Obrolan Seputar Pernikahan

Image result for kata kata pernikahan
pinterest.com

Anna Farida: Salam sehati, Bapak Ibu. Mohon maaf kulwap diundur dan terlambat
Saya mulai post tanya jawab, yaaa. Mohon waktu sejenak hingga ada tanda ✅

Tanya 1:

Berikut curhatan teman saya, “Pernikahan saya baik baik saja. Saya dan suami saling mencintai. Kita tidak ada masalah apapun, hanya ada beberapa perbedaan pendapat. Namanya juga rumah tangga. Namun akhir-akhir ini suami sering membayangkan jika saya bersama dengan laki laki lain. Saya tidak tau apakah itu merupakan kelainan atau bagaimana. Dia mempersilakan saya mencintai laki-laki lain. Dengan catatan hanya sekedar untuk membangkitkan gairahnya kepada saya. Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak ingin menuruti keinginan gilanya karena selain saya juga sangat mencintainya, saya juga tahu hal itu salah. Bagaimana cara memberi tahu suami saya agar ia tidak lagi punya pikiran semacam itu? Terimakasih

Jawaban Bu Elia Daryati

Sikap teman Ibu untuk menolak ide suaminya yang memang kurang “wajar” tersebut cukup bijaksana. Itu jelas merupakan kondisi tidak wajar dari pasangan pernikahan yang sehat. Hal bisa teman Ibu lakukan adalah menanyakan lebih jauh apa yang sesungguhnya terjadi pada suaminya. Jika alasannya berhubungan dengan kepuasan dalam meningkatkan gairah, tentunya bukan itu solusinya. Hanya saja perlu dicermati, apakah ungkapan permintaan ini serius atau sekedar main-main, sekedar menguji apakah teman Ibu masih sangat mencintainya atau tidak.

Suami teman Ibu rupanya memiliki fantasi seksual tersendiri atau perasaan tidak berdaya yang terkait dengan masalah pribadi tersebut. Hal yang paling tahu mengenai hal ini hanya teman Ibu dan suami yang mengetahuinya. Jika masih sulit untuk mencari tahu mengenai kondisi suami dengan sikap yang seperti ini, sebaiknya memang dilakukan konsultasi tersendiri.

Jawaban Anna Farida

Kesadaran teman Ibu untuk menolak imajinasi suaminya menurut saya benar. Pasutri bisa berinovasi untuk membangkitkan kehangatan. Namun demikian, menurut saya, lho ya, inovasi itu selayaknya tidak melanggar aturan kesehatan dan ketentuan hukum termasuk agama. Secara pribadi saya tidak sepakat dengan imajinasi yang tidak baik, termasuk misalnya pura-pura akting jadi pasangan selingkuh dan janjian ketemu di hotel—saya pernah baca artikel tentang istri yang pura-pura jadi PSK dan mengetuk kamar hotel suaminya. Alasannya adalah biar menghangatkan pernikahan.

Cari cara lain saja, sih, yang lebih elegan, gitu. Banyak kok, resepnya, dari yang paling santun malu-malu kucing sampai yang paling nakal ehehe.

Eh, tapi … nakal kan tidak harus jorok #kumatbawel

 

Tanya 2:
Konsep pernikahan yang sepatutnya dibangun sebelum menikah seperti apa, ya, Bu? Kalau sudah menikah bisa juga kan baru mulai membuat konsepnya?

Jawaban Bu Elia Daryati

Konsep menikah yang sebaiknya tentunya sesuai tuntunan agama. Tujuan pernikahan itu sesungguhnya untuk melanjutkan keturunan dan menjadikan yang haram ke halal. Niat untuk ibadah dalam pernikahan akan menjadi pijakan dasar kekuatan pernikahan itu sendiri.

Persiapan dasarnya adalah, siap lahir dan bathin. Mental merupakan kunci kesiapan bagi keseluruhan. Selanjutnya adalah ilmu. Banyak buku tuntunan mengenai pernikahan yang sekarang ini sangat mudah untuk diakses, jika perlu mengikuti kursus pranikah yang sekarang ini banyak diselenggarakan.

