Konsultasi Life Skill Pada Anak

Image result for life skill
overcomingbyfaith.org

Kulwap Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart ke 19 kali ini bertema Berbagi Life Skills Dengan Anak. Sebagai orangtua pastinya kita berharap anak menjadi sosok yang mandiri dan bertanggung jawab. Berbagai cara bisa dilakukan salah satunya dengan mengajarkan kecakapan hidup (life skill). Mengajari mereka merapikan mainannya sendiri salah satunya, meskipun ada asisten rumah tangga di rumah. Memberikan mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya (kesulitan) sekecil apapun. Kebingungan memakai baju mana depan mana belakang, biarkan saja ia asyik dengan kesulitan tersebut. Boleh saja menawarkan diri untuk membantu, bukan “Udah sini, Ibu/Ayah aja yang pakaikan baju!”.

 

Yuk, simak konsultasi peserta Kulwap Keluarga Sehati berikut ini:

Anna Farida: Salam, Bapak Ibu. Bandung cerah. Kali ini saya dulu yang manggung, yaaa,  Bu Elia nyusul 🍃🌿

Tanya 1:
Anak saya dua perempuan semua kelas 1 dan 3.
Kalau enggak ada ortunya mereka mandiri, tapi kalau ada ortunya seringnya manja pinginnya dilayani seperti ambil minum, minta dimandiin, terutama yg kecil. Normalkah ini?

Jawaban Elia Daryati:

Mandiri jika tidak ada orang tua.

Apakah wajar? tentu saja wajar. Namun wajar dan benar dua hal yang berbeda. Untuk membangun karakter itu seperti menciptakan anak tangga, semuanya memerlukan proses. Setahap demi setahap. Demikian juga sebuah pembiasaan itu juga memerlukan proses. Salah satunya  adalah sikap konsisten.

Pembiasaan adalah salah satu cara yang paling tepat. Untuk setiap perubahan  dan tidak berlaku pengecualian. Ini merupakan proses “transaksi” apakah cara anak merengek ke ortunya itu berhasil atau tidak. Merupakan proses trial dan error. Jika orang tua mengikuti apa yang diinginkan oleh anak, maka hal ini akan menjadi sebuah pengecualian. Akibatnya sikap kemandirian mereka menjadi kurang kuat.

Hal ini bukan berarti mereka tidak akan mandiri, mereka hanya menguji orang tua untuk sekedar coba-coba dan mencari perhatian. Letak kontrolnya semua ada di orang tua, apakah ikut dengan kemauan anak atau tidak. Tetaplah untuk bersikap konsisten terhadap komitmen. Tegas dan kasar menjadi dua hal yang berbeda. Demikian juga otoriter dan otoritas adalah hal yang berbeda pula. Untuk itu jadilah orang tua yang memiliki otoritas dan ketegasan,  bersamaan dengan itu berikan cinta yang penuh. Istilahnya Bapak Mario Teguh adalah, “lihatlah apa yang akan terjadi?”….
Jawaban Anna Farida

Anak kelas 1 dan kelas 3 SD jadi manja ketika ada ortu tentu wajar. Menurut saya wajib, malah haha. Ketika ortu tidak ada jadi mandiri, itulah yang dikehendaki pada anak. Dia manja ketika ada yang mendampingi, itu naluri anak-anaknya yang muncul. Ingin diemong, ingin diasuh, diperhatikan.

Nah, apakah dia akan merajuk dan tetap ingin dilayani ketika tidak ada orang tuanya? Apakah dia bisa survive?

Saya justru pro pada pendapat yang menyarankan anak yang belum baligh sesekali dimandikan orang tuanya—yang lelaki oleh ayah yang perempuan oleh ibu. Manfaatnya adalah menguatkan ikatan, memperbanyak efek baik sentuhan fisik. Mandi kan kegiatan yang sangat pribadi, dan yang bersifat pribadi ini mujarab untuk menghadirkan rasa aman sekaligus rasa cinta.

Yang perlu dicontohkan ke anak adalah teknik manjanya #halah. 😃

Nyuruh-nyuruh Ibu bikin teh manis tentu berbeda dengan merayu. Ayah bisa memberi contoh ketika minta dibuatkan kopi, misalnya.

