Curah Gagasan Seputar I-Message

Berikut brainstorming atau curah gagasan peserta Kulwap Keluarga Sehati Selasa, 19 Januari 2016 kemarin,

Anna Farida: Apa kabar, Bapak Ibu. Selasa komunitas, nih. Ada yang mau bagi ilmu?
Atau, mari asah komunikasi asertif.

Jika anak atau ponakan atau pasangan hobi menaruh sepatu sembarangan,  apa yang kita katakan padanya?

G: Alhamdulillah baik bu Anna …

Putra pertama saya (laki-laki) 9 tahun setiap pulang sekolah selalu begitu, Bu anna. Biasanya saya bilang,

“Maaf Abang sebaiknya sepatu di simpan dimana ya?”

Pada awalnya dia hanya menjawab “Di rak sepatu, Mi. ” tanpa menyimpan sepatu di tempatnya.
Saban hari saya sounding seperti itu lama-lama jika saya sudah berkata “Maaf Abang ” dia ngaciiir naroh sepatunya di rak.
S: “Hayooo, di mana tempat sepatu, ya?” ga bosen-bosen berkicau 😁.

Kalau mulai konsisten taruh sepatu pada tempatnya, “Wah, hebat! Abang taruh sepatu di rak sepatu!”

“Terima kasih, Adik sudah simpan sepatu pada tempatnya!”

Anna Farida: Ingat I-message?
S: Lupa 😁
G: Hehehehe baru mau jawab lupa…😁
Udah keduluan Mba S 😁 sehati.
S: Hihihi

A: Jujur, lebih sering “ceramah”
R: Iya aku juga lebih sering ceramah ☺
Anna Farida: Dan berhasilkah ceramahnya? 🍃

Ingat I message.

Ibu seneng deh kalau sepatu disimpan di rak. Mau nyapu jadi gampang.
Berpendapat tanpa nyalahin orang lain – itu I-message, salah satu trik komunikasi asertif 🌺
A: Kalo emosi stabil baru inget ilmu ini😁
Makasih sudah mengingatkan lagi.
P: Emosi stabil 😁
SR: kadang diangkut, kadang nyuruh, kadang bahasa isyarat, hehe … tergantung mood
S: Mindful parenting😉
L: Lawannya moodful parenting.☺ #saiah…
Anna Farida: Pinter, Lita 😁
Semoga hari ini stabil semuaaaa
A Aamiin😁
N: Semoga hari ini stabil semuaaaa
Amiiin … amiiin … amiiin🙏🏻
S: Hehehe, Jaga kestabilan emosi Anda sebelum beraksi 😁

C: wah…..ternyata kita punya tempat penyimpanan sepatu yg baru ya? 😄
(dan biasanya ampuh….langsung dipindahkan ke habitat nya)# kalosaya#
Anna Farida: Ingat I-message?
M: Kita traktir eskrim
Anna Farida: Es krim tambah bakso?
Anna Farida: Ingat I message.

Ibu seneng deh kalau sepatu disimpan di rak. Mau nyapu jadi gampang.

Anna Farida: Cara Bu M bisa dipraktikkan, tuuu.
H: Kalau sepatu-sepatu itu ada di raknya lagi, pasti mudah menemukannya saat diperlukan… 😊

Anna Farida: Berpendapat tanpa nyalahin orang lain – itu I-message, salah satu trik komunikasi asertif 🌺

H: #kalau pagi anak-anak kadang suka bingung cari sepatu yang terpisah satu sama lain 😄

Anna Farida: Yoai, Mbak H

R: Dan kaus kaki, belum gesper
Anna Farida: Dan komik 😝
R: 😆komik?