Apakah terlambat jika sudah menikah baru belajar dan mendiskusikan mengenai konsep pernikahan? Tentu saja tidak. Menikah itu anugerah dan hadiah dari-Nya, sekaligus perjuangan sepanjang hayat di dalamnya. Pernikahan merupakan salah satu kehidupan yang paling nyata. Senantiasa memerlukan ilmu-ilmu baru dan tentunya terkait dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perjalanan pernikahan.

Ada pranikah, menikah, memiiki anak, masalah pekerjaan,  memiliki rumah, kemapanan karir, bertambahnya usia … dll. Semua memerlukan penyesuaian-penyesuaian … yang senantiasa terus-menerus dipelihara perjalanannya. Bukan hanya sekali kita bicarakan konsep pernikahan. Sekali lagi pernikahan adalah proses perjuangan sepanjang hayat dan proses perubahan sepanjang hayat

Jawaban Anna Farida

Konsep pernikahan sangat bisa dibahas setelah menikah. Tentukan visi misinya, tujuan jangka panjang dan pendeknya. Misalnya, visi keluarga saya adalah ingin menemani anak-anak menjadi manusia dewasa yang akademis dan beriman. Misi saya adalah memberikan pendidikan dan tuntunan agama yang baik. Tujuan jangka panjangnya adalah anak bisa menjadi panutan dalam hal pengetahuan umum dan agama. Jangka pendeknya ya anak dikenalkan secara dini pada prinsip pengetahuan dan kehidupan spiritual.

Visi dan misi keluara musisi dan olahragawan tentu berbeda. Jadi sejak awal memang sudah ditentukan mau apa. Pasangan yang menikah di usia lanjut yang tidak lagi berharap keturunan pun punya visi dan misi yang berbeda. Prinsipnya, kita buat rencana yang baik, kita jalankan prosesnya dengan sungguh-sungguh, tetap belajar dan update wawasan, genapkan dengan doa. #jadimellow

 

Tanya 3:

Saya bujangan yang takut nikah dengan kondisi sekarang yang susah cari kerja. Mohon solusinya.

Jawaban Bu Elia Daryati

Salah satu kunci kokohnya adalah finansial dan laki-laki adalah nafkah. Pernikahan itu sesungguhnya merupakan salah satu pembuka pintu rizki. Ada istilah jarang ada yang kaya dengan hidup membujang. Artinya, perniikahan akan menjadi motivator untuk seseorang berikhtiar. Dari ikhtiar inilah piintu-pintu rizki akan terbuka.

Kita tidak bisa hanya sekedar mencemaskan masa depan dan tidak membahagiakan diri di masa kini. Seperti berlari di tempat berpeluh tidak mendapatkan apa-apa. Pernikahan itu juga membuka pintu silaturahmi, semakin banyak bersilaturahmi, semakin banyak solusi. Banyak kita melihat orang yang fisiknya cacat, namun memiliki mental yang sehat, dengan berikhtiar dalam rangka mencari nafkah untuk keluarganya, selalu ada jalan. Namun tidak sedikit yang fisiknya sehat, namun jiwanya keraguan. Bukahkah prasangka kita akan mewujud dalam realita kita. Untuk itu saatnya optimis segerakan menikah. Insya Allah selalu ada jalan.

Jawaban Anna Farida

Ini persis pertanyaan di radio 😀

Fokus pada 80% peluang kebaikan dan 20% saja pada masalah—begitu yang pernah diajarkan pada saya. Menikah membuat kita kian bertanggung jawab, bersemangat menata hidup, punya arah yang lebih jelas, dan yang jelas punya teman seperjalanan menuju Tuhan.

Itu peluang baiknya, dan beri porsi 80% agar hidup lebih optimis.

Tentu ada yang 20% berupa ketakutan, kegagalan, dan masalah yang mengancam. Kita tidak menutup mata pada kemungkinan buruknya. Di sanalah kita perlu belajar, terus memperbaiki diri, dan minta pertolongan Tuhan. Selalu libatkan dia dalam susah dan senang, walaupun kita (saya aja kaleee) lebih sering ingat Dia di kala susah saja #tutupmuka.

 

Tanya 4:
Adakah nasihat pra nikah untuk para jomloers? Yang saat ini jarang dilakukan para calon pasangan pengantin.