“Bu! Kopi!” ——— > emang warung? 😮

“Ibu sayang, Ayah minta kopi yang paling enak sedunia, plisss” ——— > beda, kan?
😀
Tanya 2:
Adik (ipar) saya 18 thn, dititipkan ke kami utk melanjutkan kuliah. Dia anak terakhir yang tidak pernah diberikan tanggung jawab oleh orangtuanya, lebih pada pemenuhan materi.
Sampai detik ini ia tidak bertanggung jawab pd kamarnya sendiri. Kamar kotor,bau, berantakan, sampah menyebar, baju hampir tidak pernah dicuci (pake, gantung, ganti yg lain, pake lg yg digantung, begitu seterusnya). Suka ngadu kayak anak kecil, berpikiran pendek, sering pergi nginep tanpa kabar.  Inisiatif untuk membantu kakak ipar jg tidak ada.
Masih adakah kesempatan untuknya belajar menolong dirinya sendiri? Treatment seperti apakah yang pas untuk usia sekian?

Jawaban Bu Elia Daryati:

Tidak ada kata terlambat untuk perubahan.

Untuk membangun memerlukan pembiasaan. Setelah pembiasaan akan terjadi pembentukkan. Tahapan-tahapannya : pengenalan, pemahaman, penerapan, pengulangan/pembiasaan, pembudayaan dan internalisasi menjadi karakter. Ini merupakan proses belajar. Proses belajar dalam istilah psikologi, adalah perubahan perilaku yang relatif menetap. Dikatakan relatif menetap, artinya masih ada kemungkinan celah untuk berubah.

Tahapan pembentukkan ini akan terbangun baik jika dilakukan pada masa awal kehidupan sampai masa kanak-kanak menuju remaja. Untuk anak yang lebih besar sebetulnya sudah terinternalisasi.  Seperti yang sudah dikatakan, bahwa kecenderungan menetap itu masih ada celah untuk berubah, meskipun sudah berusia 18 tahun. Persoalannya untuk usia yang sudah remaja akhir dan memasuki dewasa awal, bukan lagi hal yang mudah. Mengingat perubahan harus atas dasar kesadarannya untuk berubah, BUKAN karena keinginan orang lain. Dia bukan lagi sebagai objek orang lain, namun sudah menjadi subjek untuk dirinya sendiri.

Masa kecil  ibaratnya seperti sedang membangun rumah, sudah besar seperti merenovasi rumah. Yang namanya membangun adalah menata dari awal setahap-demi setahap. Merenovasi rumah adalah merubah sesuatu yang sudah dibangun, membutuhkan biaya yang besar dan belum tentu menghilangkan jejak secara keseluruhan. Kecuali renovasi itu berjalan besar-besaran untuk merubah bentuk secara keseluruhan. Artinya si remaja yang sudah 18 tahun itu memang memiliki kemauan keras untuk berubah, sekaligus lingkungan mendukung dengan keras agar terjadi perubahan yang telah terbangun pada si remaja.

Jika hal ini terjadi, maka tidak mustahil membuat remaja 18 tahun itu menjadi lebih mandiri dari sebelumnya.

 

Jawaban Anna Farida

Selalu ada kesempatan untuk start and restart. 🌻

Usia berapa pun masih ada peluang belajar. Memang, pembiasaan yang dia peroleh sejak kecil tidak mudah dikikis dalam waktu singkat. Kita bisa membantunya dengan memberi alternatif.  Gunakan bahasa minta tolong. Pelan-pelan saja. Misalnya tentang pakaian. Bahas bahwa Anda perlu bantuannya untuk bawa pakaian kotor setiap sebelum pergi.

Ingatkan dia, “Mas, tolong bajunya, ya.”

SETOP ⛔

Fokus di baju dulu. Biarkan sampah biarkan dia ngadu. Urusan Anda dan dia adalah baju. Setelah baju beres (sabar, ini akan makan waktu lama huehe) baru beralih ke sampah dan ngadu. Niatkan untuk membantunya—ini penting, karena Anda bisa makan hati gara-gara merasa tidak dihargai, tidak mampu mengubah wataknya—apalagi ini adik ipar. Pastikan Anda tetap tenang dan bisa memilah urusan tanpa membuat hubungan Anda dengan suami runyam.

Anda berkepentingan membantu adik karena dia tinggal di rumah Anda dan tingkahnya kan membawa pengaruh tidak baik. Batasi di sana. Usahakan terus, terus, start restart, tanpa baper. 🌿🌻 Sip?

Tanya 3:
Bagaimana kalau ayah ibu sudah kompak mengajarkan kecakapan hidup, tapi kakek nenek yang kurang mendukung?

