertanya. Anda kan anak, jadi tugas Anda adalah bertanya kepada beliau.

Ajak beliau bercerita,  tanya bagaimana beliau membangun keluarga. Mintalah saran bagaimana menjadi keluarga yang mandiri. Mintalah izin agar diberi kesempatan mencoba berjuang, sambil minta agar mertua tetap jadi mentor.

Harapannya sih mertua jadi berperan sebagai coach, ya.
Jika ada detail yang ingin ditanyakan, mari diskusi 😊

Tanya 2:

Suami saya, anak, cucu, juga keponakan pertama di keluarga besarnya sudah hampir satu tahun tinggal di rumah kami mengurus anak-anak. Sepertinya keluarga besarnya tidak mengerti tentang keadaan kami (maksudnya sekarang saya yang bekerja sendiri). Setiap mereka kesulitan dalam keuangan mereka selalu datang untuk minta tolong. Saya bukan tidak mau bantu, tapi suami selalu bilang berikan sejumlah uang yang mereka perlukan. Kadang saya tidak terima karena uang yang diminta/ diberikan lebih dari kemampuan kami. Kalau saya inginnya berikan semampu kami saja karena keluarga yang minta masih punya ortu lengkap atau kalau neneknya yang minta saya bilang tetap semampu kami saja. Karena nenek punya anak-anak yang sudah berumahtangga semua. Kalau dibebankan pada kami, mereka (anak-anak nenek) seolah-olah tutup mata dan telinga.  Pernah juga saat mamangnya ditagih dengan enteng menjawab “Istri kamu kan PNS.” Akhirnya si mamang tidak bayar hutangnya …😂.
Kadang suami juga ingin kelihatan jadi super hero ditengah keluarganya tanpa memikirkan siapa yang bekerja.

Lalu, pertanyaan selanjutnya karena suami tidak bekerja, saya sarankan untuk berjualan kecil-kecilan di rumah. Tapi suami maunya bikin kafe atau buka franchise yang modalnya 5 juta ke atas. Padahal saya sudah bilang kalau modal segitu saya tidak bisa. Tapi suami memaksa saya untuk pinjam ke koperasi kantor. Saya hitung-hitung kalau pinjam uang sejumlah itu maka uang yang saya bawa pulang akan kurang untuk kebutuhan rumah tangga kami dan biaya sekolah anak-anak. Bagaimana ya caranya supaya suami tidak merengek rengek minta modal yang sedemikian besarnya?

Jawaban Bu Elia Daryati

Persoalan yang Ibu hadapi terkait dengan masalah relasi Ibu dengan suami. Persoalan yang terkait dengan Ibu secara pribadi. Adapun yang berhubungan dengan keluarga suami adalah persoalan berikutnya.

Tugas ibu adalah memberikan pengertian pada suami tentang situasi yang sebetulnya terlalu menyudutkan diri Ibu dalam posisi dilematis. Katakan secara asertif bahwa ini sangat membebani dan menekan perasaan.
Jika dalam keadaan lapang mungkin tidak terlalu mengganggu kondisi keuangan secara keseluruhan.

Kedua, Ibu pun harus memiliki sikap konsisten. Kalau memberi ya memberi saja. Kalau tidak ada budget untuk memberi jangan terlalu memaksakan diri. Apa yang sudah keluar anggap saja tidak akan kembali. Jadi kita jika ingin memberi sebatas keikhlasan diri.
Intinya harus nyaman pada diri, mengerti pada suami dan orang yang akan meminjam memiliki kejelasan dengan nilai tawar kita.

Jelaskan mengenai rumus keuangan :

G = K I M

Gaji = Konsumsi, Investasi, Menyimpan

Dengan mempelajari dan menjelaskan ini. Mungkin suami juga akhirnya akan mengerti.

Jika menyangkut hajat hidup, seseorang seperti kehilangan akal sehatnya. Namun harus disadari semua mimpi besar berawal dari langkah-langkah yang kecil.

Mungkin orientasi suami Ibu bukan pada proses melainkan lebih kepada hasil. Orang yang fokusnya pada proses umumnya akan berujung pada hasil, namun orang yang berorientasi pada hasil seringkali menjadi tidak berhasil.

Lebih baik melakukan proses dengan hasil yang bertahap meningkat daripada bermimpi besar tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali kekecewaan.

Minimalisir hutang, itu kuncinya jika tidak terlalu mendesak dan terukur pembayarannya. Adapun yang paling tahu kondisi Ibu adalah Ibu sendiri. Mengenali kekuatan dan kelemahan diri secara finansial.

Diperlukan untuk belajar berterus terang, berpikir strategis dan mengawal keuangan berdua dengan tujuan finansial keluarga terselamatkan.

Memerlukan kesabaran dan proses, itu saja.

Jawaban Anna Farida

Ini dia sebabnya kenapa perlu pencatatan anggaran tertulis.
Tanpa ditulis, kita cenderung tidak peduli berapa sebenarnya pemasukan dan pengeluaran, dan yang dilakukan adalah menghabiskan uang yang ada kemudian cari lagi.