Jawaban Bu Elia Daryati

Nasihat untuk para jomloers. Segerakan untuk mengakhiri masa kejomloannya. Ini penting, karena hidup bersama berdua dengannya, akan lebih membahagiakan daripada kesendirian. Menikah memang banyak tantangannya, namun lebih banyak bahagianya jika dijalankan dengan niat dan konsep yang benar.

Seperti yang sudah saya ungkapkan, pernikahan tidak perlu ditakutkan, namun tidak juga untuk dianggap enteng. Yakinlah mempercepat pernikahan itu jauh lebih baik.  Ketika sudah cukup umur, ada keinginan untuk menikah dan memang sudah ada pasangan atau sedang mencari belahan jiwanya.

Jawaban Anna Farida

Untuk para jomloers akan kita bahas detail di kesempatan berikutnya, bolehkah?  Banyak banget, heheh.

Yang paling penting saat ini adalah teruslah meningkatkan kualitas diri, lahir batin. Belajar jadi manusia yang baik, mintalah pengalaman dari orang-orang yang sudah berumah tangga, saring dan pilihlah yang paling sesuai dengan tujuan pernikahan yang dicita-citakan.

Selalu libatkan Tuhan dalam setiap upaya, karena Dia akan mendekatkan pasangan yang paling pas. Yang baik akan bersanding dengan yang baik, karena frekuensi yang sama akan mendekat dan akhirnya bisa bersisian.

Mencari calon terbaik itu wajib, menjadi calon terbaik itu wajib kuadrat.

Aih, ada berapa jomlo, ya, di sini?

 

Tanya 5:
Bagaimana kondisi psikologis untuk anak, jika tidak pernah melihat ayahnya karena perpisahan? Dampaknya seperti apa?

Jawaban Bu Elia Daryati

Apa yang terjadi jika anak tidak pernah bertemu dengan ayahnya? Untuk anak laki-laki akan terkait dengan masalah identifikasi, sedangkan untuk anak perempuan akan terkait dengan figur laki-laki.

Solusinya apa ?

Ada orang tua biologis dan orang tua psikologis. Jika tidak bertemu ayah, suatu hal yang paling penting adalah menghadirkan simbol ayah dalam kehidupan anak, melalui kakek, paman, uwak, atau figur-figur laki-laki yang memang pantas difigurkan dan memiliki sosok yang layak diidentifikasi.

Adapun yang cukup ideal adalah mendapatkan figur pengganti ayah biologis dengan ayah psikologis dalam pernikahan berikutnya.

Jika ini terpenuhi dengan baik, sebetulnya tidak akan berdampak terlalu signifikan terhadap pribadi anak. Akan menjadi dampak buruk, jika berpisah dan si ibu menjelek-jelekan figur ayah biologis anak, sehingga anak akan memiliki citra negatif terhadap figur laki-laki, bukan sekedar ayahnya tapi dapat saja terhadap laki-laki dewasa secara keseluruhan.

Jadi meskipun berpisah, akan menjadi bijaksana jika si ibu tidak memberikan gambaran negatif terhadap ayah mereka. Buat anak akan sulit mendapatkan identifikasi sosok laki-laki dan figur laki-laki. Semoga dapat direnungkan baik-buruknya.

Jawaban Anna Farida

Dari apa yang pernah saya baca dan saya temukan, anak yang tidak pernah bertemu ayahnya bisa mengalami banyak hal sesuai dengan pengkondisian yang dia terima, terutama dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Jika kepadanya tetap dicurahkan kasih sayang, tetap dapat figur ayah dari kakeknya atau dari pamannya, misalnya, dia cenderung baik-baik saja.

Lain halnya jika sang ibu selalu memperlihatkan penderitaan dan rasa tidak suka karena perpisahan itu, anak bisa kehilangan kepercayaan pada pernikahan bahkan bisa merasa bersalah atas perpisahan itu.

Seperti yang pernah kita bahas dalam tema perceraian, perpisahan antara dua orang dewasa adalah pilihan orang dewasa. Anak tidak pernah memilihnya. Plis, plis, lindungi dia, jaga dia agar tetap dalam pengasuhan yang baik, tidak terpapar sembarangan oleh pilihan yang tidak pernah dikehendakinya.
Anna Farida: ✅✅ Sampun, Mahmud Admin.

Bapak Ibu, terima kasih sudah berbagi pertanyaan dan pengalaman dengan kami.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart, karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Miliki bukunya 🇮🇩

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s