Jawaban Bu Elia Daryati:

Jika pola asuh berbeda.

Perbedaan pola asuh antara orang tua dan nenek/kakek. Merupakan cerita klasik yang sering terjadi.

Hasil dari pola asuh yang berbeda akan melahirkan anak-anak yang “ambigu”. Mereka akan mendua dan bingung yang mana yang harus diikuti. Persoalannya adalah, mana yang lebih dominan, itu yang akan lebih “mengakar” .

Jika orang tua dan nenek-kakek diibaratkan sebagai guru. Guru mana yang paling dominan, itulah yang akan lebih berpengaruh pada pembentukkan karakter anak. Jadi hasil pendidikan dari suatu pengasuhan dapat diprediksikan siapa yang paling domunan, itulah yang paling berpengaruh. Sebagai orang tua hanya tinggal melakukan evaluasi diri, sudahkah menjadi orang tua yang memiliki kekuatan yang cukup dalam “menguasai” anak atau sebaliknya. Jika kita tidak memiliki kekuatan itu, bukan Cuma nenek dan kakek yang akan mempengaruhi anak-anak kita, mungkin lingkungan yang lain pun akan memiliki andil yang besar dalam mempengaruhi anak-anak kita.

Jadi tenang saja, pengaruh nenek dan kakek tidak, atau lingkungan lainnya, tidak akan terlalu memiliki kekuatan yang besar, jika kita sebagai orang tua memiliki pola interaksi yang lebih kuat dengan anak-anak kita. Interaksi yang kuat, merupakan ikatan yang sulit dipisahkan dan akan membangun iklim psikologis yang hangat dan berujung pada kepercayaan dan juga kepatuhan dari anak pada orang tuanya.

Jawaban Anna Farida

Saya pernah protes ke alm. Ibu saya (semoga Allah limpahkan kasih-Nya) tentang hal yang sama. Misalnya, anak-anak sepakat untuk beresin mainan sesudah menghamburkannya. Neneknya bilang, “Sini sama Nenek saja” atau … “Wis, to, ibuke ae sisan nyapu” haha

Ketika anak-anak bobok, saya bilang ke ibu saya begini begitu, termasuk “Mami dulu galak sama aku. Disiplin banget. Kok sekarang ke anak-anaku seperti itu.”

Jawab ibu saya, “Nanti kamu akan rasakan kalau sudah punya cucu.”  😁

Haha, ada yang sudah punya cucu?

Tidak perlu bikin perang dengan nenek kakek. Libatkan mereka. Sampaikan baik-baik, sama seperti kasus mahasiswa di atas, gunakan bahasa minta tolong.

Nek, aku susah ngajak anak cuci tangan sebelum makan trus makan sendiri. Kok maunya pada disuapin melulu Gimana, ya, caranya?

Kek, aku dulu diajarin ngatur uang sama Kakek dan kerasa banget sekarang manfaatnya. Aku bisa nabung teratur dan nggak gampang pingin beli ini itu. Apa sih resepnya? Kakek bisakah bantu aku kasih tahu anak-anak?  👍🏻

Kemungkinan-1: Oke, Nenek akan ajari mereka. Kamu duduk manis saja dan lihat hasilnya.  😍

Kemungkinan-2: Lho, mereka anak-anakmu. Kamu, lah, yang ngajari. Aku kan neneknya. Tugasku bersenang-senang bareng mereka.
😝😝
Huehehehe …
Tanya 4:

Menurut saya cara yang efektif untuk mendidik life skill anak adalah dengan teladan.(apakah benar bu?) namun terkadang perbedaan latar belakang pola asuh suami dan istri dri keluarga masing2 berbeda. Salah satu dibesarkan dengan menanamkan life skill sementara pasangan satu nya dibesarkan dengan pola serba dilayani, dibesarkan dengan berbagai kemudahan yang mengakibatkan karakter yg terekspresikan berbeda. Bagaimana cara agar perbedaan ekspresi sikap orang tua ini tidak menimbulkan kebingungan pada anak dan menjadikan nya tidak efektif dalam menanamkan kebiasaan disiplin maupun lifeskill yg lainnya?

 

Jawaban Bu Elia Daryati:

Jika latar belakang suami istri berbeda dalam pola asuh.

Perbedaan latar belakang, bukan satu masalah. Demikian juga dengan pola asuh yang berbeda dan dibawa dalam pernikahan, harusnya menjadi bentuk “pengayaan” bukan untuk saling melemahkan. Ada cara untuk menjembatani perbedaan latar belakang suami istri dalam pola asuh, yaitu mebangun KOMITMEN.

