Diskusi Publik dan Domestik

ilustrasi: inspirably.com

Jumat siang setelah materi diberikan, peserta berdiskusi seputar domestik dan publik.

A:Saya sudah berrumah tangga selama 20tahun, saat ini bekerja di luar rumah dan suami kerja dengan jam kerja shift. Otomatis jarang ketemu, lalu sekarang sedang berada dititik jenuh.  Rasanya ingin berhenti untuk bisa berkumpul bersama dengan keluarga. Ada yang bisa membantu memberikan masukan?
B: Saya sempat kerja di luar kota. Rumah kami di Jakarta, kerja di Pelabuhan Merak. Pulang 2-3 hari sekali. Kadang berangkat pagi-pagi pulang larut malam. Suami menangani tugas rumah tangga. Mengasuh anak dll. Ada pembantu sih tapi soal anak tetap dipegang dia, ketika dia berada di rumah. Saat ini saya sudah bekerja di Jakarta, pekerjaan rumah tangga saya ambil alih. Sejak saya pindah ke Jakarta malah enggak punya pembantu. Kadang suami membantu menyetrika. Tugas dia yang utama membersihkan kamar mandi. Yang lain saya ambil alih, karena saya merasa ini tanggung jawab saya. Kebetulan anak sudah besar jadi sudah bisa diajak bantu bebersih rumah.
C: Kok tulisannya aku banget Cikgu (Anna Farida) …😊.
Suamiku udah resign, karena sejak pindah rumah susah cari pengasuh anak. Semula suami suka bantu-bantu beberes rumah, tapi karena pekerjaan rumah tangga yang enggak ada habisnya, dia nyerah 👐🏾. Sekarang saya capek kerja di rumah juga capek di kerjaan. Anak-anak masih kecil, paling yang besar sudah bisa bantu nyapu dan cuci piring.  Tapi gelas juga piringnya jadi tambah irit karena sering pecah 😅. Masalah cucian ada mesin, cuma saya belum puas kalau cucian belum kena air mengalir ( supaya bisa suci untuk ibadah).

D: 😭😭😭bagi perempuan, kerjaan di rumah dan di luar sama dengan 2 sisi mata uang. Saya dulu pernah mengalami kisah pahit. Saat itu anak-anak masih kecil. 2 orang anak cowok yang memang ketika itu butuh perhatian full. Saat itu saya dan suami bekerja di area publik.Untuk memandikan anak-anak pagi dan sore kami lakukan secra bergantian. Kami sangat percaya dengan pengasuh anak-anak karena menurut kami dia bisa menangani anak-anak. Namun akhirnya ketahuan juga sifat aslinya ternyata selama ini anak-anak sering dijambak, dipukul, terakhir ketahuan karena saat suami memandikan anak-anak di suatu sore dada anak sulung kami  kebiru-biruan, lalu ada bekas luka karena kuku. Miris sih, karena  kami tidak melakukan kekasaran seperti itu. Kami berempat memutuskan tidak pakai jasa pembantu. Setelah muali besar, anak-anak kami masukkan ke sekolah full day supaya kami tetap bisa bekerja. Pada akhirnya kami memutuskan resign dan memilih menjai freelancer. Saat ini kami dikaruniai satu anak perempuan berumur 13 bulan. Kakak-kakaknya sudah kelas 4&5 SD. Kami menikmati proses ini. Alhamdulillah saat saya keluar rumah, suami yang menangani rumah dan begitu juga sebaliknya.