N: Buibu sholehah, ada titipan pertanyaan nih dari sepupuku. Yang punya pengalaman mau banget sharingnya ya. Terima kasih sebelumnya. Buat para ibu bekerja, adakah tips cara mengatur pengasuh anak ketika kita tinggal kerja agar maksimal, tidak hanya nonton tv? Kalau ada,mau yaaa … entah itu tips pengalaman pribadi atau link artikel, nuhuuun.
Anna Farida: ditunggu bagi pengalamannya 🍃

H: “Gak pernah” punya pengasuh, tapi kalau saya harus meninggalkan anak-anak dengan pengasuh, mungkin saya akan menyediakan satu ruangan bermain untuk anak, yang di dalamnya tersedia berbagai macam mainan, & semuanya terlokalisir dengan sebaik-baiknya. Maksudnya, anak bisa bermain dengan nyaman, si pengasuh juga tidak “susah” membereskannya & saya akan berpesan agar anak tidak berganti mainan sebelum yg dimainkan diberesin … 😊

S: Kerjasama dengan pengasuh tentang pola pengasuhan yang diterapkan dalam keluarga sepertinya patut dicoba. Pengawasan dari keluarga tetap perlu ada.

O: Pengalaman saya biasanya menempatkan pengasuh bukan sebagai “pengasuh” tetapi sebagai asisten, pola pengasuhan tetep ada pd orangtua, karena sebagai asisten mereka perlu diberi “coaching” sebelumnya 😅. Selama ini pengalaman saya, karena ibunya kerja jauh dan tidak setiap saat ada, maka “asisten” lebih banyak melakukan pekerjaan rumah dan anak saya yang asuh. Jika saya berangkat kerja, baru serahkan ke “asisten” dengan kondisi si anak sudah tidak terlalu membutuhkan pengasuh, karena sudah masuk jam tidurnya.

  N: Keuangan keluarga = hal yang sensitif tapi perlu dibahas.. 😎💲💲

SR: di awal saya dijatah suami sekian rupiah tiap bulan. kemudian pernah masing-masing tapi tagihan pengeluaran dibagi dua (tidak sama rata). sekarang saya tidak kerja ATM gaji suami dikasih ke saya dan semua pengeluaran.
Dari tiga kejadian tersebut saya enak dikasih secukupnya per bulan khusus dapur saja. *hanya share*

L: Saya pernah dijatah dapur saja sama suami, sisanya dipegang dia. Tapi sepertinya malah suami yang repot sendiri sama tagihan rutin, suka kelewat. Sekarang gaji suami diberikan ke saya semua termasuk tagihan-tagihannya. Jadi gaji saya dan suami dijadikan satu dan dikelola buat rumah tangga. Alhamdulillah, sejauh ini masih berjalan baik. Kalau sudah kelihatan bakal kurang suami udah paham  ekspresi saya dan mengeluarkan jurus andalan. “Enggak boleh jadi istri matre, rizki udah diatur sama Allah”  😓

E: Suami percaya full semua keuangan saya yang kelola. Selalu rapih diawal. Tetapi karena terlalu banyak pos masuk dan banyak pos keluar, jadi kocar kacir juga sayanya 😄 #jadi kepengen cari aplikasi yang dimaksud bu Anna … 😊
Kami jg punya yg disebut duit lanang dan duit wedok 😁

S: Apa itu duit lanang duit wedong, Jeng E?

 E: Duit lanang (laki-laki) pos-pos yang didapatkan suami dari pemasukan-pemasukan dadakan.
Duit wedok (perempuan), sekian persen dari penghasilan pasti bulanan suami. Bisa buat shopping, beli buku, nyalon, buat arisan, dll deh hehe
S: Duit lanang boleh dipake mbok wedok? 😉
R: Nah nah. Tentang ini.. Ehem. Ada yg bilang masalah finansial itu lebih tabu dari pada urusan ranjang 😅
E: Ga ada aturan juga boleh dipake siapa. Tapi biasanya banyakan suami yang rela kasih kalau istri atau anak udah nyebut kepengen apa gitu 😄😁
Kadang juga langsung dibeliin sesuatu yang sudah lama dia angen-angen dari lama #sesekali kalah cepat. Halah, apa coba 😄
R: Kalau saya dan suami secara prinsip sih gak ada masalah tentang kemana keluarnya uang. Hanya saja kami beda style. Saya sedari kecil dididik oleh PNS yang penghasilan tetap, jadi bisa diplot-plot dengan tetap setiap bulannya. Termasuk plot tabungan, bahkan zakat pun bisa diatur per bulan. Sedari usia 8 th saya sudah diajari megang jatah uang saku sebulan dan menikmati celengan menggemuk tiap bulan.