Tanpa harus menyalahkan pasangan, bahwa keluarga kita mendidik lebih baik dari keluarganya dalam mendidiknya. Saat sekarang justru yang terpenting, memiliki komitmen untuk membangun karakter positif anak. Jika suami ibu pun memiliki keingingan yang sama untuk mengasuh anak dengan sebaik-baiknya, tentunya akan memiliki pemikiran yang sama dengan ibu. Tidak perlu ditakuti sejauh sama-sama memiliki komitmen untuk sebuah perubahan.

Bukankah sekarang ini sedang gencar-gencarnya istilah revolusi mental? Mungkin ini merupakan saat yang tepat untuk melakukannya. J

 

Jawaban Anna Farida:

Seratus! Teladan sangat efektif. Cara yang lain adalah melibatkan anak secara langsung. Misalnya, ajak dia bepergian ke mall, dan tanya, “Kalau kamu tiba-tiba terpisah sama Ayah, apa yang harus kamu lakukan?”

Jadi ingat Zaky, anak saya yang sudah mahasiswa. Waktu kecil, umur 8 tahun, saya tanya, “Misalnya kita hanya berdua di rumah. Trus Ibu pingsan. Apa yang Kakak lakukan?”

Dia menangis meraung-raung, “Ibu kenapa mau pingsan? Ibu jangan pingsan!” Ahahaha  😃

Baru juga misalnya, sudah panik begitu.

Setelah tenang baru saya jelaskan, ada saat darurat yang perlu dia ketahui. Misalnya Ibu pingsan, Kakak segera keluar cari bantuan, daaan seterusnya. 🏃

Bahas sejak awal dengan pasangan, jika tidak mungkin menyamakan pendapat, sepakati bahwa salah satu akan mendukung yang lain. Misalnya, urusan izin menginap, ibu yang punya kartunya. Urusan ngajak jalan-jalan tugas ayah, urusan mengajari anak memasak tugas ayah, urusan milih sekolah tugas ibu — dan pasangan mendukung. Jadi tidak harus dua-duanya satu suara.  🌺

Jika ayah dan ibu tak bisa satu suara, dan tak bisa mendukung yang lainnya – ini masalah baru. Bukan life skill buat anak yang perlu dibahas tapi marriage skill-nya.

Hayoooo 🙈

 Tanya 5:

Saya punya kendala kadang anak no 1 (11th) justru menyetandarkan dirinya sama adiknya (8th). Saya suka menjelaskan, tentu saja tugas mereka berbeda karena usia juga berbeda. Kadang dia paham tapi kadang ngeyel. Mungkin karena secara fisik mereka hampir sama.

 

Jawaban Bu Elia Daryati:

Menurunkan standar .

Ini merupakan bentuk sibling antara kakak dan adik. Sebetulnya merupakan hal yang wajar. cerita baiknya si kakak ternyata masih dapat diingatkan. Ini sebetulnya merupakan bagian dari proses, langkah-langkah pembentukkan karakter. Memang tidak selamanya berjalan mulus, namun ketika masih dalam batas toleransi, tidak akan menjadi satu hal yang sangat serius. Toh, pengawalan orang tua dalam proses berjalan cukup baik. jika, ada sedikit “kerikil-kerikil” dalam perjalanannya dapat dijadikan  seni, agar kita sebagai orang tua menjadi lebih bersungguh-sungguh.

Jawaban Anna Farida

Usia 8 dan 11 masih bisa disebut sebaya, sih. Memberikan mereka tugas yang relatif sama masih bisa diterima. Menjadikan adik sebagai standar biasanya terjadi ketika mereka masih sama-sama di usia itu. Pengalaman saya ketika salah satunya beranjak remaja, standar akan berubah dengan sendirinya.  🎉

Ayah atau ibu bisa menempatkan kakak pada posisinya misanya dengan cara begini:

“Yuk, Dik, kita tanya Kakak.”

“Menurut Kakak gimana?”