E: Wuuiiihhh … bahasan yang menarik sekali …
Kenyataan hari ini biasanya terjadi jika libur aku beres-beres rumah dan memasak. Suami baru beres mencuci baju, kemudian dia cek mobilku dan mencucinya juga, hihihi. Enggak diomongin, enggak pake aturan ini itu.
Semua berjalan dengan begitu saja saat kami semua ada di rumah.
Tapi kan si dia tercinta lebih banyak berada d luar kota.
Mungkin juga karena usia pernikahan sudah lama jadi feelingnya jalan sendiri. Semua butuh keberanian dan pengorbanan.
Saya sudah dipecat 3x dari pekerjaan oleh suami saya.
Semua terjadi saat posisi saya berada di atas, sehingga sering waktu kerjanya overtime. Dengan alasan ngurus anak dan punya waktu untuk dia yang jarang ada di rumah.
Kesal iya, bete juga iya apalagi saat aku pengen sesuatu untuk diri sendiri yang biasanya bebas keuangan.
3 tahun terakhir ini, alhamdulillah saat jauh dari semua kesibukan saya bisa menikmati jadi istri dan IRT, mengurus rumah dan anak saja.
Quality time bersama anak-anak dan suami jauh lebih baik.
Komunikasi dengan semua komunitas saya tetap jalan berkat teknologi.
Semua tidak instan tentunya.
Butuh banyak dialog dengan orang-orang, support keluarga dan teman-teman. Butuh keikhlasan dan kesabaran ekstra untuk menerima kondisi yang ada. Yang utama selalu berpegang kepada-Nya, sehingga hati ini ringan menjalaninya.Semoga bermanfaat.
Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan  dengan tulisan ini … 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

F: Saya yang lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya lebih suka bekerja dari rumah. Saya yang sering berbelanja untuk keperluan rumah tangga. Jika sama-sama libur yang mengurus cucian suami. Saya mah sibuk sama kerjaan rumah tangga lainnya 😄

Kami sama-sama memutuskan berhenti dari kerja kantoran karena fokus program anak. Suami beralih ke pekerjaan yang waktunya longgar dan bisa diatur waktunya. 80% waktu suami digunakan bersama saya untuk mengurus usaha kami. Sehingga kami sama-sama memiliki waktu full bersama, begitu juga di rumah.

Saat anak lahir, suami saya mewajibkan kami yang full memegang anak. Bukan Mbak atau Uti (meski Uti persis sebelah rumah).
Tetapi karena saya lebih lihai dalam urusan bisnis, sehingga sering harus bertemu dengan banyak tamu yang ke rumah, suami jadi kebagian full pegang anak #lha kan dia yang bikin aturannya 😁

Dan rutin setiap sebulan sekali suami gajian, saya mendapatkan uang plus-plus dari suami agar bisa melakukan perawatan full di salon. Jadilah seharian di salon dari jam 9 pagi-4 sore.

Dijemput suami sore-sore di salon dengan si kecil (2,5tahun) sudah cantik, wangi, dan sudah makan. Duuhhh senangnya kalau suami memanjakan kita sehari saja dan mengurus anaknya sampai sore sudah cantik dan wangi begitu. #Tapi habis itu anak nemplok enggak mau lepas dari emaknya 😄

Tugas saya memang sudah dimulai sejak habis subuh. Suami? Dia tidur lagi ngelonin anaknya. Sementara saya galau karena anak jadi enggak terbiasa bangun pagi. Tapi saya jadi aman bisa masak dan mengerjakan yang lainnya dengan cepat #emak-emak apa saya ini kok ga mau dirusuhin anaknya 😑😬

Jatah malam kalau anak enggak cepet tidur, itu bagian si bapak yang nemenin main. Ganti pempers tengah malam itu juga jatah si bapak sejak bayi. Tugas saya hanya menyusui. #hehe soale bapaknya khawatir kalau anaknya mau mimik tapi sayanya kecapekan dan enggak gampang bangun. Kan kasian anaknya *begitu kata si bapak  😄

Semua itu berjalan begitu saja saat kita punya kepentingan yang sama (kalau dalam kelaurga kami lebih untuk anak).
Kata suami, saya juga harus sehat, soalnya dia enggak bisa handle semua pekerjaan rumah dari habis subuh #nih suami kalau enggak saya yang masak, makannya kurang selera 😅

Saya juga rempong handle semua pekerjaan rumah kalau partner saya (suami) sakit. Sehingga saya juga memaksimal mengurus suami sampai ke urusan-urusan apapun yang dimakannya #jadi seperti punya dua balita . Setiap nyiapin jus buat anak, ada juga bagian untuk bapaknya 😄

Urusan keluar kota tetep si bapak yang handle. Mimik, kelon mau tidur, tetep si anak minta sama emaknya. 😄

Seperti kata Mbak E, semua berjalan begitu saja.

Tentunya sesuai *tujuan dan kepentingan kami bersama. Dan sesuai *dengan kemampuan kami masing-masing. Juga sesuai dengan *keadaan yang memang kami hadapi dalam keseharian kami.