Suami saya wiraswasta. Tidak ada penghasilan tetap, jadi model manajemen keuangan yg saya pelajari dari kecil gak kepake. Meskipun kebutuhan pokok rumah tangga tiap bulan sudah ditetapkan rutin dipercayakan pada saya, tapi saya tetep sering deg deg ser karena gak menyaksikan sendiri celengan yg menggemuk. Karena prinsip suami uang diam itu gak sehat. Jadi keluar terus buat modal. Jadi istrinya tinggal berdoa aja semoga uang modalnya pulang bawa teman yang buanyak. 😄
Jeng E: harus kerjasama sama anak biar ga kalah cepet 😁😁
Mb R: hebaddd!!! Dah diajarin dari kecil 😉
Aminnn 😘😘

L: Klo suami wirausaha model keuangannya dikasih setiap hari, karena enggak tentu penghasilannya. Alhamdulillah keperluan domestik terpenuhi😊. Iya betul kadang deg-degan. Untuk keperluan yang sifatnya mendadak kadang suka bingung juga.

E: Saya juga wiraswasta. Saya tetep punya pos-pos tertentu untuk berjaga-jaga.

Saya juga punya penghasilan untuk tabungan hari tua ikut program bank 😁 biar tetep seperti PNS punya uang pensiunan 😄

Saya juga nabung harian untuk kontrak toko, agar pas jatuh tempo bayar kontrak toko akhir tahun saya enggak kebinggungan.

Tabungan itu saya pisahkan. Kalau suami mau pakai untuk belanja barang dagangan dulu boleh, asal ntar diganti lagi sejumlah yang dipinjam, dan dimasukin lagi kesitu. Tetep pake jatuh tempo ya … hehe. Saya juga belum bagus pengelolaan keuangannya. Tapi tetep berusaha semaksimal mungkin pos-pos tadi saya rutin penuhi.

Untuk kesehatan, saya pilih ikut asuransi pemerintah.

Untuk anak, saya kasih pos khusus lagi. Jumlahnya tidak besar. Tapi yang penting rutin dan ada ☺
Y: Waaah, saya mau doong dapat ilmu dari ibu-ibu hebat yang suaminya wiraswasta, yang katanya bikin deg deg serr. Suami saya baru niatan berwirausaha saja, saya sudah deg deg serr, ga kebayang gimana pas udah jalan.
R: Alhamdulillah ibu saya yang hebat Mb S 😁
Mb Y, sepertinya kita belajar ke Mb E yang sudah tertata. Keperluan mendadak emang yang sering bikin deg-degan. Ada yang bilang kalau penghasilan tidak tetap harus ada simpanan untuk keperluan mendadak minim sekian juta dikalikan jumlah anggota keluarga yg ditanggung. Jumlahnya saya lupa karena belum praktek 😁

SR: nah saya dulu sering bikin pencatatan dengan MS. Excel. Ada kolom rencana dan realisasi. Disusun berdasar yang wajib dulu, misal: zakat, tagihan, SPP, transport, dapur, kondangan, mudik, dsb.
Ternyata berkah Allah luar biasa, secara tertulis (detail harian) selalu minus padahal riilnya cukup-cukup saja. Alhamdulillah.

MD: Baca pengalaman ibu-ibu hebat jadi pingin ikut punya anggaran yang tersusun soalnya suami juga wiraswasta😁

SR: Kalau yang praktis, pendapatan dikurangi kewajiban utama (tak terduga masuk utama 10% minimal). sisanya dibagi 30 jadilah pengeluaran harian.
Jadi kita tahu perhari jatah belanja kita berapa.
Jika mengajukan pinjaman maksimal ansuran 25-30% dari total pendapatan.
Untuk kondangan saya bikin rata-rata perbulan 3 amplop. Jika kepake 2 amplop yg 1 tetap disimpan karena bisa jadi bulan berikutnya 4 hajatan. *tantangan komitmen pd pos-pos yg sudah dibuat. maaf tapi ini untuk pendapatan tetap. Jika pendapatan tidak tetap perlu trik dan tips yg berbeda. Tapi potret harian insya Allah lebih memudahkan spt matrix nya teh Indari. Target pendapat dan anggaran pengeluaran harian. wallahu’alam bisowab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s