Saya masih sepakat ada pendapat bahwa anak-anak wajib diajak menghormati orang yang lebih tua, termasuk kakak yang hanya beda 3 tahun. 🌿🍃

Terima kasih, Bapak Ibu. Pertanyaan yang dibagikan membuat kami banyak belajaaar 🎆🎊🇮🇩🍃
🍃🌿🌺 Semoga berkenan, sampai jumpa di kulwap-20

Advertisements

One thought on “Konsultasi Life Skill Pada Anak

  1. Reblogged this on Anna Farida and commented:
    BERBAGI LIFESKILLS DENGAN ANAK

    Salam Sehati, Bapak Ibu
    Kita masuk ke materi-19. Angka cantik, angka remaja yang segar 😀
    Tema kita kali adalah Berbagi Life Skills Dengan Anak
    Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal istilah kecakapan (hidup). Secara umum, definisinya adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara positif sehingga kita bisa menghadapi kebutuhan dan tantangan hidup sehari-hari, yang biasa maupun yang di luar kebiasaan. Kecakapan ini diperoleh melalui pendidikan, pembiasaan, atau pengalaman langsung.
    Eh, saya punya cerita menarik. Saya akan samarkan kasusnya, tapi jika kau membacanya di mana pun, mohon ikhlas, ya, hueheh.
    Saya berkunjung ke rumah seorang teman. Anaknya yang berusia 12 tahunan keluar memanggil tukang roti. Uang yang dia minta dari ibunya tak ada kembalian. Dia bingung karena tukang roti juga nyebelin, nggak mau tahu.
    “Kasih aku uang pas atau nggak usah beli rotiku,” katanya (ini jelas saya buat-buat)
    Akhirnya saya buka dompet, itung-itung nraktir ponakan. Uang receh saya kan selalu banyak.
    Sambil malu-malu anak itu melesat ke dalam rumah sambil berterima kasih setelah diingatkan ibunya.
    Kami melanjutkan obrolan dan telepon berdering. Ternyata anak itu menelepon ibunya – dari kamarnya.
    Ibunya minta izin masuk sebentar.
    Bukan saya kalau nggak kepo, jadi saya tanya, “Ada apa?”
    Jawaban teman saya itu bikin melongo, “Itu, minta dioleskan roti. Kalau dia yang ngoles katanya berantakan.”
    Kami ngobrol sebentar, dan telepon berdering lagi.
    Yak, anaknya memanggil lagi. Kali ini lapor kalau internet lelet – dan hanya lapor saja.
    Dua tiga kali lagi anak itu menelepon untuk minta ibunya membukakan kemasan keripik dan dia tidak nemu gunting dan membetulkan antena televisi.
    Beberapa saat kemudian …
    Bukan! Anda salah tebak. Anak itu tidak menelepon.
    Ibunya yang menelepon dan bertanya, “Gimana, Kak? Tivinya sudah bagus?”
    Saya melongo lebih lama.

    Ooo … ternyata ini biangnya.

    Saya buru-buru bikin catatan di hape, bahwa saya akan menulis tentang hal ini suatu hari. Anda apes sekaligus beruntung punya teman penulis – ada saja ide yang dia curi dari Anda 😀
    Anak-anak perlu diajak belajar hidup berkualitas – diajak, ya, bukan diajari. Diberi teladan, bukan disuruh, karena orang tuanya juga selalu dalam proses meningkatkan kualitas hidup.
    Kisah sederhana di atas memberikan gambaran betapa anak 12 tahun bisa nangis-nangis jika ibunya atau orang dewasa lain tidak ada untuk membantunya.
    Saya tidak berani membayangkan anak seperti ini naik angkot sendiri, kemudian angkotnya rusak, dan dia diturunkan sebelum tujuan. Jika dia tidak bisa menelepon ke orang tuanya, apa yang akan dia lakukan?
    Atau, dia mendadak harus di rumah sendiri karena sebab tertentu, atau dia harus menginap di rumah saudara lain tanpa ayah dan ibu, dan atau-atau yang lain.
    Kecakapan hidup yang sangat sederhana ini baru teruji ketika anak lepas dari orang tua – sebentar atau lama.
    Kecakapan dasar seperti menjaga kesehatan, memasak, tetap waspada dalam segala keadaan, ramah tanpa jadi gampangan, hingga mengelola uang perlu dikenalkan sejak dini.
    Oh iya, komunikasi asertif dan disiplin adalah salah duanya.
    Jadi, mari kita berdiskusi, apakah pernah ada yang mengalami kejadian serupa?
    Apakah anak Bapak Ibu pernah mengalami hal yang menantang kecakapan hidupnya?
    Apa yang Bapak Ibu lakukan untuk menumbuhkan kecakapan hidup mereka?

    Salam takzim,
    Anna Farida

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s