💌💌

Selamat tahun baru semua.
Smoga di 2016 ada banyak peningkatan dan perbaikan 👼
#kata terakhir buat ane sendiri tuh harusnya 😄 *terus refleksi ☺

G: Hehe semua saya yang kerjakan. Pengen sekali libur tapi suami enggak kasih karena kalau jalan sendiri jadi enggak kompak dan ingin selalu ditemani saat bergelut dengan keruwetan pekerjaan. Dan akhirnya sya memutuskan untuk tidak meminta ‘liburan’ dan berusaha untuk menikmati kehidupan di rumah dan mensyukurinya.

B: Alhamdulillah senangnya bisa sharing. makasih teman 😘😘😘

G: Ikutan ah,saya yang banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saya memilih bekerja dari rumah, suami memilih bekerja di luar rumah.Untuk urusan belanja dan mencuci siapa saya yang sedang banyak waktu. 😍😍.. Berhubung separo dari belasan tahun pernikahan kami LDR an maka saat ada waktu bersama rugi kalau enggak dipakai barengan. So kalau ada free time saya, suami, dan anak-anak biasa masak bareng, bersih-bersih rumah bareng, belanja ke pasar ato ngemal bareng, nyuci bareng. Haha … gerombolan  kemana-mana. Me time saya dan suami ya saat kerja sendiri-sendiri, kebetulan kita berdua suka kerjaan yang sedang dijalani. Jadi pas in touch ke pekerjaan, bersenang-senang. Waktu lebih dan curian nah.. Family time.. So far sooo good 😊
Eh iya … kami suka menikmati hasil kerja sesama yang lebih baik. Misal nih ya … Suami tuh barista yang keren. So… kalau pas doi di rumah urusan coffee urusan dia. Saya tinggal ngacir ke pasar beli temennya. Beli bukan masak😊.. Intinya sih kasih ke yg lebih ahli … Itu lebih baik. Hehe
H: Saya yang lebih banyak mengerjakan urusan rumah tangga. Kalau disuruh memilih kerja, lebih baik dari rumah. Kalau berbelanja kepasar saya, diantar suami 🙂 kami sepakat dengan pembagian tugas itu. Kecuali ketika saya berhalangan, seperti habis melahirkan, sakit, atau anak sedang sakit, suami membantu atau menggantikan. Urusan mencuci ketika semua ada di rumah saya yang lakukan. Kesepakatan seperti no. 4.

Suami saya wiraswasta. Beda dengan pekerja kantoran, jam kerjanya enggak tentu. Dan sekalipun sedang di rumah, bukan berarti free. Masih ada saja pekerjaan atau yang dipikirkan tentang pekerjaan. Jadi kalau saya merasa pekerjaan rumah tangga enggak ada habisnya, maka pekerjaan suamipun juga begitu. Tapi saya masih sering jengkel sih kalau sedang kerepotan sama anak tapi suami enggak segera turun tangan (maaf ya Ayah…😭)
Padahal suami juga sudah bilang kalau yang utama anak. Kalau anak sedang perlu perhatian saya, pekerjaan rumah tangga bisa di nomor-2 kan, enggak jadi tuntutan

I: Sama, utamakan anak. Hal-hal lain tergantung kesepakatan. Kalau anak dipegang ibu, ayah mengerjakan yang lain, dan sebaliknya.
J: Waaah, saya senang dengan cerita ibu-ibu di sini, tentang yang beralih dari wanita karir ke full IRT. Bukan karena saya menilai siapa lebih baik (seperti yg lagi heboh di sosmed) tapi karena saat ini saya lagi meneguhkan hati saya terhadap pilihan saya sendiri untuk jadi IRT full di rumah, terkadang kangen ingin kembali bekerja soalnya, hehehe..
Bu H, saya sama dengan ibu, masih ingin suami mengerti keinginan suami dengan telepati, hanya dengan tatapan mata saja, rasanya ingin suami sudah mengerti apa yang saya mau, hihi. Padahal suami sudah bilang, kalau mau apa, bilang aja, dia bakal mau banget bantu.

Advertisements

One thought on “Diskusi Publik dan Domestik

  1. Pingback: Publik atau Domestik | uchishofia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s