Coba bikin daftar pemasukan dan pengeluaran bareng suami, kalau perlu tempel di dinding dapur, ruang tamu, jemuran #halah

Dengan dituliskan, tanpa dijelaskan pun seharusnya suami dan keluarga tahu kondisi yang sesungguhnya.

✅✅. Sampuuun.

 Kulwap (Kuliah via WhatsApp) Keluarga Sehati ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart.
Advertisements

One thought on “Tanya Jawab Keuangan Keluarga

  1. Reblogged this on Anna Farida and commented:
    Salam Sehati, Bapak Ibu,
    Wah, masuk ke materi-20, tanpa terasa.
    Kita akan membahas tentang keuangan keluarga.

    Siapa yang sebelum menikah membahas perencanaan keluarga? Atau, siapa yang bahas rencana anggaran sambil bulan madu? 😀

    Dalam keluarga, siapa yang seharusnya cari uang? Kalau istri punya penghasilan, bagaimana alokasinya? Digabungkan dengan pendapatan suami atau dipisah?

    Kata istri, “Uangmu uangku, uangku uangku sendiri” ehehe.
    Kata suami, “Mengapa aku jadi lelaki?” 😥#halah

    Sebenarnya, setiap keluarga punya kebijakan keuangan yang unik. Masing-masing punya pilihan tentang penataan anggaran sesuai dengan keperluan. Ada yang suami istri yang memilih bekerja salah satu, ada yang memutuskan untuk bekerja dua-duanya. Ada yang anaknya banyak ada yang hanya satu. Ada yang berkomitmen untuk menanggung keluarga lain ada yang tidak.

    Tentang perencanaan keuangan keluarga, yang penting dibahas bukan hanya jumlahnya.

    Amount is matter but not that important – weits, kalimatnya bagus buat instagram 😀

    Jumlah memang ngaruh, tapi bukan yang paling penting. Salah satu sifat uang adalah banyak tak pernah cukup, sedikit tak selalu kurang (kata AF, ini sih). 😀

    Jadi, apa yang lebih penting?

    + Bahas pandangan Anda terhadap uang secara terbuka dengan pasangan. Tanpa membahas siapa yang punya penghasilan lebih banyak, ya. Rezeki itu dari Allah. Dia bisa alirkan lewat siapa suami, istri, anak. Kemestian manusia adalah bekerja dengan giat agar bermartabat dan bermanfaat, kan?

    Banyak yang malu-malu, sungkan dianggap matre—apalagi baru nikah, kok sudah bahas duit? Justru, harus dibahas dulu sejak awal agar tahu sama tahu pandangan masing-masing tentang uang dan alokasinya. Misalnya, apakah Anda akan memutuskan hidup sesuai pendapatan (bisa mewah bisa sederhana) atau memang tetap hidup sederhana walau penghasilan melimpah? Bagaimana pandangan Anda tentang kredit: mau nyicil atau nabung dulu agar bisa beli tunai? Daaan sebagainya. Bahas prinsip-nya saja, tak perlu buru-buru bahas detailnya, nanti ribut haha. Tak juga harus selesai satu hari, bisa dibahas dan diselaraskan pelan-pelan. Yang penting ngomong, kecuali Anda berdua punya ilmu kebatinan level 9.

    +Tetapkan tujuan. Apa yang ingin Anda dan pasangan raih. Misalnya, lima tahun lagi mau naik haji, keliling dunia, bikin rumah sakit gratis, amin … Miliki tujuan bersama agar masing-masing punya semangat mencari rezeki yang luas dan berkah, bukan hanya buat keluarga tapi juga sesama.

    + Catat anggaran keuangan masing-masing. Apa yang diperlukan suami, istri, anak, dan tanggungan lain. Lakukan secara terbuka dan penuh cinta. Jika Anda punya hobi gelap # halah (misalnya perlu anggaran khusus untuk fotografi) anggarkan sejak awal. Anggarkan juga dana darurat. Ingat, ini bukan masalah jumlahnya, tapi pengaturannya.

    + Catat pemasukan dan pengeluaran. Sekarang banyak aplikasi praktis yang bisa diunduh di telepon pintar. Dari catatan itu Anda akan tahu, mana yang lebih dominan: pengeluaran rutin atau pengeluaran lain-lain hahaha — Anda juga harus catat pemasukan, apalagi jika Anda bekerja tidak dengan gaji tetap. Catatan ini adalah bukti tanggung jawab Anda dan pasangan dan bermanfaat untuk melakukan koreksi jika ada yang tidak beres dengan pengaturan keuangan: adakah yang harus dipangkas, mana yang bisa ditambah, keperluan apa yang sering diabaikan …

    + Anggarkan selalu sedekah—bisa untuk orang lain bisa untuk saudara sendiri. Sedekah memberi semangat kepada Anda untuk berbagi, dan membuat Anda merasa kaya.

    Lima saja, ya. Nanti layar hape-nya penuh.

    Selebihnya, mari kita saling bertukar pengalaman, bagaimana perencanaan keuangan yang Anda lakukan bersama pasangan.

    Salam takzim,
    Anna Farida
    http://www.annafarida.com
    It always seems impossible until it’s done
    (Nelson Mandela)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s